Lembayung Senja

Lembayung Senja
Seatap?


__ADS_3

Mamah Lembayung


Setelah menerima telepon dari putri bungsuku Bintang.. hatiku benar-benar gelisah. Keadaan yang darurat disini tidak sebanding dengan keselamatan putriku Lembayung.


Kami pun mengambil penerbangan pertama untuk pulang ke tanah air.


Haruskah ku korbankan kebahagiaan anak-anakku dengan seperti ini? Beberapa tahun terakhir ini aku memang lebih sering menemani suamiku untuk ke luar negeri. Papah nya anak-anak itu memang tidak terbiasa dengan masakan luar.. dan hanya bisa makan kalau itu buatanku.


Bisnis suamiku semakin berkembang pesat dan itu semua membutuhkan dan menyita waktunya seluruhnya, akhir-akhir ini.. kesehatan nya pun harus lebih di perhatikan. Siang malam ia bekerja dan harus mengatur ini itu sampai kadang melewatkan jam makan.


Siapa yang bilang bahwa menjadi seorang bos itu hanya enak nya saja? memang benar.. materi yang kami dapatkan sangat berlimpah, tapi beban dan tantangan nya pun sangat berat dan tak semudah seperti kelihatan nya.Tanggung jawab nya pun sangat besar karena kami memperkerjakan ribuan karyawan.


"Teh ayung di culik mah.. "


Begitu kata Bintang, saat aku menelpon nya kembali. Tentu saja aku terkejut karena kami tidak pernah merasa mempunyai musuh, tapi tidak menutup kemungkinan juga.. karena banyak persaingan di dunia bisnis suamiku.


"Apa sebaiknya Ayung tinggal saja bersama Senja pah? mereka kan sudah menikah dan sudah makhrom.. menurutku tidak apa-apa mereka di persatukan. Mereka sudah dewasa, pasti bisa memutuskan mana yang salah dan benar. " Aku memberi saran pada suamiku yang kini terlihat sedang di landa kecemasan.


Kami sedang berada di dalam pesawat.


"Papah pikir juga lebih baik seperti itu.. baru sebulan mereka menikah, papah mungkin terlalu keras memberi hukuman. "


"Iyah pah.. dulu sewaktu di Bali juga, mereka tidak melakukan hal-hal seperti yang kita pikirkan. Dan seandainya nanti sesuatu terjadi pada mereka.. tidak akan berdosa karena mereka sudah halal.. "


Suamiku itu mengangguk mengiyakan.


"Justru mamah takut.. kejadian seperti ini terulang lagi pah.. "


***


Papah Lembayung


Kami sudah berada di pelataran Rumah sakit, hendak menuju kamar rawat inap Ayung.


Katanya luka nya memang ringan dan hanya goresan, dan Ayung saat itu pingsan karena ketakutan.


Siapa dalang di balik semua ini? akan saya usut sampai ke akar-akarnya.


Saat akan masuk ke ruangan, saya membuka pintu pelan karena Lembayung sedang tertidur, sambil ditemani oleh Senja di samping nya.


Anak dua itu..


Mereka ga terpisahkan..


"Sudah pah.. jangan di ganggu! nanti kita kembali ke kamar satu jam lagi mungkin mereka sudah bangun, sekarang lebih baik kita sarapan dulu ya.. kita belum makan apa-apa dari semalam pah.."Istriku ini memang wanita yang sangat bijak, oleh karena itu saya tidak sanggup untuk berada jauh darinya.


Apalagi sekarang saya sibuk pulang pergi ke luar negeri dan dengan penuh kepatuhan ia pun pergi kemanapun saya pergi. Sungguh beruntung memiliki istri shalihah seperti nya..


Semoga anak-anak kita bisa menjadi wanita shalihah yang taat pada suami mereka sepertimu, istriku.


***

__ADS_1


Senja


Tadi, setelah menjalankan kewajiban shalat subuh berdua dengan istriku, kami pun tertidur lagi.. karena semalaman kami hanya mengobrol, bercerita tentang masa kecil nya yang bahagia.


Aku hanya menjadi pendengar yang baik, saat ia dengan antusias bercerita dengan mimik muka yang ia buat sedemikian rupa.


Ternyata ..sisi lain darinya adalah sifatnya yang ceria dan sedikit cerewet. Berbanding terbalik dengan dugaanku selama ini.Aku pikir ia adalah seorang yang pendiam.


Tadi malam aku juga bercerita tentang bagaimana aku bisa masuk ke dalam kubangan itu. Bagaimana awal-awal mengenal bang Roy dan Dita,sungguh mengejutkan.. ternyata Dita adalah sahabat Lembayung sewaktu di SMP.


Tapi yang lebih mengejutkan,mengapa ia bisa merencanakan perbuatan jahat seperti itu? Apakah karena iri dengki? padahal setauku.. selama aku mengenalnya selama ini ia adalah seorang gadis yang pendiam.


