
^^^"Kalau sampai waktuku^^^
^^^Ku mau tak seorang kan merayu^^^
^^^Tidak juga kau^^^
^^^Tak perlu sedu sedan itu^^^
^^^Aku ini binatang ******^^^
^^^Dari kumpulannya terbuang^^^
^^^Biar peluru menembus kulitku^^^
^^^Aku tetap meradang menerjang^^^
^^^Luka dan bisa kubawa berlari^^^
^^^Berlari^^^
^^^Hingga hilang pedih peri^^^
^^^Dan aku akan lebih tidak peduli^^^
^^^Aku mau hidup seribu tahun lagi"^^^
^^^~Chairil Anwar~^^^
Senja
"Lembayung.. " Aku menghampirinya. "Lembayung.. "
"Ehh.. mhhm.. iyah apa? "
"Kalau kamu mau menolak pernikahan ini.. aku bisa bicara dengan orangtuamu untuk membatalkannya. "
Ia menatapku dengan mata berkaca-kaca.
"Ini semua salah aku Senja.. kalau aku.. "
"Salah aku..kalau aku tegas, semua ga akan jadi begini akhirnya."
Ia menggelengkan kepala.
"Aku minta maaf yaa.. Lembayung.. karna kamu jadi harus menikah dengan orang sepertiku! "
Ia mendelik ke arahku. "Tuh kan.. kamu itu kenapa sih jadi orang suka insecure an gitu! orang kaya kamu gimana coba? semua orang juga pasti pernah ngelakuin kesalahan! tapi.. tergantung apa dia mau berubah dan belajar dari kesalahan nya atau ngga! " Kata Lembayung ketus.
Aku tersenyum menatap nya, ia sungguh baik..
Apa akan tetap seperti ini bila ia tau dosa-dosaku dulu?
"Kamu ga tau masa laluku.. " Kataku lirih, tak kuasa melanjutkan lagi.
" 3 days, I spend my time with you.. and my impression while 72 hours with you..mhhm.. I think.. actually you are a good person..! "
Aku menghela nafas panjang.
"Tapi.. "
"Udah akh.. jangan bahas itu! Ayo kita ke ruang makan, semuanya udah nunggu! "
__ADS_1
Aku mengikuti langkah Lembayung dari belakang.
Lembayung...
72 hours with you.. this feeling is more growing and growing up.. all over again.
***
Waktu sudah menunjukkan pukul setengah 12 siang, dan karena aku tidak memakai motor untuk pulang ke apartement. Aku memutuskan untuk menggunakan mobil angkutan umum.
Di dalam angkutan umum, sayup terdengar dari kejauhan, adzan dzuhur berkumandang begitu syahdu terdengar di telinga. Aku memutuskan untuk turun di dekat sebuah masjid dan hendak shalat berjamaah disana.
Aku melihat.. Seorang kakek tengah berjalan, tapi ada sungguh menarik perhatian... Beliau, kakek tersebut berjalan terpincang-pincang dengan menggunakan tongkat kayu nya. Berjalan menuju masjid dengan kesusahan.
"Maaf kek.. apa kakek butuh bantuan? " Tanyaku, saat aku mendekati beliau.
"Tidak apa-apa anak muda.... saya bisa sendiri.. " Tolaknya, secara halus.
"Kakek mau shalat berjamaah di masjid? "
"Tentuu saja... laki-laki itu wajib shalat berjamaah di masjid! " Beliau menepuk-nepuk bahuku.
"Permisi, saya mau ambil wudhu dulu kek.. " Aku berpamitan, sesaat kami telah sampai di pintu masjid.
Kakek itu hanya mengangguk dan aku langsung berbelok ke tempat dimana tanda panah di tunjukkan. Tempat wudhu khusus untuk laki-laki.
Setelah berwudhu, aku masuk ke dalam masjid dan melihat sang kakek tengah menungguku di balik mimbar.
"Ayo.. kamu yang adzan! " Beliau menunjuk pada pengeras suara dan mengintruksiku untuk maju kesana.
"Maaf kek.. saya belum pernah mengumandangkan adzan.. " Kataku malu, dan ragu-ragu.
Dengan perasaan yang bercampur aduk, aku mendekati pengeras suara. Tanganku bergetar dan tubuhku meremang seketika.
Bagaimana ini?
Apakah aku bisa?
Kakek mengangguk, dan aku langsung mengucap Bassmallah..
Hening.. Hanya detak suara jantungku yang terdengar, hanya peluh keringatku yang keluar dari telapak tangan akibat terlalu gelagapan.
"Allahu Akbar.... Allaaaaahu Akbar.... "
Deg... Deg... Deg...
Pair Jantungku ,berdetak tidak normal. Begitu aku menyerukan satu Nama AGUNG itu... seluruh aliran nafas seakan terhenti. Gejolak batin bergemuruh tiada Peri.
"Allaaahu Akbar.... Allahu Akbar... "
"Laailahaillallah..... "
Sepenuh jiwa, aku mengumandangkan Ke-Esaan Allah dengan begitu menggema. Airmata bercucuran, seiring kalimat demi kalimat seruan di kumandangkan hingga selesai.
Daksa ku luruh.
Tubuhku terasa lumpuh.
Tetesan demi tetesan mengalir deras dari kedua jendela hatiku karena larung, hanyut ke dalam keindahan makna.Akan ajakan untuk segera menghadap ke hadirat Illahi Rabbi.
