Lembayung Senja

Lembayung Senja
Postpartum Depression


__ADS_3

Senja


"Capek? " Tanyaku pada Lembayung yang sedang menyenderkan kepala nya di bahuku.


Ia pun mengangguk dan lalu tak lama kemudian terlelap.


Kami baru saja landing di Bandar Udara Internasional Zainuddin Abdul Madjid.


Kini berada dalam sebuah travel menuju Ampenan Mataram yang akan menempuh perjalanan kurang lebih 1 jam waktu setempat.


Karena Aku telah menghubungi ibu dari kemarin, dan ibu kini tengah menunggu kami di teras rumah nya saat kami sampai tengah malam.


"Lembayung.. " Ibu langsung memeluk erat Lembayung dengan penuh haru.


"Ibuuuuu.. Ayung kangen ibu.. " Dan istriku itu membalas pelukan ibu tak kalah erat.


"Capek ya? ayoo masuk.. " Ibu hanya menoleh sebentar ke arahku tanpa menegurku.


Sebenarnya yang anak ibu itu aku atau Lembayung?


"Duduk sayaang.. sebentar ibu bikinin teh hangat yaa.. " Ibu pun berlalu menuju dapur lalu tak lama kemudian kembali dengan nampan berisi 2 gelas teh hangat dan cemilan.


Aku mengedarkan pandangan..ruangan ini masih sama seperti dulu saat aku mengunjungi ibu.


"Kalau sudah habis minum nya, Ayung lebih baik istirahat yaa.. " Kata ibu sambil membelai surai Lembayung.


"Iyah bu.. "


"Ya sudah.. ibu duluan ke kamar. "


Lembayung pun mengangguk sambil meminum teh hangat sambil meresapi nya.


"Sudah habis? "


"Mhhmm.. ayo.. aku pengen tidur, ngantuk banget! "


Aku menuntun nya berjalan ke dalam sebuah kamar kecil di samping kamar ibu.


"Maaf yaa.. tempat tidur nya kecil, ga seperti tempat tidur kamu yang berukuran queen. "


"Gapapa ko.. aku mah tidur di atas tikar juga rela kalau tidurnya sama kamu.. hehhhe.. " Lembayung terkekeh.


"Udah pintar ngerayu nih istriku.. oh ya, disini lumayan panas..kamu mau pakai kipas angin? "

__ADS_1


"Boleh.. "


Kami pun tertidur bersampingan di atas tempat tidur dengan dipan kayu berukuran 1,2x2 mtr yang sebenarnya cukup untuk satu orang saja.Lalu aku membimbingnya berdo'a seperti biasa.


***


"Senja.. " Ibu memanggilku selepas aku pulang dari shalat subuh berjamaah di masjid terdekat.


"Iyah bu.. "


"Ibu mau bicara.. " Ibu pun menuntunku ke dalam kamarnya.


"Ini adalah alamat ayahmu.. yang ia berikan sewaktu dulu ia meninggalkan ibu. " Ibu memberi secarik kertas usang yang sudah berwarna kuning ke tanganku.


"Maafin ibu karena selama ini tak pernah bercerita tentang ayahmu.. maafin ibu yang selama ini tidak pernah memberi mu kasih sayang layaknya ibu terhadap anak nya.. dulu.. sewaktu kamu masih bayi berusia beberapa hari.. bahkan ibu sempat ingin membuangmu jika papuq inaq tidak mencegahnya.. "


Deg.


Aku tertegun mendengar penuturan ibu.


Flashback on


Ibu Senja


"Sebentar... " Teriak inaq dari dapur.


"Senjaaa... anakku.. kenapa kamu nangis terus? ibu harus apa? apa yang harus ibu lakukan? " Aku terus menggoyang-goyangkan tubuh mungil itu yang terus saja menangis kencang.


"Anakmu lapar In.. kenapa kamu ga coba ASI mu saja! kalau tidak di coba tidak akan keluar! "


"Sudah bu.. In sudah berusaha tapi ga ada yang keluar, ga tau kenapa! hiks.. " Aku mulai terisak menahan sedih karena tak bisa menyusui anakku. "Coba kalau ada teh Fatimah, ia pasti bisa bantu In.. dan ngasih tau apa yang harus In lakuin. " Keluhku menyalahkan keadaan.


Sudah 2 hari.. teh Fatimah,dan mas Fadli membawa anaknya Lembayung ke rumah sakit di Mataram. Bayi cantik itu setelah beberapa hari di lahirkan mengidap penyakit kuning karena bilirubin nya tinggi dan membutuhkan penanganan lebih intensif karena ia lahir secara prematur.


Aku kehilangan sosok teh Fatimah yang selalu menguatkanku dalam segala kondisi. Emosiku tidak stabil semenjak melahirkan Senja.


