
Ibu Senja
Hari ini aku akan berkunjung ke rumah teh Fatimah untuk melihat cucuku..
Hehhe.. Cukup aneh juga mendengarnya,di usiaku ini sudah memiliki seorang cucu.
Beberapa hari ini aku sibuk menjahit baju untuk Embun.. dulu sewaktu masih gadis aku pernah belajar menjahit di rumah paman di Mataram. Di tambah akhir-akhir ini memang mempelajari membuat pola dari buku panduan menjahit yang dulu ku beli di bookstore bersama anakku.
Aku jadi ingin mengembangkan bakat terpendamku ini.. yaa bisa di bilang belum mahir, tapi ternyata aku bisa membuat gamis-gamisku sendiri. Dan sekarang selesai membuat beberapa stel baju bayi..Untuk menghabiskan waktu.
Aku tak bisa selamanya mengandalkan uang tabungan yang di berikan oleh ka Nazam dan adikku Hasan. Mereka juga mempunyai tanggungan..
***
"Assalamu'alaykum Embun cantik.... "Aku menggendong cucuku itu dengan sangat hati-hati.
"Sudah mimik blum sayang? " Embun menggeliat, mengerjap-ngerjap.Lalu tertidur lagi.
"Ini baru mau mimik bu..ehh tapi Embun nya malah bobok terus.. ini aku sakit, jadinya harus di pompa deh.. " Sahut Lembayung, sambil duduk bersandar di sofa. Lingkar bawah mata nya agak menghitam dan ia terlihat lemas.
"Ayung habis bergadang tadi malam In.. jadinya lesu begitu." Teh Fatimah mendekati Lembayung dan mengelus kepalanya. "Jadi seorang ibu memang begitu sayang... belum sembuh jahitan habis melahirkan, menyusui dan terkuras nutrisi.. sekarang harus begadang tiap malam. "
"Embun nya juga bobok lagi.. bayi baru lahir juga memang kalau siang tidur teruus.. nanti malam malah ga mau tidur.. mending Ayung juga ikutan tidur.. istirahat! Ayoo In.. kita masak untuk makan siang aja yuk! " Ajak teh Fatimah.
Kami berdua berjalan menuju dapur, dan melihat ibu teh Fatimah sedang duduk di kursi meja makan sambil memakan kue kering buatanku.
"Iin.. meuni raos kue na.. " Puji Ibu teh Fatimah sambil tersenyum ke arahku.
"Terimakasih bu.. Iin masih belajar, kastengel nya masih belum renyah seperti buatan teh Fatimah.. "
"Tapi raos... eumak suka!"
Aku pun duduk di samping beliau.
"Neng.. bade masak naon? eumak hoyong pais lauk.. tadi Minah meser di pasar lauk emas na 3 kg.. Sakanteunan sadayana weh pais neng! "
(Neng.. mau masak apa? ibu pengen pepes ikan..tadi Minah beli di pasar ikan nya 3 kg.. sekalian masak semua neng)
"Eunya mak.. ayo In.. bantu teteh yuuk.. udah lama kita ga masak bareung ya.. mumpung teteh ada di Bandung. Abis papah Ayung banyak urusan di luar kota, teteh jadi harus nemenin.. "
"Iyah teh.. Iin kupas bawang nya dulu ya.. "
__ADS_1
"Eumak bade ngaos heula nya..(ibu mau mengaji dulu ya)! " Ibu teh Fatimah berpamitan dan berjalan pelan menuju kamar beliau.
Aku mengupas bawang merah dan bawang putih, dan setelah itu membersihkan sirip ikan di wastafel.
"In... "
"Iyah teh.. "
"Bagaimana? pak Syarif? "
Deg.
Aku tertegun sebentar,"Bagaimana apa nya teh? "
"Beliau itu orang baik In..Sholeh... punya pekerjaan tetap dan saat ini statusnya masih duren.. punya anak sekecil itu pasti membutuhkan seorang pendamping.. teteh rasa kamu cocok. "
"Iin merasa rendah diri teh.. merasa tidak pantas bersanding dengan seseorang seperti beliau.. " Aku terdiam sejenak, "Apa kata orang orang jika melihat seorang alim seperti pak Syarif bersanding dengan mantan wanita malam.. " Aku menunduk, predikat itu amat sangat melekat dan membuatku rendah diri ,tak punya keinginan dan impian akan mempunyai pendamping hidup di masa depan.
"Itu semua hanya masa lalu In..kasarnya begini, lebih baik menjadi mantan orang jahat daripada menjadi mantan orang baik.. setiap orang mempunyai masa lalu masing-masing, yang terpenting di masa sekarang dan mendatang.. berubah menjadi lebih baik. "
Aku hanya tersenyum menanggapi teh Fatimah, melanjutkan membersihkan ikan dalam wadah.
