
Senja
Hari ini adalah hari pertama hukuman dimulai.
Apa yang harus aku lakukan ya?
Kerumah pak Syarif? tapi beliau pasti pulang siang selesai mengajar. Bertemu dengan Rian dan Dion, mereka juga sedang sekolah.Mau belajar? matpel sekolah? hahaha.. sepertinya nanti saja, aku masih malas.
Oh iyah.. aku mau cerita.
Tadi malam, untuk pertama kali nya ibu mau menonton tv bersama denganku.Meski aku duduk di karpet dan ibu duduk di sofa. Dan meskipun kami terdiam tanpa kata, hanya netra masing-masing fokus pada tontonan yang aku juga sebenarnya tidak suka, iyah.. aku menonton sinetron! What the..? seumur-umur ga pernah aku sengaja menonton sinetron. Tapi tidak apa-apa demi..
Aku senang? tentu saja!
Karena sedang bahagia,menjadi muncul semangat menghafal ulang tata cara shalat dengan benar.. Saking jarang nya shalat, ada bagian tertentu yang aku lupa.. Masih banyak yang harus aku pelajari dan hafalkan..saat ku lihat jam, waktu sudah menunjukkan pukul 10.00 WIB.
Aku memutuskan untuk pergi ke bookstore dekat sebuah Mall sejuta umat di Bandung, kebetulan jarak nya juga dekat, bisa di tempuh dengan berjalan kaki dari apartement.
"Senja pergi dulu ya bu! "Aku pamit pada ibu.
"Iyah.. " Jawab nya.
"Emang mau pergi kemana? " Tanya ibu penasaran.
"Mau ke bookstore sebentar bu.. Senja mau beli buku."
Ibu terdiam sejenak, lalu..
"Ituu.. ibu boleh ikut ga? "
"Haah? i-ibu mau ikut? "Aku terkejut karena tidak di sangka, ibu bertanya dan ingin ikut aku keluar rumah.
"Eh.. iyah.. ibu pengen jalan-jalan di Bandung, ibu kan belum pernah." Katanya lagi.
"Ayo bu.. " Aku pun semangat.
"Sebentar, ibu ganti baju dulu."
10 menit berlalu tapi ibu tak kunjung keluar dari kamar, aku pun menyusul untuk bertanya sudah siap atau belum.
"Bu.. "
"Senja.. seperti nya ibu ga jadi ikut. " Ibu memalingkan wajah dan memperhatikan satu persatu pakaian nya.
"Baju ibu ga ada yang bagus. " Katanya lagi sendu.
"Pakai saja itu bu! " Tunjukku pada dress hitam rampel selutut yang atas nya sedikit terbuka.
"Tapi nanti kamu malu jalan sama ibu, kalau ibu pakai baju kaya gitu. "
"Gapapa bu, pakai jaket Senja aja ya.. atau sweater gimana? " Kataku antusias. Tidak mau melewatkan kesempatan agar bisa dekat dengan ibu.
"hmm.. ya udah.."
__ADS_1
"Bentar Senja ambil dulu sweater dulu ya bu.. "
"Iyah.. "
***
Kini kami berdua sudah berada di lantai 2, tempat di mana terpajang buku-buku agama dan di sebelah sudut lain buku-buku tentang hobby juga fashion.
"Senja mau lihat-lihat disini ya bu. "Aku menunjukkan jajaran buku-buku tebal yang terjajar rapih.
"Iyah.. ibu mau lihat buku masakan ya! "
"Iyah.. "
Setelah membaca beberapa referensi dari sinopsis..
Muhammad : His Life Based on The Earliest Sources Karya Martin Lings
Maaf Tuhan, Aku Hampir Menyerah karya Alfialghazi
Dua buah buku itu yang ku pilih. Oh iyaah.. hampir terlupa, padahal inilah yang terpenting,Al-Qur'an.
Aku pun diam terpaku.. aku lupa cara membaca nya bagaimana? lalu menyusuri setiap buku-buku panduan belajar mengaji dan mendapati Iqra. Yaa.. ya.. aku harus belajar dulu dari baca Iqra. Semangatku.
Kulihat, ibu tengah memilih salah satu buku resep makanan dan buku menjahit.
"Sudah? " Tanyanya sambil tersenyum.
"Sudah.. kalau habis ini kita mampir ke Mall yang ada di seberang gimana bu? "
"Ibu keberatan ga kalau Senja beliin baju? "
"Haah? " Ibu membulatkan matanya.
"Tapi kalau ibu ga mau, gapapa. "
"Boleh.. "
Kami pun segera berjalan menuju kasir dan membayar buku-buku yang sudah di pilih.
Sambil menunggu antrian, aku pun bertanya..
"Ibu beli buku apa? " Tanyaku penasaran.
