
Author
Lembayung terkulai lemas di lantai dalam toilet.. Sementara Carla dengan panik meninggalkannya begitu saja.
Karena jam pelajaran masih berlangsung, dan berakhir 1 jam lagi.. tak ada orang yang mengetahui bahwa Lembayung kini tengah pingsan.
Setengah jam berselang, lalu seorang murid perempuan yang di ketahui masih kelas 10 masuk ke dalam toilet hendak buang air kecil.. tapi ia terkejut, mendapati ada kakak kelas yang pingsan terkulai lemas.
"Toloooooong... " Siswa itu berteriak dan berlari hingga ke kantin sekolah."Toloong itu... itu ada yang pingsan di toilet bu.. " Teriak nya pada ibu kantin yang sedang mempersiapkan barang dagangan nya untuk istirahat nanti.
"Hahh? siapa neng? " Ibu kantin bergegas menuju toilet, dan terperanjat karena ia sangat mengenali siapa siswa yang pingsan itu.
"Neng Ayuuuung aduuuh.. ini kenapa neng bisa pingsan? neng...!" Ibu kantin lalu merogoh ponsel dan menghubungi seseorang.
"Hallo.. Mang... sini ke toilet dekat kantin enggalkeun! (Cepetin)! "Tanpa menunggu jawaban dari seberang telpon, ibu kantin menutupnya secara sepihak.
"Neng.. bangun neng! "
"Bu.. aku mau ke ruang BK atau ruang guru dulu ya bu.. ngasih tau guru! " Pamit siswa kelas 10 yang menemukan Lembayung.
"Iyah.. iyah neng.. nuhuun! "
Tak lama kemudian, datang mang Umay dengan tergopoh-gopoh berjalan sambil memegang sapu di tangan nya.
"Aya naon bu? "
"Ini neng Ayung pingsan! "
Bersamaan dengan itu beberapa guru datang dan salah satunya membopong Lembayung ke UKS.
Ibu Santi terlihat sedang me-ngecek pernapasannya dengan memeriksa denyut nadi dan melihat pergerakan dada serta perut.
"Ada yang tau Lembayung pingsan dari kapan? " Tanya bu Santi, dan semua orang hanya menggelengkan kepala.
"Sebaiknya orangtuanya di hubungi!"
Mendengar intruksi bu Santi, ibu kantin segera mencari kelas Lembayung dan meminta izin pada pak Syarif untuk berbicara dengan Risa.
Risa pun menghubungi mamah Lembayung agar segera datang ke sekolah, agar segera membawa nya ke Rumah Sakit terdekat.
****
Sementara itu di belahan bumi bagian Eropa....
Milan, Italia.
"Padre...." Seorang pria dengan setelan jas lengkap, memanggil ayah nya yang sedang terbaring lemah di atas sebuah kasur pesakitan.Begitu banyak selang yang masuk ke dalam tubuhnya..karena ia tengah terbaring lemah akibat penyakit jantung yang di derita nya.
Dengan nafas tersengal ia mengusap tangan anak lelaki nya yang berusia 25 tahun itu dan menyerahkan secarik kertas berisi beberapa alamat.
"Apa ini? " Ia mengernyitkan alis.
"Padre mohon.. cari wanita ini sampai ketemu!" Katanya lirih.
"Siapa? "
"Dia adalah ibu tirimu.. "
Deg.
Pemuda itu terperangah.
"Kabarnya ia sudah memiliki seorang anak, dan ia adalah adikmu.. padre sudah mencari nya bertahun-tahun, ini laporan terakhir dari seseorang yang padre utus untuk mencari informasi keberadaan mereka... " Dengan tangan nya yang tertusuk jarum infus, Ia menyerahkan kertas itu pada anaknya.
"Tapi.. aku tak bisa meninggalkan padre dalam keadaan seperti ini.. madre dan Alexa.. "
__ADS_1
"Mereka tak perlu tahu.. kamu bisa pergi ke Indonesia dengan alasan akan mengurus perusahaan padre disana..!Padre masih kuat.. operasi nya pun masih lama."
