
6 Bulan Kemudian..
Senja
"Alhamdulillah kamu semakin lancar membaca Al-Qur'an.. Alhamdulillah Senja.. bapak ikut senang.. BarrakaAllah Fiik.. " Pak Syarif menepuk bahuku pelan, saat aku selesai membaca Al-Qur'an di bimbing oleh beliau.
Aku mulai rutin lagi belajar pada pak Syarif seminggu sekali, karena sekarang lebih sering menghabiskan waktu bersama Lembayung dan juga perkerjaan ku sebagai photografer free lancer..Jadi tidak bisa setiap hari belajar seperti dulu.
Dalam kurun waktu 6 bulan terakhir, terhitung sudah 10 kali aku mendapatkan job wedding.. dalam 1 job wedding itu sudah mencakup prewedd, siraman dan lain-lain nya. Aku juga mendapatkan beberapa job event seperti pesta ulang tahun dan perusahaan.
"Bapak boleh bertanya? " Kata pak Syarif agak memelankan suara nya.
"Boleh pak.. "
"Kalau ibu mu bagaimana kabar nya? " Tanya nya agak malu.
Aku mengernyit.
"Alhamdulillah baik pak.. tapi ibu masih tinggal di Mataram dan tidak mau tinggal di Bandung.. " Kataku, aku sudah tau ke arah mana pembicaraan guruku ini sebenarnya.
"Ohh begitu.. "
"Ada apa ya pak? kalau boleh saya tau? " Aku sungguh penasaran apakah pak Syarif akan berterus terang atau tidak jika aku langsung bertanya.
"Itu.. apa boleh bapak meng-khitbah ibu mu? " Katanya langsung ke pokok tujuan.
Aku menyunggingkan senyum dengan wajah sumringah.
"Tentu saja pak.. saya sangat senang kalau bapak berkenan.. Menerima ibu saya.. "
"Bapak akan shalat istikharah meminta petunjuk pada Allah.. "
"Baik pak.. " Aku mengangguk setuju.
Alhamdulillah.. bukankah ini adalah berita yang baik? aku ingin cepat-cepat pulang dan memberitahukan ini pada Lembayung. Dia pasti akan sangat bahagia mendengarnya.
Drrrt.. Drrrttt..
Ponselku berbunyi, ada pesan masuk dari Lembayung.
Lembayung : Assalamu'alaykum suami... Cepet pulang! buruuuaan! temenin aku belanja bahan makanan di supermarket yaaa.
Senja : Wa'alaykumusalam, yes honey..
Aku menyunggingkan senyum, istriku itu sekarang sangat hobby memasak.. setiap hari ia pasti membuatkanku menu yang berbeda-beda.Katanya..memasak untuk suami melambangkan ketaatan karena termasuk ke dalam salah satu menjalankan kewajiban, ingin membahagiakanku agar bisa menambah kecintaanku padanya.. dengan begitu ia berkata, semoga Allah meridhai ia mendapatkan pahala.
"Maaf pak.. kalau begitu saya permisi pulang dulu ya pak! Maryam nya dimana? " Karena biasanya, Maryam akan menempel padaku dan akan marah bila aku pulang, tapi tak berpamitan padanya terlebih dahulu.
"Baik..kamu hati-hati ya.. Salam untuk istrimu.. Maryam sedang makan di dalam,Tidak apa-apa nanti saya yang bilang pada Maryam. " Ucap pak Syarif.
"Saya permisi.. Assalamu'alaykum .."
"Wa'alaykumusalam warrahmatullah.."
Baru seminggu ini pak Syarif tahu tentang rahasia kami, pada saat memergoki kami di sebuah pusat perbelanjaan sedang berbelanja bahan makanan. Ku putuskan untuk memberitahu dan meminta do'a dari beliau.
Aku sudah sampai di depan gerbang, lalu ku lihat Lembayung keluar dari pintu depan.Karena sebelumnya kami telah janjian untuk pergi ke supermarket.
"Assalamu'alaykum.. " Salamku.
__ADS_1
Ia langsung menghampiriku lalu mencium punggung tangan.
"Wa'alaykumusalam.. " Balasnya sambil tersenyum penuh ketenangan.
"Sudah siap? " Tanyaku.
"Ayo.. kalau belanja nya pakai mobil papa gimana? " Tawarnya.
"Ga usah.. pakai motorku saja yaa.. "
"Mhhmm.. ok. "
Aku memang kurang begitu menyukai menyetir mobil, dan sebenarnya lebih kepada.. tidak mau memamfaatkan segala kemudahan yang di berikan papah. Aku harus berusaha sendiri dan tak bergantung pada orang lain.
Tadinya aku memang ingin sekali mengajak Lembayung untuk tinggal di apartementku. Tapi.. aku mengerti, aku takut istriku belum benar-benar siap untuk tinggal berdua saja.
"Senjaaa... di apartement kamu udah habis ya sabun dan perlengkapan bersih-bersih? " Tanyanya, sambil menunjuk beberapa sabun cair, pembersih lantai,deterjen dan lain nya.
Aku mengangguk.
"Kita beli yaa.. "
"Tapi nanti bakal susah bawa nya, sebaiknya ga usah beli.. nanti saja yaa.. aku kan jarang tinggal di apartement. " Kataku.
