Lembayung Senja

Lembayung Senja
Terpana...


__ADS_3

Lembayung


Ini adalah hari kelima Senja resmi tinggal di rumahku.. rumah papah sih.. kalau aku kan belum punya rumah.Hehhe..


Senja pulang terlambat.. katanya habis technical meeting dengan klien yang baru.Atas usulku.. Ia kini mulai aktif di sosmed untuk posting portofolio hasil jepretan nya.


Mamah dan papah kemarin kembali lagi ke Jepang karena memang harus menyelesaikan sesuatu yang penting disana.


Beberapa tahun belakangan.. mereka jadi sering pulang pergi ke luar negeri untuk urusan bisnis. Alhamdulillah.. tapi kadang ngerasa kasihan juga, beban dan tanggung jawab papah tuh berat.. sepertinya aku juga lupa kapan terakhir bisa quality time liburan bersama mereka.


Aku hanya bisa berdo'a semoga mereka selalu sehat dan selalu di lindungi oleh Allah di manapun mereka berada.


Oh iyah.. bagaimana kabar ibu ya? aku ko kangen dengan ibu? Terakhir sewaktu di Pasuruan beliau itu tak henti memujiku.


"Senjaaa.. "


"Mhhm.. " Dia sedang fokus memakan nasi putih dan ayam taliwang buatanku dengan lahap.


"Ibu apa kabar? " Tanyaku.


"Baik.. Alhamdulillah.. "


"Aku ko kangen sama ibu yaa.. kenapa sih ibu ga tinggal di Bandung aja? "


"Aku udah beberapa kali minta ibu buat tinggal disini, tapi ibu ga mau. "


"Huuh..padahal aku pengen banget cerita-cerita ke ibu. " Aku mendengus.


"Oh iyah.. Gimana? enak ga ayam taliwang buatan aku? " Tanyaku dengan mata berbinar dan sambil memegang pipiku di kedua tangan yang kutumpu di meja. Menanti jawaban nya.


"Enak banget.. ini aku mau nambah lagi. " Katanya sambil mengambil centong hendak menyendokkan nasi ke dalam piringnya.


"Sama aku aja! segimana? "


"Satu centong aja.."


Mhhm..


Sekarang setiap hari nya, aku jadi semangat untuk mencoba resep-resep masakan dari salah satu aplikasi cooking di ponsel.


Karena.. Bahagia banget rasanya kalau suamiku suka sama masakan yang aku buat sendiri.


Anyway..


Aku terpana..


Melihat dia dari jarak dekat seperti ini...membuat jantungku berdegub sangat kencang, ku sadari perlahan aku mulai mengagumi setiap detail fisik yang ada pada tubuh dan parasnya.


Matanya tajam, dengan iris keabuan.


Alis yang tebal hampir menyatu antara kiri dan kanan.


Hidungnya.. jangan di tanya, seberapa mancung nya ia.. kalau di ukur dengan milikku, mungkin hidungku hanya setengah nya.


Rahang nya tegas, khas Eropa.Namun bersih... Mungkin ia rajin bercukur setiap hari. Aku jadi membayangkan kalau di usia nya yang semakin dewasa nanti.. dengan jambang nya dibiarkan tumbuh, maka akan semakin membuat kadar kegantengan nya bertambah beberapa kali lipat jika di bandingkan sekarang.


Iisssh Ayung! mulai deh!


Tapi ga ada salahnya mengagumi suami sendiri kan?


Dari mata turun ke hati itu betul ga sih?


Yang pasti.. saat ini aku selalu betah dan ingin berlama-lama berada di dekatnya.


"Senjaaaa.. "


"Mhhmm.. "


"Habis ini..kamu mau ngapain? "


"Uhuuk..Uhuuk.." Dia tersedak mendengar pertanyaan ku.

__ADS_1


"Ehh.. kenapa? bentar.. aku ambilin minum dulu! "


Akupun menyerahkan segelas air putih yang langsung di sambar dan di minum nya hingga tandas.


"Kepedesan ya?" Tanyaku menatap iba.


Ia menggelengkan kepala lalu melanjutkan makan nya yang tinggal sisa beberapa suap aja.


Emang pertanyaan ku salah ya? Ko dia sampe tersedak?


"Bintang sama enin udah tidur? " Tanyanya, sambil berjalan ke arah wastafel dan mencuci tangan dengan sabun, lalu mencuci piring bekas ia makan.


"Senjaa.. cuci nya sama aku aja ihhh.. " Aku mendekati nya dan berdiri di belakang nya.


"Gapapa.. aku udah terbiasa ko. " Selesai mencuci piring, Ia lalu meletakkan piring itu ke dalam rak basah.


"Kamu mau ga nemenin aku ngerjain tugas? "


Ayung.. Apakah kamu mulai modus?


Ia menoleh ke arahku dan mengangguk.


"Boleh.. aku juga ada tugas, besok di kumpulkan.Setelah itu mau ngedit foto."


"Yeeess.. akhirnya ada temen ngerjain tugas.. aku tuh males banget kalau udah harus ngerjain Fisika.. " Keluhku sambil berdiri menyender di pinggir wastafel. Ia berdiri di depanku lalu seperti biasa meraih tanganku dan menggenggam nya.


Deg.


Setelah ini apa akan ada adegan seperti di drama atau novel novel itu?si pria yang tiba-tiba membenamkan wajah bertubi tubi pada pasangan di depan nya. Lalu...


