
Ibu Senja
Kemarin adalah pertemuan ku dengan teh Fatimah untuk pertama kalinya setelah 18 tahun..
Rasanya seperti mimpi dan membuat ingatanku kembali pada masa itu, masa dimana aku merasa bahagia dekat dengan nya, seorang wanita shalihah berparas cantik wajah dan juga hati nya.
Teh Fatimah tidak berubah.. malah semakin bersinar dengan hijab syar'i yang dikenakan nya. Terbersit rasa iri akan keshalihaan nya.. Sungguh berbanding terbalik dengan ku yang hanya seorang wanita mu*****.
Aku malu.. Ingin sekali bercerita banyak tentang yang kulalui selama belasan tahun yang menyiksa. Ingin mencurahkan isi hati yang sudah tak sanggup aku simpan sendiri.
Aku tak menyangka.. ternyata kami di pertemukan oleh takdir. Melalui anak-anak kami, Lembayung dan Senja.
Lembayung..
Ooh sungguh anak gadis itu, sejak pertama kali aku bertemu dengan nya di hari pernikahan Hasan adikku. dia sangat mencuri perhatian dan aku langsung jatuh hati pada nya.. ada perasaan berbeda yang menarikku untuk menyapa dan mendekatinya saat ia tengah sendirian di sebuah taman.
Gadis cantik, ayu dan shalihah yang terus di tatap oleh anakku Senja.Waktu itu, jelas sekali dalam ingatanku.. ia memakai gaun senada dengan pasmina yang di kenakan,kalau di pikir lagi.. dulu aku sempat berpikir ia mirip dengan seseorang yang aku kenal, tentu saja ia ternyata anak dari orang yang selama ini ku rindukan.
Entah karena naluri seorang ibu yang ikut merasakan apa yang anakku rasakan.. Aku begitu menyukai nya.
Ia adalah Lembayung ku..
Si pelengkap Senja.
***
"Tante.. ayo duduk samping aku." Tawar Lembayung saat kami akan masuk ke dalam mobil, kami baru saja landing di Bandar Udara Internasional Juanda, Surabaya Jawa Timur.
Akan berkendara menuju Pasuruan, pondok Pesantren milik bapaknya mas Fadli.
"Tante cantik banget pakai hijab.. " Puji nya sambil tersenyum ke samping, ke arahku.
Di dalam mobil kami hanya berempat, supir.. aku, Lembayung dan Senja. Sedangkan yang lain memakai mobil yang berbeda.
"Makasih sayang.. kamu jauh lebih cantik! " Aku pun mengelus pipi merah merona miliknya. Ku lihat anakku tengah melirik ke arah kami melalui kaca spion.
Akhirnya, kami tiba di PonPes.Dan kami pun di sambut dengan hangat oleh bapaknya mas Fadli, K. H. Ummar Abdullah.. dan para santriwan santriwati disana.
Konon katanya, pada mulanya kegiatan pesantren ini berbentuk pengajian kalongan bertempat di sebuah musholla,diikuti santri yang bermukim maupun masyarakat santri disekitar pesantren.
Dengan penuh keteladanan dan kesabaran yang tinggi, pesantren terus menunjukkan eksistensinya sehingga para santri dengan istiqomah dapat belajar dan mengembangkan diri melalui pemahaman agama dan kecakapan serta ketrampilan hidup.
"Assalamu'alaykum .." Salam mas Fadli pada semua yang telah berkumpul di aula besar yang sudah di penuhi para santri.
Aku terkesiap, melihat betapa banyak nya santri yang mondok disini. Semua santri memakai pakaian putih.. dan santriwati memakai pakaian serba warna hitam, bahkan banyak yang memakai cadar.
Seketika nyali ku menciut, aku merasa sangat kecil di antara lautan pencetak hafizh hafizah dan ulama ini berada. Menatap nanar pemandangan haru atas penyambutan yang syahdu..
__ADS_1
Beberapa santri menyerukan shalawat kepada Nabi besar Muhammad Shallallaahu βalaihi wa sallam.. dan yang lain nya mengikuti.
Kedamaian menyeruak ke seluruh lapisan darah. Inilah yang aku inginkan.. Inilah yang aku damba..
***
Senja
Aku tak menyangka akan di sambut dengan begitu luar biasa seperti ini..
Ternyata akung Lembayung adalah K. H. Ummar Abdullah adik dari pendiri Pondok Pesantren ini.. kakak beliau yang mendirikan, sudah lama wafat dan menyerahkan kepengurusan seluruh nya pada akung Lembayung.
