
Senja
"Gue ga nyangka lo bakal nikung gue dari belakang bro! " Ucap Rian kesal.
"Ga ada Yan.. si Senja bukan nikung elo! tapi nikung si Radith.. hahhahhaa.. " Dion tertawa terpingkal-pingkal.
"Baj**** juga lo! " Umpat Rian.
"Bukan gue nikung...tapi gue cuma ngehibur Lembayung yang lagi sedih!" Aku membalas perkataan Rian.
"Arrrgh.. baaang saaaad lo! sama aja! " Umpat Rian lagi.
"Lo udah punya si Wanda men.. ngapain mimpi ngedapetin Lembayung? " Dion mulai kesal.
"Gue nakal.. tapi gue pengen dapetin cewek baik-baik! "
"A**! lagak nya lo mah.. shalat aja kagak! minimal lo punya niat buat berubah! kasian si Wanda.. lo tega dia udah lo apa-apain, trus lo tinggalin gitu aja? lo punya adik cewek Yan.. harusnya lo takut dapet karma ntar! "
"Ga ada yang namanya karma dalam islam! " Balas Rian.
"Iyah bukan karma maksud gue.. tapi balasan atas kejahatan yang lo buat, gimana kalau nimpa adik kesayangan lo? "
"Gue ga akan biarin seorang pun nyakitin dia! "
"Emang lo jagain dia 24 jam? berarti berlaku juga buat bokap sama abang nya dia.. mereka ga mau Wanda di sakitin! lo kapan sadar nya sih! " Ucap Dion panjang kali lebar, pasalnya ia geram dengan kelakuan Rian yang suka banget nyakitin pacarnya yang bernama Wanda.
"Iyaah.. iyah gue tau.. nanti suatu hari gue bakalan berubah! "
"Suatu hari itu juga pasti lo bakalan nyesel kalau sampai si Wanda udah capek trus ninggalin lo! "
Rian hanya terdiam mendengar ceramahan Dion, ia mulai sudah berubah seperti Senja yang ingin memperbaiki kesalahan masa lalu nya.
"Gue dukung lo Ja.. mungkin dalam segala hal si Radith emang lebih unggul dari lo.. tapi gue ngerasa lo lebih tulus sayang sama Lembayung! "
Di antara bertiga, Dion ini memang yang paling bijak dan sering banyak bicara dan menasehati sahabat-sahabat nya.
"Jujur sama gue! lo suka sama dia dari kapan? " Tanya Rian.
"Sejak gue usia 7 tahun! " Jawabku.
"Seriuuus? bukan nya lo bilang 2 tahun lalu saat MOS? " Kini Dion membelalakan mata.
"Ternyata gue sama dia pernah ketemu di Lombok saat kita umur 7 tahun.. !"
"Bokis lu! "
"Gue dulu nyelametin dia saat tenggelam di pantai Rantung saat kita lagi main pasir dan ombak! "
"Waaw bro.. that's was fate.. destiny! "
Aku menggendikan bahu.
"Thanks udah berat-berat bawain barang gue dari Bali! " Aku membuka lemari es dan mengambil air mineral lalu meneguknya. hingga tandas.
__ADS_1
"Yoy.. sama-sama!ponsel lo tuh di meja. " Jawab Dion.
"Sipp.. "
Rian masih belum menerima kenyataan untuk berhenti bermimpi ngedapetin Lembayung. Ia masih belum banyak berbicara dan hanya sibuk memainkan ponsel nya.
Sepulang dari rumah Lembayung, aku langsung pulang ke apartment dan beristirahat. Sore ini tiba-tiba Rian dan Dion datang dengan segudang pertanyaan tentang liburan kemarin, dengan bertubi-tubi.
Aku tak menceritakan perihal pernikahan, karena kata papah Lembayung.. sebaiknya hanya keluarga dan beberapa orang pihak sekolah saja yang tahu.
***
Lembayung
"Teteeeehh.. serius beneran apa yang di bilang mamah? kalau teteh mau di nikahin sama ka Senja? "
Aku mengangguk.
Mengambil ponsel di atas nakas dan memeriksa beberapa ,bahkan puluhan pesan di Dm sosial media, dari Gadis.. Risa.. dan Nindy.
Karena hanya sim card nya yang di buang untuk mengganti nomor, sedangkan semua aplikasi medsos.. dll masih tetap sama.
"Teteeeeh ihhhh.. apa aku bilang dulu pas di Mall! waktu dia sama wanita cantik geuning! kalian itu udah klop banget tau namanya kalau di gabung! "
"Adeeek.. emang nikah itu yang harus klop cuma nama? apa hubungan nya?"
