
Pukul delapan Serena bangun dan terkejut melihat jam diponselnya. Ia segera bergegas mandi karena Tama akan datang pagi ini ke rumahnya. Setelah selesai mandi, Serena mendengar suara pintu terbuka dan ia tahu siapa pelakunya yaitu calon suaminya yang selalu membuatnya kesal karena sering bertindak sesuka hatinya.
Serena segera memakai pakaiannya dan keluar dari kamarnya. Ia melihat Tama sedang fokus dengan ponselnya membuatnya segera mendekati Tama dan duduk disebelah Tama. "Ayo sarapan!" ucap Tama saat melihat Serena tang telah duduk disampingnya. Ia memasukkan ponselnya dan segera berdiri mendekati meja makan.
Serena mendekati Tama dan melihat Tama telah menyiapkan sarapan mereka diatas meja. Serena duduk dihadapan Tama. "Ini Mama kamu yang masak?" tanya Serena.
"Iya" ucap Tama singkat.
Serena mengambil lontong sayur dan menyuapkannya kedalam mulutnya "Enak" puji Serena dan ia segera memakan lontong sayur itu dengan lahap. "Kalau sarapan kayak gini tiap hari badan aku bisa gede kayak sapi" ucap Serena.
"Tidak masalah" ucap Tama.
"Masalah dong, kalau badan aku gede aku jadi sering sakit, kalau aku sering sakit dan mati muda kamu bisa cepat jadi duda" ucap Serena membuat Tama tersedak dan terbatuk.
"uhukkk" Tama segera meminum segelas air putih dan menatap Serena dengan kesal.
"Wah kayak udah ngarep nih jadi duda" goda Serena membuat Tama menghela napasnya.
"Dari makanan kenapa jadi ke Duda Seren, kamu ini kalau bicara sembarang" ucap Tama dengan kalimatnya yang cukup panjang membuat Serena terkekeh.
"Iya ya... kok aku kepikiran kesana hehehe... efek kita nikah paksa kali ya?" kekeh Serena.
__ADS_1
Tama mengacuhkan Serena dan ia fokus memakan sarapannya membuat Serena kesal. Serena membuka mulutnya dan mendekati Tama. Ia menunggu apakah Tama akan bersikap romantis padanya dengan menyuapkannya makan atau akan mengacuhkannya seperti biasanya dan yang terjadi adalah Tama mendorong kepala Serena.
"Kamu ternyata rakus juga, sudah dikasih jatah satu piring tapi mau lagi. Pantasan kamu takut gemuk, karena tingkah kamu yang rakus berpotensi menjadi perempuan gemuk" ucap Tama membuat Serena kesal dan mengehentakan kakinya sedangkan Tama menaikkan sudut bibirnya karena berhasil membuat Serena kesal.
"Jahat banget sih, nggak ada romantis-romantisnya sama aku!" rengek Serena.
"Saya bukan laki-laki romantis dan kamu sudah tahu itu!" ucap Tama mengangkat piringnya dan juga piring Serena ke bak pencuci. Tama mencuci piring dengan santai membuat Serena yang hanya bisa menatap Tama dari belakang ingin sekali memukul Tama karena ia terlalu kesal dengan sikap Tama.
"Belajar romantis, kalau mau jadi suami aku!" ucap Serena.
"Romantis sama kamu nggak ada gunanya karena mau tidak mau, kamu tetap akan menjadi istri saya!" ucap Tama.
"Coba sedikit aja kamu itu belajar sama Alfa gitu Tam. Alfa itu sayang banget sama Karina" ucap Serena.
Serena menyebikkan bibirnya dan ia tersenyum sinis karena laki-laki seperti Tama ini pasti akan mudah takluk perempuan manja. Serena menganggap semua laki-laki itu yang tipenya seperti Tama pasti akan suka dengan perempuan seperti Karina dan bukan seperti dirinya.
Serena kemudian tersenyun karena ia berncana ingin menghancurkan image dingin Tama. Ia mengambil mainan ular karet miliknya dan ia mengendap-endapkan langkahnya mendekati Tama. Ia ingin mengejutkan Tama dengan melempar ular itu dan melihat ekspresi ketakutan Tama yang pastinya akan membuatnya tertawa terbahak-bahak. Serena segera melemparkan ular mainan itu kearah Tama.
"Ular" teriak Serena membuat Tama bereaksi dengan cepat menangkap ular karet itu tanpa menghindar dan apalagi terlihat takut. Tama menarik pinggang Serena dan memeluk tubuh Serena lalu melilitkan ular mainan itu ke leher Serena
"Kamu pikir saya takut sama ular mainan kamu? sekalipun luar beneran yang kamu lempar, saya tidak takut!" ucap Tama dingin. Serena menelan ludahnya karena Tama tidak melepaskan pelukannya dan ia mengangkat tubuh Serena lalu mendudukan Serena ke atas meja, membuat Serena menelan ludahnya karena posisi tubuh Tama saat ini berada ditengah-tengah kedua kakinya.
__ADS_1
"Aku mau turun Tam!" pinta Serena.
"Kamu bisa bersikap sopan Serena? sudah berapa kali saya bilang panggil saya dengan sopan!" pinta Tama menatap wajah Serena yang saat ini hanya berjarak beberapa cm darinya.
Serena memalingkan wajahnya membuat Tama memegang dagu Serena agar Serena tetap melihat kearahnya. Serena menelan ludahnya saat wajah tampan itu menatapnya dengan intens. "Iya Kak, maaf" ucap Serena membuat Tama merapatkan tubuhnya lalu kembali memeluk pinggang Serena untuk menurunkan tubuh Serena dari atas meja.
Keduanya merasa canggung saat ini, baru kali ini Tama hampir tak berjarak darinya dan Tama tiba-tiba mengecup pipi Serena membuat Serena terkejut. Tama kembali mengurung tubuh Serena dengan kedua tangannya. "Senin kita nikah kantor, pakai kebaya dan dandan seadannya nggak usah terlalu tebal! Karina juga akan nikah kantor bareng kita" jelas Tama membuat Serena terkejut.
"Kenapa cepat sekali, Kak?" tanya Serena kesal.
"Niat baik tidak perlu ditunda-tunda. Kita juga sudah dewasa Serena, jika saya dipindah tugaskan lagi kamu bisa ikut saya kemanapun saya pergi!" ucap Tama.
"Tapi karir aku?" tanya Serena.
Tama menatap Serena dengan tatapan dinginnya "Saya tidak akan memaksa kamu untuk berhenti menjadi Dokter atau bahkan jika kamu ingin kembali kuliah lagi saya akan mengizinkannya! tapi kita penuhi keinginan orang tua kira agar kita segera menikah!" ucap Tama membuat Serena menghela napasnya karena tama bertindak tanpa berdiskusi padanya.
"Jangan bilang kamu juga udah menentukan tanggal pernikahan kita?" tanya Serena.
"Iya sudah saya tentukan!" ucap Tama melipat kedua tangannya dan menatap Serena dengan senyum penuh kemenangan.
Tama licik... tega.... jahat....
__ADS_1
batin Serena berteriak
tbc..