
Tak terasa sudah tujuh bulan usia kandungan Karina. Sebenarnya Alfa telah meminta Karina untuk pulang ke Jakarta, tapi Karina menolak karena ia tidak ingin meninggalkan Alfa. Sementara itu Serena telah kembali ke Jakarta dan tinggal bersama keluarganya. Alfa tidak bisa memaksa istrinya untuk tinggal di Jakarta bersama keluarga besarnya dan ia akhirnya memperkerjakan seorang pembantu rumah tangga untuk menemani Karina jika ia sedang pergi bertugas.
Malam ini malam kedua Alfa tidak pulang dan Karina merasa kesepian apalagi Serena tidak ada lagi disini. Jam menujukkan pukul dua belas malam dan Karina belum juga bisa memejamkan matanya. Bi Romlah yang menemaninya juga telah tertidur pulas. Karina ingin menghubungi Alfa tapi ia malu jika nanti rekan-rekan Alfa mengetahui jika ia selalu menghubungi Alfa padahal jam sepuluh tadi ia juga baru saja menghubungi Alfa.
Sebagai seorang istri prajurit, Karina harus bisa mengerti jika tugas Alfa adalah tugas yang penting. Ia juga tidak ingin membuat Alfa khawatir karena sikapnya yang ingin Alfa segera pulang. Karina mengelus perutnya dengan lembut sambil memikirkan sedang apa suaminya saat ini. Karina tiba-tiba mendengar keributan dan ia segera keluar dari rumahnya. Ia melihat beberapa polisi baru saja turun dari dalam mobil dan suara teriakan dan diiringi tangis membuat Karina tertegun.
"Kenapa Bu?" tanya Romlah.
"Nggak tahu Bi itu kenapa ya di Rumah Pak Anis?" tanya Karina.
"Ibu tunggu disini biar saya yang tanya ke sana ya Bu!" ucap Romlah.
"Iya, Bi" ucap Karina. Bi Romlah segera melangkahkan kakinya menuju Rumah Pak Anis.
Karina memilih duduk di teras dan ia melihat beberapa tetangga lainnya mendekati rumah Pak Anis. Pak Anis merupakan salah satu polisi yang tinggal di komplek perumahan ini bersama keluarga kecilnya. Jantung Karina berdetak dengan kencang karena Pak Anis juga merupakan anggota polsek tempat suaminya bertugas.
Karina meneteskan air matanya tanpa sadar rasa khawatir mulai menjalar dipikirannya. Tubuhnya bergertar dan ia mengigit bibirnya karena pikiran buruk mulai membayanginya saat ini. Apa yang sebenarnya terjadi itu yang saat ini ia pikirkan. Apapun yang terjadi ia harus siap tapi tetap saja ia tidak mungkin bisa tegar.
__ADS_1
Ya Allah lindungi suami hamba...
Bi Romlah mendekati Karina dan wajahnya tampak murung dan sedih membut rasa penasaran Karina bertambah. Ia menduga apa yang terjadi adalah sesuatu yang buruk hingga membuat Bi Romlah juga bersedih.
"Bu, Pak Anis ditembak Bu dan sekarang kritis di Rumah Sakti," ucap Romlah.
"Astagfirullah Bi, gimana keadaan suami Karina Bi hiks... hiks..." tangis Karina pecah.
"Pak Anis ditembak saat penyergapan ke Markas gembong Narkoba Bu," ucap Romlah dan tangis Karina bertambah keras karena ia tahu saat ini suaminya memang sedang menagkap gembong Narkoba atas informasi warga di daerah ini yang berhasil Alfa tangkap.
Karina terduduk lemas membuat Bi Romlah kahwatir. "Bi ambilkan ponsel Karin, Bi!" pinta Karina.
Bi Romlah menyerahkan ponsel Karina. Karina segera membuka ponselnya dan ia melihat lima panggilan tak terjawab dari Alfa. Karina segera menghubungi Alfa dan beberapa detik kemudian suara Alfa terdengar. Wajah Alfa terlihat kusut dan Alfa melihat wajah Karina yang bersimbah air mata membuatnya sangat kahwatir.
"Assalamualikum," ucap Alfa
"Waalaikumsalam Abang hiks...hiks...," ucap Karina sambil terisak.
__ADS_1
"Abang tidak apa-apa Karin," ucap Alfa karena ia tahu mungkin berita tentang tertembaknya salah satu rekannya telah sampai ditelinga Karina, apalagi Pak Anis merupakan tetangga mereka.
"Abang dimana?" tanya Karina sambil menghapus air matanya.
"Abang di rumah sakit sayang, kamu jangan khawatir! Abang tidak terluka, Abang sedang menunggu keluarga Pak Anis datang ke Rumah Sakti dan setelah itu Abang pulang," ucap Alfa.
"Abang Karin takut hiks...hiks..." tangis Karina.
"Iya sayang Abang tahu," ucap Alfa. Jangan nangis ya sayang, Abang janji segera pulang!" ucap Alfa.
"Iya Bang," ucap Karina.
"Abang tutup ya teleponnya, ada yang harus Abang urus sayang!" ucap Alfa.
"Iya Bang," ucap Karina.
Sabungan teleponnya terputus. Bi Romlah memberikan Karina segelas air dan Karina segera meminumnya. "Pak Alfa nggak apa-apa Bu dan sekarang ibu istirahat!" ucap Bi Romlah.
__ADS_1
"Iya Bi, kita hanya bisa berdoa semoga Pak Anis segera sembuh Bi," ucap Karina.
"Iya Bu," ucap Bi Romlah.