
Lembayung
"Teh Ayung.. HPL nya Oktober tanggal berapa sayang? " Tanya mamah, saat ini kami sedang berkumpul di meja makan untuk makan malam.
" 29 Mah... "
"Bentar lagi atuh ya.. ini udah tanggal 17.."
"Iyah mah.. kata dokter juga kepala bayi nya udah siap-siap ada di bawah.. "
"Mamah sama papah mau pergi beberapa ke Surabaya, besok berangkatnya.. gapapa teteh di tinggal?nanti mamah minta tolong ibu nginep disini yaa.."
"Iyah gapapa mah..ga usah deh mah.. kasian ibu.. kan ada enin sama Bintang, trus ada pak Asep sama bi Minah stay tune di rumah. "
Sudah 2 minggu aku tidak membesuk Senja di lapas. Bukan nya aku tak mau kesana.. tapi terakhir kali kesana, Senja melarangku.. dan rasanya perutku ini sudah semakin berat,Perut yang makin besar mungkin menjadikan ku cukup sulit berjalan, sering sakit punggung, serta merasa cepat lelah. Aku juga sering merasakan kaki dan pergelangan kaki membengkak saat sore hari.
Terakhir keluar rumah periksa ke dokter 1 minggu yang lalu,karena usia kandunganku sudah masuk minggu ke 38.
Senjaa.. aku kangen banget.. bagaimana caranya agar aku bisa ketemu kamu ya?
Rasanya berat ngejalanin ini semua tanpa ada seorang suami di samping ku yang akan selalu siap siaga kapan saja. Bukan berarti orang-orang di sekelilingku mengabaikan ku...Tapi rasanya berbeda bukan? Aku rindu bermanja-manja padanya..
Besok adalah jadwal periksa dan cek kandungan lagi, karena mendekati HPL.. makannya cek kandungan menjadi lebih sering menjadi 1 minggu sekali.
Biasanya aku akan di temani oleh mamah.. tapi besok mungkin aku hanya sendiri karena mamah akan pergi ke Surabaya bersama papah.
Baiklah Ayung.. tidak apa-apa!
Bayangkan ibu dulu lebih menderita. Kamu harus kuat! harus kuat!
"Sssh.. " Aku meringis.Setiap merasakan tekanan di bagian bawah perut dan mulai menyadari bahwa kini posisi bayi sudah perlahan turun ke bagian bawah perut ku.
Kata dokter, kondisi ini disebut dengan lightening atau engagement. Pada kondisi ini, paru-paru dan perut ku akan mulai meregang sedikit demi sedikit.
Waktu sudah menunjukkan pukul 8 malam, dan aku meresahkan badan.. dengan posisi punggung bersandar pada kepala tempat tidur.
Mengambil ponsel, dan seperti biasa memutar rekaman seperti pod cast suara Senja yang sedang menyapa baby E..
"Nigth.. night anak umma... mimpi indah yaaaa.. kita mimpiin baba datang dan ada disini sama kita... "
***
"Sayaaang... banguuun... sudah jam 4,bentar lagi adzan subuh!"
"Euggh??? " Aku melenguh. "Baby...ternyata baba benar-benar dateng ke mimpi kita nak... " Aku mengerjap dan mengumpulkan kesadaran, lalu mengelus perut perlahan dan mengajak anakku berbicara.
"Hai Babaa... kita pengen peluk baba.. " Dalam mimpiku ini, aku memeluk Senja dengan sangat erat. Lalu mengecup wajahnya berkali-kali.
Ia hanya tersenyum tanpa bicara apa-apa. " Jangan pergi... aku masih pengen peluk kamu meskipun cuma dalam mimpi... " Kataku parau, masih sepenuhnya belum sadar. Pasalnya aku mengantuk sekali.. baru bisa tertidur jam setengah dua belas malam.
"Lembayung sayang... ini aku. "
"Mhhmm iyaah.. sini!" Aku semakin merekatkan dekapan dan kembali memejamkan mata untuk sebentar saja, sampai adzan subuh berkumandang beberapa menit lagi.
Hangat dan nyaman... aku merasa benar-benar sedang mendekapnya sambil tidur berdua, eh.. bertiga dengan anakku dalam satu ranjang.
__ADS_1
10 menit berlalu... terdengar samar-samar suara adzan berkumandang dengan begitu syahdu dan merdu di telingaku. Sambil mengerjap... aku menepuk tempat kosong di sampingku, ternyata tadi benar-benar sedang bermimpi.
Saat beranjak dari tidur untuk duduk beberapa saat sebelum berdiri.
Aku terpelanga.
Di hadapanku..
Sosok tegap yang sangat kurindukan sedang tersenyum ke arahku sambil memakai peci di kepalanya, ia habis berwudhu.
"Senjaaa? " Aku mengucek -ngucek mata tak percaya dengan apa yang aku lihat sekarang.
"Sudah bangun sayang? aku mau ke masjid dulu ya sebentar.. " Katanya, sambil melipat tangan kemeja koko putih yang menambah ia semakin berkharisma.
Deg.
Aku benar-benar terpana.
Ini bukan mimpi?