"Ini ibu beli buku resep makanan, sama panduan belajar menjahit. " Katanya sedikit malu.
"Ohh.. "
Setelah selesai transaksi membeli buku, aku mengajak ibu untuk keluar dari bookstore dan menyebrang jalan. Masuk ke dalam sebuah Mall yang merupakan salah satu pusat perbelanjaan besar di kota Bandung. Mall ini merupakan pusat perbelanjaan tertua di Bandung.
Ibu menghentikan langkahnya, saat melewati beberapa store pakaian muslimah.Kulihat manik mata nya berbinar melihat pakaian syar'i yang terpajang di manequin. Tapi sesaat kemudian.. ibu terlihat menunduk dan meskipun ibu menyembunyikan nya. Aku tahu mata ibu berkaca-kaca.
Lalu kami masuk ke store pakaian wanita, ibu memilih beberapa set pakaian dan celana.
__ADS_1
"Bu..Senja mau ke toilet sebentar ya. "
"Iyah. " Jawab ibu singkat sambil mengambil celana katun dan blouse bunga berwarna pastel.
***
"Sudah? " Tanyaku, terheran karena ibu hanya menggandeng paper bag kecil, dan ternyata telah berganti pakaian dengan pakaian yang tadi ibu pilih.
"Ko ibu cuma beli itu? yuk pilih lagi bu.."
"Ngga.. ibu udah beli yang ini aja. "
"Lho.. kan buat nanti ganti gimana bu? "
"Gapapa.. yang ada saja. "
"Nanti uang nya Senja ganti ya! "
"Ga perlu.. ibu masih ada tabungan. "
"Beneran ibu ga akan beli lagi? "
"Ngga.. yuuk sekarang kemana lagi? " Tanya ibu riang.
Aku mengambil ponsel di saku celana, lalu melihat jam sudah menujukkan pukul 13.45 WIB. Lupaa.. belum shalat dzuhur.
"Bu.. kita ke mushola sebentar ya! aku belum shalat dzuhur! "
"mhhm.. eh.. tapi ibu lagi datang bulan. " Katanya. "Ibu tunggu di bangku itu saja ya! " Tunjuk ibu pada sebuah bangku kayu yang ada di dekat eskalator.
"Iyah.. " Aku berlalu pergi mencari musholla terdekat di Mall ini.
Tuhan.. ijinkan aku untuk tetap seperti ini, bisa terus bersama dengan Ibu!
***
Ibu Senja
Hari ini adalah hari pertama Senja di skors. Dia tampak terlihat bosan diam di rumah. Hal apa ya yang di sukai anakku? apa makanan kesukaan nya? hobby nya apa? Ibu macam aku ini? hal kecil semacam itu pun aku sama sekali tak tahu. Otakku berpikir keras bagaimana caranya agar bisa berubah.. menjadi seorang ibu yang perhatian dan pengertian, mumpung sedang di Bandung.
Tadi malam, aku sedang duduk di sofa menonton tv.Tiba-tiba anakku menghampiri ku dan duduk di karpet, hal yang baru pertama kali nya dalam hidupku.. aku tak memaki anakku. Kalau di pikir-pikir, kenapa sewaktu anakku kecil sering sekali aku marahi ya? Aku melakukan itu bertujuan agar Senja lebih baik membenci ku saja, wanita seperti aku tak layak menjadi seorang ibu.
Tapi lihatlah.. selama ini ternyata Senja tak pernah membenci, anakku itu tetap menghormati wanita yang tak punya harga diri sepertiku.
Sakit.. sungguh sakit sekali menerima kenyataan ini, melihat anakku seperti melihat sosok yang selama ini aku benci. Wajah nya.. tubuh tegap nya.. bahkan surai dan manik mata amber mereka sama persis. Tatapan itu.. tatapan yang membawaku pada luka terdalam. Luka yang seperti Belukar Sudah Menjadi Rimba...Kesalahan Yang Tidak Dapat Diperbaiki Lagi.
Naluri ku sebagai ibu mulai tumbuh di saat Anakku dibawa oleh ka Nazam tinggal di Jakarta. Aku menyesal.. aku merindukan.. separuh jiwaku hilang, dan leherku seperti tercekik menyadari kesalahan-kesalahan ku.
Dulu sempat aku berpikir, Apa aku harus mati saja? profesi yang ku geluti beberapa tahun ini benar benar sudah membuat ku Bagai Kerakap Di Atas Batu, Hidup Segan Mati Tak Mau.Hidup dalam kesengsaraan selama bertahun-tahun.
Apakah aku ingin bekerja seperti ini? TIDAK.. aku tidak mau, bukan aku yang mau!
Jangan sampai anakku tahu.. jangan!
__ADS_1
Tuhan.. ijinkan aku tetap seperti ini,bisa bersama dengan anakku sebentar saja!
***