Lembayung Senja

Lembayung Senja
Besuk..


__ADS_3

Lembayung


"Satuan reserse Narkoba Polrestabes Bandung berhasil mengungkap kasus pengedaran narkotika golongan satu berjenis sabu-sabu sebanyak 5 Kg (Kilogram) di Kota Bandung.Terkait dengan itu, menurut Kapolrestabes Bandung, Kombes. Pol. Unggul Sampurna mengatakan bahwa pengungkapan tersebut terjadi pada bulan Juli lalu yang dimana tersangka berinisial RP ditangkap saat sedang melancarkan aksi penyekapan terhadap warga sipil yang menolak untuk memberikan identitas. " Terdengar suara Anchor membacakan berita di salah satu stasiun TV swasta.


"Dari penangkapan ini langsung dilakukan pengembangan untuk bisa dilakukan pengungkapan yang lebih besar lagi, dan kini masih dilakukan pendalaman dari tim penyidik Polrestabes Bandung,sebanyak 15 orang terduga sebagai kurir telah di tangkap dan di amankan... ”


Aku mengambil remote TV dan mematikan nya. Tak sanggup mendengar berita tentang suamiku.


Papah berjanji membawaku ke lapas untuk menemui Senja nanti sore pada jam besuk. Aku akan memasak banyak makanan untuk nya nanti pulang sekolah.


***


Di kantin sekolah.


"Eh.. eh.. kalian udah pada tau belum gosip terbaru. " Seperti biasa, Risa menginterupsi.


"Apaan? " Tanya Gadis.


"Trio begundal di tangkap polisi donk! "


Aku melirik ke arah Risa, lalu mendelik tak suka karena ia menyebut Senja dan teman-temannya dengan sebutan begitu.


"Haaah? " Nindy membulatkan bola mata.


"Tebak!! Kasus narkoba girls! parah banget aslinya tau ga! ternyata bukan hanya jadi pemake tapi kurir Nin.. kurir, kebayang ga hukuman nya gimana? " Tukas Risa.


Seketika aku merasakan nyeri di ulu hati mendengar penuturan Risa. Mataku berkaca-kaca dan tak tahan ingin menangis sekencangnya.


"Maaf ya.. aku duluan! " Kataku sambil beranjak dan meninggalkan mereka yang diam terpaku melihatku.


"Ayuuung.. kamu kenapa? " Risa berteriak karena melihat aku berlari sambil menyeka sudut mataku.


Aku langsung masuk ke toilet dan mengurung diri disana. Untuk beberapa menit mencoba menetralkan suasana hati yang tak karuan karena mereka membicarakan Senja.


Aku tak bisa menyalahkan mereka karena salahku sendiri yang menyembunyikan rahasia besarku.


Menghadap cermin dan lalu membasuh wajah agar sedikit bisa menghilangkan sembab di mataku.


***


Author


"Guys.. apa aku salah bicara? " Risa bertanya pada Nindy dan Gadis yang masih terdiam melihat Lembayung berlari meninggalkan kami.Sambil menundukkan kepala dan terlihat seperti menyeka airmata.


Mereka menggelengkan kepala.


"Aku juga ga tau.. kenapa Ayung akhir-akhir ini berubah,udah jarang kumpul lagi kita kan.. selain di kantin sekolah!" Terang Nindy.


Gadis hanya terdiam, ia seperti menahan sesuatu untuk di katakan.


"Kamu pasti tau sesuatu kan Dis? kita udah ngerasain perubahan Ayung beberapa bulan ini..mulai dari dia tuh ga pernah lagi di anter jemput pak Asep, trus selalu jalan kaki..pernah aku liat pas di gerbang sekolah beberapa kali. " Ungkap Risa.


Nindy mengangguk mengiyakan. "Trus kalian pernah perhatiin ga sih? sekarang tuh tiap di kantin dia sering senyum-senyum sendiri. Aku kan udah ga sekelas sama Ayung.. jadi cuma bisa ketemu di kantin pas istirahat. "


"Iyaah ihh.. ayo dong Dis cerita! " Todong Risa dan Nindy.

