
Mamah Lembayung
"Mas.. tolong adzani Senja! gapapa mas? "
Mas Fadli mengangguk.Senja di gendong olehnya, lalu suami ku itu mengumandangkan adzan di telinga Senja.
"Alhamdulillah.. " Kami semua mengucap syukur.
"Aaaaw.. mas.. kontraksi nya kerasa lagi, ini lebih sakit mas..! " Aku kembali meringis menahan sakit.
"Mas mau panggil ibu bidan dulu.. " Dengan panik suamiku berlari meninggalkan ruangan.
"Aku mau membaringkan Senja di box nya,sebentar ya teh! " Iin berjalan sambil terseok meninggalkan kamar.
"Anakku... yang sabar yaa.. yuuk kita kerjasama sama mamah nak..! " Aku mengelus perutku dengan penuh sayang, berusaha mengajak bicara dedek utun untuk bekerja sama.
Ada beberapa studi yang menunjukkan bahwa rutin mengajak bayi berbicara saat masih dalam kandungan, dapat membangun sebuah ikatan emosional antara ibu dan janin.
Setelah lahir nanti, bayi yang sudah terbiasa mendengar suara ibunya akan merasa lebih tenang dan tidak mudah rewel setiap kali ibu mengajaknya berbicara.
Bahkan menurut penelitian lainnya menyatakan bahawa janin memiliki kemampuan dalam perkembangan psikologi dan biologis pada saat kontasepsi. Dengan demikian kemampuan mulai dapat bereaksi pada rangsangan luar.
Suara ibu dapat mempercepat denyut jantung janin karena lesatan sel syaraf janin. Inilah saat yang tepat untuk ibu hamil melakukan rangsangan atau stimulasi. Ketika janin mendengar suara ibu maka denyut jantung janin akan bergerak aktif.
Berbeda ketika janin mendengar suara orang lain dimana ritme jantungnya akan melambat.Saat ritme jantung janin aktif janin menyimpan kata-kata yang dikenal dengan istilah stimulasi kognitif.
"Ayo kita berdo'a nak.. Hasbunallah Wanikmal Wakil Nikmal Maula Wanikman Nasir ...cukuplah Allah sebagai tempat diri bagi kami, sebaik-baiknya pelindung dan sebaik-baiknya penolong kami."
Anakku bereaksi, ia menghentakkan kakinya hingga terlihat ada yang menonjol di bagian depan perutku.
"Kamu anak yang pintar.. anak shalihah nya mamah...! " Aku mengusap terus perutku dan anakku terus bereaksi.
"Neng.. sabar ya.. bu bidan sedang memeriksa pasien lain yang juga akan melahirkan. Jadi hanya ada asisten yang sekarang free."
"Huuuuuhhh... " Aku menghela nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan, seiring dengan itu pula kepala anakku terus mendesak.
"Gapapa mas..aku..aku masih bisa tahan.. huuuuhh..hhuuuuhh.. "
"Ibu.. coba saya periksa dulu sebentar ya.. oh ini sudah pembukaan 9,sebentar lagi.. sabar ya bu..! " Asisten bidan berdiri dan lalu bersiap menyiapkan peralatan untuk melahirkan.
"Ibu sudah makan? "
Aku menggelengkan kepala, sejak pagi memang aku hanya memakan camilan kue basah buatan ibu Inayah, ibu nya Iin.
"Harus makan bu.. ibu harus banyak tenaga! "
"In bawakan makanan teh.. ini makan dulu ya! " Iin datang membawakan sepiring makanan.
Disaat seperti ini, aku benar-benar tidak naf** makan.. apalagi karena sudah pembukaan 9 posisiku harus berbaring dan siap-siap melahirkan.
Aku menggeleng."Ga mau In.. ga bisa.. Huuuhh.. " Dengan teratur menghela nafas di saat sakit dan mulas yang hebat ini semakin sering kurasakan, seolah ada tekanan ingin buang air besar di sini juga.
