Lembayung Senja

Lembayung Senja
Flashback 4 : Sudah Tahu Peria Pahit..


__ADS_3

Jakarta


Ibu Senja


Sudah 2 minggu aku berada di ibukota bersama tuan Lardo, pria asing yang baru aku kenal kurang lebih 17 hari ini.. Aku tak menyangka, aku bisa jatuh cinta dengan semudah ini pada nya.


Dan parah nya lagi dia sudah memiliki istri dan anak di negara asalnya. Tapi bagaimana? aku sudah menyerahkan segalanya padanya.. semuanya sudah terlanjur.


Tapi ternyata jalan itulah gerbang yang menantiku pada penderitaan.. Yang tak berkesudahan.


Aku menikah siri dengan nya tanpa persetujuan keluargaku. Menjadi yang kedua dan menjadi perusak hubungan rumah tangga orang lain.


Jahatnya.. Aku begitu menikmati saat saat keintiman kami, meski terpaut usia yang sangat jauh dengan nya.. tapi aku merasa sangat nyaman berada dengan nya.


Aku akui.. ini pertama kali nya aku jatuh cinta,dan ternyata untuk pertama kali nya juga pria itu yang berhasil merenggut mahkotaku yang paling berharga.


Siapa sangka, impianku ingin meraih kesuksesan raib begitu saja ..begitu aku mengenal keindahan dunia yang tuan Lardo berikan untukku.


"Honey, I have something to tell you! " Dia mendekapku dari belakang saat aku tengah menikmati keindahan kota Jakarta dari lantai 20 apartement milik nya.


"yes.. just tell me! "


"I have to go back to Italy next week!"


"Haah? What's wrong? why? " Tanyaku kaget.


"soon my wife will give birth."


Aku mengganti posisiku menjadi berhadapan dengan nya.. Menekan tengkuk nya, Ku raup wajahnya tanpa aba-aba dan menenggelamkan seluruh cinta..berharap ia tetep berada di sisiku, maka Ia pun menyambutku dengan bergelora.


Oleh karena itu Aku memberikan seluruh asa dan raga agar ia membatalkan kepergian. Tapi.. ia tetap teguh dengan pendirian akan pulang ke negara nya.


"I promise you.. I'll be back and will be responsibility!" Ia mendekapku erat dan berjanji.


"I'll be waiting for you! "


***


3 bulan berlalu..


Masih di tempat yang sama aku menunggunya. Tak ada kabar.. tak ada pertanda. Dan buruk nya, aku merasakan ada sesuatu yang aneh pada tubuhku.. merasakan pening setiap hari dan selalu memuntahkan kembali makanan yang masuk ke dalam mulutku.

__ADS_1


Aku baru menyadari kalau sudah hampir 4 bulan ini aku tidak datang bulan.. hatiku semakin berkecamuk di landa kecemasan.Bagaimana tidak? Aku tinggal sendirian di apartement yang tuan Lardo tinggalkan.. seorang diri di kota besar yang menurutku mengerikan ini.


Bahkan aku baru menyadari betapa hidup kampung halamanku jauh lebih baik di banding bertahan hidup disini.


Tuan Lardo memang meninggalkan sejumlah uang di tabungan untukku.. tapi itu tak cukup untuk aku bisa terus bertahan hidup jika aku tak segera bekerja dan menghasilkan uang. Uang yang ia berikan sudah hampir menipis di pakai untuk biaya hidupku selama 3 bulan lebih berada di ibukota.


Ia bilang, hanya 1 bulan ia di Italia. Tapi hingga detik ini belum ada pertanda ia akan datang.Aku tidak mempunyai no kontak yang bisa di hubungi.. ia hanya memberikan ku alamatnya dan menulisnya di secarik kertas.


Untuk memastikan kecurigaan ku, aku membeli beberapa buah testpack.. sungguh mengejutkan karena semua nya menunjukkan 2 garis biru.


Hatiku hancur.. sehancur harapan akan masa depan. mengingat kebodohanku yang dengan mudah nya percaya pada seorang pria asing yang baru aku kenal itu.


Apa yang harus aku lakukan? Aku tak mengenal siapa-siapa disini.


***


4 bulan kemudian..


"Dek.. sebaiknya kamu beristirahat di rumah saja! saya tidak tega memperkerjakan seorang wanita yang tengah hamil besar! " Ibu Marni berbicara sambil menatap iba dan mengusap perutku dengan pelan.


