
Baiq Indrawati
Usia kehamilanku menginjak 34 minggu, sudah sekitar 2 bulan aku tinggal di Desa Sekongkang Bawah, sebuah desa terpencil tempat kelahiran inaq. Setelah pertengkaran hebat antara amaq dan inaq yang menyebabkan inaq di talaq oleh amaq.
Sebetulnya, sanak saudara inaq kebanyakan bukan tinggal disini.. rumah ini adalah peninggalan sekaligus warisan dari orang tua inaq yang sudah meninggal.
Untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari, dan kebutuhan nutrisi buat anak yang ada dalam kandunganku. Inaq berjualan kue basah dengan berkeliling desa. Aku sungguh tak tega melihat inaq bekerja keras menanggung semua nya,tapi apalah daya.. perutku yang besar ini tak bisa di ajak kompromi untuk bekerja.
Katanya,menjadi ibu hamil tidak boleh stress.. karena emosi saat hamil juga berdampak pada kesehatan bayi ketika ia besar nanti.
Berdasarkan data dari beberapa penelitian, ibu hamil yang mengalami stress berkepanjangan dapat membuat bayinya lebih berisiko terserang penyakit jantung, tekanan darah tinggi, obesitas, dan diabetes kelak ketika ia beranjak dewasa.
Ibu yang menangis karena merasa depresi juga akan menyebabkan berat badan bayi menjadi rendah saat dilahirkan. Hal ini terjadi karena menangis membuat aliran darah yang disalurkan ke bayi menjadi tidak lancar, sehingga pertumbuhan janin pun jadi terhambat.
Sebisa mungkin aku menghilangkan stress ku,salah satu nya adalah dengan memandangi Lembayung Senja dari kejauhan di pantai Rantung yang indah. Meski berulang kali inaq melarangku kesana..tapi entah kenapa aku begitu menyukai pantai ini.
Apalagi semburat yang terpancar di langit itu sangat indah dan menenangkan.
"Iin.. ternyata kamu disini?teteh cari-cari! " Teh Fatimah menghampiri ku, dan duduk di sampingku sambil sama-sama memandang Lembayung Senja nun jauh disana.
Teh Fatimah adalah seorang wanita dewasa yang manis dan cantik, hati nya pun secantik parasnya. Sudah 1 bulan, ia dan suami nya mengontrak di rumah ku,rumah inaq tepatnya.
Kebetulan, rumah inaq ada 2 dan bersebelahan.meskipun sederhana dan kecil tapi masih layak untuk di huni atau daripada tidak terpakai jadi lebih baik di sewakan.. untuk menambah penghasilan inaq dan menabung untukku melahirkan nanti.
Mereka berasal dari Bandung, sebuah kota di Jawa Barat yang dikenal dengan orang-orang nya yang ramah. Betul sekali, teh Fatimah itu sangat ramah dan baik hati.
Katanya suami teh Fatimah kerja di perusahaan kontruksi di dekat sini. Tetapi karena jarang di rumah, aku dan teh Fatimah jadi dekat.
Aku adalah anak perempuan satu-satunya di keluargaku, jadi dekat dengan teh Fatimah seperti mempunyai kakak perempuan yang menyayangiku. Ia lah yang banyak menghibur ku disaat perasaan sedih itu datang.. Ia yang menguatkanku untuk menjadi seorang ibu yang tangguh.
Kami berdua sering bertukar cerita, baik tentang kehamilan ataupun kenangan masa kecil.Tentang kota Bandung yang indah.. tentang pengalaman cinta pertama.. sampai memasak dan ke pasar bersama, dan banyak hal lain yang membuatku melupakan stress ku dan merasa bahagia jika bersamanya.
Aku menjadi mempunyai sandaran dan tempat mencurahkan semua kesedihanku.
Usiaku berbeda 7 tahun dengan nya, sifat kekanak-kanakanku yang selalu moody dan emosi sangat ia pahami. Ia selalu membimbing dan menasehatiku.
Usia kandungan nya berbeda beberapa minggu denganku.
"Nanti.. kalau aku melahirkan, aku mau memberi ia nama Senja teh. " Ucapku.
Saat ini kami berdua duduk berdampingan,sedang memandang pemandangan menakjubkan itu.
"Baguus In.. kamu sudah tau jenis kelamin nya? "
__ADS_1
Aku menggelengkan kepala. "Aku tidak punya biaya untuk Usg teh.. periksa ke bidan juga kalau sedang ada uang. " Keluhku.
"Gapapa.. yang penting kamu dan anak kamu sehat, baik-baik aja! In syaa Allah apapun jenis kelamin anak kita.. dia adalah anugerah dari Allah yang harus kita jaga! " Teh Fatimah mengusap perut buncitku.
