
Senja
"Sayang... boleh aku bicara sesuatu? "
Lembayung duduk di pinggiran tempat tidur dan menatapku penuh haru. Ia pun mengangguk.
Aku menghampirinya dan menekuk lututku, lalu meraih tangannya dan ku genggam erat.
"Untuk bulan ini.. aku tak bisa memberimu uang bulanan.. ibu.. "
"Gapapa ga perlu bilang, aku sudah tau.. "
"Maafin yaa.. aku sedang membutuhkan uang untuk melunasi hutang-hutang ibu agar bisa segera mengajak ibu ke Bandung.."
Ia mengangguk lagi, lalu melepaskan genggaman tangan,aku kira ia akan marah.. tapi malahan ia langsung mendekapku.
"Ga perlu pikirin aku.. kamu harus ngutamain ibu dulu,ibu itu adalah tanggung jawab utama kamu.. aku masih ada tabungan.. lagian pengeluaran ku ga banyak ko, semenjak nikah sama kamu semua kamu yang tanggung. Aku juga in syaa Allah ikhlas .. pakai tabunganku aja ya.. "
"Ga perlu.. semua ini udah tanggung jawabku."
"Atau pakai inii.. " Lembayung membuka kaitan gelang maskawin dan menyerahkan nya padaku.
"Apa ini? "
"Aku ikhlaskan ini untuk kamu jual, agar bisa menjadi tambahan.."
"Jangan.. ini hak kamu! "
"Gapapa Senja.. kamu bisa ganti nanti."
Aku menatap kedua manik mata nya yang sendu dan sembab, seperti habis menangis.
"Makasih sayang.. "
***
Braaaak.
Aku mendobrak pintu sebuah ruangan lantai 3,tempat dimana bos ibu berada.
"Ini uang 35 juta.. sisa nya akan aku lunasi bulan depan, tapi bebaskan ibuku sekarang juga! " Aku melempar segepok uang berwarna merah ke meja nya.
Ia mengernyit lalu tertawa.
"Hahahhhaa... ternyata anak ingusan ini sudah besar! "
"Ga perlu banyak bicara.. saya tidak perlu persetujuan anda lagi! ibu saya sudah bebas! "
"Hahahha... baiklah anak muda! bawa ibumu yang sudah tidak berguna! suruh siapa beberapa tahun ini berhenti menerima pelang***? pendapatan nya berkurang..tadinya mungkin dari 5 tahun lalu sudah lunas..mhhmm.." Tua bangka itu menghirup aroma gepokan uang dengan mimik wajah yang sangat menjijikan.
"65 juta lagi menyusul.. dan jangan pernah ganggu ibu lagi! "
"Kamu sendiri pasti tau apa yang akan kamu dapatkan bila ingkar janji kan? " Pria tua itu menyeringai.
__ADS_1
"Urusan kita sudah selesai! " Aku meninggalkan ruangan itu dengan membanting keras pintu.
Perse*** dengan tatakrama untuk orang seperti dirinya. Tua bangka yang sudah mengeksploitasi ibu selama bertahun-tahun itu tidak pantas menerima perlakuan hormat dari ku.
***
"Ibu.. mau kan ikut kami ke Bandung? Senja sudah membebaskan ibu dari jeratan baji**** itu.. sekarang ibu bebas." Aku meraih tangan ibu dan menggenggam nya.
Dari sudut matanya yang berlinang, meluncur tetesan air mata yang tak bisa ibu bendung. Ibu mengusap pucuk kepalaku.. kali ini penuh sayang.
"Kamu dapat uang darimana? " Tanya ibu.
"Senja bekerja bu.. jadi photografer wedding dan event.. "
"Alhamdulillah.. terimakasih nak.. tapiii.. kamu itu tidak tau bagiamana bos Carlos, dia ga segan-segan akan memberi pelajaran, apalagi dia itu bos besar yang punya banyak anak buah. Ibu.. ibu baru mengetahui ternyata sindikat yang pernah menyekap ibu ada koneksi dengan nya.. " Nada suara ibu terdengar takut dan gelisah.
"Apa bu?"
Aku terperanjat.
"Iyah.. sebenarnya ibu tahu dari dulu, tapi ibu menutup rapat-rapat informasi ini karna bos Carlos mengancam ibu akan mencelakaimu. "Dan untuk pertama kali nya, ibu mencium pucuk kepalaku setelah belasan tahun aku menunggu datangnya saat berharga ini.
"Senja akan memberi dia pelajaran bu.. suatu hari ia pasti akan mendekam selamanya di jeruji besi. " Kataku penuh amarah.
"Jangaaan.. ibu tidak mau terjadi apa-apa denganmu.. biar Allah yang membalas semua kejahatannya.. tak terhitung sudah banyak sekali perempuan yang menjadi korban nya, dia itu licik.. melakukan berbagai cara untuk mendapatkan uang.. ibu yakin suatu hari ia akan menerima hukuman berat!"
Lembayung yang tengah duduk di samping ibu memeluk ibu dengan erat.
