
Radith
Menghabiskan waktu berjam-jam tadi di Garuda Wisnu Kencana Cultural Park,lumayan menguras keringat juga.
Aku baru saja selesai menunaikan shalat Ashar, pacarku tersayang selalu mengingatkan ku tentang kewajiban yang satu itu.Padahal sebelum nya, kalau sedang sibuk aku kadang melewatkan nya. She is the best I ever had..
Kami semua sedang di perjalanan sedang menuju Pura Luhur Ulluwatu. Setelah sekitar 20 menit, akhirnya rombongan kami tiba.
Meskipun tidak berdampingan seat dengan nya, tapi aku sudah senang bisa satu bus dengan nya, itu pun setelah drama membujuk para guru.
Here we come..
Pura Uluwatu.
Pura Uluwatu juga terkenal karena tepat di bawahnya adalah pantai Pecatu yang sering kali digunakan sebagai tempat untuk olahraga selancar, bahkan event internasional sering kali diadakan di sini. Ombak pantai ini terkenal amat cocok untuk dijadikan tempat selancar selain keindahan alam Bali yang memang amat cantik.
Katanya kami akan menghabiskan waktu hingga petang disini.Menikmati indah nya sunset ,sambil melihat pertunjukan tari kecak khas bali dengan pemandangan matahari tenggelam.
Tari Kecak Uluwatu Bali dimainkan oleh 50 sampai 100 penari. Para penari laki-laki akan mengucapkan cak-cak-cak saat menari dengan menggunakan sarung hitam-putih.
"Sayang.. " Aku berteriak sambil berjalan menghampiri Lembayung yang sedang sendirian menyusuri pinggiran tebing yang memukau.
"Eh kak Radith.. "
"Hati-hati! kemana yang lain? "
"Aku pengen lihat sapuan ombak di bawah tebing ka." Ia pun berjalan semakin meninggalkan ku.
Saat akan mendekati Lembayung, ada seseorang yang menarik tanganku dari arah belakang.
"Ka Radith.. " Panggil orang itu.
" Carla.. "
"Ka Radith.. aku masih butuh kejelasan tentang hubungan kita! aku sayang banget sama ka Radith.. kenapa mutusin aku tiba-tiba? " Ia merengek."Apa karna cewek sok suci itu? " Tunjuknya pada Lembayung.
"Sorry Carla.. gue sebenernya ga pernah suka sama lo, gue sayang sama Lembayung! dan kita putus karna lo sering jalan sama cowok lain! "
"Ngga ka.. itu sodara aku ko.. beneran! kalau ga percaya ini aku telpon ya! "
"Ga usah.. udah ga ngaruh sama hubungan kita.. gue ga akan percaya sama omongan lo, Cck... kalau dia sodara ngapain kalian pake kis*** segala! " Aku berdecak dan dengan kasar melepaskan tangan nya.
Tak ku pungkiri, kenangan bersama Carla memang belum kulupakan sepenuhnya..
Apalagi, bersama dia..aku kerap kali melakukan skinship more intimate then another girl. meski tak sampai melebihi batas.
"Aku.. aku memang salah ka.. tapi kita ga ngelakuin yang lebih jauh.. Aku berani sumpah! aku rela nyerahin semua buat ka Radith."
Aku terperanjat mendengar penuturan nya. Mengingat kenangan-kenangan indah yang sudah pernah kita lewati bersama sebelum aku pacaran dengan Lembayung.
"Aku.. nunggu jawaban ka Radith.. aku di Room no.50!" Dia pun berlalu meninggalkanku dan sempat melirik ke arah Lembayung.
"Haah.." Aku mendengus.
Indecisive.
***
Senja
__ADS_1
Dengan antusias aku membidik banyak angle menjelang petang ini. Sambil menunggu digelar nya tarian kecak nanti pukul 18.00.
It's gonna be amazing sunset!
Pura Uluwatu merupakan lokasi pemujaan oleh Empu Kuturan. Pura ini juga menjadi lokasi peribadatan bagi agama Hindu di Bali yang dimana mayoritas agama masyarakatnya.
Pura ini terletak di atas batu karang dengan ketinggian sekitar 97 meter di atas permukaan laut, kurang lebih. Hal ini juga yang menjadikan pura ini diberi nama Uluwatu atau puncak batu karang dalam bahasa sansekerta.
Melihat dan berkunjung kesini memberi kesan Eksotis tapi juga Magis.
Aku melihat Lembayung tengah berjalan sendirian di pinggiran tebing. Rasa nya ingin sekali menemaninya.. ku urungkan saat kulihat Radith sedang berjalan menghampirinya.