"Akuuu ga kuaaat.. bu bidaaan.. tolooong.. ayo cepat ini sakit banget.. Ya Allah! " Aku menggenggam tangan suamiku yang terus berdzikir dan meneteskan airmata pilu.
"Sebentar ya bu.. sabar.. sebentar lagi ibu bidan datang, beliau juga sedang membantu melahirkan pasien lain! "
"Kenapa mendahulukan pasien yang baru datang bu.. ini kakak saya sudah mau melahirkan! " Kata Iin pada sang asisten bidan yang terlihat agak kegugupan.
"Ini di luar kuasa kami bu.. pasien itu datang saat ibu Fatimah masih pembukaan 7 tadi."
Perdebatan terjadi antara asisten dan Iin, sementara suamiku hanya terus berdzikir dan lebih memperhatikan dengan menyeka keringat dan mengelus punggungku menenangkan.
"Haahh.. huuuuuuhhh.. ini... ini.. mau keluar buuuu.. " Aku merasakan kepanikan luar biasa yang baru pertama kali ke rasakan.
__ADS_1
"Ibu jangan panik.. ayo buka perlahan bu.. "
"Maas.. "
"Bapak.. bolehkah saya saja yang membantu istri bapak melahirkan tanpa bu Bidan pa? saya sudah berpuluh tahun ikut beliau.. dan tahu apa saja yang harus di lakukan! ini... ini.. pembukaan sudah sempurna pak.. keadaan ibu lemah, bayi harus segera keluar! "
"Baik.. silahkan bu.. saya percayakan pada ibu.. Bissmillah memohon pertolongan Allah.. "
Asisten bidan mengangguk.
"Bu Iin.. boleh bantu saya bu? "
Iin pun segera mendekati asisten bidan dan membantu di samping nya menyiapkan apa saja yang beliau minta.
"Ayoo tarik nafas buu... buaang perlahaannn.. naah seperti itu.. lepaas! ayo ini kepala bayi sudah setengahnya bu.. "
"Haaahhh... huuuhhh... nngggggg! "
"Jangan berhenti bu.. sedikit lagi! "
"Nnnnggg.... "Akupun mengejan sekuat tenaga.
"Hasbunallah Wanikmal Wakil Nikmal Maula Wanikman Nasir .."
"Oeek.. oeekkk... oeeek.. "
"Alhamdulillah.. Alhamdulillah.. ibu hebat.. anaknya sudah lahir bu.. selamat anak ibu perempuan.. lengkap...cantik sekali seperti boneka..! "
"Aku capek mas.. aku mau tidur sebentaar.. "
Aku terkulai lemas tak berdaya dan menutup kedua jendela mata untuk mengistirahatkan raga yang tak kuat lagi menahan kelelahan.
***
"Oeek.. oeekkk... oeeek.. "
"Alhamdulillah.. Alhamdulillah.. ibu hebat.. anaknya sudah lahir bu.. selamat anak ibu perempuan.. lengkap...cantik sekali seperti boneka..! "
Airmata terus mengalir seiring dengan lahirnya anak pertamaku.. anak yang selama ini kami idam-idamkan selama 3 tahun pernikahan.
Sungguh.. aku tak kuasa melihat istriku mempertaruhkan nyawa antara hidup dan mati seperti itu.
Seketika teringat ibu di Pasuruan.
Maafkan aku bu..
Maafkan anakmu ini!
Inilah sebabnya, Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam ,saat di tanya siapa yang harus kita perlakukan dengan baik,dan utamakan lebih dulu?
yang pertama, Ibumu..
kedua, Ibumu..
Ketiga, Ibumu..
Lalu, ayahmu.
...“sesungguhnya Allah berwasiat 3x kepada kalian untuk berbuat baik kepada ibu kalian, sesungguhnya Allah berwasiat kepada kalian untuk berbuat baik kepada ayah kalian, sesungguhnya Allah berwasiat kepada kalian untuk berbuat baik kepada kerabat yang paling dekat kemudian yang dekat.” (HR. Ibnu Majah, shahih dengan syawahid-nya)...
