Karina Dan Alfa

Karina Dan Alfa
Kekesalan Alfa


__ADS_3

Karina menatap Alfa yang sejak tadi memilih diam membuatnya bingung. Karina menghela napasnya "Bang..." panggil Karina membuat Alfa melirik Karina sekilas dan ia kembali fokus menyetir.


"Bang kok jadi pendiam gitu?" tanya Karina.


"Kita mau makan dimana?" tanya Alfa sengaja tidak mengalihkan pertanyaan Karina.


"Abang mau makan dimana?" tanya Karina membuat Alfa mengangkat sudut alisnya.


"Saya tidak memilih makanan Karina, kamu mau makan dimana, saya akan setuju mengikuiti keinginan kamu!" ucap Alfa membuat jantung Karina bedetk dengan kencang, ia terkejut mendengar ucapan Alfa yang terlihat dingin padanya.


"Antar karina ke Apartemen aja Bang, Karin pulang aja!" ucap Karina.


"Oke!" ucap Alfa membuat Karina menatap Alfa dengan sendu. Entah mengapa hatinya begitu sakit saat Alfa memperlakukannya dengan dingin. Apalagi Alfa segera menyetujui keinginanya untuk pulang tanpa mau membujuknya.


Dalam perjalanan menuju Apartemen, Alfa tidak mengatakan apapun untuk memulai pembicaraan dan hanya Karina yang sejak tadi berusaha mencairkan suasana. Karina memilih untuk diam. Karina sama sekali tidak mengetahui jika Alfa sedang marah saat ini karena Karina tidak jujur padanya. Bercak merah dan kancing baju Karina yang terlepas membuat Alfa berpikiran buruk karena cemburu. Dalam pikirannya saat ini apa benar Karinanya yang polos telah berubah. Mobil berhenti didepan lobi Apartemen dan Karina segera turun.


"Terimakasih Bang" ucap Karina.


Alfa diam seribu bahasa dan hanya melihat punggung Karina yang menjauh masuk kedalam apartemen. Alfa menghembuskan napas kasarnya, karena makan siang bersama Karina gagal sudah. Prasangka buruknya dan juga tingkah Karina yang tidak jujur padanya membuatnya kecewa.


Alfa melihat mobil Tama ternyata ada di apartemen ini membuatnya segera menghubungi Tama. "Assalamualikum Tama".

__ADS_1


"Waalaikumsalam" ucap Tama.


"Kamu di Apartemen bersama Serena?" tanya Alfa.


"Iya Al, Serena sedang sakit jadi saya mengunjunginya. Tadi ibu mertua saya menghubungi saya dan meminta saya melihat keadaan Serena. Kenapa Al?" tanya Tama.


"Ada Karina pulang ke apartemen. Dia baru saja saya antar ke Apartemen" ucap Alfa.


"Bukannya kamu mau makan siang bersama Karina?" tanya Tama.


"Tidak jadi Tam, karena saya kesal Karina tidak jujur kepada saya!" ucap Alfa membuat Tama bingung. "Saya pulang Tama nanti kita ketemu di kantor!" ucap Alfa.


"Oke Al" ucap Tama menutup ponselnya.


"Kenapa kamu ingin tahu?" tanya Tama membuat Serena melempar batal kursi ke wajah Tama.


"Ngeselin banget sih kamu!" ucap Serena kesal.


"Ayo makan dulu!" ucap Tama.


"Perutku sakit!" rengek Serena.

__ADS_1


"Kamu jangan manja begini sama saya Serena, kalau kita nanti tinggal di daerah terpencil saya nggak akan bisa ngebujuk kamu makan kayak gini!" ucap Tama dingin.


"Nggak usah urusin aku, kamu pulang aja!" kesal Serena membuat Tama mengangkat tubuh Serena dan membawa Serena masuk kedalam kamarnya. Tama membaringkan tubuh Serena diatas ranjang.


"Kamu jangan mencoba membuat saya kesal Seren!" ucap Tama. Ia melangkahkan kakinya keluar dan Tama melihat Karina baru saja pulang sambil menangis.


Tama terkejut tapi ia memilih untuk tidak bertanya atau mengatakan apapun saat ini karena Karina segera menghapus air matanya. Tama membawa masuk bubur kedalam kamar Serena dan duduk disamping Serena.


"Dokter kayak kamu harusnya tahu kalau sakit juga tetap harus makan dan minum obat!" ucap Tama.


"Mas Tama" panggil Serena membuat Tama ingin tertawa mendengar suara manja Serena.


"Kenapa?" tanya Tama.


"Suapin!" ucap Serena. Tama menyedokan bubur itu dan mendekatkannya kedalam mulut Serena.


Serena mengunyah bubur itu dengan pelan sambil tersenyum membuat Tama menarik sudut bibirnya karena sifat Serena ternyata sangat manja dibalik kemandiriaan yang ia tunjukkan.


Sementara itu Karina saat ini berada didalam kamarnya dan menangis terseduh-seduh. Karina tidak sanggup rasanya untuk datang lagi ke rumah sakit setelah jam makan siang. Ia memilih mengurung dirinya dikamar karena ia takut Alfa akan meninggalkannya. Karina tidak memiliki siapapun saat ini, baginya kehadiran Alfa adalah penyemangat hidupnya menjalani hari-hari beratnya.


"Hiks...hiks...Alfa marah padaku, sepertinya dia membenciku jika tidak, dia pasti tidak akan mengantarkanku ke Apartemen seperti ini. Harusnya kita makan siang bersama tadi!" ucap Karina sesegukkan.

__ADS_1


Karina melihat nomor Alfa yang tertera dilayar ponselnya dan berusaha menghubunginya. Ia mengabaikannya dan memilih untuk membaringkan tubuhnya diranjang. Baru kali ini dalam hidup Karina ia merasa jika ia terlihat tidak berguna. Dalam kebingungan Karina berusaha menghilangkan pikiran-pikiran buruknya untuk mencoba mengakhiri hidupnya. Karina memilih beroda didalam hatinya dan membaca ayat-ayat yang membuat hatinya tenang. Tanpa sadar Karina tertidur lelap dengan air mata yang belum mengering.


__ADS_2