"Kalian anak-anak ibu yang baik.. semoga kalian selalu di limpahkan kebahagiaan.. "
"Oh iyah bu.. Senja mau bilang sesuatu, ini tentang pak Syarif. "
Ibu mengernyit. "Ada apa dengan pak Syarif? kalau tidak salah, beliau itu guru agamamu kan? yang waktu dulu ibu ikut kamu ke rumah nya? yang anaknya bernama Maryam... cantiiiiik sekali anaknya, juga pintar! " Ibu tersenyum sambil mengelus pipi Lembayung.
"Pak Syarif.. ingin meng-khitbah ibu.. "
Ibu terpelanga, kedua mata nya membola. "A-Apaa? kamu sedang bercanda ya? "
"Ngga bu.. Senja ga bercanda. "
"Tidak.. ibu menolak! "
"Lho.. kenapa bu? " Kali ini istriku yang bertanya.
"Tentu saja tidak sayang... ibu tidak mau jadi yang kedua, ibu tidak mau jadi madu.. sudah cukup selama ini rasa bersalah ibu, karena pernah menjadi orang ketiga dalam rumah tangga orang lain. Yang ternyata menyebabkan banyak malapetaka.. " Raut wajah ibu kembali sedih.
"Istri pak Syarif sudah lama meninggal bu.. beliau seorang duda."
Kali ini ibu kembali terperanjat. Tapi tak lama kemudian menggelengkan kepala tanda tak setuju.
"Tidak Senja.. ibu tak pantas bersanding dengan seseorang seperti pak Syarif.. beliau itu seorang guru agama.. mana mungkin mau dengan ibu yang seorang.. "
"Buuu... " Lembayung kembali memeluk ibu. "Bukankah setiap orang ingin, boleh dan pasti berubah kan bu? contohnya Senja.. Ayung tau dulu pergaulan nya seperti apa.. tapi dari awal dekat dan akhirnya Ayung menerima nya, Ayung yakin Senja pasti berubah.. Ayung cuma bisa di sampingnya dan mendukung nya dan mendo'akan nya dalam keadaan dan situasi apapun. "
__ADS_1
"Iyah bu.. meskipun proses untuk berubah Senja terkesan alot dan lama, tapi Senja udah berusaha sebaik mungkin.. Allah memberi jalan yang membentang..dan yang tak teduga.. Allah malah memberikan Senja istri sebaik Lembayung, yang awalnya sama sekali tak pernah berani Senja impikan. " Aku terus menggenggam tangan ibu dan meyakinkan.
Lembayung tersenyum ke arahku dan aku pun membalas senyuman indahnya.
Istriku...
Setiap memandangmu hatiku menjadi senang, dan segala masalah dan beban seakan ringan.
"Tidak.. ibu tetap menolak.. "
"Kenapa bu? "
"Sudah ibu katakan, kalau Ibu tidak pantas Senja.. "
"Baik.. kalau begitu, Senja akan menyampaikan pada beliau.. karna Senja ga berhak memaksa ibu.. "
Ibu terdiam. "Tapi ibu akan ikut kalian ke Bandung, dan menetap disana. Ibu ingin mengubur dalam-dalam kepahitan disini.. " Ibu menepuk-nepuk dada kiri nya pelan.
"Iyah bu.. besok malam kita berangkat ya bu. " Kataku, akhirnya aku bisa membujuk ibu tinggal di Bandung.
***
Ibu Senja
Aku benar-benar terkejut mendengar penuturan anakku Senja. Ia bilang pak Syarif.. guru agama yang selama ini membimbing dan mengajarinya berubah,ternyata ingin meng-khitbah ku.
Tentu saja aku menolak.
Aku ini hanya perempuan kotor, hina, dan berlumur dosa.
Apakah beliau tidak mengetahui pekerjaan apa yang aku jalani selama belasan tahun ini?
Meskipun, aku memutuskan untuk berhenti menerima pelang*** 7 tahun terakhir ini.. dan pekerjaan ku kembali seperti dulu yang hanya mengantarkan minuman haram dan menemani para bede*** itu mabuk-mabukan. Tapi tetap saja... ini semua tidak adil bagi beliau.
Aku ini tak ubahnya lumpur hitam yang akan mengotori putihnya telapak kaki beliau.
Meskipun jauh di lubuk hati yang paling dalam.. keinginanku untuk berubah menjadi lebih baik kian membuncah seiring usiaku yang sudah tidak lagi muda.
Aku ingin berubah... aku ingin memperbaiki semua kesalahan.
Apakah aku layak ya Allah?
Aku ingin mengganti baju-baju kekurangan bahan menjadi baju-baju panjang yang menjuntai. Menutupi auratku yang puluhan tahun ini ku biarkan dan ku relakan bebas untuk di nikmati siapa saja, di nikmati penuh naf** oleh mata-mata lelaki hidung belang.. buaya darat dan para pencari kepuasan dunia.
Iyah.. ini bukan hanya sekedar inginku. Tapi sebuah keharusan..
Anakku telah membebaskan ku dari kubangan dan juram yang sangat dalam dan gelap ini. Aku sangat menanti datangnya masa ini...
Dulu aku sangat tak berdaya.
Terima kasih Senja anakku... Terima kasih telah hadir kedunia ini dan menjadi anak ibu..
Terimakasih karena kamu adalah Anugerah Terindah yang telah Allah ciptakan untuk menjadi anak ibu..
__ADS_1
***