Karina Dan Alfa

Karina Dan Alfa
Papa


__ADS_3

Karina menghubungi Alfa dan mengatakan tentang kondisi Papanya. Ia juga meminta izin kepada Alfa untuk datang menjenguk Papanya. Alfa berjanji akan segera menyusul ke rumah sakit setelah ia sampai ke Jakarta. Karina, Serena dan Sakti melangkahkan kakinya di Rumah sakit tempat Papanya dirawat. Karina melihat Herlina terlihat begitu sedih dan terduduk didepan ruang perawatan Alam.


"Mama" lirih Karina. Herlina mengangkat wajahnya dan menatap Karina dengan tatapan sendu.


"Papa Rin" ucap Herlina. "Mama yang salah, Mama tidak tahu kalau Papa banyak masalah dan Mama memperburuk keadaan!" ucap Herlina.


Karina memeluk Herlina dengan erat "Mama, Karina minta maaf ya Ma. Ini juga salah Karina Ma" ucap Karina.


Tangisan pilu Herlina dan Karina membuat Serena ikut menangis. Serena menyayangkan sikap keras dan egois Herlina selama ini. Jika saja Herlina bisa mengerti keinginan Karina dan menganggap Karina sebagai putrinya, mungkin saja semuanya tidak akan serumit ini.


"Kalau Papa pergi Mama bagaimana Karina? Mama nggak bisa... Mama nggak sanggup. Mama hanya menggertak Papa minta pisah. Sebenarnya Mama tidak berniat untuk pisah!" ucap Herlina membuat Sakti kesal.


"Kalau Mama sedikit saja mengerti Papa, Mama tidak akan sanggup mengatakan pisah kepada Papa. Selama ini Sakti bisa melihat kalau Papa juga mencintai Mama" ucap Sakti.


"Tidak Sakti, Papa hanya mencintai Kirana bukan Mama!" ungkap Herlina. Kirana mendiang istri pertama Alam adalah perempuan yang sangat Alam cintai. Tapi seiring berjalannya waktu Alam juga mencintai istri keduanya, jika tidak ia telah lama menceraikan Herlina.

__ADS_1


"Kalau Papa tidak mencintai Mama, Papa sudah lama meninggalkan Mama karena sikap egois Mama! banyak perempuan diluar sana yang bersedia menjadi istri Papa Ma" ucap Sakti. Alam memiliki wajah tampan saat ia masih muda, Alam juga merupakan seorang pengusaha tentu saja banyak para wanita yang menyukai Alam.


Herlina menatap Sakti dengan sendu "Kapan Papa sadar nak? Mama mau minta maaf!" ucap Herlina.


"Sakti tidak tahu Ma, kondisi Papa kritis" ucap Sakti membuat Karina segera berdiri dan segera masuk kedalam ruang perawatan Alam.


Karina melangkahkan kakinya mendekati Alam yang terbaring lemah di ranjang. Beberapa alat medis terpasang ditubuh Alam. Karina melihat mesin monitor detak jantung yang mengukur detak jantung Papanya. Air matanya menetes karena Papanya tidak sadarkan diri dan dibantu alat pernapasan.


"Papa ini Karina" lirih Karina. Karina meneteskan air matanya dan ia terduduk dilantai sambil memeluk kedua lututnya. Sungguh ia tidak menyangkah Papanya yang sehat bugar selama ini terlihat begitu lemah dan tak berdaya. Karina mengingat bagaimana senyuman sang Papa padanya ketika mereka sering bercanda dulu.


Karina menangis terseduh-seduh dipelukan Sakti sedangkan Serena saat ini memeluk Herlina yang juga sedang menangis. "Kita hanya bisa berdoa yang terbaik untuk Papa" ucap Sakti.


Herlina terlihat sangat rapuh membuat Sakti duduk disebelah Herlina dan juga mengajak Karina duduk disebelahnya. Saat ini poisis Sakti berada ditengah Karina dan Herlina. Sakti merangkul kedua wanita yang sangat ia sayangi. "Mama tenang saja ada Sakti Ma, Karina juga harus kuat ya dek, kita harus ikhlas apapun yang terjadi nanti" ucap Sakti karena sebagai seorang dokter ia tahu bagaimana kondisi Papanya saat ini.


Tiba-tiba Suster terlihat memanggil dokter. Sakti, Karina, Herlina san Serena melihat kesibukan para suster dan dokter yang memeriksa keadaan Alam. Sakti meneteskan air matanya tanpa sadar. Sebagai seorang dokter ia tidak mampu menyelamatkan Papanya. Sakti ingat apa yang dikatakan Papanya beberapa hari yang lalu saat beliau masih sehat. Alam meminta Sakti untuk menjaga Herlina dan juga menjaga Karina. Satu hal yang akan membuat Alam bahagia yaitu Karina dan Herlina menjadi rukun dan saling memaafkan.

__ADS_1


"Ma, Papa mau Mama dan Karina tidak berantem lagi Ma. Papa tahu Mama sayang sama Karina. Kalau mama tidak menyangi Karina Mama tidak akan mendukung cita-cita Karjna menjadi seorang dokter, Mama juga tidak akan menangis ketika Karina pergi dari Rumah. Kata Papa Mama hanya gengsi mengakui jika Mama menyayanvi Karina" jelas Sakti membuat Herlina tergugu dan menangis.


Dokter keluar dari ruang iccu tempat Alam dirawat. "Keluarga Pak Alam" ucap Dokter.


"Saya Dokter Jefri" ucap Sakti membuat Dokter Jefri yang mengenal Sakti menatap sendu Sakti.


"Maaf Sakti" ucap Jefri membuat tangis Herlina dan Karina kembali pecah.


"Papa...hiks...hiks.. jangan tinggalkan Karina Pa!" ucap Karina.


"Papa maafkan Mama Pa, ampuni Mama Pa, jangan tinggalkan Mama hiks...hiks...!" teriak Herlina. Tubuh Herlina melemah dan meluruh dilantai membuat Sakti segera menggendong Mamanya dan membawa Mamanya ke UGD.


Karina menangis tersedu-seduh dan suara tangisnya semakin mengeras. Tiba-tiba seseorang mendekatinya dan memeluk tubuhnya dengan erat. "Menangislah jika itu membuatmu tenang" ucap Alfa .


tbc...

__ADS_1


__ADS_2