
Setelah mandi Tama segera keluar dari kamar dan ia melihat Serena sedang memainkan ponselnya. Tama segera keluar dan ia memilih duduk di depan teras. Ia menyandarkan punggungnya dan tersenyum saat melihat kesamping ada sosok Alfa yang juga sedang duduk di teras rumahnya.
"Hanya karena istri ingin berdekatan dengan sahabatnya, kau memilih untuk pindah kesini juga Tam?" tanya Alfa.
"Tidak, saya memang dipindah tugaskan kesini!" jujur Tama. Suatu kebetulan jika saat ini ia bisa dipindahtugaskan ditempat yang sama bersama Alfa.
"Atau kau yang tak rela berpisah dariku Tam hehehe.... ?" goda Alfa membuat Tama terkekeh.
"Mungkin saja Al" ucap Tama.
"Kopi Tam?" tanya Alfa.
"Boleh," ucap Tama.
"Sebentar Tam," ucap Alfa. Ia melangkagkan kakinya masuk kedalam rumah dan menuju dapur. Alfa menyeduhkan segelas kopi untuk Tama membuat Karina mendekati Alfa.
"Abang ke depan saja, biar Karin yang buatin kopinya!" ucap Karina membuat Alfa tersenyum.
"Tetimakasih sayang," ucap Alfa dan ia mengelus kepala Karina dan kemudian segera melangkahkan kakinya meninggalkan Karina.
Alfa kembali duduk diteras "Tam, kenapa nggak pindah lagi ke Semarang?" tanya Alfa.
"Kalau pun dipindajkan ke Semarang, saya ingin Papa mertua bukan lagi kapolda disana!" ucap Tama membuat Alfa menganggukkan kepalanya. Tama sama seperti dirinya berjuang keras untuk menjadi seorang perwira polisi. Bahkan sejak SMA Alfa telah berlatih dan berusaha menjadi yang terbaik saat tes nanti. Ternyata usaha dan kerja kerasnya berhasil hingga ia bisa menjadi seorang perwira polisi seperti sekarang ini.
Karina datang membawa secangkir kopi untuk Tama dan ia juga membawakan beberapa cemilan untuk mereka. "Terimakasih Rin," ucap Tama.
"Sama-sama Kak," ucap Karina. "Loh, Serena mana Kak?"
"Di kamar paling lagi baca komik diponselnya" ucap Tama membuat Karina tersenyum karena kebiasaan Serena memang seperti itu sejak dulu.
__ADS_1
"Abang, Kak Tama. Karina kedalam dulu ya!" ucap Karina.
Alfa dan Tama menganggukan kepalanya. Tama meminum kopinya dengan santai. "Malam ini ajak istri begadang Al jadi pas karena sudah dikasih kopi sama Karina" ucap Tama membuat Alfa terkekeh.
"Memang sekarang Serena udah bisa diajak kerjasama?" tanya Alfa penasaran. Biasanya tidak ada rahasia diantara keduanya jika sedang berbicara berdua seperti ini.
"Lagi dibujuk Al, kamu tahu kan saya paling susah ngebujuk permempuan makanya memilih jomblo dari pada pacar saya itu sakit hati karena saya cuekin," jelas Tama.
"Iya sampai waktu itu kamu sewa pacar pura-pura karena gengsi nggak bawa pacar tapi perempuan itu malah mau jadi pacar beneran hahaha..." tawa Alfa membuat Tama ikut tertawa.
"Iya, dijodohkan sama dia juga nggak mau waktu itu tapi setelah ketemu langsung jadi suka dan langusng pengen dijadikan istri. Yang galak lebih menantang," jelas Tama.
"Tipe kamu banget ya Tam, si Seren?" tanya Alfa.
"Iya tipe saya ya dia. Galak, cantik tapi baik Al. Ini mau dijinakin dulu biar bisa kasih cucu buat orang tua kita. Tiap ditelepon yang ditanyai kapan cucu mereka jadi," ucap Tama membuat Alfa tersenyum.
"Iya Tam, usaha dan doa. Kalau rezeki dikasi cepat Alhamdulilah tapi kalau belum semoga disegerakan," ucap Alfa. Ia dan istrinya juga berharap segera diberikan momongan tapi jika nanti belum diberikan momongan, mungkin keduanya diminta untuk menjalani pacaran setelah menikah.
Pukul sebelas malam Tama masuk kedalam rumah dan ia melangkahkan kakinya menuju kamarnya. Ia melihat Serena ternyata belum tidur membuat Tama menyunggingkan senyumannya. Tama membaringkan tubuhnya diranjang dan ia menarik ponsel Serena membuat Serena kesal.
"Kak... " teriak Serena.
"Kenapa?" tanya Tama.
"Sini ponselnya!" pinta Serena.
"Kamu rela menghabiskan waktu kamu dengan ponsel ini, tapi sama suami kamu dipeluk aja kamu nggak mau, jadi kamu beneran mau aku... " ucapan Tama segera dipotong Serena.
"Nggak, kamu jangan macam-macam ya Kak. Aku bilangin ke Papa!" ancam Serena.
__ADS_1
"Bilang saja!" ucap Tama dan ia memasukan ponsel Serena kedalam laci dan ia membaringkan tubuhnya disamping Serena. Tama tiba-tiba memeluk pinggang Serenadan kemudian ia menindih tubuh Serena. "Kalau kamu bilang ke Papa saya punya jawabannya dan Papa pasti tidak akan menyalahkan saya!" ucap Tama membuat Serena membuka mulutnya.
"Kamu mau ngejelekin aku ke Papa? jahat banget sih Kak," kesal Serena.
"Apa yang akan saya bilang ke Papa itu kenyataan Serena, kamu tidak mau diajak kerja sama membuat cucu untuk mereka dan saya didesak untuk segera memberikan cucu untuk mereka," ucap Tama dingin.
"Iya, aku mau kerjasama!" ucap Serena membuat Tama tersenyum.
"Sekarang ya Ren!" pinta Tama.
"Iya," ucap Serena dengan wajah memerah karena malu. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangannya membuat Tama menariknya tangan Serena dengan lembut.
"Nggak usah malu Ren, ini juga pertama kalinya bagi saya!" ucap Tama membuat Serena menganggukkan kepalanya.
"Iya," lirih Serena membuat Tama segera mencium Serena membuat Serena terkejut.
"Jangan digigit!" protes Tama.
"Kelamaan ciumnya," teriak Serena.
Tama mendengar suara ponselnya membuatnya segera mengangkatnya. "Halo Assalamualikum."
"Waalaikumsalam, Tama nggak usah teriak keras gitu. Dari sini kedengaran suara kalian. Lupa ya? kamar kita hanya berbatas dengan tembok!" goda Alfa membuat wajah Tama merah dan Tama segera mematikan ponselnya.
"Kenapa?" tanya Serena.
"Pakai jaket, malam ini kita nginap dihotel saja!" ucap Tama membuat Serena melototkan matanya.
"Disini saja kenapa?" tanya Serena.
__ADS_1
"Di hotel aja ya Ren!" pinta Tama lembut membuat Serena menganggukkan kepalanya.