
Alfa bersama Tama saat ini berada di Apartemen yang baru Alfa tempati. Karina dan Serena sedang memasak di dapur. Alfa mengajak Tama masuk kedalam ruang kerjanya. Ia kemudian menunjukkan beberapa data yang ia dapat dari hasil penyelidikannya.
Alfa mengeluarkan kelima foto yang mungkin merupakan tersangka dihadapan Tama. Ia kemudian menyusunya diatas meja. "Mereka inilah yang awalnya dicurigai menjadi tersangka pengancaman" ucap Alfa.
Tama mengamati foto itu sambil menopang dagunya. "Menurutku kedua orang ini tidak termasuk sebagai orang yang kita curigai. Memang keduanya memiliki motif untuk menyakiti Karina tapi dalang utamanya yang saat ini masih misteri" ucap Tama.
Alfa membuka laci mejanya dan mengeluarkan sebuah amplop coklat didalamnya "Ini riwayat kesehatan Fefin" ucap Alfa.
Tama membaca data tentang kesehatan Fefin dengan serius. Fefin pernah akan melakukan bunuh diri dan ia bahkan menjadi pasien disebuah rumah sakti jiwa. Fefin sangat dekat dengan Karina dibandingkan Viona. "Apa kau mencurigai Fefin?" tanya Tama.
Alfa menganggukannya dan juga menggelengkan kepalanya karena masih ragu. "Saya masih ragu Tam, karena mereka semua memiliki kecendrungan menjadi tersangka" ucap Alfa, ia kemudian mengeluarkan sebuah buku miliknya dan dibagian tengah halaman buku terdapat foto dirinya. Alfa mengambil fotonya itu dan menunjukkannya kepada Tama. "Baca dibagian belakang foto!" pinta Alfa.
Al kenapa kau tidak memperhatikanku, selama ini aku mencintaimu...
"Itu buku milik saya yang dikembalikan Viona dulu. Karena kejadian pengancaman ini saya mencari buku ini. Orang yang sering mengirimkan puisi itu adalah Viona" ucap Alfa membuat Tama berpikir jika keduanya bisa saja tersangkanya. Viona sampai saat ini tidak tahu jika foto Alfa lupa ia ambil dari buku itu. Alfa juga telah mencocokkan tulisan tangan Viona dengan puisi-puisi itu dulu. Dia tahu itu Viona namun ia memmilih mengacuhkannya karena ia memang tidak memiliki ketertarikan kepada Viona dan hanya menganggap Viona sahabatnya. Bahkan Alfa telah terang-terangan menolak Viona saat itu.
"Kalau Doni motifnya jelas karena dia mencintai Karina dan ingin memiliki Karina, kalau Ira karena sakit hati kepada Sakti" ucap Tama. "Tapi keduanya bukanlah pelakunya karena mereka tidak tahu no ponsel Karina yang baru" ucap Tama yang saat ini masih memikirkan dalang pengancaman itu karena memiliki latar belakang masalah yang bisa saja menjadi tersangkanya.
Alfa menghela napasnya dan kemudian menujuk foto Algi. "Dia sahabatku sejak SMA tapi setelah tamat sekolah dia menjadi sedikit berbeda. Algi dan Viona adalah sepasang suami istri" ucap Alfa.
__ADS_1
"Dari penjelasanmu sepertinya Viona memiliki motif yang kebih jelas Al" jelas Tama.
"Saya merasa ketiganya ini mencurigakan. Saya yakin salah satu mereka adalah tersangkanya tapi kita butuh bukti Tam" ucap Alfa.
Tama menganggukkan kepalanya "Aku akan bantu menyelidikinya dan untuk sementara kau fokus dengan resepsi pernikahaanmu Al. Biarkan masalah ini saya yang urus!" ucap Tama.
"Baiklah Tama terimakasih" ucal Alfa membuat Tama terkekeh.
"Kau tidak perlu berterimakasih Al, karena kita memang harus saling membantu!" ucap Tama.
Serena mengetuk pintu ruang kerja Alfa "Masuk!" ucap Alfa.
Tama dan Alfa menatap hidangan yang berada diatas meja dengan takjub. Ada banyak masakan dan juga sebuah kue ulang tahun yang lilinya telah menyala.
"Hari ini sebenarnya ulang tahun Kak Tama tapi tahukan dia mana ingat hari ulang tahunya, apalagi nanti ulang tahun istrinya nanti pasti dilupakan" ucap Serena.
"Siapa bilang saya tidak ingat? kamu aja yang selalu berpikiran buruk tentang saya! saya bahkan bilang sama kamu kalau hari ini hari spesial bagi saya" ucap Tama karena sejak pagi ia menunggu ucapan selamat ulang tahu dari Serena.
"Udah susah payah masakin kue tart malah dimarahin! aku kan sengaja ngerayainnya sama-sama Karina dan Alfa!" ucap Serena sambil menyebikkan bibirnya.
__ADS_1
"Memang benar-benar minta dicium kamu ini!" ucap Tama membuat Alfa terbahak mendengarnya.
"Kalau ngomong jangan sembarangan, malu tahu! " kesal Serena dengan wajah memerah karena malu.
"Malu sama siapa? sama Alfa?" tanya Tama.
"Iya" ucap Serena.
"Dia ini lebih senior dalam urusan asmara jadi dia pasti mengerti!" ucap Tama membuat Serena membuka mulutnya.
"Tiup cepat!" teriak Serena sambil mengangkat kue itu dengan pelan dan mendekati Tama.
Tama segera meniupnya membuat Karina yang baru saja datang membawa sup keatas meja tersenyum senang. "Selamat ulang tahun Tam" ucap Alfa.
"Thanks Al" ucap Tama.
"Semoga cepat kawin" goda Alfa membuat wajah Serena memerah dan Karina tertawa melihat Serena yang terlihat malu-malu.
"Hahaha" tawa mereka berempat membahana.
__ADS_1
tbc...