Lembayung Senja

Lembayung Senja
Unforgettable October..


__ADS_3

Lembayung


"Senjaaa.. Senjaaa.. banguun! " Aku menggoyang-goyangkan bahu suamiku yang kini tengah tertidur pulas.


"Hmm.. " Ia hanya menggeliat, lalu tertidur lagi.


Waktu menunjukkan pukul 12 tengah malam,karena tak kuat sering bolak-balik ke kamar mandi untuk uang air kecil..setiap hari nya tidurku memang tidak nyenyak.


"Senjaaa... ini kenapa? ada bercak! "


"Haaaah? apaa sayang? kenapa? " Ia langsung beranjak dan duduk sambil memegangi perutku.


"Aku abis buang air kecil... tapi perut aku kenceng banget ini kenapa... tadi ada bercak sedikit.. kontraksi nya juga kerasa bedaa.. sakit banget.. shhh! " Aku meringis tak kuat menahan sakit.


Pletaaaak.


Aku terperanjat.


Mendengar sesuatu seperti pecah, lalu tiba-tiba ada air mengalir turun menuju kaki.


"Senjaaaa... ini... iniii... apa? air ketubaan bukan ya? Senjaaa.. ini gimana.. Shhhh... Ya Allah... sakit bangeeett! "


"Iyah sayaang.. ini air ketuban nya udah pecaaah.. ayoo.. ayo siap-siap! aku bawa tas dulu ya.. eh tunggu tunggu.. aku bawa diaper buat kamu pake! " Dengan tergesa Senja membawa diapers dewasa dari dalam laci nakas yang sudah tersedia untuk jaga-jaga. Karena yang pernah aku baca.. proses kelahiran itu bermacam-macam.


Untuk mencegah air ketuban merembes kemana-mana, diaper sementara bisa menjadi opsi pertama.


Dengan telaten, Senja membantuku memakai diaper. Akh.. suamiku itu... Aku tak menyangka dibalik segala kenakalan nya dulu, ada jiwa lembut dan baik yang ia sembunyikan. Lalu ia membawa gamis juga kerudung dari dalam lemari dan memakaikannya padaku.


"Aaarrgh.. sakit! " Kontraksi itu semakin sering kurasakan.


"Kamu bisa jalan? " Tanya Senja, saat aku beranjak dan akan berdiri.


"Bisa... " Kataku lirih.


"Aku gendong aja.. biar cepat! " Tanpa pikir panjang, Ia membopongku dan berjalan menuju undak tangga. Aku bertopang tangan pada bahu nya, lalu melingkarkan tangan, sambil menatap lekat wajah yang sedang kepanikan itu.


"Kamu tunggu dulu disini ya.. aku ngasih tau enin dulu."


"Iyaah.. " Jawabku sambil mere*** fabrik gamis karena cemas.


Tak berhenti aku mengucap dzikir untuk menetralisir kepanikan ku.


"Ayuuunng... incu eninn.... " Enin berjalan menghampiri sambil tergopoh-gopoh, di samping nya pak Asep tengah mengucek mata sambil bergegas mengambil kunci mobil.


"Banyak do'a.. banyak dzikir... serahin semua sama Allah yaa... " Enin mengelup pucuk kepalaku,"Enin mau nelpon mamah sama papah kamu.. hati-hati di jalan ya.. "


"Iyah nin.. do'ain Ayung.. shh! " Aku terus saja mere*** baju, sambil sebelah tangan mengelus perutku.


"Hati-hati ya a.. kasep.. nitip incu enin.. !" Enin menepuk tangan Senja.


"Iyah nin, kami berangkat dulu.. Assalamu'alaykum. " Senja kembali membopongku menuju mobil yang sudah terparkir di halaman depan rumah.


"Wa'alaykumusalam.. "


Di sepanjang perjalanan, Senja terus mencium punggung tangan dan mengecup kepalaku berulang-ulang. Aku pun bersandar di bahu bidang nya sambil meringis dan terus berdzikir.


Ya Allah.. sesakit ini mau melahirkan.


Sakit saat datang bulan, tidak ada apa-apanya di banding ini.Tapi entah kenapa begitu nikmat? Ada perasaan lain yang membuncah...


