
Senja
"Bye.. Lembayung..!" Dari jarak sekitar 3 mtr aku membalikkan badan dan berpamitan, sambil menyunggingkan senyuman.
"Bye.. " Jawab nya sambil melambaikan tangan dan manik matanya menyiratkan keheranan.
Tenyata.. sedekat itu berada dengan nya, membuat jantungku benar-benar berdetak tak karuan.
Sebenarnya ingin sekali berlama-lama mengobrol dengan nya.Tadi nya.. in my opinion ia bakalan jutek dan ketus terus. But I was wrong.. Dia ternyata asli nya sangat bawel dan cerewet. Dan.. juga ceria!
Aku benar-benar ga nyangka ia tahu namaku.. bahkan di saat ia melontarkan beberapa pertanyaan dan pernyataan aku ga tau harus menjawab apa.
Hey Senja! Apa yang kamu harapkan?
Harapan ku masih sama.. berharap aku takkan pernah berharap apa-apa ,iyah kan?
Tau dirilah Senja. perbedaan kita seperti langit dan bumi.
Lembayung..Aku tidak pernah mengharapkan sesuatu yang spesial dari mu, karena kehadiran mu saja pun sangat membuatku bahagia.
Akupun berlari kecil meninggalkan Saraga dan memutuskan untuk kembali pulang ke apartment. Sesampainya di apartment, aku langsung merebahkan diri di sofa. Mengambil rokok di atas nakas,meyalakan nya dan menghisap nya dalam-dalam seperti biasa.
Drrtt.. Drrtt..
Ponselku menyala.
Ibu Calling..
Disaat aku hendak mengangkatnya, ponselnya berhenti bergetar.
2 missed call.
Tadi disaat aku sedang bersama Lembayung, ibu menelpon..Tapi tidak aku angkat. Ada apa ibu menelpon ku?
Drrtt.. Drrt..
Ibu Calling...
"Ya Hallo..!" Aku menjawab dengan datar. Aku memang menyayangi nya, tak lepas dari ibu menyayangi ku atau tidak. Tapi aku tak pernah bisa menunjukkan nya.. jadi meskipun berbicara dengan ibu sekalipun.. bahasaku tetap datar.
"Senja.. besok ibu mau ke Bandung. " Katanya di seberang sana.
"Ada apa ibu ke Bandung? " Dasar mulut sia***.pertanyaan apa itu? bukankah kamu sebenarnya senang Senja?
"*Minggu depan om Hasan akan menikah*"
"Oh..bukan nya om Hasan di Kalimantan?"
__ADS_1
"Iyah tapi calon istrinya orang Bandung"
"Oh.. "
"Ya sudah ibu tutup dulu! "
"Bu.. " Belum sempat bertanya, ibu sudah menutup panggilan.
Aku menghembuskan nafas kasar,kembali menghisap rokok yang tinggal setengahnya.
Pernahkah ibu merindukan ku? setidaknya menanyakan kabarku. Apakah aku sehat? apakah aku sudah makan? bagaimana sekolahku?
Sudahlah.. mungkin ibu sedang sibuk, setiap kali menelan kekecewaan, aku selalu berusaha untuk tidak berburuk sangka padanya.
***
Ting.. Tong..
Suara bel berbunyi.
Aku baru saja selesai mandi, sejak tadi pagi hanya bermalas-malasan di sofa memainkan ponsel. sesekali duduk di balkon,dan dari lantai 10 bisa kulihat hiruk pikuk di bawah sana.
"Brooo.. "
"Woiii.. "
"Ngapain lo berdua? gue lagi ga mau di ganggu! "
"Seeet dah.. galak amat lo! lagi PMS? "Dion menyelonong masuk ke dalam apartement tanpa permisi, di susul Rian di belakangnya.
"Malam ini kita ngumpul di basecamp Ja! ada job dari bang Roy! "
"Job apaan? "
"Biasa kurir."
"Gue udah berhenti jadi kurir, sorry bilangin sama bang Roy! "
"Ga bisa gitu Ja.. cuma lu yang bisa bantu kita ngelakuin tugas kurir tanpa ketahuan. "Tegas Dion.
