Lembayung Senja

Lembayung Senja
Bagai Air Ditarik Sungsang..


__ADS_3

Senja


Lagi-lagi aku terkesiap.


Lembayung yang berada di sampingku pun tertegun tak berkata apa-apa.


"Ada apa ini? " Papah datang dari arah ruang makan dan dengan tatapan penuh tanya, menghampiri kami.


"Kami dari pihak kepolisian memanggil saudara Senja untuk menjadi saksi sekaligus terduga tersangka atas kasus penyalahgunaan narkoba..untuk selanjutnya akan di periksa oleh penyidik.. "


"Apaaaaaa? " Papah terperanjat, dan kulihat mamah juga ibu yang sedang berjalan menuju kami membulatkan kedua mata.


Mamah tengah limbung, dan memegang dada kiri nya. Sambil membantu mamah, Ibu hanya menatapku dengan tatapan nanar dan kedua mata nya berkaca-kaca.


"Tapi pak.. " Hanya itu yang keluar dari mulut Lembayung.


"Saudara Senja berhak memiliki kuasa hukum, kami permisi! "


Akupun di giring menuju mobil polisi yang sudah terparkir di depan gerbang rumah. Tanpa perlawanan dan sebisa mungkin bersikap kooperatif.Aku mengikuti semua intruksi pak polisi.


"Maaaaf.. " Hanya itu pula kata-kata yang keluar dari mulutku. Aku tak sanggup.. untuk berkata ataupun bertindak apa-apa. Hanya pasrah mengikuti arahan kedua pria berseragam cokelat yang sedang menjalankan tugas tersebut.Masuk kedalam mobil dan tak berhenti melihat ke arah semua orang.


"Senjaaa.. Paahh... papah jangan diem aja pah.. Senja gimana? kami mau sekolah.. gimana ini maaah.. ibuuuu.. Senja ga boleh pergi bu! " Terdengar istriku memohon pada semua orang yang berkumpul di depan rumah sambil menatapku nanar. Yang lama kelamaan semakin menjauh seiring kepergianku meninggalkan rumah itu.


Rumah penuh kasih sayang dan cinta yang begitu besar untukku beberapa bulan ini.. rumah penuh kebahagiaan yang di dalamnya begitu banyak kebersyukuran dan ketaatan.


Do'akan aku Lembayung..


Do'akan suamimu ini...


***


Lembayung


"Paaah... papaaah.. Senja pergi paah.. suami Ayung di bawa polisi! papah kenapa diam aja pah? " Aku yang sudah rapih dan siap untuk berangkat dengan suamiku ke sekolah ,tiba-tiba di kagetkan dengan kedatangan 2 orang pria tinggi yang di sebut abdi negara itu.


Sejenak tadi aku tertegun.. tak tau harus berbuat apa. Seperti mendapatkan sengatan petir di pagi hari yang cerah.. dimana cahaya mentari bersinar terang dan menyambut semua dengan penuh kebersyukuran.


Tapi tidak dengan kami. Tidaak denganku yang tak pernah sama sekali terpikirkan ataupun terbayangkan suami yang kini aku sayangi akan mendapatkan hukuman.


Ia di panggil oleh pihak kepolisian.. atas dugaan kasus narkoba.


Separah itukah pergaulan nya dulu?


Tapi ia sudah berubah..


Ya Allah..tak bisakah Senja di maafkan?

__ADS_1


"Papah tidak bisa berbuat apa-apa bila menyangkut hukum.. kalau kita berbuat di luar kuasa, jutru papah takut akan terjadi hal yang buruk.. Senja akan mendapatkan hak memiliki seorang pengacara atau kuasa hukum. jangan khawatir nanti papah hubungi teman papah.. "Papah memelukku dan mengecup pucuk kepalaku.


Mamah dan ibu terlihat sedang duduk dan saling menenangkan.Enin yang biasanya sedang mengaji di kamar bila jam segini, berjalan dan menghampiri kami dengan tergopoh-gopoh.


"Bintaang.. sebaiknya kamu berangkat sekarang! nanti kesiangan!" Tegas papah pada adekku yang sedang melongo tak mengeluarkan suara sepatah katapun. Kontras dengan kebiasaannya yang selalu menimpali pembicaraan orang dewasa.


Bintang mengangguk dan berpamitan setelah salam pada semua.


"Kamu tidak usah sekolah hari ini! papah ngerti kamu pasti syok!"


"Tapi pah.. Senja gimana? "


"Sebagai istri yang baik.. kamu harus menerima segala kekurangan dan keburukan suamimu.. kamu harus sabar menghadapi ujian rumah tangga yang baru seumur jagungmu ini.. " Papah mengusap kepalaku pelan.


"Ayung incu enin.. sini! " Enin merentangkan kedua tangan, dan aku menghamburkan diri ke pelukan hangat enin.


