
"Mudah saja, aku mengetahui apa yang akan terjadi!" jawab Elisha sembari menatap ke arah kakaknya serius.
"He.. aku baru tahu, baguslah jika kamu memiliki kemampuan seperti itu. Masa depanmu bisa dirancang sedemikian rupa dimulai dari sekarang."
"Tunggu, sebelumnya kamu mengatakan padaku bahwa kamu akan ingin menemui seseorang yang sangat berarti, bukannya itu sama saja kamu sudah mengetahui masa depanmu dengan..."
Hyun Wo kemudian datang dan menyela pembicaraan mereka, mengingatkan bahwa ada seseorang sedang tidur. Suara mereka bisa saja membangunkannya.
Seseorang yang dimaksud Hyun Wo barusan adalah Momo siapa sangka kini dia benar-benar terbangun dari tidurnya, persis seperti akibat yang dikatakan olehnya.
"Mmm aku dimana...? Kenapa ada banyak orang disini? Hyun..." ucap Momo mendesah pelan sembari mengedarkan pandangan matanya yang masih kabur melihat keadaan saat ini.
"Selamat siang Momo, maaf menganggu waktunya tidurmu," sahut Hyun dengan senyum ramah tak jauh darinya. Melihatnya dan sadar akan kondisi saat ini membuat Momo membuka matanya lebar-lebar kemudian bersikap sewajarnya.
Tak lama masakan Amaryllis telah masak dan kini sudah disajikan secara cepat berkat bantuan Momo dan Elisha.
Mereka lalu berada di ruang makan sembari menunggu kedatangan dua orang yang kedatangannya tengah dinanti-nanti. Atas saran Hyun Wo.
Sembari menunggu, mereka memanfaatkan waktu ini untuk berbincang-bincang dan saling mengenal satu sama lain agar lebih akrab.
Bahkan Elisha berkenalan dengan Momo dengan antusiasnya, meskipun tidak memperlihatkan wajahnya itu.
Dalam pembicaraan Cyrus sempat mengungkit aksi Hyun Wo saat berada di arena pada sebuah turnamen bergengsi bertempat di Colosseum.
Yang menurutnya begitu memukau cara bertarung Hyun Wo pada saat itu, ketika berhadapan dengan lawan-lawan terkuat.
Walaupun di awal-awal sempat dicaci dan dicemooh oleh para para penonton lantaran cara menangnya di ronde pertama tidak disangka-sangka, terbilang seperti seorang pecundang menurut mereka.
Tapi pada akhirnya Hyun Wo mengubah persepsi mereka, ketika berhadapan dengan lawan terakhirnya di final.
Sebuah kemenangan yang jelas jika Hyun Wo bukanlah seorang pecundang yang seperti mereka katakan sebelumnya.
"Kakak terlalu banyak memuji dan membicarakan Hyun, apa kakak tertarik dengannya?" ucap Elisha sembari menatap lekat kakaknya yang duduk di seberang sana. Ada ekspresi tak suka pada saat menatapnya, sampai menunjukkan pipi kembungnya.
"Huh? Aku hanya menceritakan kilas baliknya yang begitu enak untuk dibicarakan. Dan aku ingin menjadikannya sebagai guru, bila perlu."
Amaryllis tidak menanggapi, sedangkan Hyun Wo bersikap seadanya dengan menunjukkan senyum simpulnya.
"Tidak, bukan sebagai guru. Tapi kakak bisa memanggilnya kelak kakak ipar!"
__ADS_1
Selain Elisha mereka yang tengah berada di sana dan mendengarnya dengan jelas dibuat terperangah.
Suasana kemudian menjadi hening dalam sekejap hingga Hyun Wo membuka mulutnya.
"Apa maksud perkataan tuan putri, maaf jika saya lancang ingin mengetahuinya?" tanya Hyun.
"Aku kesini sebenarnya bermaksud untuk... melamar mu, Hyun..."
Sementara Hyun Wo dibuat terbang ke angkasa dalam angannya.
Brak!
"Dia itu tunangan ku!"
Seseorang membuka pintu ruangan ini yang sebelumnya tertutup setengah dengan kerasnya, lalu menunjukan jarinya kepada Hyun Wo.
Dia adalah Liliana yang baru saja sampai dan kebetulan mendengar ucapan Elisha barusan.
Sayuri, Momo, Amaryllis, Elisha kini memasang ekspresinya masing-masing.
Pandangan Liliana pada Elisha pun berlangsung sengit mereka saling menatap tajam satu sama lain dari kejauhan.
