
Senja
Setelah di rasa cukup, aku kembali ke apartement ku. Ya.. aku tinggal sendiri di apartement milik paman ku (kakak ibu) yang di serahkan untukku sebagai hadiah.
Paman ku tinggal di Jakarta dengan keluarga nya. Sementara ibuku sekarang tinggal di Mataram, papu amaq(kakek) asli kuturunan suku Sasak dan papu inaq(nenek) Sumbawa.
Entahlah, aku tak begitu tahu tentang asal usul keluarga ku.. baik dari ibu ataupun ayah.
Dari kecil, sejak usia 8 tahun aku sudah pindah dari Sumbawa dan tinggal bersama paman Nazamuddin di Jakarta.
Pada waktu itu, paman sering melihatku di perlakukan dengan buruk oleh ibu ,jadi beliau merasa kasian padaku dan mengajakku untuk tinggal bersamanya.
Beliau dan istri nya sangat baik padaku.. tapi aku merasa tak enak hati karena saking terlalu baik nya, membuat sepupu laki-laki yang seumuran dengan ku sering merasa iri.
Tak jarang aku bertengkar karena masalah kecil, misalkan karena nilai dan prestasiku jauh di atas nya.. membuat dia iri setiap kali paman dan bibi memuji ku.
Maka dari itu, saat akan memasuki jenjang pendidikan yang lebih tinggi, yaitu SMA.Aku memberanikan diri untuk tinggal sendiri dan berencana pindah ke Bandung seorang diri.
Ingin memulai hidup yang baru tanpa seorang pun tahu masa laluku. Paman akhirnya menyetujuinya dan memberikan apartement ini padaku, beliau juga sering mengirimiku uang bulanan untuk biaya sekolah dan sehari-hari.
Terkadang ibu ku juga mengirimkan sejumlah uang meskipun waktu nya tak tentu.
Sangat di sayang, justru dengan kepindahanku ke Bandung menjadi masalah baru..tanpa pengawasan dan perhatian paman, membuat diriku menjadi Senja yang bebas berperilaku.
Ternyata masa lalu itu masih saja menjadi bayang-bayang, pada awal semester di kelas 10 ..nilai ku masih bisa di katakan cukup bagus karena berhasil menjadi peringkat ke 3 di kelas.
Tapi.. tak lama kemudian ada murid pindahan baru yang kini sekelas dengan Lembayung, yang bernama Kevin datang dan menjadi siswa baru.
Ia mengubah hidupku.
Kevin,sepupuku dan teman-teman nya dulu sering membully ku di SMP sewaktu bersekolah di Jakarta.
"Eh.. anak haram! "
"Numpang aja belagu! "
"Modal tampang! "
"Anak wanita jal***!"
"Siapa ayahnya? "
"Benalu! "
"Parasit! "
__ADS_1
Dan masih banyak lagi kata-kata dan kalimat yang bisa membuat mental breakdown. Bullying Verbal..
Mungkin karena efek dari bullying itu menjadikan ku sosok yang tadinya penurut menjadi pembangkang.
Mulai dari menurun nya prestasi belajar, dan juga terkadang aku mengalami gangguan kecemasan. Tapi aku bisa menutupi nya dengan baik yaitu dengan berperilaku nakal.
Memang, kebanyakan anak remaja yang mengalami bullying verbal akan tumbuh menjadi pribadi yang rendah diri.. depresi.. bahkan kemungkinan yang paling buruk adalah bunuh diri.
Jangan pernah meremehkan ..karena memang separah itu efek bullying atau perudungan.
Aku tak seperti itu..
Verbal abuse yang terjadi padaku berasal dari orang terdekatku yang ku sebut ibu, dari lingkungan rumah.. teman-teman di lingkungan sekolah yang sering melontarkan kata-kata merendahkan, memojokkan, meremehkan, dan men cap ku dengan label negatif.
Untuk menahan segala perasaan yang berkecamuk itulah..pelarianku adalah dengan Merokok, mengkonsumsi minuman keras, free s**.. balapan liar, dan masih banyak lagi kenakalan yang mulai terbiasa aku lakukan bersama teman-teman ku.
Mungkin krisis identitas dan kontrol diri yang lemah menjadi pemicu utama yang membentukku menjadi Senja yang sekarang.
Juvenile Delinquency(kenakalan remaja).
Suatu perbuatan yang melanggar norma, aturan atau hukum dalam masyarakat yang di lakukan pada usia remaja, atau transisi masa anak-anak menuju dewasa.
Kenakalan remaja yang merupakan gejala patologis sosial pada remaja yang di sebabkan oleh suatu bentuk pengabaian sosial yang pada akhirnya menyebabkan perilaku menyimpang.
***
"Deek.. nonton yuuuk! "
"Males akh.. paling nonton drakor! " Bintang mencibir.
