
Assalamu'alaikum readers....
Apa kabar semuanya?
Author mau pengumuman nih... Author punya novel baru judul nya Sebening Embun udah up sampai bab 14 lho... Bila berkenan, mampir di karya author yuuuukk...
Spin off nya Lembayung senja 💕💕💕
Love triangle antara si cantik shalihah Embun anaknya Ayung dan Senja, Elvan anak ganteng keturunan Turki-Indo yang dulu nyelametin Embun waktu di Derikuyu underground city dan Fajar adik dari Pelangi yang tampan dan shalih kebanggaan Pela.
...----------------...
Blurb...
Gadis Kecil Bermata Abu
Author
"You're such a fuc****g b****! "
"What dress are you wearing?"
Beberapa orang mahasiswi tengah merudung seorang gadis berhijab syar'i dan bercadar.Dengan menarik-narik ujung hijab dan cadar nya.
Tak jarang mendorong dan menoyor kepalanya, namun sang gadis hanya diam dan menundukkan kepala.
Bukan berarti ia takut, namun ia seringkali mengingat bagaimana Rasulullah Sang Utusan Allah saja yang sungguh mulia.. Tak pernah membalas sedikitpun perlakuan kasar orang yang telah jahat dan menghina beliau.
Sungguh, gadis ini ingin sekali mengangkat kepala dan mengeluarkan suara serta mengatakan kalau yang mereka lakukan adalah tindakan perudungan.Dan itu sangat tidak di benarkan.
"Why are you quiet?"
"You don't have a mouth? "
"I want to see your face.. behind this cloth! " Seorang mahasiswa laki-laki menghampiri.
Dan bisa di bilang ia adalah 'The most wanted' senior di Universitas ini.
Dengan perlahan, ia memegang penutup kain yang menutupi kecantikan di balik kain berukuran 25x30 cm itu.
Angin sepoi membuat kerudung besar itu melambai-lambai dan dengan gugup Embun menarik cadar nya dari tangan mahasiswa senior di depan nya.
Tanpa menengadahkan kepala, dari sudut mata keluar cairan bening dan itu semua tak luput dari penglihatan sang perudung.
Lelaki itu menarik sudut bibirnya kali ini, dan di ikuti tawa dan bahak temannya yang lain. Ia masih menggenggam ujung cadar dan lalu menghirup aroma harum kain itu.
Ia mengernyitkan dahi, bukan harum dan wangi parfum yang memabukkan. Namun berhasil menusuk indera penciuman nya hingga tak sadar kini wajah mereka berhadapan.
Gadis itu tetap menunduk, saat tangan tak tahu diri itu ingin menyentuh dagu sang gadis. Terdengar isakan yang menyayat telinga.
Isakan itu berasal dari suara di balik cadar.
Deg.
"Please don't touch me! " Baru kali ini, Embun mengeluarkan suara merdu nya. Dan itu berhasil membuat otak si senior abadi di hadapan nya tertegun sejenak.
Suara itu, batin nya.
Namun ia menggelengkan kepala, merasakan kekonyolan pikiran nya.
"What is your Name? " Ia berdeham untuk menetralkan detak jantungnya yang tiba-tiba bertalu. Padahal hanya mendengar sebait kalimat pendek dari gadis ini,tapi berhasil membuat nya mengingat seseorang yang jauh disana.
"Nada.. " Jawab gadis itu pelan.
Embun sudah sekian gelisah, ia ingin sekali cepat pulang ke apartemen nya setelah mendapat notifikasi pesan dari Ainun dan ingin langsung video call dengan keluarga nya.
Sudah 2 bulan sejak kepulangannya liburan dari Korea bersama mereka,akhirnya Embun mendapatkan kabar bahwa tak lama lagi Fajar berniat untuk mengkhitbah nya.
Betapa kabar itu membuat hidup Embun sangat bahagia, ia merasa benar-benar terberkati karena ternyata cinta nya tak bertepuk sebelah tangan selama ini.
Cinta yang ia pupuk dari kecil untuk pujaan hati bernama Fajar, sang pria shalih kebanggaan Baba dan keluarganya.
Ia ingin cepat-cepat bertanya pada umma nya. Ingin tau apakah benar pesan yang kirimkan adiknya yang bernama Ainun tadi pagi.
__ADS_1
Kali ini, Embun memberanikan diri menatap lawan bicara di hadapan nya sebanyak 3 detik. Lalu dengan cepat ia menundukkan kepala kembali.
