
Pergerakan Lusius membuatnya melihat kerusakan di beberapa tempat yang diakibatkan oleh para monster. Lantaran dirinya dapat melayang di udara sembari mengamati.
Seorang peri yang mencintai kebajikan dan kebijaksanaan mampu membuatnya tenang dalam segala kondisi.
Melalui ketenangan itu Lusius dianugerahi sensor dalam diri, sensor yang memberinya penglihatan masa depan serta mengetahui kapan seseorang akan meninggal.
Saat ini, di satu waktu Lusius merasakan kematian banyak orang sekaligus. Dan akan terjadi dalam kurun waktu beberapa menit kedepan.
"Artificial soul," ucap Lusius seraya mengatupkan kedua tangannya. Lalu tiruan dirinya muncul hingga berjumlah sepuluh.
Mereka kemudian melesat menuju tempat yang sekiranya bahaya disana akan mengancam nyawa banyak orang.
Sementara diri aslinya menyelamatkan orang-orang tak memiliki penyerapan murni. Beberapa dari mereka terjebak dalam reruntuhan, ada pula yang dalam keadaan terluka parah sehingga berharap dirinya lebih baik mati saja.
Mendengar beberapa kali keluhan itu membuat Lusius tergerak untuk menyampaikan pesan kehidupan kepada mereka.
Melalui bantuan satu jurus ciptaannya, yaitu pembeda waktu. Lusius mampu menyelamatkan banyak nyawa tanpa membuang waktu lama untuk satu orang.
Mereka pada akhirnya memutuskan pilihan untuk melanjutkan hidup, meskipun anggota badan mereka tak lengkap seperti sediakala.
Tak lama tim penyelamat tiba di titik lokasi korban invasi ras monster yang telah dikumpulkan, Lusius memberitahukan titik itu sebelumnya kepada tim penyelamat tersebut.
Dan para korban itu sebenarnya orang-orang yang lolos dari pandangan tim penyelamat.
"Terimakasih atas bantuannya tuan Lusius. Saya tak menyangka anda kemari jauh-jauh untuk membantu banyak orang yang kami lewati, untuk itu kami minta maaf karena lalai. Dan sekali lagi saya ucapkan terimakasih," ucap ketua tim penyelamat merendah mengucapkan rasa terimakasihnya serta mengakui kesalahan mereka kepada Lusius dengan hormat.
"Sama-sama, aku kemari memang ingin membantu negara ini. Dan untuk itu, kalian lebih baik meminta maaflah kepada para korban," sahut Lusius sembari memandangi kerusakan di sekitarnya. Serta melirik kasian para korban.
"Baik tuan," ucap ketua pemimpin penyelamatan dengan nada patuh.
•••
Berbeda dengan ke sepuluh tiruan Lusius yang tengah menghadapi monster-monster dengan wujudnya begitu mengerikan.
Kemampuan monster itu bahkan mencakup area luas.
Monster ular dengan tubuh terdapat kaki kelabang dengan ekor ujung belakang kalajengking.
Selain gas putih memungkinkan seseorang tak dapat melihat saat terkena, ujung dari ekor ular dengan bagian mematikan dari kalajengking itu sangatlah berbahaya.
Mampu melubangi tanah sekaligus merusak tanah setelah pendaratan serangan itu, ketika di cabut.
Tanah dari material kuat itu bahkan terangkat dan menjadi serangan melesat berbahaya selanjutnya.
Wosh...× 13
Jleb.
Salah satu rumah menjadi saksi bisu betapa berbahayanya serangan itu. Rumah itu berlubang hingga pada akhirnya ambruk.
Lusius kini menghadapi serangan beracun dari sungut kalajengking yang dapat memanjang.
__ADS_1
Dash...
Detik berikutnya ia mendapati tekanan kuat dan mengejutkan dari bagian kepala ular itu. Kini membuatnya terpental serta terjebak dalam asap berakibat fatal itu.
Tubuh ular itu terangkat, serangan demi serangan di luncurkan pada kepulan asap yang sudah dalam kendalinya. Berisi seorang peri tengah terjebak. Monster itu yakin sekali.
Crakk.
Entah dengan cara apa Lusius sudah berada di belakang ular itu, kemudian melakukan gerakan unik dengan satu tangannya.
Yang pasti monster itu tak menyadari pengerakan mengancam sama sekali.
Seketika bagian-bagian dari tubuh monster itu terpotong-potong melayang di udara dengan darah kental berceceran.
