
Kembali setelah membawa makanan dan barang-barang yang masih tersisa pada reruntuhan desa, Hyun Wo langsung membersihkan daging dan roti untuk segera ia makan dan memberikannya kepada Liliana.
"Kamu makan saja, tidak usah pikirkan hal itu dulu. Aku tahu bagaimana perasaanmu ketika ditinggal oleh kedua orang tua yang kamu sayangi, karena aku pernah mengalaminya," ucap Hyun sendu melihat Liliana masih tidak mau membuka mulutnya saat dia hendak disuapi.
"Bukannya kamu tidak mengetahui orang tuamu sebelumnya? Bagaimana bisa kamu merasakan perasaan ditinggal oleh orang tua, bahkan kamu tidak memiliki pengasuh sewaktu kecil," perkataan Liliana tersebut membuat Hyun melupakan dirinya sekarang, bahwa ia bukan Hyun Wo sebelum bereinkarnasi.
Liliana mengetahui latar belakang Hyun Wo tersebut karena sewaktu pemilik tubuh asli masih hidup, dia sering bercerita tentang pengalaman dirinya kepada Liliana hingga mereka berdua menjadi teman curhat yang akrab. Tak tanggung-tanggung keduanya saling menceritakan kisahnya maupun kehidupannya masing-masing.
"Ah... itu, aku cuma merasakan apa yang kamu rasakan saja, seakan-akan orang tuamu seperti orang tuaku juga."
"Ya ampun aku barusan mengatakan hal yang tidak jelas!" ucap Hyun dalam hati menyadari perkataannya terlalu gugup hingga menjelaskan apa yang muncul di kepalanya secara acak.
Reaksi Liliana berbeda dari yang Hyun Wo bayangkan sebelumnya, dia kini menunjukkan senyuman dan ekspresi tersipu diwajahnya. Membuat Hyun Wo sama sekali tidak mengerti. Kemudian dia membuka mulutnya menunggu Hyun Wo menyuapinya.
Walaupun begitu Hyun Wo masih merasakan rasa sakit dihatinya, ketika memandangi Liliana begitu kuat menahan rasa sakit dimatanya. Meskipun hanya anggapannya saja bahwa Liliana berpura-pura kuat.
Namun yang sebenarnya terjadi adalah Liliana telah diberi obat khusus oleh Luxia sehingga dia tidak merasakan rasa sakit dimatanya lagi. Dan Hyun Wo belum mengetahui akan hal itu.
Malam yang dingin membuat Hyun Wo harus tidur berselimutkan kain tebal yang ia dapatkan dari reruntuhan desa. Namun Liliana yang terus mengomel membuat Hyun Wo terpaksa tidur bersama dengannya, karena dia memaksa agar Hyun Wo mau tidur bersamanya. Dan mau tidak mau ia harus menuruti kemauan Liliana.
Alasan sepele itu diterima oleh Hyun Wo lantaran ia tidak ingin Liliana bersedih, apalagi setelah tahu Liliana mencintai tubuh tempat reinkarnasi Hyun Wo.
"Semoga saja esok adalah hari yang cerah dimana aku dapat berlatih dengan tenang..." ucap Hyun sembari memejamkan matanya.
Keesokan harinya, langit mendung terlihat jelas dari arah barat disertai angin kencang. Yang tidak memungkinkan bagi Hyun Wo untuk berlatih di luar, padahal ia ingin sekalian mengejek keadaan desa yang hancur dan rusak parah.
Maka ia memutuskan untuk melatih fisiknya didalam goa setelah sarapan pagi. Di sudut lain goa, kini Hyun Wo memutuskan untuk membuka penyerapan murni dalam dirinya. Setelah membeli item khusus yang dapat membuatnya memiliki penyerapan murni.
Poin Hyun Wo sebelumnya.
__ADS_1
[Pemberitahuan sistem]
Riwayat penukaran poin
-Skill Form remover : -20 poin
-Item Blood sword : -30 poin
-Skill existence changer : -25 poin
-Item khusus penyerapan murni : -1000
Bonus misi : 100 poin
Menyelesaikan misi tambahan : 1000 poin
Poin tersisa : 125 poin
Memahami apa yang dikatakan oleh Luxia, ia kini mencoba untuk tenang, fokus pada dirinya sembari menghirup udara dalam-dalam.
Hyun Wo lalu merasakan aura dalam dirinya yang perlahan-lahan menyebar ke seluruh tubuh, ada perasaan berbeda saat ini membuka mata.
