Lembayung Senja

Lembayung Senja
Do'a Ibu Menyertai..


__ADS_3

Senja


Jika ada yang tanya bagaimana perasaanku sekarang.. Hatiku teriris melihat Lembayung yang memohon dan meminta untuk memperpanjang waktu besuk pada sipir tadi.


Kulihat mata nya berkaca-kaca dan seakan memohon untuk ku peluk sebentar saja.


"Waaahhh pesta kita... " Sorak bang Aman melihatku mengeluarkan kotak-kotak berisi banyak makanan yang tadi di berikan oleh Lembayung. Setelah aku memberikan satu kotak berisi makanan lengkap untuk beberapa sipir yang berjaga..


"Ayo mari pak..aa semua.. bang.. Alhamdulillah saya dapat rezeki di bawakan makanan...." Kataku, sontak membuat semua yang ada di dalam sel bersorak gembira.


Semua pun duduk berkumpul dan memulai makan dengan riang seolah baru pertama kalinya mendapatkan makanan enak seperti ini.. Tetapi memang demikianlah adanya, di dalam lapas.. jika ingin mendapatkan makanan yang mewah dan enak harus mengeluarkan kocek dan membelinya.


"Keluarga lo baik banget Ja.. demen nih gue yang kaya gini.. jarang-jarang kan kite-kite makan enak ye ngga? " Bang Aman menyenggol napi yang duduk di sebelahnya dan ia mengangguk mengiyakan. "Ini apaan nih? kaya kangkung.. tapi pake sambel nih! " Tanya bang Aman penasaran.


"Pelecing bang.. makanan khas Lombok, hati-hati pedes! "


"Mantaaap.. hmm.. enak.. gue demen! " Bang Aman pun makan dengan suapan besar-besar dan sangat lahap. Meski perawakannya bak pegulat.. tapi ia baik dan mengayomi sama seperti pak Arya. Katanya ia adalah orang Betawi asli yang lagi mengunjungi keluarga di Bandung yang bekerja di sebuah perumahan elite, naas nasib mantan petinju itu harus mendekam disini karena ia terperangkap dalam situasi sulit. Saat hendak membantu menjaga rumah milik majikan saudaranya..kawanan perampok menghalau dan untuk membela diri, ia melukai salah satu nya hingga lumpuh.


"Lo pasti orang kaya lo.. keluarga lo bisa bikinin banyak makanan enak kaya gini.. saat gue ga di penjara aja gue jarang makanan beginian... hahahhahha... " Candaan bang Aman sontak membuat semua yang ada di dalam sel tertawa, dan berhasil membuat seorang sipir mendekat dan memukul trali besi berulang kali.


"Punteun pak.. " Kata pak Arya meminta maaf, lain hal dengan bang Aman.. justru kasus yang menimpa pak Arya sungguh memprihatinkan. Karena terdesak kebutuhan ekonomi.. beliau terpaksa mencuri barang-barang berharga di tempat kerja, padahal sudah bertahun-tahun beliau bekerja di pabrik itu. Karena gajinya yang kecil membuat pak Arya seringkali meminta kasbon dan saat itu tidak beliau dapatkan. Padahal situasi mendesak karena anak-anak nya membutuhkan biaya untuk membayar iuran ujian sekolah.. juga hutang pada rentenir yang membelitnya membuat ia khilaf dan nekad melakukan apa saja.


Sungguh ironis.. pak Arya di hukum bertahun-tahun. Dan katanya tahun ini mudah-mudahan menjadi tahun terakhir ia berada disini.


Sedangkan para koruptor yang ada di dalam sel B ,meski dalam tahanan.. tidur di kasur yang empuk, masih bisa merasakan enaknya makanan, tak pernah kedinginan,tak pernah kepanasan. Di kamar mereka ada AC, TV..selalu ada hiburan.Bahkan di dalam penjara pun mereka masih bisa berkuasa dengan memperkerjakan para tahanan di sel corve yang membutuhkan uang untuk bertahan disini.


Kesenjangan pun sungguh sangat terasa dan terlihat padahal kami disini sama-sama sedang dalam masa hukuman.


***


Ibu Senja


Jika memang ini adalah takdir yang harus ku jalani.. maka aku akan senantiasa menerima dengan penuh kepasrahan.Aku lagi-lagi di hadapkan pada situasi yang mengerikan.. apalagi ini menyangkut hidup anakku satu-satunya.


Meskipun kesedihan begitu melekat di hidupku.. tapi sebagai ibu yang ingin belajar untuk menjadi ibu yang baik, aku harus tegar dan kuat di hadapan anakku.


Hari ini aku akan membesuk anakku di lapas. Setelah kemarin Lembayung yang membesuknya.. dan membawakan ia banyak makanan.

__ADS_1


Karena sekarang aku tinggal sendirian di apartement nya. Dari pagi sibuk membersihkan kamar yang biasa di tempati oleh Lembayung, yang akan menjadi kamarku.


