
Lembayung
Yeaay.. Weekend!
Hari ini aku akan ikut Senja ke Orchids Forest Lembang. Aku sedang memilih pasmina yang cocok untuk rok hitam yang ku pakai.
Karena suraiku masih basah, aku masih mengurai mahkotaku yang panjang ini dan membiarkan nya tergerai hingga hampir menyentuh pinggang.
"Dimana yaa.. pasmina aku yang plisket? ko ga ada sih? perasaan aku belum pake da.. " Beberapa kali aku mencari pasmina plisketku yang berwarna hitam, di lemari. Tapi tak juga menemukan nya.
"Euggh ini mah pasti si adeek! " Aku keluar dari kamar dan menuju kamar Bintang.
"Adeeeek.. mana ih pasmina plisket teteh? kamu mah anggeur ari udah pake teh, ga ngomong dulu! "
Bintang nyengir kuda sambil menunjuk ke lemari miliknya.
"Udah di cuci da wangiiii pokoknya.. maaf ya teh.. aku pinjem pas hari Rabu.. hehhe.. pas aku hangout sama temen-temen. "
"Dimana-mana adab pinjam itu ngomong dulu tau! kalau pinjem ga ngomong dulu itu namanya nyuri.. kamu tau ga, bahkan yaaa.. kita misalkan cuma pinjem barang kecil kaya pulpen atau penghapus,trus ga bilang ke pemiliknya dari awal.. padahal mah langsung di balikin lagi. tetep sama aja namanya nyuri! " Sungutku pada Bintang yang sedang asyik baca buku.
"Iyah teteh maaf iihh.. aku udah minta maaf!" Ia mengernyit. " bytheway.. anyway.. teteh mau kemana meuni udah geulis gitu? mau nge date sama a Senja ya? enaklah yang udah halal mah kemana-mana berdua ga takut dosa! " Ia beranjak dari tidurnya.
"Iyaaah dong.. teteh mau ikut Senja motret. Ada job moto prewedd.." Aku membuka lemari pakaian Bintang lalu mengambil pasminaku.
"Waahh aku boleh ikut ga teh? "
"Kan naik motor dek.. kamu mau duduk di knalpot? hihhi. "
"Yaaahh.. kenapa ga pake mobil papah aja teh.. atau anter sama pak Asep gimana? biar aku bisa ikut teh.. emang dimana lokasi nya? "
"Di Orchids Forest Lembang.. ga jauh ko dari sini.. jangan kamu mah jangan ikut! pulang nya teteh mau pacaran! lagian Senja ga mau pake mobil, pengen pake kendaraan sendiri katanya. "
"Ihhhh..sebeul! teh Ayung mah sejak nikah jadi jarang main sama aku! " Bintang pun manyun.
"Iyaah maafin ya Bintang nu geulis nu bageur.. kan teteh udah punya suami.. otomatis perhatian utama teteh buat dia.. "
"Si teteh udah kaya ibu ibu aja omongan nya.. hahaha.. iyah deh.. iyaah.. "
"Teteh bentar lagi pergi yaaa.. kamu temenin enin aja di rumah,oh iyah.. buat kompensasi. nanti pengen di bawain oleh-oleh apa? "
"Ngga akh ga mau apa-apa teh.. ya udah hati-hati yaa. " Bintang kembali membaca sambil seloyoran.
"Iyaaahh..bentar lagi pasti Senja nyampe.. dah Adeek.. !"
Aku keluar dari kamar Bintang dengan santai sambil bersenandung kecil, Memutar-mutar rok hitam lebar berbahan plisket senada dengan pasmina yang barusan aku ambil dari kamar Bintang.
Setelah sampai di depan kamar, kubuka pintu kamar dengan tergesa,takut ada yang melihat aku tanpa hijab dari bawah sana, karena kamarku memang terlihat jika dari arah tangga.
Ceklek.
"Astaghfirullah... " Aku terbelalak melihat Senja sedang duduk di tempat tidur sambil menatapku dengan mata membola.
"Arrgh.. Senjaaaa kenapa kamu ada di kamar aku? " Aku sibuk menutupi suraiku yang tergerai,pakai pasmina yang tadi ku bawa.
"Ehhh.. maaaf.. " iris matanya yang keabuan itu mengerjap beberapa kali, dan lalu ia berdiri sambil memegang tengkuk tanda ia salah tingkah.
"Ma-maaf Lembayung.. ta-tadi aku di suruh enin untuk langsung masuk kamar kamu aja.. jadi aku langsung kesini di antar bi Minah. " Ia pun berpaling ke arah balkon.
__ADS_1
"Aku maluuu Senjaa.. kamu tutup mata dulu.. atau sana ke balkon liat taman belakang rumah aja yaa.. tunggu bentar aku pakai kerudung dulu. "
"Tapiii Lembayuung.. kita kan sudah makhrom..! kalau kamu masih keberatan aku lihat rambutmu, ya udah gapapa.. aku keluar dulu yaaa.. aku tunggu di bawah. " Senja pun berjalan menuju pintu tanpa melihat ke arahku.
Ceklek.
Ia menutup pintu.Hening sesaat ...lalu terdengar suara langkah nya menuruni undak tangga menuju bawah.
Deg.. Deg.. Deg..
Jantungku...