"Temenin teteh yuuk.. kan besok libur sekolah, terus tadi udah teteh beliin cemilan yang banyak"
"Ya sok atuh.. tapi aku mah ga mau nonton Ya! cuma nemenin aja,mau baca novel baru"
"Iyah deh.. "
Aku dan Bintang merebahkan diri di tempat tidur, aku sibuk nonton drakor di laptop dan dia sibuk baca novel teenlit yang baru di beli minggu kemarin di bookstore, sambil sesekali memakan cemilan snack dan cokelat yang ku beli.
Sambil menonton,
Cekreeek.
Aku membidik tepat di wajah om tampan Jo In Sung, kali ini aku Re-watch drama nya dia aja yang female lead nya unnie Gong Hyo Jin.
Lumayan cerita nya seru, tentang novelis sekaligus Dj yang punya gangguan mental (obsesif kompulsif) dengan psikiater yang punya trauma suatu hubungan s** (Genophobia). Dan ada juga part beberapa phobia lain yang di alami oleh pemain lain nya.
__ADS_1
Terkadang, ada hikmah dan pelajaran yang bisa kita ambil dan petik meski hanya dari menonton drakor, atau baca novel yang banyak membahas tentang berbagai macam kehidupan yang pelik, dari berbagai sudut pandang manusia yang berbeda.
Sebagai orang yang mempunyai kehidupan yang sempurna, aku tidak pernah merasa kekurangan apapun sejak lahir.
Kehidupanku memang flat.Memiliki keluarga yang lengkap, harmonis dan saling menyayangi,menjadi anak dari seorang pengusaha yang kaya, good spiritual life(didikan agama yang baik), didikan kakek yang notabene adalah seorang kiayi besar atau ulama yang cukup di hormati di Pasuruan, dan memiliki beberapa pondok Pesantren yang terkenal.
Di lihat dari segi manapun.. kehidupanku sangat sempurna, tanpa pernah mengalami kesulitan seperti kebanyakan orang.
Membuatku bertekad dan bercita-cita ingin menjadi seorang psikolog.
Bukan psikiater ...karena psikolog dan psikiater itu beda.
Psikolog dan psikiater memang sama-sama mendalami ilmu kejiwaan dan perkembangan manusia. Kedua nya pun memiliki konsentrasi praktik yang sama, seperti penanganan, pencegahan, diagnosa dan terapi.
Hanya saja, psikiater boleh memberikan terapi berupa obat-obatan atau farmakoterapi.
Sementara psikolog lebih fokus ke masalah sosial nya, seperti memberikan terapi psikologi atau psikoterapi. Sudah barang tentu, jalur pendidikan nya pun sedikit berbeda.
Aku sering sekali merasa penasaran dengan kehidupan orang-orang yang tinggal di pinggiran, ingin tau bagaimana perasaan dan kehidupan mereka.
Ingin tau alasan mengapa seseorang bisa melakukan tindak kejahatan.Ingin tau faktor apa saja yang menjadi penyebab kenakalan remaja, penasaran dengan orang-orang dengan kelainan menyimpang.
Dan masih banyak hal yang ingin aku pelajari.
Oh Iyah..Ada satu lagi hobby yang selama ini aku pendam, yaitu ingin berpetualang.. ingin sekali berpetualang di alam bebas..hidup di pendalaman.. ingin melakukan segala hal di luar habit ku sehari-hari.
Karena jangankan berpetualang.. ijin keluar rumah untuk main bersama teman-teman pun di batasi. Seandainya aku bisa berpetualang di alam bebas.. it's gonna be amazing journey!!
Btw, ngomongin kenakalan remaja.. tiba-tiba aku teringat berandal itu.
Apa memang benar yang di bilang oleh teman-teman? tentang gossip yang beredar itu? Apakah itu yang menjadi penyebab dia jadi berandalan seperti itu? padahal kan untuk masuk ke SMA Negeri terbaik tuh ga gampang.
Haah? ko jadi mikirin dia siih? Ohh No! BIG NO! dia itu ga pernah ada dalam Lembayung list dan circle pertemanan ku.
Ehh.. tapi gimana sih katanya mau jadi psikolog, tapi bisa-bisa nya memilih teman, Lembayung kamu itu!
Kayanya aku harus banyak belajar tentang Emotional Quotient.
Nanti aku buka lagi deh buku-buku pemberian papah yang bahas tentang ESQ(Emotional Spiritual Quotient).
Sebuah buku lama yang khusus membahas bagaimana membangun prinsip hidup dan karakter manusia yang mendasar dengan pancaran Rukun Iman, Rukun Islam dan Ihsan.. sehingga di harapkan akan mampu menciptakan kecerdasan emosi dan spiritual.
Astaghfirullah.. Maafin aku ya Senja!
Aku merutuki diri sendiri karena sempat terlintas hasad dalam hatiku tentang Senja. Iyah.. Senja. Siapa yang ga tau Senja di sekolah?
__ADS_1
***