Tapi perjalanannya terhambat karena di hadang oleh Carla, teman sekelasku. Bisa di bilang dia adalah salah satu dari cewek popular di sekolah karena kecantikannnya.
Aku pun kembali memotret pemandangan alam yang menakjubkan di hadapanku. Ciptaan Sang Maha Kuasa.
sumber: pinterest
Setelah waktu menunjukkan pukul 17.35 WITA. Semua berkumpul di Panggung yang desain seperti pertunjukan opera menghadap ke arah laut selatan.
Semua duduk saat tarian dimulai.
sumber:pinterest
Di tengah acara, kulihat Lembayung melirik terus arloji nya. Karena ini sudah hampir menunjukkan memasuki waktu Isya. Ia mulai kelihatan gelisah dan berbisik pada temannya.
See.. di saat orang-orang sangat menikmati pertunjukkan yang agak sedikit 'magis' menurutku. Dan semua seperti terhipnotis melihat betapa tarian tersebut membuat kita larut ke dalam cerita.
Aku berdiri dan menatap Lembayung yang juga sedang berdiri menatapku. Entah apakah 'sehati' itu memang ada? atau semacam telepati?
Komunikasi telepati yang tidak hanya membuat dua orang merasakan energi dan perasaan masing-masing. Otak pun terkoneksi, sehingga mereka bisa memiliki pemikiran yang sama di saat yang bersamaan.
"Kamu mau shalat ? " Suara lembut itu memenuhi indera pendengaranku. Seolah teriakan para penari yang meneriakan kata 'cak..cak.. cak..' tak terdengar sama sekali.
Aku mengangguk.
"Kalau begitu kita cari toilet yuk, aku mau wudhu.. kalau sejadah nya aku bawa ko yang sejadah travel. " Katanya lagi.
Aku membimbing langkah mencari toilet terdekat.
"Oh iyaaah.. aku kan pakai jam waktu Bandung! aduuuh Ayuung!" Seperti biasa dia menepuk dahi nya lucu.
"Aku juga lupa.. "Aku terkekeh. "Kamu mau nerusin nonton? " Tanyaku.
"Ngga akh.. aku ga suka! ga nyaman liat nya pake telanjang dada gitu! Ehh..?sorry! " Dia menutup mulut nya.
"Radith? " Tanyaku lagi.
"Gatau kemana tadi katanya ada perlu bentar. "
"Aku ijin guru pembimbing aja ya, kembali ke bus. udah ini dinner trus pulang ke hotel kan? kamu tunggu disini sebentar ya! "
"Ok.. aku juga mau kirim pesan dulu sama temen-temen ko. "
Aku pun mendekati pak Rahmat dan meminta ijin untuk duluan ke bus. Dan beliau mengiyakan.
__ADS_1
Kami berjalan beriringan menyusuri jalan setapak di pinggiran tebing.
Menikmati pemandangan alam yang sangat indah di sekitaran pura salah satunya hantaman ombak yang menerjang tebing menghasilkan buih – buih yang sangat cantik dilihat dari atas tebing.
Tapi kini mulai tak terlihat karena hari berganti petang. Matahari bergilir.. Matahari bergelincir.
...Lembayung Senja menjadi saksi...
...Aku dan kamu disini berdiri...
...Menatap semburat kemerah-merahan...
...Semburat merah bercampur ungu...
...Astron sang pusat tata surya...
...Sang mentari bergilir...
...Matahari bergelincir...
...Matahari beralih menuju peraduan nya....
...Ruang luas yang terbentang...
...Berhias kuning kemerah-merahan...
...Membentang di langit saat sang surya mulai terbenam...
...Mambang kuning....
...Lembayung Senja...
***
Lembayung
Aku menoleh ke arah kanan saat aku dan 'Dia' berjalan berdua menyusuri jalan setapak menuju parkiran.
Di atas sana, lukisan Indah karya Sang Maha Kuasa tercipta.
Lembayung Senja.
Aku jadi inget kata-kata Adekku Bintang waktu itu.
"Lembayung Senja.. indah banget aku bayangin nya! yang kebayang di pikiran saat denger nama kalian berdua, kaya lagi mandang warna langit!kalau lagi ada Lembayung itu pasti karna lagi Senja.." Begitu kata Bintang.
Dan saat itu.
Aku malah membayangkan indahnya melihat Lembayung Senja di pesisir pantai, sambil candlelight.. di bawah temaram lilin dan suara desiran ombak.
Unbelievable .
Seolah dejavu..dengan kata-kata yang pernah ku ucapkan. Kini aku dan dia disini. 'Kita' menatap Lembayung Senja seperti nama kita.
Apa ini?
Ada debaran aneh yang kurasakan saat bersamanya.
***
__ADS_1