
Senja
"Hallo.. ibu dimana? "
"Ibu udah di Husen.. sedang nunggu taxi." Kata ibu di seberang sana.
"Ya udah Senja jemput bu.. ibu tunggu di situ! "
"Ga usah.. ibu kan bawa koper, ga bisa kalau naik motor. "
"Senja bisa pinjem mobil punya teman bu. "
"Ga usah.. udah ya, taxi nya sudah datang! "
"Tapi buu.. " Seperti biasa, ibu menutup panggilan sebelum aku selesai bicara.
Aku pun segera membereskan buku-buku dan memasukkan nya ke dalam tas. Pamit pulang duluan pada Rian dan Dion.
"Duluan ya.. ibu gue udah di Husen! "
"Waah seneng lu.. selamat bermanja-manja! " Tutur Dion.
Manja? Aku menarik sudut bibir, rasanya kalau memang benar bisa bermanja pada ibu. Itu akan menjadi kebahagiaan tak terhingga.
***
Sesampai nya di apartement, aku menghembuskan nafas lega karena ternyata ibu belum datang.. aku bisa membereskan dulu kamar tamu dan ruangan lain yang berantakan.
Menyimpan baju-baju kotor yang berserakan, mencuci alat-alat makan yang menumpuk di wastafel. Tapi.. kegiatanku terhenti saat aku mengingat sifat ibu yang pemarah.. Aku rindu di marahi atau di omeli oleh nya, daripada di diamkan dan tak diperdulikan.
Ting.. Tong..
Jujur aku gugup, setelah kurang lebih 3 tahun tak bertemu dengan ibu. Aku pun membuka pintu..
"Buu.. " Aku berniat ingin menggapai tangan nya dan mencium tangan, tapi..
"Ibu capek mau istirahat.. " Ibu meninggalkan ku begitu saja dan lalu duduk di sofa.
"Ibu tau alamat ini? " Tanyaku basa-basi.
"Dapet dari ka Nazam."
"Ohh kalau gitu ibu istirahat dulu ya.. aku udah rapihin kamar nya, itu bu yang pintu sebelah kanan.. "
"Iyah.. " Ibu membawa koper nya dan masuk ke dalam kamar yang tadi aku tunjuk.
__ADS_1
"Huuh.. " Aku menghela nafas panjang lagi.
Ternyata setelah sekian tahun ga ketemu pun, ibu masih tetap sama.
***
Pagi-pagi sekali aku sudah bersiap untuk berangkat sekolah, bertekad untuk memulai kehidupan yang baru dan belajar untuk berubah.
Saat keluar dari kamar, kulihat ibu sedang sibuk di dapur. Ku dengar suara gaduh gesekan dari beberapa alat dapur.
"Kamu sarapan dulu.. udah ibu bikinin nasi goreng! "
"Iyah bu.. " Dengan riang aku duduk di kursi meja makan, sekian lama tak merasakan masakan buatan ibu.
Sungguh.. ini adalah makanan teeer-enak yang pernah aku makan, di banding dengan apapun.
Mataku mungkin sekarang berkaca-kaca, merasakan haru dan bahagia secara bersamaan. Hanya membutuhkan waktu 5 menit saja, aku sudah menghabiskan sepiring nasi goreng. Ibu menatapku tanpa ekspresi, baru ku sadari.. mungkin sifatku memang sedikit banyak menurun dari nya.
Arrgh.. aku lupa, ada surat cinta dari pak Rahmat yang harus aku berikan untuk orang tua atau wali.
Tapi.. aku ragu apakah harus memberikan nya pada ibu atau tidak? kalau di berikan.. aku takut ibu kecewa dengan segudang kenakalan yang mungkin nanti akan di ceritakan oleh pak Rahmat.. tapi kalau tidak di berikan, aku tidak mempunyai kesempatan lagi untuk memperbaiki semua seperti apa yang pak Rahmat bilang.
Akhirnya, aku memberikan nya pada ibu. Baiklah.. resiko apa yang akan terjadi selanjutnya biarlah aku tanggung.. Toh semua memang karena kesalahanku. Aku harus bertanggung jawab.
Ibu hanya diam menatap surat itu, tidak bertanya ataupun penasaran mengapa sampai ada surat peringatan untukku. Tidak pula memberi jawaban apakah akan datang memenuhi undangan atau tidak.
Aku pamit dan mengambil tangan ibu yang tengah memegang surat, mencium punggung tangan nya dengan penuh takzim. Rasa hormatku masih tetap sama.
"Senja pergi dulu bu! "
"Iyah" Jawab nya singkat.
Setibanya di sekolah, saat memarkirkan motor. Aku melihat Lembayung turun dari mobil.