"Baik kalau begitu.. "
***
Risa
Saat ibu kantin memberitahukan keadaan Ayung yang pingsan di dalam toilet, aku sangat terkejut dan langsung meminta izin pada pak Syarif untuk membawa Ayung ke Rumah Sakit terdekat.
Ayung sedang berbaring, saat orangtua nya datang. Dan..
Eh ko ada wanita itu? Yang dulu aku lihat di mall bersama Senja. Tapi sekarang penampilan nya sangat berbeda.. kini memakai hijab.
Aku pun keluar sebentar dan dari luar aku lihat Ayung sekarang sedang mengobrol dengan wanita itu..mereka terlihat sangat akrab sekali.
Aku menghubungi Gadis dan Nindy agar nanti selepas pulang sekolah mereka mampir untuk ke Rumah Sakit.
"Risaaa... mamah ngucapin banyaak makasih buat Risa yaa! sudah membawa Ayung cepat-cepat kesini. Ayung itu emang dari kecil sering sakit.. tapi baru sekarang-sekarang lagi suka pingsan. " Mamah Ayung mendekatiku dan duduk di sebelahku.
"Ayung baik-baik aja kan mah? " Tanyaku khawatir, dan di jawab dengan anggukan oleh mamah Ayung.
"Alhamdulillah.. cuma kecapean.. "
"Semoga Ayung cepet sembuh ya mah.. beberapa hari ini, emang Ayung suka ngeluh pusing dan sakit kepala. Aku khawatir karna saat istirahat di sekolah Ayung jarang makan mah.. "
"Huuh.. " Mamah Ayung mendengus. "Iyah.. makasih ya udah jadi sahabat yang baik sayang sama Ayung! " Mamah Ayung mengelus bahuku pelan.
Memang bukan hanya aku saja yang merasakan perubahan pada Ayung, Gadis dan Nindy juga sering bilang kalau Ayung suka ngelamun sendiri.
Aku yakin, ada masalah yang ia pendam dan sembunyikan dari kami. Karena Ia tak seceria dulu..
"Riiis... Ayung gimana? " Nindy dan Gadis menghampiriku sambil terengah-engah.
"Tapi gimana keadaan nya sekarang? dia baik-baik aja kan? " Tanya Gadis khawatir.
"Baik ko.. tapiiii.. "
"Tapi apa? "
"Gapapa... ayo kita masuk yuuk..!" Ajakku pada dua sahabat ku itu.
Ceklek.
"Assalamu'alaykum.. maaf mah.. pah.. kami mau jenguk Ayung! " Ucap Gadis sambil berjalan mendekati Ayung yang kini tengah tersenyum lirih ke arah kami.
"Ayo sini... " Ajak mamah Ayung ramah, lalu merangkul bahu wanita berhijab yang dari tadi mengobrol dengan Ayung.
"Kalau begitu.. kami keluar sebentar yaa.. kalian temenin Ayung dulu, dia lagi butuh teman mengobrol.. "
Kami bertiga mengangguk dan langsung berhamburan memeluk Ayung.
"Ayuuung.. kamu itu kenapa sih? cerita dong kalau lagi ada masalah! " Ucap Nindy masih memeluk Ayung erat.
"Ko kamu tiba-tiba pingsan? ini kenapa pipi kamu merah gini Yuung? kamu abis di tampar siapa? " Tanya Gadis, sambil memperhatikan wajah Ayung.
"Iyah Yung..aku tuh yakin, kamu ga akan tiba-tiba pingsan kalau ga ada sebab.. ini perbuatan siapa? "
"Gapapa ko guys.. aku baik-baik aja! "
"Bohoong.. kamu tuh jangan nyembunyiin perbuatan salah kaya gini! "
"Tadi aku pagi ga kuat pengen muntah Ris.. trus lari ke toilet, aku ga sengaja nubruk Carla.. "
"Jadi dia nampar kamu gara-gara kamu ga sengaja nubruk dia? "
__ADS_1
"Bukan.. dia bilang kalau aku ngerebut Radith dari dia.. " Ayung menunduk.
