Lembayung Senja

Lembayung Senja
How Can I....?


__ADS_3

Lembayung


"Lembayung.. "


"Ka-ka Radith..?"


"Aku minta maaf.. aku bisa jelasin semuanya kenapa.."


"Cukup ka.. aku ga butuh penjelasan ka Radith dan kita udah putus ka.. ga ada lagi yang harus di bicarakan! " Aku beranjak dan berniat pergi meninggalkan Radith.


"Apa karna Senja? "


Langkahku terhenti, dan aku menoleh ke arahnya.


"Saat itu.. aku lihat foto-foto kamu sama senja lagi berdua.. "


Aku mengernyit tak mengerti. "Maksud ka Radith apa? "


"Aku cemburu dan emosi, saat Carla ngeliatin foto-foto kamu sama berandal itu. "


"Stop!! jangan sebut Senja begitu! " Aku mulai kesal.


"Benar kan? semua ini gara-gara dia? Semua orang tau kalau dia baji****.. "


"Apa sih maksudnya? kita udah selesai ka.. aku mau pergi! " Aku tak menggubrisnya dan melangkahkan kaki keluar dari cafe,menuju tempat parkir hendak menunggu suamiku disana.


"Kamu tau apa yang selalu dia lakukan dengan teman-teman nya? dan bagaimana kelakuannya yang suka mainin cewek? "


"Dan apa ka Radith ga sadar kalau ka Radith sendiri juga begitu?"


"Lembayung.. tunggu!" Ia menarik tanganku dan memaksa untuk mendekap.


Kami pun menjadi pusat perhatian pengunjung cafe yang berhamburan keluar.


"Lepaaas ka! " Aku meronta sekuat tenaga ingin melepaskan dekapan nya. Tapi tenaga nya terlalu kuat hingga akhirnya aku mencoba menghentakkan kaki dan berusaha untuk menginjak kaki nya. Tapi tak bisa.


Senjaaaa.. help me! aku terus berteriak dalam hati memanggil nama suamiku.


"Lembayung.. aku mohon! tenang lah.. aku ga akan macem macem kalau kamu ga berontak sayang! " Radith terus mempererat dekapan hingga aku merasa sesak.


"Senjaaaaaa... " Teriakku, saat aku tak kuat lagi memberontak.


"Mas.. mas.. jangan gitu mas.. sama cewek! "


"Kasian mba nya.. ayo tolongin dia..! "


Dan masih banyak lagi celetukan orang-orang yang menonton kami.


"Senjaaaa.. "


"Jangan sebut nama baji**** itu! "


"Senjaaa.. tolong akuu! " Aku terus meneriakan namanya, sambil menangis dan ternyata malah semakin membuat Radith marah.


"Brengse********!"


Buugh.. Buggh.. Buggh..


Tiba-tiba sosok yang aku tunggu datang dan menghantam Radith bertubi-tubi.


Tanpa pikir panjang, aku langsung berlari mendekati Senja dan menautkan pergelangan tangan pada pinggangnya.


"Stop! Senjaaa! udaah..! " Teriakku sambil mendekapnya dari belakang. "Please! ayo kita pulang! " Aku terisak memohon padanya.


"Gue bakal buat perhitungan sama lo karna berani nyentuh Lembayung! "


"Ciih.. " Desis Radith sambil meludah kesamping. "Siapa lo? berani bilang kaya gitu? "

__ADS_1


"Asal lo tauu.. gue dan Lembayung .. "


"Senjaaaa.. please! " Aku makin mempererat dekapan dan menarik tubuh tinggi besar itu mundur menjauh dari Radith.


"Lembayung.. sayaang! dengerin aku! aku ga akan nyeraaah! " Teriak Radith dari kejauhan.


"Siaaal! " Umpat Senja.Dia meninju udara lalu meremas rambut nya.


"Senjaaa.. maafin aku! aku.. aku.. ga tau dia akan nemuin aku disini " Aku terisak dan menunduk karena merasa bersalah. Aku merasa berdosa karena tadi Senja melihat Radith tengah mendekapku.