Ia merasa jika dirinya lebih kuat dari yang sebelumnya, bahkan penglihatan matanya seperti telah ditingkatkan.
"Apakah seperti ini rasanya memiliki penyerapan murni?"
"Tuan mungkin merasakan hal yang berbeda setelah memiliki penyerapan murni, karena setelah memilikinya tubuh tuan bisa ditingkatkan menjadi lebih kuat dari sebelumnya. Serta dalam tahap pertama tuan juga bisa merasakan manfaat awal memiliki penyerapan murni."
"Ya, itu benar sekali. Aku jauh merasa lebih berbeda dari sebelumnya."
__ADS_1
Penyerapan murni memang memberi buff pada tubuh seseorang yang memilikinya seperti menambah kecepatan dalam bergerak, kelincahan, kewaspadaan, dan banyak lagi. Semuanya memiliki level tertentu agar dapat ditingkatkan lebih tinggi lagi.
"Aku ingin sekali menguji kemampuan diriku, jadi apa boleh aku mendapatkan misi ditengah hujan begini, Luxia?"
"Apa tuan nyakin? Bukannya diluar dalam kondisi hujan deras, lalu Liliana, dia sedang demam!"
"Apa!?"
Mengetahui bahwa Liliana sedang demam Hyun Wo mengurungkan niatnya untuk menguji kemampuan dirinya saat ini. Dan lebih mementingkan kondisi Liliana.
Tak ambil pusing ia pun langsung saja merawat Liliana dengan penuh kasih sayang, ia sudah menganggapnya seperti adiknya sendiri.
Kemudian mengompres kepalanya hingga demam Liliana menurun. Dan ketika Liliana bangun dia sudah merasa baikan seperti sediakala, karena demamnya sudah hilang. Hanya luka ditubuhnya saja masih terasa perih.
"Hyun adalah pria yang baik, ramah, dan penuh perhatian mau membantuku sampai sejauh ini. Lagi dan lagi, aku sadar dia selalu mengkhawatirkan diriku yang terluka ini setiap saat, kehadirannya bahkan selalu aku rasakan setiap waktu. Dia juga melakukan penyembuhan dan berbagai cara lainnya agar aku bisa merasakan kenyamanan ini. Aku harap dia selalu diberkati atas perilaku baiknya," ucap Liliana dalam hati beranjak bangun dari tempat tidurnya, berniat mencari Hyun untuk mengucapkan terimakasih padanya.
"Hyun... kamu dimana?" ucapnya memanggil Hyun yang sekarang tidak ada didalam goa.
Yang pada akhirnya Liliana menggunakan kekuatan supranatural demi mengecek keadaan sekitarnya. Kini tubuhnya terpisah dengan raganya yang sekarang ini melayang di udara mencari keberadaan Hyun Wo di setiap sudut goa.
Lama mencari tapi hasilnya nihil, Hyun Wo sama sekali tidak ditemukan olehnya. Akhirnya Liliana kembali pada dirinya lagi dan memutuskan untuk menunggu Hyun Wo, berharap dia tidak pergi meninggalkannya.
Jika saja dia masih memiliki mata mungkin kini ia akan menangis atau hanya sekedar mengeluarkan air mata, karena dirinya saat ini merasakan perasaan ditinggalkan lagi. Yang memang perasaan itu mengingatkannya pada kedua orang tuanya.
"Hyun... aku mau kamu bertanggung-jawab atas segala kehidupan ku kedepanya, aku mau kamu terus bersamaku, hidup dan mati. Pokoknya kamu harus menjadi suamiku apapun itu!" ucap lirih Liliana seperti orang yang mengigau dan menekankan kata di akhir kalimatnya.
Ia memang bersungguh-sungguh dan serius saat mengatakannya, bahkan dihatinya kini dipenuhi dengan kebaikan, perilaku, dan gambaran tentang Hyun. Seakan-akan Liliana sudah tergila-gila padanya.
"Haist... sepertinya ada yang memikirkan ku."
__ADS_1
Sebelumya Hyun Wo pergi tanpa sepengetahuan Liliana, dia pergi menuju ke puncak gunung sendirian di tengah guyuran hujan lebat. Demi mencari obat tanaman herbal guna mengobati bekas luka di mata Liliana.
"Aku membutuhkan obat tanaman obat itu guna menyembuhkan luka memar di badan Liliana."