Aku harus menyapa nya atau tidak ya? bukankah kita udah sempat saling ngobrol? Masa pura-pura ga kenal.
Tapi.. kemarin aku cuek padanya. Shiiii***t!! Kenapa aku jadi salah tingkah gini!
"Pagi.. Lembayung.. " Sapaku. Saat ia melintas melewati ku yang sedang membuka helm.
"Pagi.. Aturan kalau ketemu itu salam! "
"Eh.. iyah.. maaf! Assalamu'alaikum! " Kataku kaku.
"Wa'alaikumsalam.. nah gitu donk! " Dia tersenyum menampilkan dimple di pipi nya, membuatku lagi-lagi terpana.
__ADS_1
"Tumben kamu ga terlambat? " Tanya nya.
"Haah? Eh.. iyah.. " Aku benar-benar salah tingkah di buatnya.
"Ya udah aku duluan yaa Senja.. semangat belajar ok! " Dia mengepalkan tangan dan mengangkat nya, memberikan semangat padaku.
"Thanks.. "
Lembayung pun berjalan menuju kelas nya dengan sedikit berlari.
You know what? Pagi ini... adalah pagi terindah dalam hidupku. mentari yang bersinar cerah yang mengiringi kebahagiaanku,tapi juga karena kehadiran ibu ,dan dengan sukarela membuatkan sarapan untukku.
Senyuman indah berseri dan ucapan semangat yang tak terduga, meluncur dari seseorang yang spesial sang idaman hati.
Twice!!
Double present!! double happiness..
Hal sederhana itu jauh lebih membahagiakan. Dan ternyata yang bahagia itu adalah hal yang sederhana.- Dewa Eka Prayoga
***
Ibu Senja
Pagi ini aku terbangun di saat fajar belum menyingsing, biasanya.. jika di Mataram.. pagi buta seperti ini baru pulang dari mencari sesuap nasi untuk makan. Iyah..aku tak lebih dari sekedar wanita malam yang kesepian. Hari-hariku hanya di penuhi oleh kerinduan.
BUKAN.. aku bukan mencari kepuasan dengan menjual raga pada puluhan pria yang haus sentuhan. Ada sesuatu yang memaksaku melakukan itu, saat ini bukan saatnya.. mereka tau, Senja ku tak perlu tau.
Senja. Anakku sayang.. anakku yang malang. maafkan ibumu yang hina ini. Yang selama ini tak pernah benar-benar bisa menunjukkan betapa ibu sangat menyayangimu. Maafkan ibu nak..
Aku membuka surat yang di berikan oleh anakku beberapa saat yang lalu sebelum berangkat sekolah. Menghela nafas panjang setelah membaca isi dari surat tersebut yang menyatakan bahwa siswa membutuhkan bimbingan.. dan di harapkan agar orangtua, atau wali menghadap kepala sekolah.
Ini semua salahku.. kesalahanku yang terlalu besar dan tak termaafkan. Senja ku tumbuh menjadi seorang anak yang kurang kasih dan sayang.
Apakah masih pantas aku di panggil ibu? sedangkan selama ini aku tak benar-benar merawatnya. Malahan seringkali memarahi nya, meski ia tak berbuat salah.
Aku tak pernah sekalipun memeluknya, membimbingnya.. mencurahkan segala cinta dari seorang ibu untuk anaknya. Biarlah nak.. biar kamu membenci ibu saja, ibu pantas menerima nya.
Aku segera bersiap untuk membersihkan diri, memilih pakaian terbaik yang akan aku pakai nanti untuk ke sekolah anakku. Memindahkan semua baju dari dalam koper dan memperhatikan kan satu persatu. Haah.. rasanya tak ada baju yang layak, baju-baju ku ini adalah baju yang biasa aku pakai untuk menjajakan diri. Ooh ada satu.. celana panjang katun hitam dan kemeja blouse berbahan satin dengan lengan panjang.
Dengan memandang wajahku di cermin.. aku meratakan pelembab wajah ,lalu meratakan lagi dengan bedak ringan di seluruh wajah, Jangan pakai foundation dan lipstik merah! agak berlebihan nanti nya kalau make up terlalu tebal seperti setiap malam, nanti Senja malu!
Dengan make up natural seperti ini, aku terlihat lebih muda. umur ku baru 35 tahun, tapi sudah memiliki anak remaja seumur Senja.Karena dulu.. aku hamil anakku di saat usiaku masih 17 tahun.
Akh.. ini adalah pertama kali nya aku akan menginjakan kaki di sekolahan anakku. Rasanya seperti gemuruh tak tertahan.. Ada perasaan ragu dan bimbang.
__ADS_1
Baiklah..
***