"Tapi besok kita libur.. aku mau bersih-bersih apartement kamu.. banyak debu jarang di bersihin. "
"Baiklah.. tapi beli ukuran kecil aja ya.. "
"Siaaap.. "
Setelah memasukkan berbagai macam perlengkapan bersih-bersih, bahan olahan makanan dan yang lain nya ke dalam troli.. kami berdua berjalan bergandengan menuju meja kasir.
Selesai transaksi, Lembayung menunggu ku di depan supermarket. Sementara aku mengambil motor dari parkiran. Dengan beberapa kantung keresek besar.. tampak terlihat Lembayung agak kesulitan memegang kresek-kresek tersebut.
Tik... Tik... Tik..
Tiba-tiba hujan turun dengan begitu derasnya saat kami baru beberapa menit berkendara.
"Senjaaaa.. hujaaan! bagaimana ini? "
"Kita menepi dulu yaa.. hujan nya lumayan besar. "
"Tapii tanggung.. aku susah megang nya, mending kita hujan-hujanan aja yaa.. kita mampir ke apartement kamu dulu. "
Aku mengangguk. Membelokkan arah menuju apartement yang bisa di tempuh dalam waktu sekitar 10 menit.
"Yaaaah.. jibrug banget baju aku nya! "
"Iyah.. aku juga.. " Kami tertawa bersama sesaat setelah sampai di depan pintu apartement.
"Aku mau langsung mandi yaa.." Lembayung segera masuk ke dalam kamar di sebelah kamarku, tempat dimana ia menghabiskan waktu jika kami sesekali berkunjung kesini.
Aku mengangguk dan juga masuk ke dalam kamarku untuk membersihkan diri.
Aku memintanya untuk berbeda kamar karena aku tahu kalau ia masih belum siap..
Setelah kami selesai membersihkan diri, terdengar sayup suara adzan ashar berkumandang. Dan kami langsung shalat berjamaah berdua. Lembayung langsung mencium tanganku takzim. Aku mendekat dan lalu mendekapnya erat.
"Makasih sayang.. sudah menemaniku dengan sabar selama beberapa bulan ini..Maaf aku masih banyak kekurangan.. " Kataku mengecup pucuk kepala nya berulang kali. Ia hanya mengangguk dan tersenyum sambil menonggakkan kepala ke arahku.
__ADS_1
"May I kiss your lips? " Ia tak menjawab, hanya memejamkan mata nya sebagai tanda bahwa ia bersedia.
Untuk pertama kali nya, penyatuan indera pengecap kami berlangsung begitu lama.Begitu dalam dan melenakan.. kami membenamkan wajah berkali-kali dengan lembut dan penuh perasaan.
Akhirnya.. Ia melepas saat di rasa kehabisan nafas.
"Senjaaaa.. ayo ihh aku mau masak buat makan malam! " Katanya dengan wajah yang merona karena malu.
"Ayoo.. " Kataku Sambil melepas mukeuna yang di kenakan nya,karena ia tak lagi menutupi surai indah itu dengan hijab jika saat bersamaku.
Terdengar gesekkan spatula dan wajan, rebusan air mendidih.. dan juga suara pisau memotong-motong sayuran. Istriku memakai apron merah muda sambil rambutnya ia ikat asal ke atas.
Aku duduk di kursi depan meja makan dengan kedua tangan yang di tumpu, memperhatikan setiap gerak gerik nya yang cekatan saat memasak..juga meracik bumbu.
Aku gemas..
Tak bisa menahan untuk tidak mengganggu nya.
Ku dekati ia, dan berdiri di belakang nya. Menangkup dagu di kepala nya dan mendekap erat dari belakang.
"Iihhh kamu mah.. ganggu aja! aku lagi masak tauu.. kalau kamu ganggu terus, nanti jadi tutung ini ikan nya! "
"Tutung itu apa? "
"Gosooooong! "
"Hahaha.. aku baru dengar.. " Aku menertawakan ekspresi nya saat melihat ke arahku.
Aku mematikan semua kompor, dan menariknya untuk mendekat.
"Ehhh..ko di matiin sih? " Ia terlihat sedikit kesal karena aktifitas kesukaan nya terganggu.
Seiring suara gemericik hujan yang sedari siang tak jua mereda.. Aku menangkup wajah cantik itu dan mulai berbicara dari hati ke hati lewat mata. Ku pegang tengkuknya erat..
Tanpa banyak mengeluarkan kata.. tapi tindak nyata.
Kami saling membenamkan wajah kembali, mengurai asa yang tak kunjung juga reda.
Aku terperosok.. sangat dalam.
Sedalam samudera yang takkan pernah bisa terselami..
Untuk beberapa saat.. iris kami bertemu, saling mengikat dalam jerat hasrat yang kian tak terkendali.
Ketika hati yang berbicara, Kami lupa diri.. lupa janji.
Fabric kain kami tenggorok sudah tak tau ada dimana. Hanya ada satu kata sekaligus pertanyaan yang selama ini aku tahan.. aku simpan.. dan aku nantikan.
Demi masa ini.
Demi waktu yang ku tunggu.
Detik ini pun, dengan penuh kesungguhan... di saksikan oleh alam yang ikut memberikan kesempatan. Suara rintik dari luar seakan ikut bernyanyi indah seindah melodi suara hati kami. Pun semesta kembali mengamati.
"Lembayung.. "
Ia menatap ku lekat dan dalam. Nafasnya dan nafasku saling memburu... begitu berat..
Seberat tanya..
__ADS_1
"Istriku.. Bolehkah..? "
***