Sepasang netra amber yang berkaca-kaca itu membius pandangan sang senior, Lagi-lagi ia tertegun.
Sempat beberapa saat terpesona pada makhluk di hadapan nya hanya dengan memandang indera penglihatan itu dalam 3 detik saja.
"Nada? Hmm.. beautiful name.. where are you come from? Pakistan? Yemen? Palestin? Or Saudi Arabia? "
Melihat dari bentuk sepasang netra amber milik gadis itu, ia yakin bahwa sang empunya bukan berasal dari negara Asia.
"Hey! whatsapp buddy! let her go! " Salah satu teman pria menepuk bahu nya.
Entah mengapa, tepukan temannya membuat ia semakin enggan untuk melepaskan gadis itu.
Ia penasaran.
Sungguh, ia hanya penasaran dari mana gadis itu berasal.
Suara dan mata cantik itu benar-benar mengingatkan ia pada seseorang yang menjadi cinta pertama nya.
"Sweetie... Just go away! "
"Syukron... " Jawab Embun, tanpa menatap sekeliling nya.
Dengan cepat ia meraih tas dan beberapa buku yang tergeletak di rumput yang tadi terjatuh saat mendapat dorongan saat ia di rudung.
Dengan nafas yang sedikit tersengal, Embun berjalan menyusuri jalan menuju gerbang. Area kampus ini begitu luas.. karena memiliki 26 gerbang besar dan sedang.
Mengapa Embun memilih untuk berkuliah disini? tentu saja, Reputasi Ha****d Universiy tak dapat diragukan lagi. Sebagai salah satu kampus terbaik di dunia, setiap tahun ribuan calon mahasiswa internasional dari berbagai negara berebut untuk bisa menjadi bagian dari kampus Ivy League itu.
Persaingan masuk Harvard University pun tentu sangat ketat dan kompetitif.
Dari sejak Sekolah Dasar, Embun bertekad untuk bisa masuk dan lulus seleksi berkuliah disini.Maka ia pun sangat giat belajar dan selalu menjadi juara umum di sekolahnya.
Selain sebagai cucu dari seorang pengusaha properti dan yang besar di Indonesia, ia juga merupakan cucu dari seorang pengusaha fashion di Italy. Embun sudah di cekoki banyak pelajaran tentang bisnis oleh Aunty nya dari kecil.
Meski ia adalah cucu dari salah satu pengusaha kaya di negeri kakeknya masing-masing,tak lantas menjadikan ia sombong dan pongah.
Saat ini ia tengah berjalan kaki berniat untuk menaiki bus yang sebentar lagi melintas di halte depan.
Bisa saja ia meminta di belikan salah satu mobil mewah untuk menunjang kehidupan nya yang serba mandiri disini, tapi ia bersikeras tak ingin memanfaatkan fasilitas itu.
Ia hanya seorang gadis sederhana dengan impian yang luar biasa.
Ia hanya gadis lembut dengan tutur kata yang halus, namun siapa sangka bahwa ambisi nya dalam bidang bisnis begitu besar.
Ingin mengelola bisnis dan membangun banyak nya lapangan pekerjaan, dan ingin banyak membantu saudara-saudara yang kekurangan dan tak seberuntung dirinya.
Begitulah misi Embun, bukan ia ingin memperkaya diri. Tapi demi kemanusiaan dan rasa empatinya yang besar menjadikan ia seorang gadis dermawan yang mengikhlaskan tabungan dan uang jajan nya selama ini untuk bersedekah.
Ia cukup merasa bahagia dengan berjalan kaki menuju gerbang, karena bisa menikmati pemandangan menjulangnya gedung-gedung tua yang tinggi di tempat ia menimba ilmu.
Drrrt... Drrrt...
Getaran gawai menginterupsi nya, ia lalu merogoh ke dalam tas dan mengambil benda pipih berukuran 6,3 inci itu.
Matanya membulat,jantung nya berdetak kencang.
"Assalamu'alaikum... " Ia pun menyapa dengan salam.
"Wa'alaikumusalam... Maaf ganggu waktunya sebentar, kamu lagi ada kelas? "
"Ngga.. Ini udah mau pulang ko A... " Jawab Embun malu-malu.
Sejenak, tak ada yang saling bicara. Kedua nya terdiam.
"Embun... "
"Ehh.. Iyah A... maaf.. "
"Aa minggu depan pulang ke Bandung, bisakah Embun pulang juga? Hmm.. Begini, a Fajar hendak menemui orangtuamu.. "
Deg.. Deg..
