
Serena membuka matanya dan ia melihat disekelilingnya namun yang ia cari tidak terlihat. Serena merasa kecewa dan sangat sedih karena Tama sepertinya belum pulang. Tangis Serena kembali pecah membuat sosok tampan yang sedang duduk diruang tengah segera masuk kedalam kamarnya.
"Kak Tama... hiks... hiks..."
"Kenapa Ren?" tanya Tama yang saat ini berdiri didekat pintu kamar membuat Serena terkejut dan ia segera bangun dan melangkahkan kakinya dengan cepat, lalu memeluk Tama dengan erat.
Serena seakan tidak percaya melihat kehadiran Tama saat ini. Ia mencubit lengannya "Aw... " ucap Serena membuat Tama mengerutkan dahinya. Serena kembali memeluk Tama dengan erat membuat senyum Tama mengembang.
"Kayaknya ada yang rindu banget ya sama Kakak?" goda Tama. Serena yang malu dan ia hanya menganggukkan kepalanya membuat Tama mengelus punggung Serena dengan lembut. "Kenapa nangis?" tanya Tama.
"Telepon Kakak mati tiba-tiba terus ada suara tembakan. Kenapa teleponnya mati?" tanya Serena menjauhkan tubuhnya agar ia bisa menatap wajah Tama.
"Ponselnya habis batrai dan kebetulan memang tadi terkena tembakan," ucap Tama dan ia menujukan luka dilengannya yanh telah diperban.
"Hiks...hiks... maaf apa karena Serena telepon Kakak tadi, Kakak sampai kena tembak?" tanya Serena.
Sebenarnya tadi Tama memang kurang waspada hingga ia bisa terkena tembakan karena ia memikirkan Serena. Tapi untung saja ia cepat menghindar walaupun lengannya yang akhirnya harus terkena tembakan.
__ADS_1
"Tama menggendong Serena dan ia duduk di ranjang sabil memangku Serena membuat wajah Serena memerah karena malu. "Maaf karena telah membuatmu menangis!" ucap Tama.
"Apa sangat sakit Kak?" tanya Serena.
"Sakit tapi sekarang tidak teralu sakit seperti tadi, apalagi obatnya sedang Kakak peluk sekarang!" ucap Tama membuat Serena tersenyum senang.
"Tadi berapa lama nangisnya?" tanya Tama.
"Lama banget Kak, Serena belum pernah loh nangis selama itu. Dulu aja dimarahin Papa paling nangisnya hanya sebentar," ucap Serena membuat Tama tersenyum.
"Berarti Kakak sudah ada dihati kamu ya Ren?" tanya Tama membuat jantung Serena berdetak dengan kencang, tentu saja Tama ada dihatinya saat ini. Serena menganggukkan kepalanya "Katakan Ren kalau kamu mencintai Kakak?" tanya Tama lagi.
"Kok diam?" tanya Tama yang sudah tidak sabar dengan jawaban Serena.
"Apa Kakak mencintai Serena?" tanya Serena mengangkat wajahnya dan menatap mata tajam bak elang itu menatapnya dalam.
"Kalau kakak tidak mencintai kamu, Kakak tidak akan menikahi kamu. Kalau kakak tidak menginginkan kamu, Kakak tidak akan meminta orang tua kita mempercepat pernikahan kita. Kalau Kakak tidak mencintai kamu, Kakak tidak akan memikirkan kamu setiap saat dan mengusir semua wanita yang berusaha mendekati Kakak. Kalau Kakak tidak... " ucapan Tama terhenti karena Serena mengecup bibir Tama dengan cepat.
__ADS_1
Pipi Serena memerah karena malu dengan apa yang telah ia lakukan. Ia terlihat genit dan ia merasa apa yang ia lakukan saat ini membuatnya benar-benar memalukan "Terlalu cepat Serena," protes Tama dan ia segera mencium bibir Serena dengan lembut dan dalam. Tidak cukup sekali bagi Tama untuk mencium Serena dan ia akan mengulanginya lagi dan lagi hingga Serena sulit bernapas. Tama akan memberikan jarak agar Serena bisa menghirup udara dan ia kembali mencium Serena.
Tama menyudahi ciumannya dan ia memeluk Serena dengan erat. "Kamu mencintai saya Serena," ucap Tama.
"Aku mencintai Papi," ucap Serena menujuk hati Tama dengan jari telunjuknya.
"Siapa Papi kamu?" tanya Tama kesal membuat Serena terkekeh.
"Hehehe... Papinya anak kita itu kamu," ucap Serena menarik telapak tangan Tama agar berada diatas perutnya dan itu membuat Tama terkejut.
"Kamu hamil?" tanya Tama menatap Serena dengan tatapan penasaran.
"Iya..." ucap Serena membuat Tama memejamkan matanya lalu tersenyum. bahagia.
"Terimakasih sayang," ucap Tama.
"Iya sayangku cintaku," ucap Serena membuat Tama mencium dahi Serena dengan lembut dan menghapus air mata Serena dengan jemarinya.
__ADS_1
tbc...