"Sayaaang... yang kuat yaa.. "


Aku mengangguk. Tak sanggup untuk mengeluarkan kata-kata. Kulihat Senja merogoh saku celana nya dan mengeluarkan ponsel.Untuk menghubungi ibu.


"Assalamu'alaykum bu... "

__ADS_1


"......."


"Lembayung sepertinya akan melahirkan bu.. air ketuban nya sudah pecah, ini kita lagi di jalan menuju Rumah Sakit Bersalin.. yang di jalan Pasteur... "


"........"


"Iyah bu.. Assalamu'alaykum. "


Ia lalu kembali mendial nomor yang lain, nomor papah.


"Assalamu'alaykum pah.. maaf mengganggu.. Lembayung sepertinya akan segera melahirkan.."


"........."


"Iyah pah..baru 38 minggu.. tapii.. ini air ketuban nya sudah pecah.. kami sedang dalam perjalanan menuju pasteur.. "


"....."


"Baik pah.. Wa'alaykumusalam. "


Aku meraih tangannya lalu menggenggam nya kuat, ingin sedikit saja menyalurkan perasaanku yang tak menentu. Aku bersyukur di saat-saat seperti ini... Ia ada di sampingku dan menguatkanku.


"Senjaa.. punggung sama panggul aku sakiit banget.. hiks! " Aku merengek, karena tak kuat menahan kontraksi yang semakin lama semakin sakit. Dari panggul menjalar hingga punggung ku.


"Mana yang sakit? " Ia mengelus punggungku hingga panggul dengan pelan, sambil tak lepas mengecup kepalaku bertubi-tubi, "Sabar ya sayaaang.. kalau aku bisa.. aku pengen gantiin rasa sakit kamu.. tapi Allah nyiptain seorang wanita sekuat itu.."


"Shhh.. "Aku kembali meringis.


"Sebentar lagi kita sampe.. "


Di sepanjang perjalanan, ia terus menggenggam tanganku dan mengelus punggungku. Ajaibnya... sentuhan tangan nya sedikit menghilangkan perasaan gugupku.. Tangan besar itu mengalirkan ketenangan dan membuatku merasa di cintai.. Ketakutan akan bayangan betapa sakitnya melahirkan bisa ternetlarisir oleh perhatian dan kasih sayangnya.


Suamiku.. terlepas dari segala kesalahanmu di masa lalu.. Aku mencintaimu karena Allah...


***


Jika di tanya apa yang aku rasakan sekarang? I don't know what to say... Berbagai perasaan bercampur aduk menjadi satu, panik.. takut.. bahagia.. dan semua rasa berkecamuk di dadaku.


Aku melihat gadis yang kucintai meringis kesakitan... menyeka peluh keringat yang keluar dan menetes dari dahi nya. Menghadirkan gelenyar aneh.. sangat sakit dan ingin rasanya menggantikan posisinya saat ini.


Sungguh..betapa mulia nya kedudukan seorang ibu.


Aku teringat ibu...


Ibu.. apakah dulu ibu juga seperti ini saat melahirkanku? Apalagi tanpa kehadiran seorang suami di sisimu..


Aku terus menggenggam tangan Lembayung istriku yang sedang meringis memegang panggulnya, dan sesekali mengelus perut.


"Baby... bantu umma ya sayang.. bantu umma bisa dengan mudah melahirkan kamu...! " Aku mendekati perut Lembayung dan mengajak anakku bicara, katanya bayi di dalam perut pasti mengenal suara ayah nya.


Sambil mengelus perut nya, aku terus berbisik dan berdo'a.


"Kamu pengen cepet ketemu umma dan baba ya sayang? "


Anakku balas dengan dorongan, dan berhasil membuat Lembayung meringis lagi.. merekatkan pegangan, jemarinya kuat mencengkram jariku, hingga kuku nya yang tumpul pun membuat cetakan pada kulitku.


"Sabaar ya sayang... aku sayang kamu... I love you from the shape of my heart.... " Beralih mengecup pucuk kepalanya bertubi-tubi.


Dokter dan beberapa suster pun mendekat, mulai akan memeriksa istriku.


"Ayo silahkan baring dulu bu... kita lihat yaa.. " Seorang dokter pria mendekati Lembayung.


"Boleh saya permisi sebentar pak... " Katanya, aku langsung beranjak lalu berdiri di dekat pintu sambil lekat memperhatikan istriku.