"Oh My God.. itu orang ga tau malu banget! jelas-jelas ka Radith tuh udah ga suka sama dia.. " Gadis mulai emosi.
"Udaah Dis... ga usah bahas ini lagi yaaa.. " Ayung memegang tangan Gadis dan menenangkan nya.
Ceklek.
Pintu ruangan terbuka, dan terlihat seorang dokter wanita paruh baya di apit oleh dua orang suster menghampiri kami.
"Lembayung yaa.. bagaimana sekarang? masih lemas? jangan malas makan yaaa.. istirahat yang cukup dan jangan banyak pikiran! "
"Baik dok.. " Ayung tersenyum.
"Kalau begitu saya permisi ya.. orangtua Lembayung dimana? ada sesuatu yang harus di bicarakan.. jangan lupa lho makan yang banyak yaa..! " Dokter dan kedua suster berlalu meninggalkan ruangan.
"Kamu itu kenapa sih Yung? kaya ada yang kamu sembunyiin dari kami.. kamu jadi pemurung akhir-akhir ini, padahal beberapa bulan ke belakang kamu keliatan happy banget.. " Sungut Nindy sambil duduk di dekat Ayung.
"Kalau aku cerita.. kalian ga akan marah dan jauhin aku? " Kini kedua bola mata Ayung berkaca-kaca.
"Ya ampuuun.. kamu itu! emang masalah apa Yung? ko kamu sampe ragu gitu sama kami? " Gadis menimpali.
"I was married... "
"Haaah"
"What? "
"Ayuung? "
"Sama siapa? jangan bilaaaang.... " Gadis berhenti berkata. Ia menarik nafas lalu membelalakan mata, karena Ayung mengangguk sebelum Gadis melanjutkan. "Ko bisaaa? "
"Siapa Dis? kamu tau? "
"Senja.. " Ayung menjawab lirih.
Kami bertiga tertegun, lalu kembali merangkul dan mendekap Ayung erat-erat. Bukan kaget karena ia menikah dengan Senja, tapi justru rasa bersalah pernah membicarakan keburukan tentang Senja di depan Ayung dan iba melihat keadaan Ayung saat ini.
Pantas saja Ayung murung dan terlihat sedih akhir-akhir ini,terlepas dari rasa penasaran kami kenapa ia bisa menikah dengan Senja. Kami lebih memperdulikan dan mementingkan keadaan psikis dan fisik Ayung yang lemah.
"Maafin aku karna aku selama ini ngerahasiahin ini sama kalian.. aku takut.. "
"Kamu takut kami jauhin kamu gara-gara ini Yung? "
Ayung mengangguk.
"Ya Allah Ayuung.. kamu pikir kami itu sahabat seperti apa? kami tuh sayang banget tau ga sama kamu! ga peduli bagaimanapun keadaan kamu.. kami selalu ada buat kamu! " Aku mengusap tetesan airmata yang jatuh dari kedua mata Ayung.
"Kami lebih sedih liat kamu kaya gini Yuung.. kamu harus sehat ya.. harus kuat! "
"Sabaar ya Yung... "
Kami berempat saling mendekap erat dan menumpahkan airmata bersama-sama.
Inilah persahabatan kami... Saling menguatkan.
Friedship is fragile things.. they require much give and take..
Persahabatan adalah hal yang rapuh .. mereka membutuhkan banyak saling memberi dan menerima ..
And true Friendship consists in forgetting what one gives and remembering what one receives.
Dan Persahabatan sejati...melupakan apa yang diberikan dan mengingat apa yang diterimanya.
***
__ADS_1