Proses melahirkan adalah proses perjuangan hidup dan mati. Betapa tidak, saat proses melahirkan, Melahirkan adalah ujung dari proses penantian yang panjang selama kehamilan.
Rahim ibu yang sedang mengandung akan mengembang 500 kali lipat dari ukuran normal untuk menampung kandungannya.
__ADS_1
Darah yang hilang melalui proses kelahiran normal adalah 500ml. Ini sama dengan setengah liter.
Badan manusia hanya mampu menanggung rasa sakit hingga 45 Del.Sedangkan selama bersalin ibu akan mengalami hingga 57 Del, sama dengan rasa sakit akibat 20 tulang yang patah bersamaan.
Sangat luar biasa bagaimana perjuangan ibu saat melahirkan.
"Aku capek mas.. aku mau tidur sebentaar.. " Ia tertidur beberapa menit setelah melahirkan.
Aku mengusap dan mengecup pucuk kepala istriku.
"Terimakasih sudah melahirkan putri kita sayang.. "
Sementara itu Iin, sedang sibuk membantu asisten bidan yang kini memotong tali pusat anakku. Kemudian mereka membersihkan dan lalu menimbang dan mengukur berat serta tinggi badan anakku.
"Ini anaknya pak.. silahkan di gendong, karna ibu Fatimah tertidur.. nanti tidak apa-apa letakkan bayi di dada ibu untuk IMD! "
"Alhamdulillah bayi perempuan yang cantik..., lahir tanggal 21 November 20** pukul 18.21 WITA.. dengan berat 2,6kg dan tinggi 48cm."
"Cantik sekaliiii.. Ma syaa Allah.. " Iin mendekat. "Namanya siapa? " Tanyanya.
"Lembayung.. sesuai dengan nama yang di inginkan Istriku! "
Iin tersenyum dan mengangguk. Lalu mengusap pucuk kepala anakku pelan. Sambil berkomat-kamit membacakan do'a.
"Kalau begitu saya ke ruang sebelah dulu ya mas Fadli.. saya juga sangat lelah, ingin tidur! "
"Astaghfirullah In.. tentu saja!kamu juga baru melahirkan malah langsung membantu istri saya..Terimakasih banyak In.. "
"Iyah mas.. " Iin berjalan dengan terseok menuju kamar nya.
Kasihan sekali gadis itu.. ia gadis yang sangat kuat.
"Lembayung anak papah.. suatu hari kamu harus berterimakasih pada tante Iin yaa.. karena ia sudah membantu mamah untuk melahirkan mu ke dunia.. suatu hari sayangi dan hormati tante Iin seperti mamahmu.. "
"Uugh.. " Istriku melenguh, setelah sekitar setengah jam tertidur.
"Maas.. ini anak kita mas? Ya Allah... " Ia menangis bahagia saat membuka mata, yang pertama kali ia lihat adalah Lembayung yang sedang tengkurap, meronta mencari sumber penghidupan nya. Naluri seorang ibu dan anak..
"Assalamu'alaykum cantik nya mamah yang shalihah.. welcome sayaaang! "
"Mas sudah memberi nama anak kita neng..!"
"Oh yaa? " Ia merespon lalu setelah itu kembali mengajak bicara anak kami.
"Lembayung.. "
"Alhamdulillah mas setuju dengan nama itu? "
Aku mengangguk. "Nama itu pemberian Iin..mas setuju, karena dia telah membantumu melahirkan meski ia sendiri masih merasakan sakit.. "
Airmata mengalir dari kedua bola mata istriku.
"Iyah mas.. kita berhutang budi sangat besar sama gadis malang itu! "
"Lembayung Maida Abdullah.. "
"Ma syaa Allah.. indah sekali namamu nak! "
"Artinya Lembayung hamba Allah (perempuan) yang rupawan,ayu dan cantik. "
"BarrakaAllah anakku sayang.. BarrakaAllah fiik.. "
Flashback off
__ADS_1
***