
Lembayung
Aku seneng banget.. akhirnya aku boleh keluar rumah, di usia kehamilanku yang sudah menginjak trimester kedua ini.
"Tapi harus di antar Pela.. ga boleh berdua aja sama Embun! "
Begitu kata suamiku tadi pagi saat aku ijin ingin bertemu dengan teman-temanku di Mall.
"Aku langsung pulang ke Bandung nanti sore, jadi ga akan nginep di Jakarta.. "
Katanya lagi, sesaat aku telah di beri ijin keluar rumah.
Sekarang, kami sedang berada di PVJ.. tempat biasa dulu aku dan teman-temanku nongkrong sebentar pulang sekolah untuk makan siang dan belanja keperluan.
"Embuunn.."
"Embuuuun sini peluk onty...! "
"Embuuuun... si cantiknya onty Risaa.. " Embun berhamburan berlari ke pelukan Risa.
"Ontyyyyy.... "
"Kangeeen banget! " Ucap Nindy sambil ikut memeluk Embun.
"Onty juga... kangen banget sama Embun.. ko Embun tambah cantik siihh? " Gadis tak mau kalah, mereka berempat berpelukan dan mengundang banyak perhatian pengunjung.
Aku hanya tersenyum melihat interaksi antara mereka, pasalnya.. baru juga beberapa minggu lalu, udah kangen-kangenan kaya ga ketemu 1 tahun.
"Eh.. ini adik kelas waktu SMA kan? " Tanya Nindy, saat melihat Pela duduk di sebelahku.
"Iyah teh.. Saya Pela.. " Jawab Pela sambil tersenyum ramah.
"Jadi Pela tuh ternyata yang nemuin aku di toilet dulu girls... pas waktu aku pingsan, pas hamil Embun.. aku baru tau, dia baru nyerita barusan.. "
"Masaa? makasih lho Pelaa.. " Ucap Risa sambil masih saja memeluk Embun.
"Kamu tuh Pela... Pelangi bukaan sih? " Tanya Nindy lagi mencoba mengingat-ingat dengan memegang kepalanya.
"Ko teteh tau? "
"Hahahha jelas tau laaah... nama Pelangi udah terkenal sampe kuping kita... itu lho.. kalian inget ga Ris yang berani lawan si Carla sama Rania pas dia ngelabrak di kantin.. inget ga? "
"Pas belain Ayung tea? "
"Iyah bener... aku inget.... kamu sekarang beda ihhhh... "Sahut Risa.
"Ga ada yang beda teh.. aku masih kaya dulu ko.. hehhe.. " Pela terkekeh.
"Cuma dia yang berani adu jotos sama siswa cowok di sekolah.. aku inget tuh ada adik kelas kita namanya siapa sih? Angkasa bukan? "Timpal Gadis sambil mengambil buku menu.
"Ngomong-ngomong gimana kabarnya dia? kalian pacaran ya?"
"Ngga ko teh... ihhh ngga ngga.. aku malah benci banget sama dia.. Naudzubillah deh.. ga mau inget-inget lagi! "
"Ehh.. hati-hati lho... lama-lama kamu suka. Tau ga setipis apa jarak antara benci dan cinta itu? " Tanya Risa pada Pela dan hanya ia jawab dengan gelengan kepala.
"Jarak antara benci dan cinta itu setipis kulit bawang! kamu kalau ga suka sama orang jangan sampe pake banget lho.. lama-lama malah jadi cinta! hahaha.. "Lagi-lagi Risa menggoda Pela.
Aku hanya tersenyum dan manggut-manggut mendengar percakapan mereka, sambil sibuk menyuapi Embun gelato.
Dan Embun pun menikmati nya sambil sesekali memperhatikan mereka bergantian.
__ADS_1
"Embun mau eumam? " Tanyaku mengambil buku menu. Dan Embun memilih salah satunya, Akupun lalu memesan menu yang di tunjuk Embun.
"Gimana kerjaan kalian? " Tanyaku penasaran karna dari tadi yang di bahas hanya Pela.
"Aku kan masih Koas.. setahun lagi, udah gitu UKDI...karna harus dapet STR.. Huuuhh masih lama mana harus ikut program internship..." Keluh Risa.
"Ya tapi kan itu pilihan kamu Ris... hasilnya juga kerasanya nanti kalau kamu udah jadi dokter spesialis.. "
"Iyah sih.. tapi liat kalian aku ko jadi kabita aja gitu kerja kantoran... hahaha.. "
"Jangan gitu ihh... orangtua kamu udah keluar biaya banyak banget buat nyekolahin kamu di fakultas kedokteran.. masa putus di tengah jalan sih! " Omel Gadis. Dan semua yang berada disitu menyetujui perkataan Gadis.
"Kalau kamu Nin?" Tanyaku.
"Belum ada panggilan.. ngelamar jadi sekertaris,biar dapet jodoh CEO.. kaya di novel atau drama Korea.. "
"Huush.. gimana kalau CEO nya udah punya anak istri dan udah tuir... hahahah... " Ledek Risa sambil tertawa.