"Tapi buu.. saya masih bisa bekerja ko! " Kataku penuh pengharapan.


Aku pun menunduk, berusaha menerima dengan lapang dada bahwa saat ini aku tengah di berhentikan kerja seperti sebelum-sebelumya.


Aku sendiri sadar, dalam kondisi seperti ini.. akan sangat sulit bagi oranglain untuk menerimaku bekerja.Di tambah lagi aku tidak memiliki ijazah untuk melamar pekerjaan.


Tuhan.. ini memang salahku, dosaku.


Sudah puluhan kali di tolak bekerja, membuatku frustasi menghadapi kehamilanku yang semakin hari bertambah besar ini.


Akhirnya.. aku menyerah, aku akan mengaku salah dan kembali pada keluargaku.


***


Dengan menggunakan uang sisa pemberian tuan Lardo, aku menggunakan nya untuk membeli tiket pesawat ke Bali,transit disana karena di Lombok masih belum ada bandara.


Sesampainya di bandara I Gusti Ngurah Rai Bali, aku bersiap menuju Lombok,naik feri melalui Pelabuhan Padangbai yang jaraknya sekitar 60 kilometer dari Ngurah Rai.menuju Pelabuhan Lembar, Lombok.


Setelah sampai di pelabuhan Lembar, Angkutan umum yang tersedia di pelabuhan Lembar berupa angkot. menuju Terminal Cakranegara Mataram .Tempat mangkalnya berupa terminal kecil di depan pelabuhan Lembar. Dari pintu keluar pelabuhan, hanya perlu berjalan sejauh 200 meter menuju jalan raya.


Ini adalah perjalanan pertamaku seorang diri,karena sebelumnya aku tak pernah pergi jauh meninggalkan tempat kelahiran ku. Aku bersyukur akhirnya sampai juga di Mataram dan bersiap dengan segala konsekuensi nya nanti.

__ADS_1


"Lalo alo side! (Pergi kamu)!" Teriakan menggema di segala penjuru ruangan.


Amaq tampak murka setelah 7 bulan lamanya aku menghilang dan datang tengah berbadan dua,hamil tua. Dan parahnya lagi tak ada pria yang bisa di limpahkan tanggung jawab atas bayi ini.


Inaq menangis tersedu melihat pertengkaran ku dengan Amaq. Karena amaq sempat menamparku beberapa kali. Meski aku sudah berlutut, tapi tetap amaq bergeming.


Meskipun amaq bukan bapak kandungku yang sebenarnya, tapi aku sangat menghormati nya.


Amaq marah besar dan..


Tak memaafkan.


"Ampurayan baiq.. sename(maafkanlah baiq.. suamiku)! " Inaq tampak berbicara berdua dengan amaq di dalam kamar.


"endeq.. Toler! (tidak.. tidak bisa!) "


"Tiang mele lalo dait Baiq..(saya akan pergi bersama baiq)! "


"Ita beseang.. side teseang! (kita bercerai.. kamu di ceraikan)! "


Aku terperanjat kaget mendengarkan perkataan amaq yang dengan mudahnya mengucap ingin berpisah dengan inaq.


Maka semakin besarlah kesalahan yang telah ku lakukan karena telah menjadi anak durhaka dan menjadi penyebab perceraian orangtua.


Dengan berderai air mata, inaq membereskan pakaian dan memasukkan beberapa helai ke dalam tas rangsel,lalu membawa sebuah kotak berisi uang tabungan inaq selama ini hasil dari bertenun.


Kedua Saudara lelakiku sedang tidak ada di tempat, Kak Nazam tinggal di Jakarta bersama istri dan anaknya. sedangkan adikku Hasan sedang sekolah.


"Enteh.. ita lalo, ita danang jok Sumbawa(ayo kita pergi, kita ke Sumbawa)!" Inaq tersenyum sambil mengusap puncak kepalaku.


Aku tahu, di balik senyum itu ada sejuta kesedihan yang inaq sembunyikan. Sejuta kekecewaan dan sakit yang terdalam.


Aku menyesal, semakin merasa menyesal.. Sungguh penyesalan yang sia-sia.


Sudah Tahu Peria Pahit..


Penyesalan Yang Sia-Sia Saja (Sebab Sudah Tahu Kurang Baik, Tetapi Diperbuat Juga)


Flashback off


***

__ADS_1


__ADS_2