Karina Dan Alfa

Karina Dan Alfa
mulai memahami Tama


__ADS_3

Tama benar-benar menjemput Serena tepat waktu, saat ini ia telah sampai di Apartemen miliknya. Tama sengaja meminta Serena pindah ke Apartemen ini, karena Apartemen ini adalah hasil kerja kerasnya saat ia masih SMA dulu. Tama memiliki usaha cafe yang menyajikan kopi dan telah memiliki cabang diberbagai kota. Usahanya yang telah ia rintis sebelum ia menjadi seorang polisi.


Tama meminta orang tuanya untuk membeli Apartemen ini untuk ia tempati bersama Serena ketika mereka menikah nanti. Tama tidak ingin tinggal bersama Maminya karena ia ingin mendidik Serena menjadi lebih mandiri. Tama tidak tahu beberapa lama ia akan menetap di Jakarta, karena biasanya ia akan dipindahkan di berbagai daerah dan ia pastikan Serena akan mengikutinya kemanapun ia pergi.


Tama saat ini telah berada didepan pintu unit Apartemen miliknya. Ia menekan bell dan seseorang membuka pintu apartemen sambil tersenyum melihatnta. Karina mempersilahkan Tama untuk masuk kedalam Apartemen ini "Serena ada dikamar sebentar ya Tam!" ucap Karina segera memanggil Serena yang saat ini sedang memoles wajahnya dengan makeup.


"Udah cantik Ren!" puji Karina.


"Ini kan pertama kali gue mengunjungi calon mertua gue Rin, hmm... gue bawa apa ya?" tanya Serena bingung.


"Tanya aja sama Tama Maminya suka makan apa Ren!" ucap Karina.


"Iya deh nanti gue tanya sama dia!" ucap Serena.


"Cepetan kasihan Tama lama nunggunya!" ucap Karina.


Serena segera mengambil tasnya dan ia kemudian menatap Karina dengan sendu. "Doain gue ya Rin biar disayang mertua! terus lo jangan nangis lagi ya Rin!" pinta Serena masih khawatir dengan keadaan Karina membuat Karina tersenyum.

__ADS_1


"Iya Ren" ucap Karina memeluk Serena dengan erat. Karina melepaskan pelukanya dan tersenyum melihat wajah cantik sahabatnya.


"Semangat ya Ren, ingat jangan berantem sama Tama!" ucap Karina.


"Nggak kok paling kesal aja kalau lihat muka gantengnya yang so cool itu!" ucap Serena membuat Karina terkekeh.


Serena keluar dari kamarnya diikuti Karina. Tama menatap Serena dengan datar membuat Serena kesal. Ia sebenarnya ingin Tama sedikit memujinya tapi sepertinya tidak mungkin karena melihat sifat Tama yang pendiam dan tidak romantis.


"Ayo!" ucap Tama membuat Serena menyebikkan bibirnya membuat Karina terkekeh karena ia sangat mengenal sahabatnya itu yang sebenarnya menginginkan Tama memujinya.


Serena dan Tama berjalan beriringan keluar dari Apartemen menuju mobil tama yang berada diparkiran apartemen. Serena menatap Tama yang semakin hari semakin tampan.


Mereka masuk kedalam mobil dan Tama segera menghidupkan mesin mobilnya lalu melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. "Pasang setbeltnya!" perintah Tama.


"Nggak tahu caranya!" ucap Serena sengaja agar Tama memasangkannya. Tama segera menepikan mobilnya dan menedekatkan tubuhnya membuat jantung Serena berdetak dengan cepat. Jarak keduanya begitu dekat membuat Serena yang malu memilih memejamkan matanya berharap Tama akan menciumnya. Namun setelah Serena membuka matanya Tama telah kembali diposisinya dan segera melanjutkan perjalanannya.


Gue pikir si Tama mau cium gue, ya ampun gue malu-maluin aja...

__ADS_1


"Kita bawa apa untuk orang tua kamu Tama?" tanya Serena karena Tama tidak akan mengeluarkan suara emasnya itu jika ia tidak bertanya.


"Terserah!" ucap Tama membuat Serena kesal.


"Jangan terserah gitu dong, Mama itu sukanya apa?" tanya Serena lagi.


"Cake" ucap Tama.


"Cari toko kue yang enak disekitar sini!" ucap Serena.


"Nggak usah itu dibelakang sudah ada kuenya!" ucap Tama membuat Serena terkejut.


"Itu kapan belinya?" tanya Serena penasaran.


"Tadi sebelum jemput kamu" jelas Tama membuat Serena tersenyum karena sepertinya sosok Tama memang benar-benat lebih baik dari laki-laki yang mencoba mendekatinya.


"Makasi Tama, Aku malu kalau nggak bawa apa-apa!" ucap Serena.

__ADS_1


"Itu bukan masalah besar yang penting kamu datang mengunjungi mereka, mereka sudah senang!" jelas Tama membuat Karina merasa bersama dengan Tama bukanlah pilihan yang buruk karena ia mulai sedikit memahami sosok Tama.


__ADS_2