Ada kalanya di saat sedang merawat anakku, tiba-tiba muncul keinginan untuk menyakiti jika ia terus saja menagis tanpa henti.


Kadang aku mencubit nya.. memukulnya, dan dengan sengaja membiarkan ia berlama-lama dengan popok yang sudah basah akibat buang air yang terlalu sering. Aku capek.. aku lelah.. kurang tidur dan sakit di sekujur tubuhku masih sangat terasa pasca melahirkan tapi aku di hadapkan harus merawat bayi mungil yang tak bisa apa-apa. Ia hanya bisa menangis kencang memekakkan telinga.


Belum lagi celotehan-celotehan tetangga yang membuat sakit bukan hanya telingaku saja.. tapi hatiku merasakan perih di setiap kali mereka dengan gampang nya menghakimi ku.


"Ibu macam apa ga bisa merawat anaknya sendiri! "

__ADS_1


"Kemana suaminya? "


"Harusnya di paksakan ASI pasti bisa keluar! "


"Manja! "


"Eh.. itu anak di luar nikah ya? "


"Terima saja.. memang derita kamu!"


"Itulah akibatnya masih kecil sudah menjadi ibu! pergaulan macam apa! "


Dan masih banyak lagi kalimat-kalimat yang tanpa mereka sadari bukan membuat aku kuat menghadapi fase baru dalam hidupku.. tapi membuat aku depresi karena merasa tidak bisa menjadi ibu yang baik bagi anakku.


Bukan nya tegar dan semangat untuk sehat agar bisa merawat bayi.. Tapi aku merasa cepat lelah dan tidak bertenaga,mudah tersinggung dan marah baik pada inaq dan siapa saja.


Aku menangis terus-menerus,merasa gelisah tanpa alasan yang jelas.Dan mengalami perubahan suasana hati yang drastis. Sebentar tersenyum melihat anakku yang tampan.. tapi lalu beberapa menit kemudian sedih dan marah jika teringat ayahnya.


Aku kehilangan ***** makan atau justru tidak makan seharian,bobotku menurun drastis dan tidak dapat tidur juga.. jikapun tidur,tidak bisa terlalu lama.


Pernah saat memandikan anakku, entah di sengaja atau tidak.. aku sulit berpikiran jernih, berkonsentrasi, atau mengambil keputusan,Senja ku biarkan berendam di bak mandi nya begitu lama hingga ia menggigil kedinginan. Sontak inaq memarahiku dan segera membawa anakku itu ke bidan terdekat.


Semenjak itu, aku tidak ingin bersosialisasi dengan siapapun.Menutup diri dari segala hal..aku kehilangan minat terhadap kegiatan yang biasa disukai..Putus asa.


Seringkali berpikir untuk melukai diri sendiri dan anakku.


Puncak emosi yang tak stabil ialah pada suatu hari karena saking tidak tahan lagi.. Munculnya pikiran tentang kematian...


Iyah.. aku sempat ingin mengakhiri hidup. Ingin bunuh diri. Melukai diri sendiri dengan perlahan.


Aku mengalami Depresi postpartum atau postpartum depression yaitu depresi yang terjadi setelah melahirkan. Hal ini disebabkan oleh ketidakseimbangan zat kimia di otak dan dialami oleh 10% ibu yang melahirkan.


(Postpartum Depression merupakan kondisi yang lebih parah dibandingkan dengan baby blues. 


Setelah melahirkan, kadar hormon estrogen dan progesteron di dalam tubuh ibu akan turun drastis. Hal ini menyebabkan perubahan kimia di otak yang memicu terjadinya perubahan suasana hati.


Ditambah lagi, kegiatan mengasuh bayi dapat membuat ibu tidak dapat beristirahat dengan cukup untuk memulihkan dirinya setelah melahirkan. Kurangnya istirahat dapat menimbulkan kelelahan, baik secara fisik maupun emosional, hingga akhirnya memicu depresi pasca melahirkan. )


Melihat kondisiku yang semakin memburuk, inaq melarikan ku ke rumah sakit di Mataram. Di rawat selama beberapa hari dan di tangani oleh psikiater. Melakukan berbagai rangkaian pengobatan yaitu psikoterapi dan obat-obatan seperti obat antikecemasan dan antidepressant.


Setelah menjalani semua program pengobatan berminggu-minggu lamanya, akhirnya kondisiku membaik dan bisa pulang. Tapi inaq tidak mengijinkan aku tinggal bersama anakku.. aku tinggal bersama sanak keluarga di Mataram, sedangkan inaq merawat dan membesarkan Senja sendirian di Sumbawa.


***

__ADS_1


__ADS_2