
Senja
Lembayung sedang tertidur pulas akibat pengaruh dari obat yang diberikan oleh suster barusan.
Aku merogoh ponsel, hendak menghubungi salah satu teman ku Rian atau Dion. Meminta tolong untuk menghubungi keluarga nya, bahwa ia sedang di rawat di Rumah Sakit. Aku Merasa amat sangat bersalah karena mengakibatkan Lembayung menjadi seperti ini.
Bukan aku tidak tau akibat dari tindakanku.. tapi aku hanya mengikuti kata hati. Aku tak bisa membiarkan Lembayung pergi begitu saja saat itu, bahkan dalam keadaan menangis.
Bagi nya, sakit itu adalah sakit hati pertamanya di sebabkan oleh perasaan. Karena yang ku tahu, ia belum pernah pacaran. Radith adalah pacar pertama nya, dan cinta pertama nya.
Wajah ayu itu begitu pucat, tubuh nya lemah. Tadi ia hanya mau makan beberapa sendok bubur.
"Jangan tinggalin aku Senja..! " Berulang kali ia ucapkan kalimat itu. Seperti nya ia tengah mimpi buruk.. karena kejadian ini menjadi kedua kalinya ia harus bertarung nyawa.
Aku duduk di samping bangkar tempat tidur nya, karena kelelahan yang mendera,aku menyenderkan kepala di pinggir Lembayung, dan akhirnya tak kuasa lagi untuk menahan rasa kantuk.
BRAAAAAK...
Suara pintu di buka dengan paksa membuatku seketika membuka mata dan kulihat tiba-tiba Radith masuk ke dalam ruangan ini.
Buuuugh.. Buuughh.. Bugggh...
"Breng*******!" Maki nya.
Darah keluar dari sudut bibirku. Aku terjerembab ke lantai.
"Lo apain Lembayung haah? Kalau terjadi apa-apa dengan dia! mampuuus lo di tangan gue! "Dia langsung mengcekram kaosku dan akan melayangkan tinju nya kembali.
"Sudah nak Radith.. jangan berkelahi!" Ucap seorang pria yang tidak aku kenal,ikut masuk ke dalam ruangan menyusul Radith.
Aku terdiam. Menatap dua orang pria paruh baya masuk dan di belakang nya juga ada pak Rahmat.
Salah satu pria itu memandangku dengan geram dan menatapku dengan tatapan nya yang sangat tajam.
Ia lalu menghampiri Lembayung yang masih tertidur pulas.
"Ayuuung.. ini papah nak.. papah udah datang! kamu baik-baik aja nak? " Ia mengusap dan mengecup pucuk kepala Lembayung dengan penuh kasih sayang.
Beliau.. Papah nya Lembayung.
"Senja.. bapak harus bicara dengan kamu! " pak Rahmat menghampiri aku dan Radith, beliau pun melepaskan cengkaraman tangan Radith dari baju ku.
"Baik pak. " Aku menundukkan, tak tau harus menjawab apa lagi.
Akan di pastikan, setelah ini aku akan menerima semua konsekuensinya.
"Saya pamit permisi sebentar ya pak.. " Pamit pak Rahmat pada papah nya Lembayung. Beliau mengangguk.
Aku mengangguk hormat pada papah Lembayung yang di balas dengan sorotan geram.
Melirik ke arah Radith yang sedang berdiri di samping Lembayung menatap nya khawatir dan iba.
"Saya permisi.. " Kataku, tanpa ada yang menjawab.
__ADS_1
Pak Rahmat mengajakku ke cafetaria dekat Rumah sakit. Dan kami pun duduk saling berhadapan.
"Senja.. bapak perlu penjelasan dari kamu! kali ini kamu harus jujur, sebenarnya mengapa kamu mengajak kabur Lembayung? "
Aku terdiam, tak menjawab apa-apa.
"Baik.. kalau kamu bersikeras untuk bungkam dan tidak jujur, kali ini bapak tidak bisa lagi berbuat apa-apa untukmu. Sepulang nya kita ke Bandung, bapak beserta guru-guru akan bermusyawarah akan kasus ini. Dan Kemungkinan yang terburuk adalah.. kamu di keluarkan dari sekolah! "
DUAARR!!
Aku terkesiap mendengar penuturan pak Rahmat. Tapi setelah itu berusaha setenang mungkin menghadapi masalah ini.
Inilah konsekuensi yang setimpal atas tindakan ku yang tidak bertanggung jawab karena telah membawa pergi Lembayung.
Ini memang salahku.
Jika.. aku tak memiliki perasaan padanya, mana mungkin dengan tindakan nekad Lembayung, aku iyahkan begitu saja.
Jika.. aku ini lelaki dewasa bertanggung jawab, maka aku akan cepat-cepat membawanya kembali pada rombongan study tour.
Aku terlalu bahagia.. terlalu melambung ke udara berada dekat dengan nya. Bisa menghibur saat ia sedih.. membuat ia tertawa, dan melupakan sakit hati nya.. Melakukan apa saja yang membuat ia bahagia. Tujuanku hanya itu...
Ini memang salahku sepenuhnya.
"Baik pak.. saya mengerti, saya tidak perlu menjelaskan apa-apa karna semua memang salah saya!" Seperti biasa aku hanya menunduk.
"Huuhh.." Pak Rahmat menghela nafas dengan berat.