Memang, sesekali jika aku sedang bersama bang Roy untuk nongkrong atau pun berkunjung kerumah nya bersama Rian dan Dion, Dita sering memperhatikanku diam-diam.Sesuai dengan yang di bilang oleh Lembayung bahwa ia cenderung introvert dan mengurung diri. Aku sama sekali tak menyangka ia ternyata menyukaiku selama ini.


Aku memang mengetahui kalau kami satu sekolah, tapi kami tidak sekelas. Dan interaksi di antara kami lebih cenderung langka.


Huh.. Aku mendengus.


Untung saja istriku hanya mengalami luka ringan, pada saat ia yang akan menggantikanku terkena serangan dari bang Roy.. aku sempat menangkis pisau itu hingga hanya mampu menggores kulit luar nya saja.


Ia pingsan karna syok.


Tadi malam aku benar-benar bahagia.. ini pertama kalinya aku tidur berbaring disisinya. Meski hanya mengobrol dan sesekali aku mengecup kepalanya.. tapi perasaan hangat lebih kepada kasih sayang yang tulus, bisa mengalahkan hawa naf** .


Ceklek.


Ada yang membuka pintu.


"Ehh.. maaf pah.. mah.. saya ketiduran! " Kataku alasan.


"Ayung belum bangun? " Tanya mamah.


"Belum mah..baru minum obat, langsung mengantuk katanya. "


"Dokter bilang apa? " Tanya papah sambil menghampiri tempat Lembayung berbaring. Aku segera mendekat dan mencium punggung tangan mereka.


"Alhamdulillah Lembayung baik-baik aja pah.. hanya butuh istirahat, dokter bilang bisa pulang hari ini. "


"Alhamdulillah.. " Mamah mengelus kepala Lembayung yang tertutup hijab.


"Senja.. Papah mau bicara! "


"Iyah pah.. "


"Mamah dan papah sudah membicarakan ini.. lebih baik mulai sekarang kamu tinggal bersama Ayung. "


Aku tertegun.


Mencerna kata-kata papah.


"Ma-maaf pah.. apakah benar? saya boleh tinggal bersama Lembayung? Tapi bukankah.. "

__ADS_1


"Tidak apa-apa nak.. kami sudah setuju, kamu boleh tinggal di rumah papah.. " Mamah menghampiri dan memegang tanganku.


"Tapi tetap.. kamar kalian terpisah.. " Tegas papah.


"Paahh.. kita kan sudah membicarakan ini. " Mamah memprotes.


"Tidak untuk sekarang mah.. mereka belum lulus sekolah.. "


"Baik kalau begitu keputusan papah, tapi semua tergantung Senja pah.. Ayung sekarang sudah menjadi istrinya. Dan papah tau kan kalau seorang istri itu harus patuh taat pada suami.. Ayung sudah bukan sepenuhnya tanggung jawab papah lho..papah mau menjadi orangtua yang tidak bijaksana? "


"Huhh.." Papah mendengus.


"Ya sudah.. terserah padamu Senja. papah tau kamu pasti bisa memilih mana yang baik dan buruk kedepan nya.. " Kesal papah.


"Tidak apa-apa pah.. saya akan tinggal di rumah papah, tapi berbeda kamar dengan Lembayung. " Kataku patuh.


"Baguus.. " Papah menepuk bahuku.


"Jaga baik-baik anak papah.. sebagaimana janji kamu saat mengucap Qabul. kamu menandatangani Shigat Ta'liq.. kamu sudah tahu kan isi nya?"


"Pembacaan Shigat Ta'liq adalah upaya perlindungan negara terhadap hak-hak istri..Jika salah satu diantara keempatnya dilanggar olehmu...kamu tau apa yang akan terjadi! "


Aku tersentak, lalu termenung mencerna semua penuturan papah.


"Baik pah.. In syaa Allah ."


"Mamaah.. papaah.. " Lembayung terbangun dan langsung mendapati mamah dan papah di sampingnya.


"Kamu baik-baik aja sayang? " Tanya mamah.


"Aku baik mah.. tadi apa yang lagi di bicarakan? ko aku denger tentang rumah.. ada apa? "


"Mamah sama papah setuju agar kamu dan Senja sudah boleh tinggal bersama.. " Jelas mamah.


Lembayung terperangah.


"Masa mah? " Tanya nya dengan mata membola.


" Tapi tinggal di rumah kita.. "


Ia hanya manggut-manggut sambil tersenyum ke arahku.


"Senjaaa.. kita sekarang bakal tinggal seatap! "


Aku mengangguk sambil menyunggingkan senyum tipis, malu.


"Tapi aku pengen tinggal di apartment nya Senja.. "


Dan kami semua pun terpelanga.


"Ayuung? "

__ADS_1


***


__ADS_2