Setelah berkutat selama kurang lebih 2 jam di dapur.. akhirnya acara memasak sambil bercerita banyak hal pun selesai.
"Sawios atuh neng.. sama bibi aja! " Kata bi Minah sambil berjalan ke arahku yang sedang mengambil beberapa sendok dari rak kering.
"Gapapa bi.. saya udah terbiasa.. " Kataku, dan di jawab oleh bi Minah dengan anggukan.
"Ma Syaa Allah... makan besar nih kita.... aku seneng banget kalau ada ibu... abis suka duet sama mamah masakkin makanan yang enak-enak. " Bintang berseloroh, sambil duduk dan tangannya mengambil goreng perkedel jagung buatan teh Fatimah.
Aku hanya tersenyum menanggapinya, gadis itu sangat menyenangkandan sedikit cerewet dan suka sekali berkomentar tentang segala hal. Kebalikan nya Lembayung.
"Teteh sama a Senja mana? oh iyah.. bentar aku panggil papah dulu.. " Ia pun berlalu sambil mengunyah dan dengan mulut yang penuh.
"Ckckck... budak teh.. eumam sabari jalan. " Omel ibu teh Fatimah yang baru sampai di ruang makan. "Euleuh... ieu kenging ngadameul saha? (ini buatan siapa)? " Tanya beliau menunjuk pelecing kangkung buatanku.
"Saya bu.. itu makanan kesukaan nya Senja.. " Jawabku malu-malu.
"Iyaah.. Ayung itu tiap kali besuk Senja pasti masak dulu trus bawain pelecing ke lapas.. bikin nya banyak.. katanya, temen-temen Senja juga pada suka.. " Teh Fatimah menimpali.
Entah mengapa, setiap kali mendengar tentang anakku yang pernah mendekam di balik jeruji itu, ulu hatiku sakit. Ada denyut yang nyeri seketika dan membuatku lagi-lagi merasa bersalah.
__ADS_1
"Embun nya bobok lagi? " Tanya teh Fatimah pada Lembayung yang sedang berjalan bergandengan dengan Senja.
Anak berdua itu...
Tidak dimana-dimana, pasti lengket kaya lem super glue.
"Iyah mah.. baru mimik sebentar.. udah kenyang.. eh langsung bobok lagi.. " Jawab Lembayung sambil duduk di kursi yang di geser terlebih dahulu oleh anakku.
Terbersit, pertanyaan.. bagaimana membina rumah tangga yang bahagia itu?
Seperti teh Fatimah dan mas Fadli.. sepasang suami istri yang sangat harmonis dan saling melengkapi satu sama lain.
Dan sekarang, melihat anakku beserta istrinya yang manja.. selalu mesra dan bergandengan tangan, saling kasih mengasihi satu sama lain nya.
Meskipun usia mereka sangat muda.. dan terkadang terlihat menjalani rumah tangga seperti pacaran, tapi melihat mereka bahagia.. aku pun ikut bahagia.
Melihat anakku di terima di keluarga yang sangat baik..adalah kebahagiaan terbesarku saat ini.
Semua sudah berada di kursi masing-masing, dan do'a di pimpin oleh papahnya Lembayung.
Sebenarnya, biasanya berdo'a masing-masing sudah cukup.. tapi kali ini ada yang berbeda.
Dengan penuh rasa syukur karena Allah telah memberikan kesempatan untuk kami semua berkumpul lagi bersama, dan Senja sudah di bebaskan..
Berdo'a agar di jauhkan dari segala marabahaya dan berdo'a selalu dalam lindungan -Nya.
Ya Allah..
Apakah boleh aku berharap untuk memiliki kebahagiaan ku sendiri?
-
-
-
Assalamu'alaykum readers...
Mohon maaf kmrn ga sempat update.. huhhu.. author sedang di kejar deadline jahitan di real life... jadi nya lumayan kecapean dan skrg sedang butuh istirahat...
Semoga bisa menamatkan Lembayung Senja bulan ini... semoga juga banyak yang baca.. sistem nya lumayan sulit juga nembus viewers banyak..mungkin kebanyakan readers lebih suka cerita yang tentang Ceo atau cerita yang banyak adegan dewasa.. Tapi author ga bisa bikin cerita dewasa begitu..... 😢🙏
__ADS_1
Happy reading yaa.. semoga hari ini bisa update banyak bab.... Salam sayang dari Ayung+Senja....💕💕💕