
"Oh ya, saya juga ingin menyampaikan sesuatu mengenai desa ini kepada anda. Saya tahu ini mungkin berat bagi anda sendiri yang sudah datang jauh-jauh kesini demi mencari tempat tinggal, namun harus saya sampaikan agar tidak terlambat," ucap pemilik rumah makan sembari menghela nafas kasar.
"Tidak apa, sampaikan saja paman."
"Dua hari lagi para penduduk desa terutama saya sendiri akan meninggalkan desa ini secara berkelompok menuju ke kerajaan Nyam El. Meski perjalanan kesana sangat jauh tapi kami harus melakukannya," tatapan pemilik tokoh terlihat menahan air matanya.
Hyun Wo memang sudah tahu bahwa penduduk desa akan meninggalkan desanya karena alasan serius tempat ini yang sering dilanda hujan terus-menerus tanpa henti selama kurun waktu 10 tahun.
Melirik sekilas pada lukisan bergambar ras manusia hidup berdamai berdampingan dengan ras monster Hyun Wo jadi terpikirkan ide guna mencegah para penduduk desa agar tidak meninggalkan kampung halamannya.
"Paman, aku mau tanya dimana tempat tinggal kepala desa?" pertanyaan Hyun barusan sontak membuat tuan pemilik tokoh terkejut.
"Heh? Kamu serius mau bertemu kepala desa?" tanyanya memastikan.
Melihat ekspresi terkejut wajah pemilik tokoh memberi artian bahwa dia memiliki informasi tentang kepala desa yang sama sekali Hyun Wo belum tahu.
"Memangnya kepala desa tidak ada di rumahnya paman?" tanya Hyun.
"Bukan begitu, yang saya ketahui kepala desa sangat sulit untuk ditemui. Hanya pada hari tertentu dan urusan penting saja dia keluar menampakan diri dari kediamannya."
"Kalau boleh tahu dimana kediamannya, saya ada urusan penting yang harus saya sampaikan pada kepala desa Vilyt?" ucap Hyun sembari menganti posisi duduknya.
Sembari menghela nafasnya pemilik tokoh hendak menjawab pertanyaan tamunya "Kediamannya tidak jauh dari sini kamu tinggal lurus saja pada jalan setapak lalu belok kiri jika menjumpai rumah reyot nanti akan terlihat jelas kediaman megah dan besar, itulah kediaman kepala desa!"
Tak lupa mengucapkan terimakasih kepada pemilik rumah makan Hyun lalu meninggalkan tempat ia menyantap makanan lezat disana setelah membayar tagihan.
Padahal sangat disayangkan sekali jika desa ini terancam akan ditinggalkan dilihat dari segi pertahanan desa yang sangat strategis. Pikir Hyun Wo selama memikirkan tentang nasib desa saat penduduknya mulai pergi.
Dibalik keuntungan tersebut ada juga kerugian tinggal di desa Vilyt, dikarenakan hujan yang mengguyur desa terus-menerus tanpa henti.
Mengikuti petunjuk dari paman pemilik rumah makan Hyun Wo bersama dengan Liliana dan juga Sayuri berniat pergi bersama-sama menuju kediaman kepala desa.
Beberapa menit mereka berjalan sampai Hyun Wo melihat rumah reyot sebagai patokan dirinya untuk belok ke kiri menurut petunjuk yang didapatnya.
__ADS_1
"Ini patokan sebagai petunjuk agar kita berbelok, ya, persis seperti yang dikatakan oleh paman pemilik rumah makan. Ada rumah reyot diantara jejeran rumah-rumah penduduk."
"Maaf... boleh saya pergi sebentar untuk memberikan makanan ini kepada nenek saya?" ijin Sayuri merasa tidak enak kepada dua orang yang baru dikenalnya.
"Boleh, tidak masalah buat kami. Dan sekalian saja kami berkunjung kerumah mu," sahut Hyun mengijinkan Sayuri untuk pulang kerumahnya, Hyun juga mengusulkan bahwa dirinya dan Liliana berkunjung kerumah Sayuri.
"Eh? Tapi... rumah saya berantakan, saya tidak ingin anda merasa tidak nyaman saat didalam."
"Tenang saja, kami tidak seperti kebanyakan orang-orang lain yang mengomentari tempat tinggal seseorang hanya dilihat dari tampilan luarnya dan dalamnya saja," ucap Hyun mengucap kata-kata yang muncul di kepalanya untuk diucapkan.