__ADS_1


"Aku ga mau nyerita sebenernya, kalau bukan Ayung yang cerita sendiri.. tapi aku tuh bingung guys.. " Gadis mendengus.


"Bingung kenapa sih? tentang Ayung? "


"Iyah.. dan kalian pasti ga akan nyangka! "


"Apaan sih Dis kamu bikin penasaran tau! " Sungut Nindy.


"Ayung tuh lagi dekat sama Senja.. " Terang Gadis sambil memperlihatkan beberapa foto yang di kirim Radith dulu.


"Tuuuh kan.. aku udah nebak ini dari sejak lama, sejak pulang dari Bali.. Ayung tuh kaya berubah dan nyembunyiin sesuatu tau ga sih! " Risa menimpali.


"Iyah sih guys.. yang aku heran, ko bisa kan dulu itu Ayung ngajak Senja buat kabur dari rombongan. " Nindy ikut menimpali juga.


"Setiap hari tuh mereka pulang pergi bareung ke sekolah.. pake motor Senja. Apa segampang itu ya dapat izin dari papah Ayung.. secara kalian tau sendiri kan gimana protect nya beliau? "


"Bener banget Dis.. dan juga kalau liat kelakuan si Senja dulu itu.. Naudzubillah deh..Ckck.. " Nindy menggelengkan-gelengkan kepala sambil berdecak.


"Kemaren-kemaren, aku sengaja pinjem ponsel nya Ayung buat meyakinkan dugaanku.. ternyata memang bener..Ayung tuh nyimpen folder khusus foto-foto dia sama Senja, meskipun aku ga berani ngebuka.. tapi cover nya tuh foto mereka berdua lagi deketan. "


"Beneran Dis? "


Gadis mengangguk. "Aku tuh gapapa sih kalau memang Ayung bahagia bisa ngelupain ka Radith. tapi kenapa harus Senja yang notabene kelakuannya lebih parah dari ka Radith.. " Gadis menangkupkan tangan di kedua pipi yang di tumpu di atas meja.


"Tapi dia udah berubah ko Dis.. aku sering liat dia sama temen-temen nya ga pernah bolos lagi ko.. trus aku sering liat mereka dan sering berpapasan di mesjid tiap aku sama Ayung shalat.. " Terang Risa.


"Iyah sih Dis.. kita ga bisa lho terus-terusan negatif thingking sama orang lain.. kalau emang orang itu mau berubah.. why not? kita harus menghargai usaha nya.. " Nindy ikut menginterupsi.


"Naaah.. nah.. justru aku tuh juga curiga nih sama kamu! " Risa menyenggol bahu Gadis pelan dengan tatapan menggoda. "Kamu lagi deket sama ka Radith ya? ko apa apa tuh Radith sekarang.. "


"Iyaah deh iyaaah.. awalnya sih curhat.. sharing.. lama-lama... "


"Ihhhh kalian tuuh... "


Dan mereka bertiga kembali bercengkrama saling melemparkan canda dan tawa.


Tanpa mereka sadari ada sepasang mata dan telinga yang memperhatikan dan mendengarkan percakapan mereka. Ia mendelik dan menatap tak suka sambil sesekali memukul-mukul pelan meja kantin.


***


Senja


"Jangan sampe lo motong antrean! " Bang Aman berbisik saat kami memasuki kantin makanan.


Aku mengangguk. Setelah selesai mengambil nasi dan lauk, aku dan napi lain duduk di bangku pojok yang memang masih kosong.


Saat aku akan duduk, seseorang menyenggol bahuku dengan sengaja dan menatap tajam ke arahku. Tubuhnya tinggi besar dan penuh tatto.. surai panjang nya menambah kesan seram dengan raut wajah ditekuk dan sinis.


Aku mengalah, dan membiarkan menyerobot tempat duduk yang akan aku tempati. Lalu bersama bang Aman pindah menuju kursi kosong lain nya.


