Karina Dan Alfa

Karina Dan Alfa
Serena kecewa dan juga kesal


__ADS_3

Serena menghubungi Karina karena ia ingin mengajak Karina untuk berbelanja seperti biasanya. Sebagai anak seorang yang memiliki jabatan tinggi di kepolisian, sang Papa memang selalu saja pindah ke berbagai daerah hingga Serena tidak memiliki banyak teman sejak kecil. Tapi setelah mengenyam pendidikan di Falkultas kedokteran, ia mengenal perempuan cantik yang sangat pintar bernama Karina. Hanya Karina yang mengerti dirinya selama ini. Hingga Serena memilih untuk bekerja di Rumah Sakit Dirgantara karena Karina bekerja disana.


"Halo Assalamualikum Rin."


"Waalikumsalam," ucap Karina. Serena bisa mendengar suara mobil dan ia yakin saat ini Karina sedang berada didalam mobil.


"Dimana Rin? temenin aku belanja yuk!" ucap Serena.


"Nggak bisa Ren, Hmmm...maaf Ren!" pinta Karina dengan suara seraknya membuat Serena khawatir.


"Kenapa Rin, kok minta maaf?" tanya Serena penasaran.


"Sekarang aku dan Abang sedang dalam perjalanan pindah ke tempat Abang tugas Ren. Maaf Ren nggak kabarin kamu!" ucap Karina membuat Serena terkejut.


"Kok nggak kasih tahu aku Rin?" ucap Serena kecewa.


"Maaf" lirih Karina membuat Serena tanpa sadar menjatuhkan air matanya. Ia akan benar-benar terpisah dari Karina. "Ren, Karin nggak tega ninggalin kamu Ren. Selama ini Karin hanya punya sahabat baik yang bernama Serena yang selalu ada buat Karin. Melihat kamu sedih Karin nggak sanggup!" ucap Karina membuat isakan dibibir Karina terdengar.


"Tapi seenggaknya aku bisa lihat kamu pergi bersama suami kamu Ren, aku tahu kalau suatu saat kita pasti akan berjauhan. Apalagi suami kita sama-sama abdi negara hiks...hiks... " Serena tidak menyadari sosok Tama yang baru saja pulang berada dibelakangnya. "Ya udah, hati-hati ya! Assalamualikum" ucap Serena.

__ADS_1


"Waalaikumsalam."


Serena menangis terseduh-seduh membuat Tama yang mendekatinya dan duduk disampingnya. "Cengeng," ejek Tama membuat Serena kesal.


Tama selalu saja membuatnya kesal. Sejak menikah dengan Tama, Tama tidak pernah bersikap romantis apalagi membujuknya jika ia marah, membuat Serena berusaha menjaga hatinya agar tidak takluk dengan pesona Tama dan akhirnya ia menyatakan perasaannya.


"Kenapa mesti menangis? kamu nggak mungkin berada diketeknya Karina selamanya!" ejek Tama membuat Serena mengambil bantal kursi dan memukul wajah Tama karena kesal. Bugh...bugh.


"Jahat banget sih... siapa juga mau diketeknya Karin..." kesal Serena membuat Tama menarik tangan Serena agar menghentikan gerakannya. "Lepasin!" teriak Serena.


"Tidak, mau!" ucap Tama yang saat ini menarik tangan Serena dan membuang bantal yang tadi memukul wajahnya. Tama menarik Serena hingga tubuh Serena berada diatasnya.


"Nggak akan," ucap Tama. Ia menatap wajah Serena yang saat ini berada sangat dekat dengan wajahnya. Mata keduanya bertemu namun Serena segera memalingkan wajahnya membuat Tama memegang rahang Serena dan mencium bibir Serena dengan paksa.


"Hmppt... " ucap Serena sambil memukul dada bidang Tama.


Tama melepaskan ciumanya membuat wajah Serena memerah karena kesal dan juga malu. "Mesum" teriak Serena.


"Sama istri sendiri nggak dosa, tapi kalau dipikir-pikir kamu itu memang banyak dosanya sama suami," Jelas Tama.

__ADS_1


"Enak saja kapan aku buat dosa sama kamu!" ucap Serena sambil menggerakan tubuhnya berusaha menjauh dari tubuh Tama yang berada dibawahnya. Tapi percuma saja, Tama yang kuat membuatnya tidak bisa mejauh karena sebelah tangan Tama memeluk erat tubuhnya.


"Kamu belum melayani saya dengan baik Serena. Apa salahnya kalau kita mewujudkan keinginan orang tua kita untuk menimang cucu!" ucap Tama membuat Serena mengkerucutkan bibirnya.


"Kamu belum cinta sama aku!" ucap Serena.


"Cinta bisa dipupuk dengan kebersamaan kita!" ucap Tama membuat Serena menghela napasnya.


Kalau kamu bilang kamu cinta sama aku, aku bakalan benar-benar rela menyerahkan diri menjadi istri kamu yang sebenarnya.


Batin Serena.


"Lepasin!" teriak Serena.


"Cap bibir lima kali baru kamu saya lepaskan! dan kamu panggil saya kakak sayang!" goda Tama dengan wajah datarnya membuat Serena ingin sekali memukul wajah Tama. Tapi ia tidak tega karena hatinya telah jatuh kedalam pesona Tama. Serena terlalu gengsi untuk mengatakan, jika ia telah mulai mencintai Tama.


"Kalau kamu nggak mau, kita pindah posisi. Saya yang akan diatas kamu!" tawar Tama membuat Serena melototkan matanya.


"Dasar mesum..." teriak Serena membahana membuat Tama tertawa terbahak-bahak karena berhasil membuat istrinya itu kesal.

__ADS_1


__ADS_2