Ckckck.. Ayuuung kenapa otak kamu jadi gini?


Sungguh di luar nalar!


"Ehh.. iyaah.. kita ngerjain nya dimana? kalau di ruang tamu aja gimana? " Tawarku gugup dan lagi-lagi ia mengangguk mengiyakan.


"Ya udaaah.. aku ke kamar ambil buku dulu yaaaa.. " Aku memalingkan wajah untuk menyamarkan kegugupan.


Oh My God...


***


Senja


Lembayung mengucek-ngucek matanya berulang kali, matanya mulai merah mungkin karena sudah ngantuk dan kelelahan.


Tadi setelah drama, memilih akan mengerjakan tugas dimana,padahal ia yang mengusulkan di ruang tamu.. terus di kamarnya.. dan pada Akhirnya kami mengerjakan tugas di ruang santai keluarga dan duduk di atas karpet bulu depan televisi.


Kami berdua sibuk mengerjakan tugas masing-masing karena memang jurusan kami berbeda, jadi aku tak bisa membantu..Namun sesekali ia memberitahu ku materi yang ia tahu dan pernah pelajari.


Aku beruntung..


Akhh tidak.. sangat-sangat beruntung punya istri cantik dan pintar, juga sangat baik seperti nya.


"Senjaaaa.. "


"Mhhmm.. "


"Kamu masih lama? "


"Lumayan.. " Kataku sambil menggeser kursor mouse ke kanan kiri mengedit sana sini.


"Hoooammm.. Aku mengantuk.. " Ia menyenderkan badan nya ke sofa sambil menumpu salah satu tangan dan pipi nya, menyamping menghadap ke arahku.


"Kamu mau tidur duluan? tugas kamu kan udah beres?" Tanyaku.


"Mhhhmm.. no..no.. aku mau nunggu suamiku selesai bekerja.. " Sambil tersenyum ke arahku.


Aku menyunggingkan senyum dan mengusap pucuk kepala nya pelan.


"Sebentar lagi.. "

__ADS_1


Dia terus saja menatapku, dan tak berhenti senyum.Sambil sesekali menguap.


30 menit berlalu, waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam. Istriku tertidur dengan posisi masih menyender seperti tadi hanya saja kaki nya di selonjorkan.


Deg.


Kain rok yang di pakainya tersingkap sedikit, dan berhasil memperlihatkan kaki mungil nya hingga ke tengah betis.


Oh My...


I can't say anythings..


Hatiku berdebar melihatnya, ini pertama kalinya aku bisa melihat aurat nya meski sebatas betis. Biasanya ia akan memakai kaos kaki kemanapun ia pergi.


Bagaimana bisa dengan melihat kaki nya saja sudah membuat jantungku berdebar sangat kencang seperti ini? Apalagi kulit nya sangat putih.. seputih susu..tidak.. tidak.. seputih salju.. kontras dengan kulitku yang agak kemerahan dan kecokelatan.


What I have suppose to do?


Aku membetulkan rok nya dan menutupi kaki nya kembali.


No..jika dipikir aku akan macam-macam? BIG NO... Aku masih memegang janjiku pada papah.. meskipun berat. You know.. ini sangat berat melebihi beratnya rindu Dylan pada Milea.


Aku ingin mengukir kisah indah..cinta yang tulus bersama Lembayung.Aku tak akan memaksa nya jika memang ia belum siap..Untuk saat ini... Aku juga memikirkan sekolah kami yang harus kami jalani berbulan-bulan lagi.


Entahlah.. semoga aku kuat!


Aku segera merapihkan buku-buku milikku dan milik istriku. Lalu mendekati Lembayung.. mengusap kepala yang masih tertutup hijab, hanya saja agak asal karena rambutnya terlihat keluar beberapa helai menutupi sebelah matanya.


Bissmillah..


Ku angkat tubuh mungil itu dan membopongnya, ia lumayan berat juga padahal ia begitu mungil bila berdiri di sampingku. Berjalan menapaki undak tangga satu persatu menuju ke kamar nya di lantai 2.


Ceklek.


Aroma harum vanila lembut menyeruak maduk ke dalam rongga penciumanku, seperti saat pertama kali aku masuk kesini.


Aku meletakkan tubuhnya pelan.Lalu menyelimutinya.


Ku buka hijab pasmina yang dikenakannya karena ia memakai jarum pentul di dagu nya, takut ia tak sadar dan tertusuk jarum itu.


Begitu ku buka.. Surai indah nya tergerai, dan aku terpana. Untuk beberapa menit aku hanya terdiam terpaku menatap wajah indahnya.


Hatiku berdebar.


Mata dengan bulu mata lentik itu..


Hidung nya..Pipi nya..


And her Lips.. I don't know what to say.


Stop Senja! Biarin Lembayung tidur dengan nyenyak!


Aku menyunggingkan senyum lalu membelai lembut pipi.. kemudian surai nya yang halus.


Cup.


Mengecup keningnya untuk beberapa saat.


"Selamat tidur istriku.. tidur yang nyenyak dan indah.. "


Aku beranjak dan berdiri sambil terus memandangi nya.


Sebenarnya tak rela.. tapi bagaimana?


Graappp..


Tangan mungil itu menarik tanganku pelan.


"Jangan Pergi... "


***

__ADS_1


__ADS_2