Sayuri pun mengangguk faham apa yang dikatakan oleh Hyun barusan dalam pikirannya Hyun adalah orang yang baik yang tidak memandang status kedudukan seseorang.
Liliana bergelayut manja pada lengan suami perannya menandakan dia menyukai apa yang Hyun Wo katakan.
Sehingga pada akhirnya Sayuri bertindak sebagaimana menyambut kedatangan tamu.
"Jadi rumah reyot ini adalah tempat tinggal Sayuri, aku baru mengetahuinya saat dia meminta untuk pergi pulang, serta alasannya membungkus pesanannya untuk dibawah pulang," ucap Hyun dalam hati mengamati sekitaran rumah reyot Sayuri yang hampir mirip seperti rumahnya sebelumnya.
Kesan pertama Hyun Wo saat memasuki rumah Sayuri untuk pertama kalinya adalah ekspresi terkejut. Ya. Itu karena didalamnya lain sekali dengan penampilan luarnya yang bisa saja roboh menurutnya ketika terkena angin kencang.
Ruang tamunya minimalis menurutnya dan sangat elegan untuk rumah sederhana ini.
Di kamar nenek Sayuri.
"Nenek... aku pulang, aku bawain makanan hangat untuk nenek," ucap lembut Sayuri sedang membangunkan neneknya yang sedang tidur.
Neneknya pun perlahan membuka matanya kemudian beranjak bangun dibantu oleh Sayuri. Keadaan nenek kini sangat memprihatikan karena tidak bisa lagi bergerak seperti orang normal, karena kakinya lumpuh total.
Hanya bisa berharap pada cucunya beliau untuk makan dan membantunya dalam melakukan aktivitas sehari-hari.
Kedua orang tua Sayuri meninggal sejak ia masih dalam kandungan karena dulu orang tuanya adalah dua kesatria kerajaan yang sangat terkenal pada masanya.
Setelah memberitahu ada tamu yang datang nenek Sayuri langsung menanyakan perihal tamu tersebut meskipun nafasnya agak sulit saat berbicara.
__ADS_1
"Apa dia seorang pria nak?" perlahan sampai Sayuti memahami perkataan neneknya.
"Emm ada nek, dia bersama..."
Belum selesai bicara neneknya langsung memotong perkataan dan berbicara.
"Suruh dia kemari menemui nenek, ada yang ingin nenek sampaikan padanya!" perintah nenek Sayuri yang tidak bisa Sayuri sendiri tolak melihat keadaan neneknya sekarang.
Ia pun kembali keruang tamu dan menjelaskan perihal perintah dari neneknya tersebut kepada Hyun Wo dan juga Liliana. Ia bahkan meminta maaf sebesar-besarnya karena merepotkan mereka berdua, padahal ia baru kenal beberapa saat yang lalu.
Liliana memperbolehkan Hyun untuk melihat nenek Sayuri agar beliau tidak menunggu lama.
Memasuki kamar nenek Sayuri, Hyun Wo bersikap sopan dengan melepas sandal yang dipakainya. Lalu menghampiri Sayuri yang sudah ada di samping neneknya.
Tatapan penuh harapan Hyun Wo fahami dari pandangan mata nenek Sayuri.
"Nak, ada yang ingin nenek sampaikan kepadamu, tolong jaga cucu saya untuk kedepannya karena sebentar lagi saya akan pergi," ucap nenek Sayuri membuat cucunya berlinang air mata saat mengengam erat telapak tangan neneknya.
"Tentu, sebisa mungkin saya akan menjaga cucu anda dengan baik untuk kedepannya, saya rasa anda harus bertahan demi cucu anda," pinta Hyun.
Ruang Hyun Wo berbicara dengan sistem.
"Luxia, menurutku nenek Sayuri menderita suatu penyakit, apa itu benar?"
"Benar sekali tuan, penyakitnya itu masuk kedalam penyakit kronis yang jaman ini belum ditemukan obatnya, penyakit kronis seperti di era anda tuan, yaitu penyakit jantung. Serta nenek gadis ini mengalami kelumpuhan pada kedua kakinya secara permanen!"
"Ternyata benar, kalau boleh apakah kamu bisa menyembuhkan penyakitnya itu, Luxia?"
"Maaf tuan, saya tidak bisa menentukan takdir nenek gadis ini."
Saat tubuh nenek Sayuri sudah mencapai batasnya dan nafas sudah di tenggorokan, beliau mengucap jika Hyun Wo harus menikahi cucunya.
"Nenek... hiks... hiks.."
__ADS_1