Lembayung Senja

Lembayung Senja
Cemburu...


__ADS_3

Lembayung


"Pelaaa... "


"Iyaah teh... " Pela berjalan mendekatiku dengan tergesa.


"Jangan lari ihh.. kamu mah kebiasaan ati-ati tuuh rok kamu nyangkut ke sudut meja lagi.. hehhe. " Aku terkekeh, lucu sekali memperhatikan tingkah karyawanku yang satu ini. Pasalnya,dia itu sebenarnya anaknya agak tomboy dan sedikit ceroboh juga.


Karena tidak terbiasa memakai rok.. jadinya sering sekali nyangkut ke sudut meja dan akhirnya ia terjatuh.


"Hehhe.. iyah teh.. bisi penting jadi aku cepet-cepet.. ada apa teh? " Ia terkekeh sendiri sambil melinting ujung pasmina nya.


"Ini Pel... mba Chintya udah fitting gaun belum?" Tanyaku, karena acara wedding nya sudah dekat.


"Udah teh kemarin.. "


"Ada yang di renov ga? "


"Cuma kebesaran sedikit da, paling di kecilin 2 cm.. " Terangnya, sambil membawa jurnal dan membukanya,"Teh.. ada testimoni nih dari mas Reza dan mba Syahnaz.. trus ada juga komplain dari Teh Mia.. katanya kemarin makanan nya kurang banyak, harusnya prepare juga.. tapi kan kita mah ya nyediain pesenan dia aja kan teh? "


"Iyah gapapa... udah biasa komplain yang kaya gitu mah, kita juga harus terima masukan dari klien Pel.. biar kedepan nya lebih baik. "


"Iyah teh... Pela ijin pulang cepat boleh ga teh? ibu lagi sakit.. ga ada yang jaga, ade aku lagi sekolah.. " Wajah Pela berubah sendu.


"Sakit apa ibu Pel? "


"Kecapean kayanya teh.. makanya Pela suruh berhenti kerja.. tapi ibu nya keukeuh.. katanya udah puluhan taun kerja disana, ga enak.. "


"Tapi ibu harus merhatiin kondisi kesehatannya Pel.. kamu ajak ibu kamu ke dokter yaa.. nanti teteh transfer biayanya.. "


"Ga usah teh.. Pela ada da uang mah, kan kemaren baru gajian.. "


"Gapapa.. jug geura pulang, kasian ibu! "


"Iyah teh.. nuhuun.. Pela siap-siap dulu yaa teh.. "


Aku kembali memeriksa jurnalku.. masih banyak PR yang harus segera di handle karena ter pending kepergian kami untuk melaksanakan ibadah umroh selama kurang lebih 2 minggu kemarin.


Jika teringat kejadian Embun menghilang seperti saat di Turki rasanya aku sangat sedih.. aku merasa menjadi seorang ibu yang lalai menjaga putrinya. Oleh karena itu, aku memutuskan untuk lebih banyak menghabiskan waktu di rumah.


Menyerahkan management gallery kecil yang ku sebut butik ini kepada Pela karyawanku, memang sih... karyawanku belum banyak, baru 7 orang. Tapi kami benar-benar merintis usaha ini mulai dari nol tiga tahun lalu tanpa bantuan papah ataupun ayah Senja.


Sekarang, suamiku itu kembali di sibukkan dengan pekerjaan yang di berikan oleh ayahnya. Sepulangnya dari Turki 2 hari yang lalu, ia langsung bertolak ke Jakarta.


Times flies so fast for sure...


Begitu banyak cerita indah yang kami lalui bersama..


Bermula dari dia yang katanya menjadi pengagum rahasiaku sejak dulu..


Mulai dari gosip-gosip yang selalu saja di bahas oleh Nindy, Gadis dan Risa tentang si berandal sekolah. Entah mengapa.. aku pun mulai tertarik ke dalam hidupnya seperti kutub magnet yang saling melekat erat.


Lama kelamaan.. perasaan empati berubah menjadi simpati.. Perasaan nyaman berubah menjadi cinta.


Kasihan juga suamiku... Ia sangat sibuk akhir-akhir ini, sambil kuliah.. ia juga harus bekerja bolak balik Bandung Jakarta, belum lagi harus mengurus WO kami.


