
Karina menemani Serena tidur di Rumahnya. ia bisa melihat betapa rapuhnya Serena saat ini, apalagi Tama belum bisa dihubungi sampai saat ini. "Ren lebih baik kamu istirahat!" pinta Karina karena ia khawatir melihat Serena yang masih saja menangis saat ini.
"Rin aku takut Kak Tama terluka," ucap Serena.
"Semua istri seorang abdi negara seperti kita pasti harus siap dengan keadaan seperti ini Ren," jelas Karina.
Karina tahu bagaimana resiko pekerjaaan suaminya dan Alfa juga pernah mengatakan kepadanya jika suatu saat Karina menerima kabar ia terluka atau bahkan tewas saat berjuang demi negara, Karina harus kuat dan ikhlas. Tangis pilu Serena membuat Karina ikut merasakan kesedihan Serena.
Tetap saja meski Abang sudah mengatakan aku harus ikhlas jika suatu saat Abang terluka dalam tugas. Aku juga pasti akan menangis seperti Serena.
"Kak Tama pulang, Serena kangen Kak hiks... hiks..." ucap Serena.
"Ren kita istirahat ya!" ajak Karina meminta Serena membaringkan tubuhnya.
Serena menganggukkan kepalanya. Sejujurnya saat ini, ia sangat lelah karena sejak tadi, ia tidak henti-hentinya menangis. Serena mencoba memejamkan matanya dan akhirnya ia tertidur lelap. Karina mengelus kepala Serena dengan lembut, saat ini sahabatnya terlihat sangat sedih dan khawatir. Ia berharap semoga Tama akan segera pulang.
Sementara itu Alfa menunggu kepulangan Tama. Tadi salah satu rekannya mengatakan jika Tama memang terluka di lengan dan dibawa ke Rumah Sakit. Ponsel Tama habis batrai saat Serena menghubunginya tadi dan sampai saat ini ponselnya juga belum diaktifkan.
__ADS_1
Sebuah mobil berhenti didepan asrama polisi yang dihuni Tama dan Alfa. Tama keluar dari dalam mobil tanpa memakai baju atasan dan dengan lengan yang diperban. "Terimakasih," ucap Tama kepada rekan-rekannya. Mereka memberi hormat kepada Tama dan kemudian melihat kehadiran Alfa yang mendekati Tama, membuat mereka juga segera memberi hormat kepada Alfa.
"Kita pamit pulang Ndan, " ucap salah seorang dari mereka.
"Iya hati-hati " ucap Tama sedangkan Alfa tersenyum dan mengangkat tangannya mempersilahkan mereka semua untuk segera melanjutkan perjalanan.
Setelah mobil telah pergi menjauh meninggalkan mereka, Alfa mendekati Tama. "Istrimu Tam, dari tadi nangis terus," jelas Alfa.
"Kenapa?" tanya Tama.
Alfa menghela napasnya "Serena khawatir denganmu Tam, dia kira kau terluka parah."
"Kamu ini gimana sih Tam, istri kamu itu masa nangis pura-pura. Sekarang saja mungkin masih nangis dirumahmu. Hmmm... Tam kenapa bisa ditembak? bisanya kalau kau satu Tim padaku kau pasti akan baik-baik saja," ucap Alfa membuat Tama menatap Alfa dengan sinis.
"Informasi bocor dan kita dijebak tadi," jelas Tama.
"Mata-mata lokal berati sudah bermain Tam, kalian harus waspada dengan informasi dari mereka," jelas Alfa yang alih dalam hal mendapatkan informasi dan juga strategi penyelesaian kasus.
__ADS_1
"Iya dalam hal ini aku akui kau lebih bisa diandalkan Pak Kapolsek," ucap Tama membuat Alfa tersenyum.
"Lebih baik kau segera masuk menemui istrimu dan aku bisa membawa istriku pulang Tam!" ucap Alfa.
"Tapi Al istriku beneran kahwatir?" tanya Tama lagi.
"Iya, makanya aku pinjamkan istriku pada istrimu!" kesal Alfa membuat Tama terkekeh.
Tama segera melangkahkan kakinya menuju
rumahnya dan ia masuk ke dalam rumah yang ternyata tidak terkunci. Tama membuka pintu kamarnya dan melihat Serena yang sedang tertidur lelap. Karina yang belum tertidur segera bangun.
"Kak Tama akhirnya pulang, kalau gitu Karin pamit ya Kak!" ucap Karina.
"Iya Rin, terimakasih!" ucap Tama.
"Sama-sama Kak," ucap Karina dan ia segera melangkahkan kakinya ke luar dari rumah Tama dan Serena.
__ADS_1
Tama menatap wajah Serena yang saat ini terdapat jejak air mata yang belum mengering. Tama tersenyum karena istrinya ternyata sangat mengkhawatirkannya. "Saya tidak menyangka jika kamu mengkhawatirkn saya Ren." ucap Tama mendekatkan wajahnya dan kemudian mencium bibir Serena dengan lembut.