Tadi itu aku mendekapnya erat juga ternyata bukan mimpi?
"Aku ga bermimpi kan? " Tanyaku, dan hanya ia jawab dengan kekehan.
"Ngga sayang... aku nyata! yang ada di depan kamu Senja suamimu.. "
"Senjaaaaaa... " Aku berdiri dan hendak mendekat untuk mendekap erat.
"Sayang...aku punya wudhu.. mau shalat berjama'ah ke masjid dulu.. "
"Kamu juga shalat dulu yaa.. aku cuma sebentar.. Aku pamit.. Assalamu'alaykum.. "
"Wa'alaykumusalam... " Aku pun berjalan ke arah kamar mandi untuk membersihkan diri dan untuk mengambil air wudhu.
Menunaikan kewajiban shalat subuh lalu membaca beberapa ayat suci Al-Qur'an dan artinya.
***
Senja
Alhamdulillah.. ajuan remisiku di terima, dan aku di nyatakan berkelakuan baik, yang dibuktikan dengan tidak sedang menjalani hukuman disiplin dalam kurun waktu 6 bulan terakhir, terhitung sebelum tanggal pemberian Remisi.Karena di lapas yang sekarang aku merasa hidupku lebih disiplin dan lebih baik.
Dan aku juga telah mengikuti program pembinaan yang diselenggarakan oleh lapas dengan predikat baik.
Dengan di diberikan remisi umum kemerdekaan sebanyak 1 bulan di tambah remisi khusus keagamaan sebanyak 15 hari.. dan juga remisi tambahan karena telah membantu kegiatan pembinaan di Lapas atau LPKA sebagai pemuka atau koordinator kegiatan.
Maka dari itu... Sekarang aku telah di nyatakan bebas keluar dari tahanan dan di beri pembebasan bersyarat.
Hari ini adalah hari yang telah kutunggu selama kurang lebih 36 minggu mendekam di balik jeruji besi.
Sebenarnya, dari sejak sore aku sudah boleh pulang.. tapi karena hujan mengguyur Bandung hingga malam hari, akhirnya aku memutuskan untuk menunggu reda sambil berpamitan pada para petugas sipir dan teman-temanku sesama napi di lapas ini. Setelah lumayan reda aku pulang dulu ke apartement dan menemui ibu...
Meminta maaf dengan segenap hati dan menumpahkan segala nya setelah kami berbicara dari hati ke hati. Deep talk.
Disinilah aku..
__ADS_1
Di rumah istriku yang selalu di penuhi dengan kebahagiaan..dan kebersyukuran.
Aku berdiam diri sebentar di depan gerbang rumah sambil menatap rumah dari kejauhan.
Ini seperti mimpi...
Aku bisa melangkahkan kakiku lagi disini.
Memori demi memori... dan kepingan demi kepingan puzzle ingatan tentang Lembayung memenuhi hati dan pikiranku.
Aku rindu aroma vanila dan cerry wangi khas tubuhnya..
Aku rindu raut wajah merah merona seperti tomat setiap kali ia merasa malu atau salah tingkah di depanku..
Aku rindu senyum indahnya di hiasi lesung pipi yang menambah cantik paras ayu nya.
Aku rindu...
Aku rindu mendekapnya erat.
Aku rindu segala hal tentangnya.
Istriku.. aku datang.
Membawa segenap kerinduan yang sudah menggunung hingga tak sanggup lagi aku bendung.
***
Ceklek.
Aku membuka pintu kamar Lembayung dengan pelan dan berjalan dengan mengendap-ngendap.
Kulihat, ia tengah terbaring sambil menggenggam ponselnya.
Aku langsung masuk ke kamar mandi untuk berwudhu dan membersihkan diri setelah perjalanan dari apartement kemari karena bajuku basah terkena air hujan.
Tadi Ibu melarangku untuk menemui Lembayung di tengah malam begini.
"Nanti mengganggu.. "
Begitu kata ibu.
Tapi aku tak mau dan tak kuat lagi menahan rindu. Aku ingin segera menemui istriku. Meski masih dalam keadaan sedikit lelah.. tak sedikitpun menyurutkan asa.
Hujan masih setia membasahi bumi dan menghiasi langit sepanjang malam pun.. tak sedikitpun aku hiraukan.
Yang terpenting adalah.. Menemui mereka berdua, aku ingin segera menemuinya. Menemui anakku juga..
Waktu menunjukkan pukul 1 dini hari,aku mengambil ponsel Lembayung.. kulihat di layarnya terpampang potret diriku.
"Kamu juga kangen aku ya sayang? " Aku tersenyum, lalu mengelus surai hitam legam nya yang setengahnya menutupi wajah sleeping beauty Lembayung.
Sudah lama aku tak memandangi paras bidadariku ini... Aku pun naik ke atas tempat tidur dan mendekapnya erat. Mengecup kening dan pucuk kepalanya berkali-kali. Berdo'a sambil mengelus perut nya pelan... Segera mengistirahatkan raga yang sudah terlalu lelah.Hingga akhirnya mataku terpejam karena tak bisa menahan kantuk lagi.
***
__ADS_1