"Ihhh.. ya Allah jangan atuuh.. aku berharap dia masih muda..tampan.. single dan kaya.. satu lagi ini yang paling penting.. Sholeh..! "
"Aamiin... ayo aamiin in dong.. siapa tau memang dia berjodoh sama CEO.. "
"Giliran Gadis niiihhhh.... cieeee... cieeee... gimana kabar nya si bule Italia? "
"Haah? siapa Dis? beneran kamu lagi deket sama bule? " Aku terheran-heran, setauku Gadis ga mau punya jodoh bule.
"Kamu ga tau Yung? waaaah... gimana sih sama calon adik ipar masa ga tau? " Sahut Nindy.
"Siapa?ka Rico? Gadis sama ka Rico? seriuuuus? " Aku membelalakan kedua bola mata, tak percaya.
"Iyaaah tuh... ka Rico Mengejar Cinta Gadis selama bertahun-tahun tapi belum ada hilal bakalan di terima.. "
"Kita kan beda keyakinan Nin.. aku ga mau, orangtuaku ngelarang.. katanya berat kalau udah nyangkut hal itu.. "
"Ga tauuuu... udah udah jangan bahas itu akh... pusing aku! " Gadis menutup kedua telinganya.
Kamipun lanjut bercerita banyak hal sambil makan, hingga waktu menunjukkan hampir waktu ashar.
"Ummaa... Ebun nantuuk.. " Tiba-tiba Embun merengek saat aku masih menyuapi nya makanan... Kebiasaan.Embun tuh dari dulu kalau lagi makan kadang suka tiba-tiba ngantuk.
"Ya udah.. bentar lagi kita pulang yaa... "
Embun pun mengangguk.
"Guys.. aku ga bisa lama-lama nih.. liat anak aku udah berat matanya, pasti di mobil bobok nihh... "
"Iyaah iyaah deh... ibu ibu... heheh! "
"Kalian juga nanti ngerasain gimana jadi ibu... makanya udah mulai cari jodoh gih... udah mau 25 taun lhoo.. "
"Mentang-mentang deh nih umma nya Embuuun... "
"Hihhi.. " Aku terkekeh. "Pel.. kamu yang bawa mobil yaa.. " Aku menyerahkan kunci mobil pada Pela.
Tak lama berselang, aku.. dan Pela berpamitan. Mereka bertiga katanya mau lanjut shopping mumpung masih ada di Mall.
"Pel... "
"Iyah teh.. "
"Anter teteh ke rumah mamah aja ya.. kamu bawa mobil ke rumah, nanti teteh mau minta jemput a Senja.. "
__ADS_1
"Oh iyah boleh teh... "
"Makasih Pel udah mau anter teteh ketemu temen-temen.. A Senja tuh ga ngijinin kalau ga pergi sama kamu.. "
"Hehhe iyah lah teh.. A Senja ga pernah berubah ya.. makin bucin malah sekarang sama teteh.. "
"Akh kamu mah bisa aja.. ngga ko.. teteh juga sama.. malahan teteh yang lebih posesif.. "
Kami berjalan sambil bercerita hingga akhirnya sampailah kami di parkiran basement.
"Sayaaang... "
Aku menoleh ke arah sumber suara, suara yang amat sangat aku hafal. Siapa lagi kalau bukan suara suamiku. Ia berjalan mendekatiku.
"Babaaaaa... " Embun berlari ke arahnya dan langsung ia gendong hingga tinggi, "Waaaahh Ebun tebaaaangg... " Katanya riang.
"Ehh.. ko udah ada di Bandung? katanya pulang sore? "
"Ga ada hal yang mendesak, aku juga udah ijin untuk cuti.. kita kan mau menemui ayah.. "
"Jadi beneran kita ikut ke Italy? " Tanyaku antusias.
"Iyah.. kita berangkat lusa.. "
"Lho.. ko cepet? "
"Aku kan udah urus semuanya dari jauh -jauh hari... "
"Hoyeeeee... " Embun bersorak riang.
"Ehh.. lupa, bentar aku bilang dulu ke Pela ya.. "
"Pel... kamu boleh pulang duluan... ternyata teteh malah di jemput disini.. "
"Iyah teh.. kalau gitu aku permisi ya teh... Dadaaah Embuuun! " Pela menyalakan mesin, dan mulai memegang kemudi untuk keluar dari parkiran.
"Hati-hati ya Pel.. "
"Assalamu'alaykum.. "
"Wa'alaykumusalam... " Aku berbalik dan mendapati suami dan anakku sedang tersenyum ke arahku. Senyum itu.. miliknya.
Dialah Senja..
Suamiku yang selalu berusaha membuat aku bahagia, menerima segala kekurangan dan kelebihan ku, dan selalu ada di sisiku baik suka atau duka. Dia tulus menyayangi ku selain keluargaku sendiri.
Dan bidadari kecil itu.. adalah Embun penyejuk mata dan hatiku.
Mereka adalah hartaku..keluarga kecilku.
Harta yang paling berharga milikku, karena kebahagiaan mereka adalah kebahagiaan ku juga.
Time spent with family is worth every second..
(Waktu yang dihabiskan bersama keluarga berharga setiap detiknya)
And I have a great family, I live an amazing life..
Dan Aku memiliki keluarga yang hebat, aku menjalani kehidupan yang menakjubkan.
***
__ADS_1
***