"Aduuuhh Ayung, kenapa kamu lakuin itu? dia kan suami kamu! "
Aku merutuki diri sendiri akan kebodohanku.
"Aku dosa ga ya? " Sambil menyalakan hairdryer, aku mengeringkan surai yang masih setengah basah. Setelah merasa cukup kering, aku mengikatnya.
Lalu aku memoles wajahku dengan pelembab dan bedak tipis, dan memakai lipbalm secukupnya.
Hatiku masih berdebar, saat ku pakaikan pasmina ini untuk menutup mahkotaku yang seharusnya boleh di lihat oleh suamiku.
Meski tadi itu hanyalah reaksi yang refleks terjadi pada semua perempuan yang berhijab ketika ada yang melihat aurat nya, tapi aku tetap merasa bersalah..
Aku harus minta maaf..
***
Senja
"Wa'alaykumusalam.. " Enin membukakan pintu untukku sambil tergopoh-gopoh. "Ehh.. aya nu kasep..kadieu leubeut (Ayo masuk)!"
Aku meraih tangan enin dan mencium tangan beliau. "Ayung udah siap nin? " Tanyaku sambil ikut mengekor enin dari belakang.
"Belum.. masih di kamar nuju dangdos(ada di kamar lagi dandan) .. sok cep masuk aja ke kamar nya! " Perintah enin sambil menarik tanganku hingga tangga.
"Minaaahh.. kadieu(kesini)!"
"Muhuuun.. bade aya naon den? (ada apa)?"
"Pang jajapkeun nu kasep(tolong antar yang tampan) ka kamar Ayung!"
"Mangga.. " Bi Minah pun mengantarkan aku ke kamar Lembayung yang berada di dekat tangga lantai 2.
"Nuhun bi.. " Ucapku pada bi Minah yang langsung berpamitan ke bawah.
Toktoktok...
Aku mengetuk pintu 3 kali tapi tak ada jawaban.
"Lembayung.. "
Tetap tak ada jawaban. Hingga aku berinisiatif masuk saja ke kamarnya sesuai yang enin perintahkan.
It's Ok kan? kamar istriku ini..
Ceklek.
__ADS_1
Perlahan aku membukanya, tapi tak mendapati istriku disana. Aku pun mengedarkan pandangan melihat sekeliling ruangan aesthetic minimalis dengan dominan warna abu dan putih.
Aku duduk di tempat tidur nya yang lumayan besar. Saat hendak mengambil ponsel.. tiba-tiba terdengar suara pintu kamar di buka dari arah luar.
Ceklek.
"Astaghfirullah... " Lembayung membelalakan mata melihat ku ada di kamarnya.
Deg.
Aku terpelanga.
Istriku berdiri tanpa hijab yang biasa ia pakai.. surai nya yang hitam legam dan tebal, lurus panjang hampir ke pinggang. Dan Ia ternyata memiliki poni.
Apakah ia Nymph? seorang Bidadari?
"Arrgh.. Senjaaaa kenapa kamu ada di kamar aku? " Dia pun lalu sibuk menutupi surai indah nya yang tergerai,menutupinya asal memakai kain yang ia bawa.
"Ehhh.. maaaf.. " Netra ku tak bisa lepas memperhatikan makhluk indah yang ada di depan mataku itu. Aku mengerjap beberapa kali, dan lalu beranjak sambil memegang tengkuk.
Salah tingkah.
Sibuk menilai, jika aku memberi nilai kecantikan pada perempuan.. maka akan aku nilai 10 untuk nya.
Dan hanya ada Satu kata.. Sempurna.
"Ma-maaf Lembayung.. ta-tadi aku di suruh enin untuk langsung masuk kamar kamu aja.. jadi aku langsung kesini di antar bi Minah. " Aku terpaksa memalingkan wajah ke arah balkon.
"Aku maluuu Senjaa.. kamu tutup mata dulu.. atau sana ke balkon liat taman belakang rumah aja yaa.. tunggu bentar aku pakai kerudung dulu. "
"Tapiii Lembayuung.. kita kan sudah makhrom..!kalau kamu masih keberatan aku lihat rambutmu,ya udah gapapa.. aku keluar dulu yaaa.. aku tunggu di bawah. " Aku pun berjalan menuju pintu tanpa melihat ke arahnya.
Ceklek.
Kubuka pintu lalu menutupnya kembali. Berdiri di balik pintu sesaat untuk menetralisir hati.
Akhirnya, ku langkahkan kaki menuruni satu persatu undak tangga. Meski dengan berat hati.
Setelah menunggu kurang lebih 15 menit di ruang tamu, dan mengobrol sebentar dengan enin. Akhirnya Lembayung turun, ia tengah berjalan menuruni tangga.
"Senjaaa.. " Aku menoleh ke arah nya.
"Maafin aku yaaa.. ga seharusnya aku ngelarang kamu untuk liat auratku. padahal kamu berhak melihatnya! itu.. itu aku refleks aja karna malu.." Katanya sambil berjalan dan duduk di sampingku.
"Gapapa.. aku ngerti.. tapi sebagai ganti nya, aku mau minta sesuatu.. "
"Mhhmm.. apa?boleh.. tapiii jangan yang ... "
"Ini..... "
Cup.
"Morning kiss.. "
***
__ADS_1