
Herlina menatap Karina dengan sendu ia tidak menyangka jika putrinya ini ternyata menderita bersama Doni. jika saja tindakan kasar Doni tidak ia ketahui, ia dan suaminya pasti akan menyesal seumur hidup karena menikahkan Karina dengan Doni. laki-laki perselingkuh dan suka memukul pasti akan membuat putrinya terluka.
"Maafkan Mama nak, kenapa kamu tidak cerita sama Mama, Papa dan Kakak?" tanya Herlina.
"Tadinya Karin mau cerita tapi Karina takut Mama tidak percaya karena Mama sangat antusias dengan pernikahan Karina dengan Kak Doni. Karina juga tidak ingin keluarga kita malu karena persiapan pernikahaan ini sudah hampir sembilan puluh persen Ma. apalagi Kak Doni mengacam akan meminta Papinya menggagalkan beasiswa buat Kak Sakti jika Karin minta putus Ma" jelas Karina membuat Herlina menatap putrinya itu dengan sendu.
"Karin, beasiswa Kakak tidak masalah jika batal. Kakak masih bisa mencari beasiswa lainya dek. Sekarang bagi Kakak yang paling penting itu kebahagiaan kamu!" ucap Sakti.
"Iya Kak, maafin Karin karena baru cerita sekaranh sama Kakak, Papa dan Mama!" ucap Karina.
Herlina tersenyum ia mengelus rambut Karina dengan lembut. "Bagi Mama dan Papa kebahagiaan kamu yang utama Karin!" ucap Herlina.
"Papa akan lapor polisi karena Donu telah menyakiti putri kesayaangan Papa!" ucap Alam.
__ADS_1
"Jangan Pak, masalah ini cukup sampai disini yang penting rencana pernikahan Karin batal Pa!" pinta Karin.
"Baiklah Papa terima keputusan kamu nak, tapi jika Doni masih mengganggu kamu Papa tidak akan tinggal diam!" ucap Alam.
"Iya Pa" ucap Karina kembali memeluk Alam dengan erat.
"Bagaimana dengan keluarga besar Mama dan Papa kalau mereka tanya kenapa pernikahan Karina batal?" ucap Karina ia tidak ingin Papa dan Mamanya malu.
Herlina menuntun Karina menuju kamarnya. ia sangat sedih saat ini melihat putrinya terlihat sangat rapuh. Sungguh ia tidak menyangka jika Doni tega memperlakukan putrinya seperti ini, berselingkuh dan memukul putrinya. untung saja putrinya bisa lepas dari Doni dan tidak terjebak dalam pernikahaan.
"Karin mau mandi Ma!" ucap Karina menciba melepaskan bajunya namun bahunya terasa sakit. Herlina yang mendengar ringis kesakitan dari Karina membuatnya membantu Karina membuka bajunya dan Herlina merasa sangat terpukul. ketika melohat punggung Karina membiru.
"Maafkan Mama nak, maaf hiks...hiks..." tangis Herlina pecah. "Apa sangat sakit nak?" tanya Herlina.
__ADS_1
"Sekarang tidak terlalu sakit lagi Ma!" ucap Karina.
"Mama tidak akan membiarkan Doni mendekatimu lagi nak. Mama janji, Mama tidak peduli dengan ucapan keluarga bedar kita atau para tetangga mengenai gosip yang pastinya akan berkembang mengenai pembatalan rencana pernikahan kamu!" ucap Herlina.
"Karin mandi dulu Ma!" ucap Karin tersenyum dan melangkahkan kakinya masuk kedalam kamar mandi. ia kembali menangis karena lega bisa lepas dari Doni. sejak dulu inilah yang ia inginkan, ada penyesalan dihatinya karena tidak jujur dengan perlakuan Doni selama ini padanya.
Setelah selesai mandi Karina segera memakai pakaiannya dan berbaring di atas ranjang. ia memejamkan matanya dan terlelap. Namun tiba-tiba Karina mendengar isak tangis dari Mamanya membuatnya membuka matanya dan ia segera memjamkan matanya saat mendengar ucapan Mamanya.
"Pa, Mama benci sama Doni karena telah menyakiti Karina Pa. sejak kecil Mama tidak membiarkan sedikit pun luka ditubuh Karina tapi dia dengan berani melukai fisik dan hati Karkna Pa. Mamia tidak rela Pa hiks...hiks... " bisik Herlina namun Karina masih bisa mendengarnya.
"Mulai saat ini jangan ungkit masalah Doni apalagi pernikahaan. urusan siapa yang menjadi suami Karina kelak tidak perlu kita ikut campur lagi Ma. karina sudah besar dia bisa mencari pasangan hidup yang dia inginkan!" ucap Alam.
"Iya Pa" ucap Herlina memeluk suaminya dengan erat sambil menatap kearah Karina. tanpa mereka sadari Karina mendengar ucapan mereka. Karina menteskan air matanya dan menahan isak tangisnya karena haru.
__ADS_1