[Pemberitahuan sistem]
"Tuan ternyata populer ya dikalangan perempuan, bahkan putri raja pun sampai terpikat hingga melamar tuan secara terang-terangan."
"Entahlah, aku tak habis pikir dengannya. Kemungkinan Elisha sempat melihat masa depan dimana aku menjadi suaminya!"
"Mungkin saja tuan, apalagi hal itu timbul dari percabangan waktu yang tuan buat. Misalnya saja tuan tidak pernah bertemu dengannya, mungkin..."
"Ya, aku mengerti gambaran hal yang dilihat oleh Elisha. Penglihatannya itu bukan benar-benar takdir, dia hanya bisa melihat sesuatu hal yang bisa terjadi saja. Sementara takdir masih dalam ribuan cabang waktu yang dilihatnya!"
"Tuan memang mudah mengerti seperti biasa, tapi saya sarankan tuan harus bertindak bijak. Karena keputusan tuan saat ini akan berpengaruh di masa depan!"
Hyun Wo kemudian beranjak dan menyambut kedatangan Sayuri maupun Liliana terlebih dahulu.
Memotong tatapan tajam Elisha dan Liliana begitu saja dengan kehangatan dan keramahannya.
"Baik, bisa kita bicarakan dengan kepala dingin?" ujar Hyun sembari menunjukkan senyumannya lagi saat mereka berdua telah berkumpul di satu meja makan lumayan panjang itu.
__ADS_1
Tidak ada jawaban setelahnya, sampai Elisha mulai menunjukkan eksistensinya. Hawanya begitu mendominasi, bahkan Cyrus dibuat membeku olehnya. Tidak ingin ikut campur.
"Atas dasar apa kamu menjadi tunangannya? bukannya Amaryllis juga adalah tunangan Hyun. Kalau begitu aku berhak bukan, menjadi tunangannya juga. Selagi pernikahan resmi belum dilangsungkan!"
Perkataan Elisha selain menohok juga membuat Liliana sadar jika Hyun Wo selama ini merahasiakan hal itu darinya.
Kini Liliana tak bisa berkata-kata lagi, namun dirinya tak rela jika hanya diam saja memperhatikan orang yang dicintainya direbut oleh orang lain yang secara tiba-tiba melamar Hyun Wo.
Bukannya perasaan mencintai tidak bisa dipaksakan.
Saat ini Amaryllis menundukkan wajahnya nafsu makannya pun hilang seketika.
Momo maupun Sayuri pun tak tahu harus berkata apa dalam situasi ini mulut keduanya mendadak kelu, memerangkap kata yang terlintas di kepalanya.
"Lalu kamu.. datang-datang melamar seseorang tanpa maksud yang jelas, bisa saja, kan ada maksud tersembunyi?" balas Liliana meninggikan suaranya.
"Aku ingin menjelaskannya, tapi kamu malah menyela. Baiklah, akan aku katakan bahwa aku bisa melihat masa depan diriku menjadi sepasang kekasih, tidak, suami istri di masa depan dengan Hyun!"
"Kalian berdua tenangkan diri terlebih dahulu!" ucap Hyun dengan katanya yang penuh penekanan seraya menunjukkan aura mengintimidasi. Membuat mereka berdua seketika diam, bahkan Cyrus pun merasa jika tangannya bergetar.
Pada akhirnya jalur dingin pun di tempuh Hyun Wo menjelaskan prinsip kemampuan penglihatan Elisha menurut analisisnya.
Bahwa apa yang dilihatnya bukanlah takdir dan suatu keharusan yang harus ditempuh agar tercapai.
Melainkan masa depan yang bisa saja terjadi kepada siapapun.
Mendengarnya Elisha menjadi kecewa dia tidak mempercayai perkataan Hyun Wo seratus persen, bahkan sepuluh persen saja.
Karena dia itu sebenarnya seorang yang mengalami masalah psikologis curiga dan tidak percaya kepada orang lain.
Elisha kemudian pamit untuk pulang, meskipun Hyun Wo meminta maaf jika perkataannya tadi kurang mengenakkan. Namun...
"Aku masih belum percaya jika penglihatanku bukan takdir Hyun, aku mau kamu membuktikannya besok. Temui aku di kerajaan, aku akan menunggumu sampai kapanpun!"
Wosh...
Baru beberapa inci saja keluar dari penginapan Elisha langsung menghilang dalam sekejap di tempat.
Meninggalkan kakaknya yang kini dibuat geleng-geleng kepala.
__ADS_1