Aku?


Aku sudah melupakan impianku menjadi seorang Psikolog.. Akupun kuliah bukan untuk mengejar gelar ataupun impian, tapi untuk membuatku menjadi seorang ibu yang baik untuk anak-anakku.


Bukankah Al Ummu madrasatul ula?

__ADS_1


Seorang ibu adalah madrasah pertama untuk anak-anaknya. Aku ingin mengajari anak-anakku menjadi pribadi dan akhlak yang terbaik agar mencetak peradaban generasi yang lebih baik di masa mendatang.


Biarlah aku menjadi Psikolog pribadi bagi suamiku Senja...dan juga anak-anakku nanti. Menjadi penenang disaat ia gundah.. menjadi penyejuk dikala ia dahaga.


Cita-cita ku tertinggi saat ini ialah belajar menjadi seorang istri dan seorang ibu yang baik bagi keluargaku.


Cita -cita tertinggi setiap wanita muslimah ialah menjadi istri sekaligus ibu yang shalihah baik di dunia maupun di akhirat kelak.


***


"Embuuuunnn.. "


"Ummaaa.. umma udah puyaang? " Embun berlari ke arahku.


"Yuuuk.. kita pulang! " Ajakku, sambil menuntun jemari tangannya yang mungil.


"Hayuuu.. Ebun mau tidun.. " Katanya sambil mengucek-ngucek matanya.


Kami pun berpamitan pada enin yang sedang mengaji, dan mamah yang sedang masak di dapur.


"Di antar pak Asep aja pulang nya! "


Begitu kata mamah tadi saat aku pamit pulang. Dan kini kami sedang berada di dalam mobil menuju apartement suamiku.Karena apartement itu sudah tak lagi di tempati ibu..


Saat pak Asep memarkirkan mobil di depan halaman apartement , aku melihat sosok yang sudah lama tak kulihat sedang berdiri di depan sebuah mobil sport berwarna putih.


Aku membuka pintu mobil dan menuntun Embun untuk keluar.


"Nuhun ya pak..ini titip buat cucu di rumah.. " Aku menyerahkan 1 tas berisi makanan camilan kepada pak Asep.


"Aduuh.. neng meuni seueur kieu(banyak begini) hatur nuhun neng.. mangga pa Asep permios.. (saya permisi) "


"Iyah pak... sami2 pak.. mangga.. "


"Ayo sayang..Embun abis ini mau langsung bobok? " Tanyaku, tanpa memperdulikan sosok yang kini sedang berjalan ke arahku.


"Lembayuuung... "


Aku menoleh.


"Ayoo ummaa.. Ebun nantuk! " Rengeknya dan Embun menggoyang-goyangkan tanganku.


"Iyah ayo sayang.. "


"Lembayung tungguuu..! "


"Embun.. tunggu sebentar ya, ada yang panggil umma.. "


"Ciapa? " Ia mengerucutkan bibirnya.


"Aku cuma sebentar.. Lembayung, tolong kasih waktu sebentar aja.. aku mau ngasih ini! "


Aku pun terdiam,sambil masih menggandeng tangan Embun.


"Aku mau kasih surat undangan ini... " Pria itu menyerahkan sebuah surat undangan pernikahan ke tanganku,aku mengambil nya dengan cepat saat ia hendak menariknya lagi.


"Ini anak kamu? " Tanyanya sendu, dan hanya ku balas dengan anggukan. "Secantik ibu nya.. Hai cantik... siapa namanya? " Tanyanya lagi sambil mengelus kepala Embun yang tertutupi hijab.


"Ebun.. " Embun menjawab, lalu sembunyi di belakangku.


"Lembayung... " Ia mengulurkan tangan, dan hendak meraih tanganku,tapi...

__ADS_1


Buuuugh...


Tiba-tiba suamiku datang dan memukul pria di depanku dengan keras.


Deg.


Aku terkesiap. karena sangat terkejut.


"Awas! kalau sekali lo datang ke hidup istri gue.. lo bakalan tau akibat nya! " Ancam suamiku sambil mencekram baju nya.


"Cihh.. " Pria itu berdecih lalu berlalu meninggalkan kami.


Senja suamiku menggendong Embun dan tak menghiraukanku.Di dalam lift pun, ia sama sekali tak berkata apa-apa.