"Padahal 2 bulan ini kamu sudah menunjukkan begitu banyak perubahan, nilaimu semakin membaik dan kamu tidak pernah lagi terlambat. Besar harapan bapak padamu Senja! "
"Bapak sangat berharap Kepala Sekolah nanti mempertimbangkan semua dengan bijaksana, bapak akan berusaha membantumu.. tapi kembali lagi semua keputusan bukan hak bapak. "
"Saya mengerti pak. "
"Jadi.. bapak hanya ingin tau sedikit saja alasan, kenapa kamu bisa pergi dengan Lembayung? seharusnya kamu tau konsekuensi atas tindakanmu bukan? "
Aku mengangguk.
"Saya hanya ingin menghibur Lembayung pak.. di hari kedua itu, tiba-tiba saya melihat ia menangis dan bersedih. Ia berlari keluar dari hotel dan katanya ga ingin kembali kesana.. maaf pak, untuk alasan nya saya rasa saya ga berhak untuk bercerita. Niat saya hanya ingin menemaninya.. karna ia begitu sedih. Tak ada niat yang lain, apalagi berniat buruk terhadap gadis seperti Lembayung.. saya hanya ingin melindunginya karna sangat khawatir jika pergi sendiri, sedangkan ia tidak tau jalan sama sekali. Sekali lagi maafkan saya pak.. "
"Mengapa akhirnya Lembayung berada disini? apa ia sakit? "
"Ini juga salah saya pak.. sewaktu naik fast boat menuju Gili Trawangan, Lembayung sedang mab*k laut.. ia mengeluh pusing dan mual, saat itu kami berdua sedang berada di sundeck.. saya tidak kuat ingin buang air kecil.. Tapiii.. tiba-tibaa.. "
Aku tak dapat melanjutkan lagi.. aku tercekat, dan sangat sulit berbicara.Tak sanggup mengingat lagi kejadian beberapa waktu lalu. Saat Lembayung bertarung nyawa karena aku bahkan untuk kedua kalinya.
"Ya sudah.. yang penting Lembayung sekarang sudah membaik. Nanti papah nya Lembayung ingin bicara berdua denganmu.. Apapun yang beliau katakan, cukup anggukan kepala. Jangan memotong.. jangan menyangkal ..apalagi membantah..disini kamu yang salah! "
"Kalau bapak jadi papah Lembayung, bapak mungkin akan melakukan hal yang lebih radikal. Mengetahui anak gadis bapak kabur dengan lelaki bukan makhrom nya. "
"Saya mengerti pak.. "
"Ya sudah.. kita sekarang shalat maghrib dulu! "
__ADS_1
***
Papah Lembayung
"Ayuuung.. ini papah nak.. papah udah datang! kamu baik-baik aja nak? " saya mengusap dan mengecup pucuk kepala Ayung dengan penuh kasih sayang.
Mengesampingkan dahulu amarah yang memuncak pada anak lelaki yang bernama Senja itu. Ingin terlebih dahulu memastikan Ayung baik-baik saja.
Sekarang, ia dan pak Rahmat sedang berbicara berdua.
"Uuughh.. " Ayung melenguh.
"Senjaaa.. Senjaa.. help me! don't leave me Senja.. I beg! " Ayung mengigau dalam tidur nya.
Saya terpelanga mendengar igauan Ayung. Ia memanggil nama anak itu.. anak lelaki yang tak bertanggung jawab karena sudah mengajak kabur anak gadis orang.
Apa hubungan Ayung dengan anak itu?
Di dalam benak bermunculan pikiran-pikiran negatif, segala kemungkinan yang terjadi di antara mereka selama 2 hari bersama. Berduaan dengan yang bukan makhrom.. tentu saja akan ada setan di antara nya yang menghasut. Menjerumuskan ke dalam pintu maksiat.
Selama ini saya pikir telah mendidik anak-anak dengan baik dan sesuai dengan norma agama. Anak-anak adalah gadis yang terjaga.
Ya Allah.. inikah balasan karena saya tidak menurut pada bapak untuk memasukkan Ayung ke pesantren. Saya hanya tak ingin berada jauh dengan anak-anak. Tapi kenyataan nya, duniawi telah menggelapkan dan melenakan.. dengan alasan sekarang usaha berkembang sangat pesat.. kesibukan membuat saya sering meninggalkan mereka ke luar negeri.
Padahal bapak sangat mewanti-wanti agar saya bisa mendidik mereka menjadi anak-anak shalihah penghuni surga kelak.Karena menurut beliau pesantren nya telah mencetak para kader-kader ulama dan mubalig yang berjiwa.
Saya salah. Sangat salah..
Sudah takabur dan yakin bisa mendidik dengan baik.
Saya harus mendiskusikan masalah ini dengan bapak. Meminta nasehat beliau yang lebih bijaksana.
***
"Benar kamu bernama Senja? "
"Iyah Om.. " Anak itu menundukkan kepala, tak berani menatap.
"Kamu tau apa yang telah kamu lakukan bersama Lembayung itu salah besar? "
"Saya mengakui Om.. "
"Kalian bukan makhrom! "
Ia hanya mengangguk.
"Apa yang telah kalian perbuat selama 2 hari bersama? "
Masih terdiam tak menjawab.
"Kamu tau hukuman apa yang di berikan untuk pasangan zina? "
Dia terkesiap dan membulatkan kedua bola matanya.
__ADS_1
" Dera seratus kali dan pengasingan selama satu tahun."
***