"Ayo kita pulang.. " Katanya datar dan lalu memakaikan helm pada kepalaku.


15 menit perjalanan, kami hanya diam membisu dan tak saling bicara.Aku tak berani memulai obrolan karena masih takut Senja akan marah.


"Lhoo.. ini kan bukan jalan ke rumahku Senjaa? " Tanyaku heran, karena rute menuju ke rumahku tidak melewati jalan ini.


"Kita mampir ke apartment ku sebentar.. " Akhirnya Senja mengeluarkan suara. Aku tak berani membantahnya.


Senja memarkirkan motornya di basement, lalu meraih tanganku dan menuntunku menuju lift.


Kulihat ia memencet tombol 10.Hening..di dalam lift, Senja masih diam membisu tapi tetap menggenggam erat tanganku.


Ting..


Lift pun terbuka, ia terus menuntunku dan kemudian membuka salah satu pintu dengan tulisan no. 109.


"Ayo masuk.. "


Aku mengikutinya dari belakang dan saat masuk ke dalam,aku di tuntun untuk duduk di sofa.


Mengedarkan pandangan dan melihat setiap sudut ruangan yang tidak terlalu besar, namun tetap bersih dan nyaman untuk ukuran tempat tinggal lelaki.


"Kamu mau minum apa? " Tawarnya, saat berjalan menuju dapur dan membuka lemari es.


"Mhhmm.. air putih aja! " Kataku sambil beranjak dari sofa dan mengikutinya ke dapur. Lalu duduk di kursi depan meja makan.


Senja berjalan ke arahku,membalikan kursi yang aku duduki lalu ia berjongkok dan menekukkan lutut di depanku.


"Aku ga marah sama kamu.. " Katanya sambil tersenyum dan mengelus tanganku.


"Tapiii tadi akuu.. "


"Bukan salah kamu Lembayung.. aku marah pada diriku sendiri karna terlambat datang jemput kamu! Maaf yaaa udah bikin kamu takut! "


Aku menggelengkan kepala. "Aku cuma takut kamu maraah.. "


"It's ok.. aku seharusnya bisa mengendalikan diri buat ga mukul dia.. "


"Kamu udah makan? " Tanyaku mengalihkan pembicaraan.


"Belum.. tadi cuma ngerokok sambil ngemil aja di tempat biasa. " Dia nyengir dan memegang tengkuk.


"Tuuh kan ngerokok lagi! Kalau gitu aku mau masak buat kamu yaaa.. mana sini aku liat lemari es kamu ada apa aja? " Aku beranjak, tapi Senja menahanku.


"Di lemari es ga ada apa-apa.. mending kita pulang ke rumah kamu yaa.. atau mau belanja bahan makanan dulu? " Tawarnya.


"Hayuuu atuuh mau.. "


"Tapi ijin enin dulu.. khawatir nanti enin nyariin kamu kalau ga ngabarin. Ini udah jam berapa? "


"Iyaaah.. " Aku mencubit pipi Senja dan ia membalas mencubit pipiku.


"Aww.. kamu mah sakit nyubitnya ihhh! curang akkh.. sini mana manaa.. " Aku berjinjit untuk menggapai pipi nya, saat kami berdiri.


"Hahhaaha...ga kena.. abis tinggi kamu ga nyampe kalau aku jinjit! "


" Ihhh ga mauu curang.. "

__ADS_1


Dan akhirnyaaa, tak jadilah kita ke supermarket membeli bahan makanan karena malah bermain kejar-kejaran seperti anak kecil maen ucing-ucingan.


It's Simply enough.. But has too many meanings.


***


Senja


Setelah lelah bermain drama saling kejar-kejaran, akhirnya kami berdua kelelahan dan duduk di sofa.. Lembayung menyalakan televisi dan menonton chanel gosip.