"Dokter Anna sedang dalam perjalanan..ibu sabar yaa.. sambil menunggu pembukaan sampai lengkap.Kita sekarang cek darah dulu ya... "

__ADS_1


Beberapa suster memeriksa Lembayung,


"Coba kita periksa dulu, sudah pembukaan berapa.. ini air ketuban nya sudah pecah dari kapan? " Tanya seorang suster paruh baya itu.


"Awww... Sejak satu jam yang lalu sus.. " Jawab Lembayung sambil memekik, saat suster itu memeriksa nya.


"Ini baru pembukaan 3..masih lama bu.. ibu sudah makan? " Tanya nya sambil membuka sarung tangan karet dan membuangnya ke tempat sampah.


"Sudah tapi tadi selepas maghrib.. " Kali ini aku yang menjawab.


"Makan camilan saja gapapa, dan banyak minum air putih ya! melahirkan butuh mengeluarkan banyak tenaga pak..Di tinggal dulu yaa.. "


Aku mengangguk lalu mendekati istriku.


"Di luar masih hujan? " Tanyanya sambil beranjak lalu duduk.


"Masih gerimis.. aku mau beli sesuatu dulu yaa.. kamu pasti lapar kan? "


"Jangaaaan! jangan tinggalin aku.. kamu harus tetep disini! " Cegah nya. Sambil meraih tanganku.


Aku pun tak bisa menolak permintaan nya.. selama 9 bulan kemarin aku tak bisa menemaninya melewati masa kehamilan. Baru 3 hari ini aku keluar dari lapas.. baru bisa selalu dekat dengannya, dan ia tak mengijinkanku kemana-mana.Kecuali shalat ke masjid dan ke kamar mandi.


"Pokoknya kamu harus temenin aku terus! " Ia Memeluk pinggangku dengan possesif. "it will be an unforgettable october.."


"Mhhm.. October full of joy and happiness.." Balasku mengelus kepalanya yang tertutup kerudung.


Ceklek.


Seseorang membuka pintu ruangan, dan ternyata itu adalah ibu.


"Lembayuuung... " Panggilnya sambil mendekati istriku dan langsung memeluk nya.


"Masih pembukaan 3 bu.. " Katanya manja, sambil menyenderkan kepala di perut ibu.


"Alhamdulillah.. Ayung harus kuat ya.. dulu ibu melahirkan senja lebih muda dari kamu.. Ayung pasti bisa, pasti kuat! "


Lembayung menjawab dengan anggukan. Merekapun mengobrol.. Dan ibu dengan sabar menyuapinya camilan yang ibu bawa.Meski beberapa kali terpotong karena suster berdatangan dan memeriksa nya berulang kali.


Waktu sudah menunjukkan pukul 5 subuh, aku habis pulang dari mesjid terdekat di sekitar Rumah sakit. Kulihat, Lembayung sedang terbaring menghadap ke kiri sambil memegang besi tempat berbaringnya kuat-kuat.


Ia sedang berdzikir, dan menutup mata sambil meringis.


Suster memeriksa lagi.


"Sudah pembukaan 8..sabar ya bu.. " Kata suster itu sambil mengganti kain yang sudah basah akibat rembesan air ketuban yang terus mengalir deras.


"Aku ga kuat Senja... aku mengantuk.. aku capeek.. " Keluhnya, memang dari semalam ia tidak tidur. Dan sejak sampai di Rumah sakit ia tak bisa memejamkan mata, karena terus meringis akibat kontraksi yang terus intens ia rasakan.


Satu jam berlalu..


Tak ada tanda-tanda dokter datang, padahal istriku terus meringis.


"Suster... ini istri saya gimana sus? kapan dokternya datang? kasian istri saya udah ga kuat.. "


"Sebentar ya mas.. dokter Anna sudah sampai, beliau sedang siap-siap. "


Ceklek.


"Bu Lembayung... baru 2 hari yang lalu yaa di periksa, ternyata anaknya sudah pengen cepat-cepat nih ketemu dengan ayah ibu nyaa... yuuk kita cek lagi. " Dokter Anna memeriksa pembukaan.


"Aww.. " Lagi-lagi istriku memekik.


"Pembukaan sudah lengkap... yuuk Bissmillah.. "


***

__ADS_1


__ADS_2