
Senja
Hari ini Rian dan Dion mengajakku untuk nongkrong di basecamp seperti biasa.
Nanti malam adalah malam minggu, dan akan ada balapan motor liar. Pilihan nya antara jembatan layang pasupati, seputaran monumen perjuangan atau di taman flexi dago.
Tiga titik lokasi yang biasa di pakai untuk balapan liar. Meski ketiga tempat ini kerap kali di lakukan infeksi mendadak oleh aparat kepolisian, tapi kami seringkali lolos dalam penangkapan.
Biasanya, aku akan semangat setiap kali akan di gelar pertunjukkan itu.
Lumayan.. aku tak pernah absen menjadi juara, selalu mendapatkan keuntungan dengan menang taruhan.
Entah mengapa kali ini rasanya malas sekali. Today I don't think like I'am doing anything. I just wanna lay in my bed..
Pesan-pesan dari gadis-gadis yang biasa menemaniku nongkrong pun tak ada yang aku balas. Ada perasaan jenuh dengan rutinitas yang aku jalani selama kurang lebih 2 tahun ini.
Felicia calling..
Aku memutar bola mata malas, sudah 7 kali dering ponselku berbunyi dan membuat aku kesal.
Shiiiii**t!!
"Ya hallo.. " Kataku ketus.
"Senjaaaaa... I miss you"
Aku sama sekali malas merespon perkataan nya, dengan bersikap dingin seperti biasa.
"aku udah di parkiran apartement nih.. bentar lagi naik lift"
"Haah.. ngapain lu kesini? " Tanyaku sedikit membentak, lalu memutuskan panggilan.
Tak lama setelah itu bel pun berbunyi, dengan berat hati aku turun dari tempat tidur dan keluar dari kamar menuju pintu depan.
Clik.
"Senjaaaaa... " Tiba-tiba Felicia menubrukku, menerobos masuk dan tanpa aba-aba mendekatkan wajah nya ke arah wajahku.
Sesaat wajahku terkunci.. aku tak bisa menolak penyatuan indera pengecap nya mengunci dalam-dalam. Aku pun membalas dan menikmati untuk beberapa waktu, I'am a normal.
Setelah di rasa kami hampir kehabisan nafas, aku melepaskan nya.bergegas menutup pintu yang tak sempat ku lakukan saat dengan sekonyong-konyong ia menerkamku.
Felicia, seorang model di beberapa majalah sampul remaja yang sangat cantik,blasteran Kanada-Indo.
Di gadang-gadang akan menjadi seorang aktris hits garapan sutradara terkenal di tanah air, dan sekarang sedang dalam proses syuting.
__ADS_1
"Lu bukan nya lagi di Amsterdam? " Tanyaku ketus, sambil melangkah ke arah sofa dan berniat mendaratkan tubuh disana.
Tapi lagi-lagi Felicia menghalauku dengan serangan bertubi. Tanpa basa basi ia duduk di pangkuanku dan mulai membenamkan wajahnya kembali.
What the Helllll!! You are such a Bi***!
"Aku kangen kamu Ja.. syutingku di Amsterdam udah selesai ko. besok udah harus mulai syuting di Jakarta, harusnya aku langsung kesana, tapi aku ga kuat nahan rindu pengen ketemu kamu! "
Aku tersenyum sinis. Buls***!! kemarin aku lihat ia baru keluar dari Hotel dengan seorang pria dewasa, lebih tepat nya paruh baya sekitar usia 40 tahunan.
"I know you are lying now! yesterday I saw you with your Sugar daddy.. keluar dari hotel. " Aku tertawa terbahak. "I was just pretending to ask you. " Lanjutku.
Ia terdiam sejenak, lalu mendekatkan wajahnya di ceruk leherku. Mencoba memancing jiwa kelelakian normalku. Aku terbelalak melihat fabrik yang ia pakai sudah tenggorok di lantai begitu saja. Ia menarikku ke dalam kamar dan membuka T-shirt yang ku pakai dengan paksa dan tergesa. Kondisi kami sekarang setengah naked.
You know what a man will do in this situation?
Ku pejamkan mata saat di rasa gelombang itu tak tertahan ingin segera di benamkan.
Blaassh..
Bayangan wajah teduh nan ayu, indah bak bidadari melintas di pelupuk mata dan benakku.
Kerudung merah muda yang melambai di terpa angin kala petang itu, kala semburat kemerah-merahan menghiasi indah raga tertutup nya.
Lembayung memenuhi pikiranku.. Tidak hanya pikiran, tapi hatiku. Dengan impulsif aku mendorong Felicia hingga ia terhuyung jatuh ke lantai.
Aku memang tergoda, beberapa saat lalu.
Seolah seperti kucing yang lapar hendak menerkam ikan yang menari-nari menggelepar di hadapan nya dan menyerahkan diri dengan sukarela.
"Kamu kenapa Senja? what's wrong with you? you hurt me! " Sambil mengusap-usap bagian tubuhnya yang sakit.
"Lu keluar dari apartment gue! " Bentakku sambil meraih boxer yang tenggorok sembarang di lantai lalu memakainya.