"Kita pesan makanan lewat ojol aja yuuk! " Usulnya sambil terus memperhatikan televisi. Ia pun lalu memesan beberapa makanan kesukaan nya dan setelah datang, kami berdua makan di sofa.


"Ehhh.. itu kaaan dia Senjaaa.. cewek itu! " Tunjuknya pada layar TV.


"Siapa? " Aku mengalihkan pandangan pada layar.


"Itu lhooo cewek kamu itu yang di bandara! yang namanya Felicia.. pantesan muka nya tuh kaya familiar gitu.. ternyata cewek kamu model sama artis yang lagi hits !" Ia mengerucutkan bibirnya.


Aku menyambar remote dan mematikan televisi.


"Ihhh ko di matiin? kamu emang ga seneng liat cewek kamu yang terkenal itu seliweran di tv? "


Aku tersenyum kecil. Melanjutkan makanan yang hanya tinggal tersisa sedikit. Aku jadi tak naf** makan. Tapi kalau tidak di habiskan nanti mubazir..


"Aku jadi ga naf** makan.. ini buang aja ya! " Katanya sambil menutup styrofoam berisi ayam geprek pesanan nya.


"Jangaan.. mubazir.. sini aku makan! "


"Ehh.. jangan.. masa kamu makan sisaan aku! ga boleh!kamu ga jijik? " Sergah nya.


"Gapapa.. kamu kan istriku.. masa aku jijik bekas sisa istri sendiri! " Aku pun menyambar makanan nya lalu menghambiskan nya hingga tandas.


Selesai makan, Lembayung memainkan ponsel dan aku mendekat untuk duduk di sebelahnya.


"Aku boleh tidur disini? " Tunjukku pada kaki yang sedang ia lipatkan di sofa. Ia mengangguk lalu menurunkan kaki nya, aku membaringkan diri dan menjatuhkan kepala di pangkuan nya.


"Maaf yaa.. aku masih belum bisa memberi nafkah. " Kataku sambil memainkan ujung kerudungnya. Ia masih asyik memainkan ponselnya.


"Tapi aku akan berusaha mencari pekerjaan yang free lance.. bisa aku kerjakan sepulang sekolah atau sedang libur. "


"Kamu ga keberatan kan kalau nanti waktuku jadi ga banyak buat nemenin kamu?.. karna harus bekerja. "


Lembayung menyimpan ponselnya di atas meja, lalu netra nya menatap milikku dengan dalam. Ia lalu mengelus rambutku perlahan dan tersenyum. Tak berkata apa-apa.


Nyaman.. itu lah yang ku rasakan.


"Mungkin.. aku belum bisa memberi kamu nafkah yang banyak.. tapi apakah kamu ridho suamimu hanya memberi sedik.. "


"Kamu cereweeet.. "


Aku membelalakan mata. Saat dengan impulsif dan tiba-tiba Lembayung membenamkan wajah nya pada wajah ku. Dia menempelkan indera pengecapnya pada milikku.


Speechless..


Aku tak bisa berkata apa-apa.


"Ehhh.. " Ia lalu menjauhkan wajah dariku dan terpelanga, mungkin ia sendiri tak menyangka akan melakukan nya.


Rona merah terpancar dari wajah ayu lugu nya, yang masih menatap netraku lekat. Ia menutupi mulut dengan kedua tangan.


Beriringan dengan sayup terdengar suara Adzan Maghrib berkumandang begitu syahdu di telinga.


"Senjaaa.. ayo kita shalat maghrib dulu yuuukk.. udah shalat aku mau pulang." Ia beranjak dari sofa dan tergesa masuk ke kamar mandi untuk mengambil wudhu.


Aku masih tak percaya.. ku usap bagian yang tadi istriku kecup dengan singkat lalu mengusap dada bagian kiri dan menepuk-nepuknya pelan. Dimana jantungku berada berdetak kian tak terkendali.


Papah.. bagaimana bisa aku memenuhi janji bila terjadi lagi seperti ini?

__ADS_1


***


__ADS_2