"Babaaa... Ebun nantuk.. " Embun menyenderkan kepala di bahu Senja dan langsung tertidur.


Bagaimana ini?


Aku ga berani berkata-kata, karena baru kali ini suamiku itu marah dan mendiamkanku seperti ini.


Setelah sampai di pintu, ia langsung masuk ke kamar Embun dan membaringkan nya di tempat tidur.


Hhh..


Aku menghela nafas panjang, membuka hijab dan lalu masuk ke kamar mandi untuk mencuci wajahku. Mengurungkan niat untuk membersihkan diri.. karena yang utama sekarang adalah meredam emosi suamiku.


Setelah di rasa cukup tenang, aku langsung bergegas ke dapur dan membuatkan suamiku itu kopi.


"Sayaaang.. " Aku menghampirinya yang sedang membuka jas dan melonggarkan dasi. "Sini aku bantu.. " Dengan sigap, aku membuka dasi dan meraih tangan nya.


"Mau mandi dulu? atau makan dulu?aku siapin air anget yaa.. biar kamu rileks.. pasti capek baru dari luar kota! " Ujarku dengan nada hati-hati takut ia marah lagi.


Dia masih terdiam dan membisu, membuka kancing atas kemejanya, lalu duduk di sofa.


Aku mengambil kopi yang tadi kuletakkan di meja, dan menyerahkannya, "Di minum dulu deh kopi nya.. nanti keburu dingin.. aku mau nyiapin air dulu yaa.. " Aku pun beranjak, tapi tiba-tiba ia menyimpan kopi kembali dan serta merta menarik tanganku paksa hingga aku pun terjatuh ke pangkuannya.


"Aku ga suka ngelihat dia nemuin kamu seperti tadi di belakangku.. " Ia mendekapku dari belakang dengan sangat erat. "And I'am a Jealous man.. apapun dan siapapun itu! jangan pernah ninggalin aku sayang..selama ini aku menahan diri tiap kali ada laki-laki yang ngedeketin kamu.. jangankan nyatain perasaan, laki-laki itu ngeliatin kamu lebih dari 3 detik aja aku ga suka! "


Aku tersenyum kecil, ternyata suamiku ini cemburu. Beberapa kali ia memang cemburu saat aku berkuliah.. karena beberapa mahasiswa dan senior mendekatiku dan menyatakan cintanya.


Tentu saja aku jujur pada mereka kalau aku sudah menikah dan mempunyai seorang anak. Sampai akhirnya suamiku mengantar jemputku pulang pergi kuliah jika ia sedang ada waktu senggang.


Selama ini jika ia cemburu..ia tak pernah mengatakannya. Malah, aku lah yang seringkali merasa cemburu pada rekan-rekan bisnis nya atau teman kuliah dia, jika ia ga mengabariku seharian saja.. aku langsung ngomel-ngomel ga jelas.


"I'am yours.... and In syaa Allah will be forever yours..!"


"Ya udah.. aku nyiapin air buat kamu mandi dulu yaa.. " Aku beranjak, tapi ia menahanku dengan sekuat tenaga.


"Jangan.. let me hug you for a second... aku buru -buru pulang ke Bandung karena kangen banget sama kalian.. Aku takut kamu kecapean harus ngurusin kerjaan di gallery trus ngurus Embun sendirian.. trus gimana kalau kamu masuk angin lagi kaya tempo hari saat kita di Turki.. "


"Aku kira.. aku hamil lagi.. ternyata aku cuma masuk angin.. eh tapi memang aku telat lhoo.. kenapa ya? huuh.. dari dulu masa periodeku emang ga teratur, padahal aku udah seneng kemarin.. " Aku mendengus sambil membalikkan tubuhku.


"Jadi gimana suami? mau makan dulu? aku siapin makanan... atau mandi dulu?aku siapin air nya...ataaau..? " Aku menarik tangan suamiku dan menuntunnya untuk masuk ke kamar.


Dan..


Solusi untuk mempertahankan rumah tangga menurut versiku.. meredam emosi dan kecemburuan.. meredakan kesalahpahaman dan merekatkan ikatan.


Adalah ..


And you know actually what I mean.

__ADS_1


***


__ADS_2