Pantas saja.. ternyata insiden kabur nya Lembayung dan aku bisa menjadi mo*** yang bisa mencoreng nama baik beliau.
Sekali lagi aku dihadapkan pada situasi diluar dugaanku. Aku merasa menjadi remahan kecil tak berguna di antara santriwan santriwati disana.
Wajah mereka memancarkan aura berbeda.. aura keshalihan karna wudhu yang tetap terjaga.. pandangan jauh dari maksiat dunia, pendengaran jauh dari music yang lena..
Hati senantiasa berdzikir.. Dan lisan senantiasa menyerukan ayat-ayat suci Allah..
Setelah acara penyambutan, kami semua di persilahkan untuk beristirahat di sebuah pondok yang telah di sediakan.
"Ini yang namanya Senja? " Tanya seorang Kiayi yang ku yakini adalah akung nya Lembayung.
"Iyah pak.. " Jawab papah Lembayung.
Bila ingat banyaknya kenakalan dan di masa laluku..sudah sepantasnya dan semestinya penolakanlah yang kudapat, tapi di luar ekspektasi ternyata aku dan ibu di sambut dengan sangat hangat oleh keluarga Lembayung.
"Baguus.. nanti saya mau berbicara dengan kamu! sekarang istirahat saja.. besok pagi saya tunggu di kediaman saya! " Kata nya tegas sambil menepuk bahuku.
"Baik.. " Jawabku singkat.
Aku dan ibu di persilahkan untuk beristirahat di sebuah pondok kecil berupa rumah kayu, yang depan nya terdapat tanaman hijau yang asri. Sepertinya, pondok ini khusus untuk tamu yang datang ke PonPes ini.
Begitu banyak pasang mata, dan tatapan penuh selidik dari santri -santri yang melihat kami.
"Ahlan Wa Sahlan Bihudurikum... perkenalkan saya Miftah, silahkan bu.. mas.. ini kamar yang telah di siapkan oleh Gus Ummar, selamat beristirahat..saya permisi! "Pamit seorang pria dewasa berpakaian gamis putih dengan sorban di kepala nya, persis seperti seorang ustadz.
"Terimakasih mas.. " Jawabku.
"Sama-sama.. " Ia tersenyum lalu berlalu.
"Ibu mau istirahat ya.. seharian di perjalanan badan ibu pegal semua." Kata ibu sambil menarik kopernya.
"Iyah bu.. " Aku masuk ke kamar yang telah di sediakan, kamar dengan nuansa cokelat, karena di dominasi seluruh nya yang terbuat dari kayu jati yang kokoh.
__ADS_1
Jendela yang besar menambah kesegaran udara segar dan bersih yang masuk ke dalam seluruh penjuru ruangan. Sangat kontras dengan suasana perkotaan yang di penuhi oleh polusi udara yang sangat tercemar.
Aku keluar dari kamar menuju balkon di depan pondok,menyusuri taman kecil bebatuan. Mengedarkan pandangan ke langit, tinggi nya pepohonan yang rindang dan menghirup udara dalam-dalam.
"Piyambake iku calon bojo ne mba Lembayung toh? " Bisik seorang santriwati kepada teman-teman nya yang lain, yang sedang berjalan dari jarak lumayan dekat dariku.
Meski berbisik, tapi aku masih bisa mendengar samar apa yang di bicarakan.
"Iki piye toh? trus Ustadz Miftah piye ? " Jawab yang lain sambil berbisik juga.
"Wis.. wis.. ojo ghibah! ora becik! "
"Astaghfirullah.. " Yang tadi berbisik ber istighfar.
Aku mengerutkan kening, lalu mengangguk saat mereka melewatiku. Di balas dengan anggukan..mereka memandangi intens dan lalu segera menunduk.
"Astaghfirullah.. Ganteng banget Na! kaya bule.. "
"Huush.. Istighfar koe! ayo cepat! "
Mereka berjalan dengan tergesa sambil terus berbisik dan sesekali saling menepuk bahu.
Mereka kenapa?
Ustadz Miftah? Bukankah ia yang tadi yang mengantarkan kami kesini kan?
Ada apa? mengapa mereka membicarakan tentang dia dengan Lembayung?
***
-
-
-
-
Assalamu'alaykum Reader's...
follow ig pribadiku yuu.. @nnaputrinaisyah
Dan jangan lupa jg follow bisnis wedding dress syar'i ku yaa... @bynnaputrinaisyah
Buat readers yang belum menikah dan lagi cari wedding dress syar'i muslimah untuk acara special nya boleh banget kepoin ig nyaaa..
Jazakumullahu khairan.. ππππ
__ADS_1