"Sabar nya geulis... "


"Teteeeh.. ini semua salah In teh.. maafkan semua kesalahan-kesalahan anak Iin.. semua salah In karena tidak bisa mendidik Senja dengan baik..In seorang ibu yang buruk dan tak pernah memperhatikan perkembangan Senja. " Ibu mulai bereaksi dan memeluk mamah, menumpahkan tetesan airmata yang sedari tadi ibu bendung di kedua pelupuk mata.


"Tidak apa-apa In... teteh mengerti. Senja memang salah.. meskipun sekarang ia sudah berubah.. tapi Yang Maha Kuasa mempunyai rencana yang tidak kita ketahui.. pasrah dan tawakal, jangan lupa selalu mendo'akan nya agar ia selalu di beri segala kebaikan..do'a seorang ibu tak pernah terhalang oleh apapun.. akan sampai langsung pada Allah dan in syaa Allah di ijabah." Mamah memberi nasehat dan seperti biasa menjadi penenang di segala suasana.


"Ayung istirahat saja nak.. mamah,dan papah juga ibu butuh untuk berbicara.Teh Ayung di temani enin saja di kamar ya! jangan lupa hubungi teman sekelas teteh untuk izin tidak masuk sekolah! " Perintah mamah.


"Iyah mah.. " Aku pun berjalan dengan langkah gontai, ditemani oleh enin ke undakan tangga menuju lantai 2.


***


Untuk kesekian kalinya, aku tak bisa berhenti menyalahkan diri sendiri. Ini semua salahku..


Aku tak banyak bicara dan hanya tertegun.. menatap kosong dan nanar kepergian anakku yang di seret oleh pihak berwajib karna terseret kasus narkoba.


Kalau saja dulu.. aku tak keras kepala, kalau saja dulu dari awal ku terima saja pernikahan adat itu..


Tapi tak ada anakku Senja.


Tidak.. ini semua berawal dari keegoisan hati yang beratas namakan sebuah cinta salah.


Kalau saja aku tidak ke Italia dan berhutang sangat besar pada bos Carlos..


Kalau saja..


Semua sudah terlambat.


Bagai Air Ditarik Sungsang.


Melakukan sesuatu yang menjadi sukar karena salah jalan..

__ADS_1


"Papah dari dulu sudah merasa khawatir.. sejak tau semua tentang Senja, papah takut sesuatu terjadi akibat perbuatannya di masa lalu. " Papah Lembayung memulai permbicaraan.


"Tapi mamah yakin Senja sudah sepenuhnya berubah pah.. "


"Papah juga merasakan nya.. tapi apa mamah tau? kalau hukuman penyalahgunaan narkoba itu sangat berat meskipun hanya menjadi kurir saja! "


Aku tertegun.


Anakku menjadi kurir? aku tidak mengira ia bisa menjadi seorang kurir.


"Awalnya ia di paksa.. papah tau karna banyak kejadian pada anak-anak teman papah. Mereka di cekokki makanan ataupun minuman yang sudah di campur, setelah ketergantungan.. jika mereka tidak mempunyai uang untuk membeli barang haram itu.. maka di paksa dan di tuntut menjadi kurir dengan dalih akan di laporkan atau di ancam dengan tindak kekerasan. "


"Papah akan menghubungi teman papah.. ia sudah berpengalaman menangani kasus seperti ini. " Papah Lembayung menghela nafas panjang.


"Maafkan saya atas segala kelakuan dan perbuatan buruk anak saya.. ini semua sepatutnya adalah salah saya.. " Aku menunduk sambil menyeka sudut mata.


Papah Lembayung hanya terdiam.


"Sudah In... jangan terus menyalahkan diri sendiri! kita harus menguatkan anak-anak kita.. ambil hikmah dari setiap perkara yang sudah menimpa kita. "


"Terimakasih teh.. "


***


Senja


Setelah sampai di kantor polisi.. aku di giring masuk ke dalam perkumpulan orang-orang yang kebanyakan adalah laki-laki seumuran denganku, tengah berjongkok dengan tangan di atas kepala dan kepala yang tertunduk.


Ada sekitar 15 orang..


Ku lihat di sudut sana Rian dan Dion sedang melihat ke arahku ..dan aku sangat yakin bahwa pikiran dan hati mereka tengah berkecamuk,sama sepertiku.


"Kamu gabung dengan mereka! " Kata salah satu polisi yang bertugas.


Aku berjalan mendekati Rian dan Dion, lalu berjongkok di dekat mereka.


"Mampuuuus.. nasib kita! " Rian tengah sedikit berbisik dan menyenggol bahuku dengan bahunya pelan.


"Bang Roy udah di pindah ke lapas sukamis***..kasus nya berat!" Timpal Dion.


"Bokap lo udah tau? " Tanya Rian pada Dion. Yang hanya di balas dengan gelengan kepala.


Aku hanya terdiam, tak menggubris apapun pembicaraan mereka. Karena fokus melihat sekelibat bayangan sosok yang sangat aku kenal melintas keluar dari sebuah ruangan ditemani 2 orang polisi.


Bukankah itu Felicia?


***

__ADS_1


__ADS_2