"Kali ini agak berat Ja.. doi yang pesen anak salah satu konglomerat, dia temenan baik sama anak-anak pejabat dan public figure, Sosialita bro.. kalau terhembus media bisa tamat! " Kali ini Rian panjang lebar.
"Kalian tau ga? bang Roy udah jadi inceran pihak berwajib! " Kataku geram."Kemaren-kemaren gue bantuin lo berdua sebagai temen, bukan pengen ngambil keuntungan! "
"Plis bantuin kita Ja! terakhir kali gue janji minta bantuan lo!" Dion memohon.
"Gue emang breng***,tapi gue ga mau lebih banyak bikin dosa dan kesalahan lebih lagi dengan bikin orang terjerumus sama narkoba. "
__ADS_1
"Lu berdua masih inget kan gimana hancur nya kita saat kehilangan Rama? " Seketika kejadian demi kejadian beberapa bulan yang lalu berkeliaran di ingatan.
Bagaimana hancurnya sahabatku di saat-saat terakhir nya menghembuskan nafas karena OD. Dari semenjak kejadian itu aku memutuskan untuk tidak lagi mengkonsumsi apalagi mengedarkan. Cukup peristiwa menyedihkan itu menyakiti kami.
"Tapi lo tau kan apa yang bakalan bang Roy lakuin kalau kita nolak perintah dia? " Kata Rian panik.
"Lebih baik gue benyok di hajar keroyokan, daripada harus jadi BD lagi bro. " Kataku frustasi.
"Lo ga setia kawan! " Tukas Dion.
"Justru karna gue ga mau kita lebih jauh lagi terjerumus! " Aku meremas baju Dion. "Setidaknya pikirin orangtua kalian kalau kalian ketangkep pihak berwajib! "
Aku melepaskan cengkraman tangan ku dari baju Dion, dan duduk di sofa sambil menyulut nikotin lagi.
"Mungkin kalau gue yang ketangkep, ga akan ada yang peduli sama gue! gue tau banget posisi orangtua kalian .lo sebagai anak salah satu orang yang punya jabatan tinggi di pemerintahan harusnya tau gimana akibat nya! " Tunjukku pada Dion.
"Dan lu.. bokap lo seorang perwira tinggi di kepolisian, harusnya lo ngerti! " Giliran aku menunjuk Rian.
Mereka menunduk bersamaan. Rian dan Dion berasal dari keluarga yang baik dan memiliki otoritas penting, Kehidupan mereka jauh lebih sempurna di bandingkan dengan ku yang selalu orang-orang bilang anak haram.
"Maafin gue Ja! "Dion menghampiri ku dan menepuk bahuku. Bergantian Rian merangkul ku sekilas lalu menonjok dadaku.
"Thanks udah ingetin kita! "
Aku tersenyum sinis kepada mereka.
***
Dion
Setelah rentetan kalimat yang di ucapkan Senja tadi, entah mengapa hatiku serasa tertohok.
Mengingat posisi orangtua ku, bisa saja kenakalan-kenakalan ku menjadi mo**k yang menakutkan bagi karier Papa .Karier yang di bangun puluhan tahun bisa dengan mudah hancur oleh ulah anak nya yang ga bertanggung jawab.
Mengingat peristiwa naas dan memilukan saat Rama meninggal akibat Over Dosis, hatiku sakit. Dia salah satu sahabat terbaikku selain Senja dan Rian.
Aku mengambil ponsel hendak mengirim pesan pada bang Roy.
Setelah mengirim pesan, aku beranjak ke dapur untuk mencari sesuatu yang bisa di minum.. tenggorokan ku kering dan haus sekali, membuka lemari es dan mengambil air mineral lalu meneguk nya hingga habis setengahnya.
"Dua bulan lagi kita ujian.. gue takut ga naik kelas bro! " Seruku, menghampiri Senja dan Rian yang sedang duduk di sofa.
Bila di bandingkan dengan mereka, nilaiku memang yang paling jeblok.
"Sampe kapan kita bakalan kaya gini terus? gue ga punya cita-cita.. "
"Cita-cita lo berdua apa? "
__ADS_1
***