•••
Tiruan lain dirinya tengah menghadapi monster yang masuk dalam kategori pilihan tetua monster.
Dengan tingkat bahaya tinggi, Lusius pun mengetahuinya. Sayangnya monster itu memiliki sifat psikopat.
Memilih membunuh manusia secara perlahan-lahan namun sangat menyakitkan ketimbang menggunakan kemampuan miliknya, yaitu gelombang kejut untuk melumpuhkan banyak orang dalam radius luas.
"Hehe.. ternyata ada lawan menarik dari ras peri. Lihat, aku menggunakan kepala-kepala ini untuk cincin hihihi...." ucapnya terkekeh memperlihatkan Lusius kepala beberapa orang di jari-jari monster itu.
Nyatanya kepala dari ras berbeda itu sengaja di tancapkan pada jari untuk menunjukkan koleksi membunuhnya.
Dan yang belum ada adalah kepala dari ras peri.
Jrash...
Tidak mendapatkan respon, monster itu langsung melakukan penyerangan dengan serangan listrik ke segala arah, lalu mengunci target.
Tentu saja Lusius menghindar dari serangan yang mengarah padanya, meskipun tubuhnya itu bukanlah yang asli.
Beberapa orang, dan ada dari ras best tipe kedua ikut membantu.
Sayangnya mereka terkena serangan listrik berbentuk akar-akar itu hingga membuat mereka terhempas menabrak apapun disekitar.
Dan di saat monster itu mencari-cari keberadaan targetnya.
Jleb.
Tubuh monster berwujud belut listrik tertusuk tiang lampu yang menancap tepat pada inti kehidupannya.
Sebuah jantung berdenyut terlempar, tidak tertusuk kini dipegang oleh Lusius.
"Sialan!!! Kembalikan!!!" berang monster itu seraya mendekati Lusius, dengan langkah terburu-buru.
Brakk!
Pukulan keras serta mematikan mengarah pada tubuh bagian samping berhasil Lusius hindari, lalu dirinya melakukan loncatan dan membuat lawannya terhempas jauh. Serangan balasan.
__ADS_1
Dash...
Brassh...
Bahkan membuatnya terseret-seret saat menyentuh tanah tak rata.
Kali ini ia tak membunuh ras pembuat kerusakan di tempat ini, yang bahkan membuat beberapa orang terluka serta terbunuh.
Ia memilih untuk mengendalikan monster berwujud belut listrik tersebut melalui jantungnya.
Mengingat kekuatan dari listrik pada tubuhnya dapat berguna nantinya.
Menggunakan aliran jiwa pengendali dan memasukkannya kedalam jantung berdetak tersebut, monster yang tergeletak hendak berdiri di sana kini terdiam.
Matanya membiru tanda tubuhnya telah dikendalikan, tak lain oleh Lusius.
•••
Berkat kedatangan Lusius tersebut banyak orang-orang yang terselamatkan. Dirinya bahkan bisa disebut tim medis sekaligus kesatria. Menolong dan berperang melawan monster-monster di garda depan.
Kini kemunculan monster semakin berkurang, ditambah para monster di permukaan hanya tersisa beberapa.
Raja Fredrick saat ini sedang menghadapi monster berwujud kesatria perang.
Monster dengan kemampuan unggul dalam pengerakan yang sungguh cepat, sembari melancarkan serangan-serangan mematikan menggunakan pedangnya.
Wujudnya bagaikan kegelapan pekat, lantaran di selimuti aura suram dan membunuh.
Ting!!!
Mereka terus beradu di langit dengan gaya dari pedangnya masing-masing.
Monster itu melesat serta menyerang bagaikan busur panah.
Srak.
Bug.
Monster itu menendang Raja Fredrick begitu keras setelah terkena goresan pedang di wajah. Membuatnya jatuh dengan kecepatan abnormal hingga merusak bantuan dari jurus penahan seorang Pahlawan.
Hingga pada akhirnya pemimpin negara ini ditemukan dalam keadaan sekarat pada lubang tercipta dari serangan monster itu.
Membuat pasukan pahlawan khawatir serta di satu sisi emosi mereka membuncah sambil memandangi monster kesatria itu.
Shut.
Mereka kemudian melesat secara bersamaan menuju musuhnya.
"Tunggu, kalian jangan gegabah!!" teriak Asaki pahlawan pertama kerajaan memperingati pasukannya.
Sayangnya, ucapannya itu tak di gubris serta terlambat. Pada akhirnya pasukannya itu tinggal sepotong daging.
__ADS_1
"Tsk...."