__ADS_1
Jantung Embun serasa ingin keluar, seketika keringat dingin membasahi gawai yang di genggaman. Lidah nya kelu,entah apa yang harus ia jawab. Satu hal yang pasti adalah, saat ini ingin sekali ia teriak sekencangnya dan memberi tahu dunia bahwa ia bahagia.
"Bun... Embun... Kamu masih masih disitu?"
"I-iyah a... "
"Baik kalau begitu sudah dulu ya.. sampai bertemu nanti minggu depan, Assalamu'alaikum.. Baik-baik disana.. "
"Wa'alaikumusalam.. " Setelah menjawab salam, tanpa sadar Embun meloncat kegirangan.
Tanpa memperhatikan sekelilingnya, ia kembali melanjutkan perjalanan sambil sedikit bersenandung riang.
Jauh disana, ada sepasang mata yang memperhatikan di balik kaca mobil.
Keningnya berkerut, belum 10 menit gadis itu tadi terisak dan matanya berkaca-kaca.
Tapi sekarang dari ekspresi nya, ia terlihat bahagia.
Ia segera menepis segala pikiran dan bergegas menancap pedal gas. Melaju dengan kecepatan tinggi melewati gadis yang di rudung nya tadi.
Saking kencangnya laju mobil, hembusan angin nya mampu mengibas hijab panjang dan cadar si gadis.
Hingga dengan kerepotan, gadis itu membenarkan letak cadarnya.
Elvan..
Nama mahasiswa senior itu, mahasiswa abadi yang belum saja lulus kuliah di Universitas bergengsi ini.
Bukan karena ia bodoh, tahu sendiri kan bagaimana sulitnya masuk dan bisa kuliah disini?
Ia hanya malas, dan sebagai bentuk protes pada kedua orangtuanya yang telah memaksa sedemikian rupa agar ia tinggal di negara adikuasa sejak ia kecil hingga sekarang.. Ia menjadi salah satu mahasiswa populer. Pergaulan nya sedikit bebas dan bersenang-senang sudah jadi kebiasaan sehari-hari nya.
Pacar?
Jangan di tanya.
Bergonta-ganti pacar sudah biasa, tapi eitts! jangan pernah berpikir ia seorang don Juan yang suka mengobral cinta dan mengumbar syahwatnya pada siapa saja ya.
Ia masih perjaka.
Dan meskipun ia terkenal nakal, ia masih mengindahkan nasehat orangtua nya agar memperlakukan perempuan dengan hormat.
Selama ini,bukan ia yang mengejar gadis-gadis itu.
Sesekali ia melanggar nasehat orangtua dengan mempermainkan perasaan perempuan.
Itu semua karena gadis-gadis itulah yang sangat penasaran padanya, sikapnya yang cenderung pasif dan dingin justru mengundang perhatian dan dengan genitnya banyak yang mendekatinya tanpa memikirkan norma.
Ya.. tentu saja.. Hidup di negara seperti ini ia harus menyesuaikan diri bukan?
Kalau ia lemah, Siap-siap di tindas.
Dan satu-satunya yang tidak ingin orang lain tau tentang Elvan adalah bahwa ia seorang muslim.Karena kebanyakan orang disini masih rasis juga masih banyak yang menganggap kalau muslim adalah agama t*****s.
Syarat ia bersedia tinggal di negara ini adalah mau tak mau orangtuanya harus menyingkat nama depan nya dan jangan pernah memprotes bagaimana cara ia bergaul dengan temannya.
Elvan masih memperhatikan Embun dari kaca spion nya, Satu-satunya gadis di kampus ini yang mencolok di pandang mata.
Terlintas kekaguman di dalam hatinya, ternyata masih ada perempuan yang dengan sangat rapat menutup aurat pada zaman sebebas ini.
Kemudian ia menggelengkan kepala nya..
Tidak.. Hatiku masih di penuhi oleh bayangan si gadis kecil bermata abu. Batin Elvan.
Pertemuan pertama dan terakhir nya dulu adalah saat ia masih tinggal di negara asalnya Turki.
Siapa sangka, gadis itu masih bertahta di hatinya hingga kini.
Indonesia..
Negara itulah yang ingin sekali ia kunjungi sejak dulu.Mencari keberadaan seseorang bernama Embun.
Si gadis kecil bermata abu..
__ADS_1
***