"Ada atuh.. kan ga akan ada Lembayung kalau ga ada Senja.. hihhi..! sok ku teteh pikir.. kalau Senja mah pasti ada tiap hari juga, tapi Lembayung mah adanya kadang-kadang.Eh ada ketang tiap hari tapi kalau liatnya di pantai.. trus mana ada Lembayung muncul di pagi hari atau siang? pasti munculnya kalau sore kan? Senja! "
"Aku jadi penasaran filosofi dibalik pemberian nama teteh sama ka Senja.. aku mau nanya sama mamah akh.. " Bintang si sok tau akhirnya meninggalkan kamarku.
"Jug sana pergi.. pergi.. berisik! " Kataku mengusirnya.
Emang ada ya yang kayak gitu?
Tak berapa lama.
"Ayung.. lagi apa? " Mamah masuk ke kamar lalu duduk di sebelahku.
"Lagi liat medsos mah.. "
"Mamah mau cerita sama teh Ayung.. teh Ayung ada waktu ga? "
"Ada mah.. ehh bukan nya Bintang tadi bilang mau ke mamah ya? "
"Iyah.. cuma sebentar, terus adek kembali ke kamarnya dia.. Mamah mau liatin ini.. "
Mamah memberikan sebuah album foto kecil.
"Buka deh.. "
Album kecil itu sedikit usang dan jadul. Aku membuka lembaran pertama.
"Ini..? " Aku menunjuk foto seseorang yang seperti nya aku kenal.
__ADS_1
"Ibu nya Senja.. cantik ya? itu waktu seumur kamu teh! "
"Ibu nya Senja? mamah kenal dengan tante ini? "
Mamah mengernyit."Kamu pernah ketemu? " Tanya mamah heran.
"Pernah mah.. waktu di nikahan tante nya Radith. Cantik banget.. ga keliatan kalau itu ternyata ibu nya Senja! "
"Memang.. dulu In, melahirkan Senja di usia sama seperti kamu!"
"Oh ya mah? jadi ini waktu tante hamil Senja? "
"Iyah.. "
"Dulu.. waktu papah masih jadi karyawan sebuah perusahaan kontruksi di Lombok, papah dan mamah tinggal di sebuah desa terpencil di Sumbawa. Nama nya desa Sekongkang Bawah.."
Flashback on
Ibu Lembayung
"Neng..mas di tugaskan di Lombok."
"Tapi 3 bulan lagi aku udah mau melahirkan mas.. "
"Kamu mau tetap di Bandung tinggal dengan eumak? "
"Ngga.. aku mau ikut mas aja, kasian eumak kalau nanti neng melahirkan pasti repot.. kasian juga ponakan-ponakan neng yang lain. "
"Kita berangkat besok subuh pakai bis.. apa kamu baik-baik aja naik bis selama 2 hari 2 malam perjalanan? "
"In syaa Allah.. selama bersama mas, aku baik-baik aja! "
2 hari 2 malam perjalanan memakai jasa travel bis dari Bandung benar-benar melelahkan.
Apalagi harus turun dari bis saat memasuki feri untuk menyebrang dari Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya menuju ke Pelabuhan Benoa yang berlokasi di Kota Denpasar. Dilanjutkan lagi menyebrang ke Pelabuan Lembar (Ampenan) Lombok yang membutuhkan waktu kurang lebih 5 jam.
Dalam kondisi hamil seperti ini, aku harus bertahan dengan segala kelelahan dalam perjalanan.
Bukan nya tak ingin memakai transfortasi udara, tetapi mahalnya biaya tiket pesawat belum mampu untuk suamiku beli.Itupun hanya bisa sampai Bali karena di Lombok belum ada bandara khusus.
Bukan hanya itu saja ternyata suamiku ditempatkan di pembangunan di sebuah desa terpencil bernama desa Sekongkang Bawah.Akses menuju kesana pun, sangat sulit di lewati.
Kami pun mengontrak di sebuah rumah kecil yang sangat sederhana milik ibu Inayah.
Ibu Inayah memiliki seorang putri yang sangat cantik bernama Baiq Indrawati, yang biasa ku panggil Iin.
Dari sinilah awal kedekatan ku dengan Iin, gadis remaja korban lelaki tidak bertanggung jawab yang meninggalkan ia sendirian menanggung semua beban.
Setiap hari, kami berbagi cerita dan tawa. Memasak, bahkan belanja keperluan sehari-hari ke pasar ataupun kebutuhan pokok bersama. Kebetulan mas Fadli suamiku jarang sekali di rumah karena harus menginap di lokasi pembangunan.
Aku seperti menemukan teman.. dan aku menyanyangi nya seperti adikku sendiri, karena di keluarga.. aku adalah anak satu-satunya perempuan.
***
__ADS_1