
Lamaran dan pertunangan mendadak yang saat ini terjadi membuat Serena begitu terkejut. Ia tidak mungkin menolak pertunangan ini didepan semua keluarga dan para tamu undangan karena ia tidak ingin kedua orang tuanya malu karena ulahnya.
Serena hanya bisa diam dan kemudian tersenyum ramah, namun tidak dengan hatinya. Tama yang mengatakan jika ia kekanak-kanakan dan ia bukanlah tipe perempuan yang ia sukai tapi kenapa Tama tidak berusaha menolaknya bahkan terlihat menerima pertunangan ini dengan santai.
"Kita perlu bicara!" bisik Serena membuat Mamanya tersenyum melihat Serena dan Tama yang terlihat sangat serasi itu.
"Tidak ada yang perlu dibicarakan!" ucap Tana dingin.
"Nggak bisa, kita harus membicarakan semua ini Tama!" kesal Serena.
Serena mengajak Tama menjauh dari keramaian. Ia kemudian menarik tangan Tama dan membawa Tama kedalam kamarnya. Hanya tempat ini yang sepi dan orang lain tidak akan mendengar pembicaraan mereka berdua.
Tama menatap keseliling kamar Serena dan ia tanpa sengaja melihat Bra berwarna merah jambu tergantung di dinding membuat Serena melihat tatapan Tama ke arah Bra miliknya. "Dasar mesum!" ucap Serena mengambil Branya dan meleparkannya kedalam kamar mandi lalu menutup pintu kamar mandi.
"Apa yang ingin kamu bicarakan?" tanya Tama.
"Kenapa lo mengikuti permintaan konyol kedua orang tua kita? Harusnya lo menjelaskan semuanya kalau kita nggak ada hubungan apa-apa Tama!" ucap Serena.
__ADS_1
"Jika saya menjelaskan semuanya kejadian sebenarnya, itu juga tidak akan berpengaruh kepada mereka karena mereka memang menginginkan kita segera bertunangan dan menikah. Ingat kita telah dijodohkan Serena sebelum kita bertemu. Kau juga tahu bukan, kalau orang tuamu akan menjodohkanmu dengan seorang laki-laki yang tidak kau kenal, begitupun juga saya Serena" jelas Tama.
"Jadi kita harus gimana? orang tua gue dan orang tua lo pasti akan segera menikahkan kita Tama!" ucap Serena prustasi.
"Kita jalani saja toh kamu dan saya sama-sama tidak memiliki pasangan!" ucap Tama membuat Serena melototkan matanya.
"Tama lo pikir cari suami kayak beli kacang goreng dipinggir jalan? nggak Tama. yang gue mau itu punya suami yang gue cintai!" ucap Serena menatap Tama dengan serius.
"Mulai sekarang kau belajar mencintaiku!" ucap Tama membuat Serena tidak mengerti apa yang dipikirkan Tama saat ini.
"Saya tidak peduli, saya hanya ingin berbakti kepada orang tua saya dan tidak menolak keinginannya! kalau kamu mau menolak rencana pernikahan ini, kamu bisa mencari jalan keluarnya sendiri. Saya tidak mau terlibat!" ucap Tama. "Mulai saat ini berhenti memanggil saya lo atau pernikahan kita akan saya percepat!" ucap Tama tegas.
"Jadi kau menerimaku sebagai calon istrimu?" tanya Serena.
"Iya" ucap Tama.
"Apa hanya alasan orang tuamu kau ingin menikah denganku?" tanya Serena.
__ADS_1
"Saya hanya menepati janji, saya pernah memiliki perempuan pilihan saya sendiri tapi ternyata dia mengecewakan saya dan keluarga saya. Kamu adalah pilihan orang tua saya dan saya harap kamu adalah sosok yang terbaik untuk saya!" ucap Tama. "Saya harus segera keluar dari kamar ini, jika orang tuamu tahu saya disini mereka pasti meminta saya untuk segera mengurus berkas pernikahan kantor" ucap Tama agar menghidari fitnah, Ia segera keluar dari kamar Serena.
Serena menghela napasnya karena bingung dengan pertunangan mendadak ini. Papa dan Mamanya telah merencanakan ini semua ketika tahu ia berada di Semarang. Serena mengambil ponselnya dan membaca pesan dari adik laki-lakinya.
Adiku :
Selamat ya Mbak, Maaf nggak bisa datang...
Serena:
kau tahu ini rencana Papa dan Mama kenapa nggak kasih tahu aku!
Adikku :
Mbak pasti akan lari kalau tahu, kasihan Mama dan Papa, lagian Kak Tama orangnya baik.
Arghhh.... gue nggak bisa menghidar lagi kalau kayak gini.
__ADS_1