Di sebelah kanan berselisih 2 meja, ku lihat Rian dan Dion sedang menatap ke arah kami. Dia melambaikan tangan, menandakan aku harus menghampirinya. Tapi bang Aman mencegahku..


"Jangan macem-macem lo! mereka dari sel beda dengan kita.. lo mau dijadiin inceran ketua disini? "


Aku mengernyit."Kenapa bang? " Tanyaku berbisik.

__ADS_1


"Bego lo di piara! lo pasti di palak sama dia..kalau tau lo temenan sama napi sel B.. habis lo! lo punya cuan? "


"Ngga bang! " Aku menggeleng.


"Kalau lo pengen damai, perlakukin yang lain kaya lo pengen diperlakukan. Hindari yang namanya kata-kata kasar atau masuk ke batas wilayah pribadi orang."


"Lo musti inget yang satu ini.. Jangan pernah lo ngehina kejantanan siapa pun, kecuali lo pengen babak belur masuk rumah sakit, sel isolasi, atau kuburan!"


"Lo tau sel isolasi? " Sambil menguyah makanan nya, bang Aman terus saja menjelaskan apa saja yang harus aku lakukan di dalam masa tahanan ini.


"Sebisa mungkin jauhi sel orang lain kecuali lo diajak masuk! lo bisa menolak diajak masuk!"


"Satu lagi yang juga lo mesti inget nih kata-kata gue.. Hindari kekerasan kecuali kalau ga ada jalan lain. Kalau lo diam aja saat dihina, berarti lo pengecut! dan hidup lo bakalan lebih sulit daripada sekarang.Sebisa mungkin ramah dan jangan songong! "Sungut bang Aman panjang lebar.


"Iyah bang.. makasih.. "


"Baguus..cepet habisin makanan lo.. habis ini lo bisa bebas ngelakuin apa aja.. inget lo ya kata-kata gue barusan! "


Aku mengangguk dan kembali menyuapkan sesendok demi sesendok nasi,tempe goreng dan air sayur asem ke dalam mulutku dengan cepat. Melirik ke arah Rian dan Dion lalu menggelengkan kepala agar mereka tak mendekat.


Well done Senja..


Harus beradaptasi.


"Maneeeh budak anyar! (kamu anak baru) !" Seseorang menghadangku di depan sebuah lorong, saat aku akan melaksanakan shalat dzuhur.


Aku menengok ke belakang dan berhenti melangkah.


"Saha ngaran maneh? (siapa nama kamu)? " Tanya nya sinis sambil menampakkan wajah garang. Ia adalah orang yang menyenggolku di kantin tadi. Dan menurut bang Aman, ia adalah antek ketua disini.


"Senja.. " Jawabku singkat.


"Hahaha.. Anj**** melow! Ngaran maneh ciga awewe!(nama kamu seperti nama perempuan)! Banciiii! "


Mendengar ledekan nya aku geram, seketika aku mengepalkan tangan.


"Senja.. kadieu! di panggil sipir! " Pak Arya mendekatiku, dan ia memberi isyarat agar aku tidak meladeni ledekan pria itu.


Aku pun berlalu meninggalkan ia yang terus asyik menertawakan ku bersama dua orang teman nya.


"Udah.. jangan di ladenin.. mereka itu emang pembuat masalah disini.. pasti nyari mangsa baru.Sana..shalat dulu! trus kata nya kamu ada yang besuk.. " Pak Arya meredam emosiku dan menepuk bahuku pelan.


Aku mengangguk, lalu menuju mushola karena kebetulan masih ada waktu sebelum kembali ke dalam sel sekitar pukul 5 sore.


Setelah selesai, aku mendekat ke arah petugas sipir dan ia langsung membawaku ke sebuah ruangan khusus kunjungan.


Saat berjalan menuju pintu.. aku tertegun.


Ku lihat disana, seorang gadis berkerudung hitam sedang duduk sambil tersenyum tapi dengan mata yang berkaca-kaca. Ia menatapku lekat.. dan mataku terkunci disana.


Ini bukan mimpi kan sayang?


***


***

__ADS_1


__ADS_2