Aku berencana akan membuat kue untuknya, dan untuk teman-teman sesama tahanan.. karena yang aku tahu, di lapas itu jarang sekali makan enak.


Setelah selesai membuat kue, aku langsung membersihkan diri dan berdandan. Ku buka lemari yang berisikan banyak sekali gaun-gaun malam masa kelam ku.. Menutupnya rapat, lalu mengambil setelan celana kulot yang longgar dan blouse floral berwarna peach kombinasi cokelat. Lama memandangi diri di pantulan cermin..


Dengan sendirinya tangan ku di bimbing oleh otak dan hatiku, mengambil pasmina hitam pemberian dari menantuku yang cantik dan baik hati.


Bissmillah..


Ku ikat surai panjang dan mengepangnya. mulai memakaikan pasmina di kepala untuk menutup mahkotaku ini. Aku tertegun.. ini adalah pertama kali nya aku memakai hijab dari hati karena keinginanku sendiri.. dan perasaan luar biasa damai dan syahdu menyeruak dalam seluruh ragaku.


Inikah yang bernama hidayah itu?


Inilah saatnya.. bagiku menjalankan kewajiban sebagai seorang muslimah.


Waktu menunjukkan pukul setengah 2 siang, dan aku memutuskan akan naik taxi saja kesana.. karena kalau naik angkutan umum, tak begitu tau dan hafal takut nanti malah tersesat.


setelah 15 menit perjalanan.. akhirnya aku sampai di lapas tempat anakku di tahan.


Lama menunggu di ruang tunggu, akhirnya seorang sipir mempersilahkan ku untuk masuk ke sebuah ruangan.


Deg.


Kami langsung membuang muka.


Bukan karena benci atau tak suka, tapi aku benar-benar malu dan tak tau harus berbuat apa.


"Ehh.. ibu Senja.. Assalamu'alaykum..Apa kabar? " Tegurnya, memberi salam kepadaku sambil menundukkan wajah.


"Ba-baik.. Alhamdulillah.. mari pak.. saya ke dalam dulu." Aku berpamitan dan masuk ke dalam ruangan.


Haah.. Aku menghela nafas dalam. Sosok tegap tampan itu tengah duduk menunggu dan tersenyum ke arahku. Sama sekali tak menampakkan kesedihan ataupun kekhawatiran.


"Ibu ketemu pak Syarif ga bu? barusan beliau dari sini.. " Tanya Senja dengan wajah polosnya setiap kali dekat denganku.


Anakku itu..sungguh ia tumbuh menjadi seorang pemuda yang ganteng. Mengapa aku baru benar-benar memperhatikan nya sekarang..

__ADS_1


"Bu... ibuu? "


"Ehh.. i-iyah.. barusan ibu ketemu di depan. " Jawabku salah tingkah.


Mengapa harus salah tingkah?


Akh.. Indrawati, ayolah kamu ini udah tua! apa yang kau harapkan?


Seperti anak baru gede saja!


"Maafin Senja ya bu.. " Anakku meraih kedua tanganku dan menggenggam nya. "Maafin Senja udah jadi anak yang badung dan ga berbakti sama ibu.. Senja menyesal bu. "


Aku hanya tersenyum, kontras dengan suasana hatiku yang mendadak pilu mendengar anakku meminta maaf.


"Ini semua salah ibu.. " Aku memegang pucuk kepalanya.


"Tapi Senja bingung.. bagaimana dengan mantan bos ibu? Senja takut ia akan berbuat jahat lagi pada ibu.. " Dua bola mata itu berkaca-kaca.


"Serahin semua sama Allah.. Kalau seandainya memang ibu harus kembali ke Mataram, ibu gapapa.. "


"Jangaaan bu.. Senja ga mau ibu berurusan lagi sama baji**** itu! Senja pasti akan pikirkan masalah ini... yang terpenting sekarang, Senja sangat butuh do'a dari ibu... dari Lembayung.. dan juga dari semua orang yang udah sayang sama Senja. "


Ia terdiam sejenak.


"Pak Syarif juga selalu mendo'akan Senja bu.. beliau sudah Senja anggap seperti orangtua sendiri.. selama ini, bagaimanapun nakalnya Senja.. pak Syarif tak pernah menghakimi.. beliau sangat baik dan penyayang juga bijaksana. "


Aku termenung dan tertegun.


"Kamu baik-baik disini yaa.. ini ibu bikinin kue bolu, bagi-bagi juga buat semua temen-temen kamu ya!" Ku letakkan beberapa kotak putih di atas meja.


Senja berbinar dan menatapku dalam. "Makasih bu.. "


Aku mengangguk.


"Waktu habis... " Seorang sipir menghampiri dan memberitahu bahwa waktu besuk telah habis.


"Ibuu.. 2 minggu mulai sidang bu.. do'akan Senja ya bu.. Senja kedalam dulu.. " Ia diseret paksa oleh sipir, dan aku hanya bisa tertegun menatapnya berlalu hingga balik pintu.

__ADS_1


Anakku.. do'a ibu selalu menyertaimu.


***


__ADS_2