"Tapi Senjaaa.. akuu.. aku.. kangen kamuu! " Felicia mendekatiku dengan tubuh naked nya, dengan tak tahu malu!
"Lepaaas ga! " Ancamku, dan menepis tangan nya dengan kuat.
"Awww.. it's hurt! kamu kejam Ja! " Ringisnya lagi. "Salah aku apa? kamu tega ngelakuin ini ke aku.. ayo tuntasin Ja! " Ia tak berhenti merengek hingga membuatku meradang.
Aku meninggalkan gadis itu sendirian di kamarku, sambil memakai T-shirt ku lagi aku berjalan ke arah ruang tamu dan mengambil dress yang tadi ia pakai.
"Nih pakee! " Aku pun melempar dress kasar ke arah nya, ia terisak menatapku seperti memelas, meminta belas kasihan.
That's me.. who really I'am.. aku memang kejam, sifatku yang dingin memang kian melekat dalam diriku.
__ADS_1
Bayangan Lembayung saat aku hampir saja melepas dahagaku, membuatku urung melakukan nya. Adrenaline ku tiba-tiba menciut, aku juga tak mengerti mengapa akhir-akhir ini seperti ada rem pakem yang tiba-tiba bisa ku injak setiap kali akan melakukan hal, you know.. beyond the limits. Yang biasanya aku lakukan dengan tanpa ada rasa bersalah sama sekali.
I know I'am bast***! melakukan hal yang tadi hampir saja aku lakukan dengan Felicia bukan hal baru bagiku.
Kalau Lembayung tahu.. ia mungkin akan jijik padaku. Meskipun bukan aku yang mencari gadis-gadis itu, sekali ku tekan kan.. mereka yang dengan sukarela menyerahkan nya, seperti apa yang cobaFelicia lakukan barusan..
"Senjaaa.. hiks! Kenapa kamu nolak aku? " Felicia masih terisak ketika ia selesai memakai kembali dress nya, dan berjalan ke arahku.
"Lo duduk sini! "
"Berapa kali aku bilang kalau aku cinta kamu Ja.. kenapa kamu ga bisa nerima aku dari dulu? "
"Lo ga ngerasa bersalah sama daddy lo? berapa kali gue bilang juga kalau gue ga pernah cinta sama lo! gue emang sayang sama lo.. tapi sayang sebatas sahabat. GA LEBIH! "
"Dia itu cm atm aku Ja.. kamu tau kan kebutuhan ku ga akan terpenuhi meski aku udah kerja sebagai model? "
"Salah lu! kenapa ga coba rubah life style lu yang hedon dengan lebih sederhana, apa adanya! "
"Cck.. mana bisa! nanti aku di anggap apa sama temen-temenku! aku bakal di bully lagi kaya dulu. GA MAU! udah cukup aku di rudung terus-terusan kaya gitu karna materi! "
"Terserah lu deh.. sekarang lu pergi sana! gue pengen sendirian." Usirku.
Ia mencibir dan mengambil tas nya. "Kamu sendiri ngerasa gimana sakitnya dapet bullying verbal kan Ja? gimana rendahnya kita di mata mereka! seolah kita ini bukan manusia yang punya hati seperti mereka. harusnya kamu ngerti keadaan aku! "
Aku hanya terdiam tak menanggapi nya, memang benar.. kami berdua adalah korban perudungan, yang mengakibat kami menjadi seperti sekarang.
Berawal dari latar belakang kisah masa lalu yang hampir sama, aku bersahabat dengan Felicia.
Sudah 2 tahun kami dekat, tapi aku memang hanya menganggap nya sahabat. Sahabat yang ku temui di saat dulu aku mengantarkan pesanan 'obat' untuk teman nya sesama model.
Felicia merupakan anak yang lahir akibat korban rudapaksa oleh wisatawan asing saat Ibu nya dulu berlibur di Bali.
Ia pun sama sepertiku.. tak mengenal ayah. Dan meskipun mempunyai fisik sempurna, tak urung ia menjadi bulan-bulanan teman-teman nya.
Hingga akhirnya ia pun memutuskan untuk menjadi seorang model, dan kehidupan ekonomi nya membaik setelah itu.
Tapi karena pergaulan, ia jadi terbiasa dengan gaya hidup yang metropolis dan hedon seperti teman-teman nya.
"Liat aja ya Senja!! someday kamu akan bertekuk lutut sama aku! " Ia menggerutu sambil berlalu meninggalkan apartment ku.
"Never..! "
"You are just my bestfriend! " Aku menjawab nya lirih, kami memang sedekat itu. terkadang aku begitu saja menerima sentuhan nya, tapi.. kita tak pernah melakukan yang lebih. Aku masih waras dan takkan melewati batas dan memamfaatkan sahabat sepertinya.
Ku jatuhkan diri di tempat tidur.Meratapi setiap kesalahan-kesalahan yang selama ini ku perbuat.
__ADS_1
Entah.. bagaimana cara memperbaikinya. Aku tak tahu caranya.
***