
Sejak kemarin malam Alfa memang tidak pulang karena ia bersama timnya sedang mengejar tersangka ke luar kota dan Karina tinggal bersama kedua orang tuanya karena Alfa khawatir dengan keselamatan Karina. Saat ini Karina sedang duduk di ruang rapat bersama dokter lainnya. Karina dan Serena mendengarkan pembicara dengan serius karena penjelasan rekannya saat ini menyangkut peningkatan pelayanan rumah sakit tempat mereka bekerja.
Karina tersenyum ketika tatapannya saat ini tertuju kepada sosok Sakti kakak sulungnya. Namun ketika melihat senyum Sakti tidak seperti biasanya membuat Karina sedikit aneh dengan tingkah Kakak sulungnya itu. Ada perasaan khawatir dan penasaran saat ini. Ingin sekali Karina bertanya kepada Sakti saat ini juga namun ia harus tetap fokus dengan pejelasan salah satu Dokter seniornya.
Setelah rapat Selesai, Karina mengikuti Sakti yang saat ini melangkahkan kakinya dengan cepat. "Rin... cepat banget jalannya?" ucap Serena yang mencoba mempercepat langkahnya agar bisa sejajar dengan Karina.
"Aku mau bicara sama Kak Sakti Ren, Kak Sakti tidak seperti biasanya Ren!" ucap Karina.
"Ayo aku temani ke ruanganya nanti aku tunggu diluar. Aku hanya tidak ingin kamu di gangguin Doni lagi Rin!" ucap Serena yang khawatir dengan Karina apalagi kata Tama Karina saat ini masih diawasi seseorang.
"Hehehe" Karina terkekeh membuat Serena memukul lengan Karina dengan kesal "Kok ketawa?" kesal Serena.
"Gaya bicara kita jadi aneh ya Ren. Abang juga minta aku berhenti ngomong gue-gue gitu katanya udah dewasa bukan ABG lagi jadi harus dibiasakan walaupun tetap aja sering keceplosan Ren!" jelas Karina.
"Sama, Tama juga bilang gitu terus dia juga ngajarin aku nanti kalau bicara sama ibu-ibu bayangkari jangan ngegas dan harus bisa jaga sikap Rin" jelas Serena membuat Karina tersenyum.
__ADS_1
keduanya akhirnya sampai didepan ruangan Sakti. "Masuk aja Rin, gue tunggu disini!" ucap Serena.
Karina tersenyum dan menggangukkan kepalanya lalu ia segera mengetuk pintu ruangan Sakti. Tok... tok... "Masuk!" ucap Sakti dari dalam ruangannya.
Karina menarik handel pintu dan melangkahkan kakinya masuk kedalam ruangan Sakti. Ia mendekati Sakti yang duduk dikursi kerjanya dan Karuna segera duduk dihadapan Sakti. "Kak" satu kata terucap dibibir Karina membuat Sakti tersenyum.
Sakti sangat menyangi Karina, baginya Karina adalah harta yang paling berharga yang harus ia jaga. Adik satu-satunya yang ia miliki. Walaupun berbeda ibu tapi Sakti tetap akan selalu menyayangi Karina.
Karina berdiri lalu menghamburkan pelukannya membut Sakti tersenyum "Cerita sama Karin Kak!" pinta Karina dengan mata yang berkaca-kaca.
Karina menggelengkan kepalanya. Sejujurnya ia rindu Mamanya, rindu Papanya dan juga Sakti Kakaknya "Karin kangen sama Kakak. Kalau yang kakak permasalahkan masalah Ira, itu bukan salah Kakak!" ucap Karina.
"Kakak terlalu lemah Karina" ucap Sakti.
"Kenapa Kakak bicara seperti itu?"tl tanya Karina sendu. Ia tidak suka Sakti terlihat lemah seperti ini.
__ADS_1
"Mama dan Papa mau cerai dek. Papa bangkrut dan perusahaan kita butuh dana investasi karena saham perusahan kita yang tiba-tiba turun. Dalangnya Doni dan temannya. Kakak harus mengambil tanggung jawab karena Papa semalam terkena serangan jantung Karina!" ucap Sakti membuat Karina menggelengkan kepalanya tidak percaya karena beberapa hari yang lalu ia masih melihat sang Papa terlihat sehat.
"Kenapa Kakak tidak memberitahu Karina hiks... hiks...?" tanya Karina dengan tatapan kecewa. Tangisnya pecah membuat Serena segera masuk saat mendengar tangis Karina.
Serena menghela napasnya karena melihat Karina dan Sakti yang sedang saling berpelukan. Ia memilih untuk mendengarkan pembicaraan keduanya karena ia juga akhirnya masuk kedalam ruangan Sakti.
"Papa tidak mau kamu tahu Karin!" lirih Sakti.
"Mama...bagaimana Kak hiks...hiks..." tangis Karina.
"Mama tidak mau bercerai sama Papa dan sekarang Mama yang jagain Papa dirumah sakit lain karena Mama tidak mau bertemu orang tua Doni dan takut mereka akan menertawakannya jika dirawat disini" jelas Sakti.
"Karin mau ketemu Papa Kak hiks...hiks..." isak tangis Karina membuat Serena mendekati Karina dan ikut memeluk Karina.
"Sabar ya Rin, insyaallah Om akan segera sembuh Rin!" ucap Serena.
__ADS_1