"Kalau teteh? sudah USG? "
"Sudah.. sewaktu di Bandung, itupun baru sekali karena teteh ngotot minta ke mas Fadli.. kita nabung untuk di periksa ke dokter kandungan. "
"Laki-laki? " Tanyaku penasaran.
"Bukaaan.. dede utun ini perempuan tante! " Kata teh Fatimah menirukan suara anak kecil sambil mengelus perut nya.
Aku tertawa mendengarnya sambil ikut mengelus perut teh Fatimah.
"Mhhmm.. kalau perempuan,namanya... Lembayung! " Kataku spontan menyebutkan sebuah nama.
"Lembayung? " Teh Fatimah membelalakan mata."Indaah sekali.. " Katanya berseri-seri.
"Lihat disana teh.. itu Lembayung Senja.. dua nama yang saling terikat.. " Kataku sambil menunjuk ke arah langit.
"Mhhmm.. in syaa Allah.. kalau teteh nanti melahirkan, in syaa Allah ingin memberi nama anak teteh Lembayung.. "
"Kalau aku melahirkan, in syaa Allah ingin memberi nama Senja.."
"Semoga Allah selalu menjaga anak-anak kita.. kelak menjadikan mereka anak-anak shalih dan shalihah.. "
"Aamiin Ya Rabb.. " Aku mengamini do'a teh Fatimah dengan perasaan bahagia. Mengusap perutku dan membisikkan do'a do'a indah.
"Ayo kita pulang In.. ini sudah mau maghrib! tak baik.. " Ajak tah Fatimah, merangkul bahu dan lalu kita berjalan berdua sambil bergandengan tangan.
Nak, semoga kelak engkau menjadi anak Shalih ya!
***
2 minggu kemudian...
"Inaaq.. inaaaq... "
"Iyah In.. kembeq In(kenapa in)? " Inaq menghampiri ku dengan tergesa.
"Ini ada bercak naq.. ini apa? " Aku meringis, pasalnya rasa sakit ini semakin terasa intens, 15 menit sekali.
"Gusti Allah.. kamu mau melahirkan In! Ya Allah.. ayo kita cepat -cepat ke kota!" Inaq menuntunku dan membawa tas besar berisikan baju dan perlengkapan bayi.
__ADS_1
Teh Fatimah memberitahuku bahwa saat 3 minggu menjelang HPL (Hari Perkiraan Lahir), semua keperluan ibu dan bayi harus sudah di siapkan agar saat di rasa kontraksi muncul, maka tidak akan panik.
"Teteeeeeh.. " Aku merintih memanggil teh Fatimah yang kini juga ternyata sedang meringis menahan kesakitan.
"In.. kamu mau melahirkan? "
Aku mengangguk dan memandang wajah teh Fatimah yang terlihat sangat kesakitan, padahal aku juga merasakan hal yang sama.
"Kalau begitu ayo kita ke kota bersama!" Ucap mas Fadli, suami teh Fatimah.
"Mas.. aku ga kuat mas, bagaimana ini? air ketuban nya sudah pecah!" teh Fatimah terus meringis.
"Mas mau manggil Cidomo di depan, atau.. atau mau pinjam mobil kepala desa! tunggu sebentar ya neng.. sabaaar sayang! " Mas Fadli berlari keluar rumah.
"teteh.. yang kuat teh! " Aku memberi semangat pada teh Fatimah padahal aku sendiri sudah benar-benar merasa kepala bayi sudah terus mendesak ingin keluar.
"Teteh belum mempersiapkan barang-barang apa saja yang harus di bawa In.. karna HPL nya masih lama, sekitar 7 minggu lagi.. "
"Ayo In bantu teh.. " Dalam kondisi menahan sakit, aku membantu teh Fatimah memasukkan barang-barang perlengkapan bayi dan inaq membantu mengemas perlengkapan teh Fatimah.
"Ya Allah In.. sakiiiit! "
"Teeeeh bertahan ya teh! teteh pasti kuat! ayo In bantu duduk! "
"Ini air ketuban nya terus mengalir, bagaimana ini inaq?ssssh.. " Teh Fatimah mendesis kesakitan.
"Inaq bantu bebendang(memakaikan kain)." inaq pun melingkarkan kain beberapa lapis di badan teh Fatimah.
Ceklek.
"Ayo.. mas udah pinjam mobil kepala desa!" Mas Fadli membopong teh Fatimah dan membawa nya ke dalam mobil, dan di dudukan di kursi belakang.
"Iin.. kamu duduk di belakang dengan teteh In.. siniii..! "
"Iyah teh.. "
Setelah siap, mas Fadli menyalakan mesin dan mulai melajukan dengan kecepatan tinggi menuju bidan terdekat.
Aku menggenggam tangan teh Fatimah erat dan tangan yang satu lagi mengusap perut nya bergantian dengan perutku lembut.
"Sabar ya nak.. anak-anakku sayang..anak-anakku shalih dan shalihah.. "
***
__ADS_1