Kakek mendekat padaku, "Bagus... Allah senantiasa memberkahimu anak muda... BarrakaAllah Fiik.. " Beliau lalu berdiri, bersedekap melaksanakan shalat sunat.
__ADS_1
Aku mengikuti langkah kakek, dan kemudian shalat sunat juga di belakangnya.
Setelah selesai melaksanakan dua rakaat shalat sunat, kakek berdiri di depan bergegas menjadi imam. Orang-orang pun berdatangan, mengambil wudhu terlebih dahulu dan lalu ikut merapatkan shaf di belakang kakek.
4 rakaat usai di di laksanakan.
"Anak muda... siapa namamu? " Tanya kakek duduk lalu menghampiriku.
"Senja kek... " Aku meraih tangan dan mengecup punggung beliau dengan takzim.
"Barangsiapa yang mendengar adzan, lalu ia tidak menghadirinya maka tidak ada sholat baginya melainkan karena uzur." (HR Ibnu Majah).
Kakek menuturkan sebuah hadist yang merupakan hadist riwayat Ibnu Majah, yang pernah ku dengar dari pak Syarif.
Aku mengangguk.
"Ada suatu kisah, seorang saleh menguburkan jenazah saudara perempuannya. Setelah pulang, ia menyadari kalau dompetnya telah hilang. Mungkin jatuh ketika ia memakamkan saudaranya itu."
"Karena itu, ia segera kembali ke pemakaman dan menggali kembali. Tetapi belum sempat ia menemukan dompetnya kembali, ia melihat nyala api di kubur saudaranya tersebut. Ia ketakutan dan segera menutupnya kembali. Ia menangis melihat keadaan kubur saudaranya itu."
"Saudaranya itu memang tidak tinggal bersamanya, tetapi bersama ibunya. Segera ia menuju rumah ibunya, dan masih dengan menangis ia berkata.."
"Wahai ibu,beritahukan kepadaku,bagaimana amalan saudaraku itu?"
"Sang ibu berkata,ada apa gerangan sehingga engkau bertanya seperti itu?"
"Wahai ibu, aku melihat kuburnya menyala api! Kata sang anak, kemudian ia menceritakan secara lengkap pengalamannya."
"Sang ibu ikut menangis mendengar cerita itu dan berkata,saudaramu itu biasa meringan-ringankan (menggampangkan) sembahyang dan mengakhirkannya, hingga waktunya hampir habis!"
Aku mendengarkan kakek dengan seksama, seraya meneteskan airmata.
"Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, Amal perbuatan yang paling disukai Allah adalah salat pada awal waktunya...Beliau juga bersabda, Kelebihan (salat) pada awal waktunya dibanding pada akhir waktunya adalah seperti keutamaan akhirat atas dunia".
Aku menundukkan kepala, entah kenapa airmata terus mengalir deras tanpa jeda.
"Hidupmu baru di mulai Senja... mamfaatkan waktu di dunia dengan beribadah dan taat pada Sang Pencipta... kakek percaya, setelah ini kau akan selalu di limpahkan kebahagiaan jika terus lurus berada di jalan-Nya. "
"BarrakaAllah.... BarrakaAllah Fiik.. " Beliau menepuk dada kiri dimana jantung hati berada. "Disinilah letak qalbu... dekatilah DIA dengan qalbu.. karna qalbu adalah sebagai penggerak dan pengontrol anggota tubuh lainnya,kebingunganmu ..mintalah petunjuk pada Sang Pemilik Kehidupan.. "
"Qalbu adalah salah satu aspek terdalam dalam jiwa manusia yang senantiasa menilai benar salahnya perasaan, niat, angan-angan, pemikiran, hasrat, sikap dan tindakan seseorang, terutama dirinya sendiri. Sekalipun qalbu ini cenderung menunjukkan hal yang benar dan hal yang salah, tetapi tidak jarang mengalami keragu-raguan dan sengketa batin sehingga seakan-akan sulit menentukan yang benar dan yang salah. Tempat untuk memahami dan mengendalikan diri itu ada dalam qalbu. Qalbu-lah yang menunjukkan watak dan jati diri yang sebenarnya. Qalbu-lah yang membuat manusia mampu berprestasi, bila qalbu bening dan jernih, maka keseluruhan diri manusia akan menampakkan kebersihan, kebeningan, dan kejernihan. Yang suatu saat akan dimintai pertanggungjawaban terhadap apa yang dilakukan oleh indera manusia sejak berada di dunia."
"Baiklah.. ini adalah wejangan pendek dari sang kakek tua yang sedang menunggu waktunya tiba.. hanya penyesalan.. hanya penyesalan... dulu kakek adalah seorang durjana dan durhaka.. hanya penyesalan! " Kakek bangkit untuk berdiri dengan menggunakan tongkat bersusah payah.
Aku hendak membantu, tapi beliau menolak dan menahanku untuk tetap duduk.
"Tafakur.. " Ucapnya, membuat aku mengernyitkan dahi.
Beliau berlalu meninggalkan masjid ,aku masih terduduk dan menatap langit-langit.
Aku ini hina dan berlumur dosa.. Pantaskah bersanding dengan gadis shalihah seperti Lembayung?
Sungguh tak pantas.
Tapi...
Bolehkah aku mendapatkan kesempatan untuk memperbaiki diri agar aku bisa dan layak menjadi imamnya nanti?
***
Noted: Di ambil dari beberapa sumber.
__ADS_1