
Kebetulan saat ini seorang pertapa bernama Feng secara tak sengaja melewati lembah Yong Ming.
Dalam perjalanannya yang mengembara kemanapun itu dirinya harus senantiasa mengisi perutnya.
Tidak seperti pertapa lain yang selalu berpuasa, Feng selalu makan dikala perutnya lapar. Ataupun karena keinginan untuk makan.
Tujuannya memasuki lembah Yong Ming tak lain adalah mencari sesuatu yang bisa dimakan sembari mengisi perbekalan.
Dan disaat ia berjalan melewati area Sekte Gu Long, Feng tak menyangka akan melihat pertarungan sengit disana.
Seperti biasa, ia sebenarnya malas untuk ikut campur urusan orang lain. Maka ia memilih untuk melihatnya dari kejauhan.
Tak lama ia menyadari beberapa monster bergerak menuju kemari, ia bahkan mendengar perkataan para monster itu. Meskipun jarak yang lumayan jauh.
Mengatakan bahwa monster-monster itu hendak membantu para manusia yang berada di pihak monster guna mendapatkan harta Karun milik sekte Gu Long.
Sebab, mereka kewalahan menghadapi para ahli beladiri sekte Gu Long disana.
Mendengar hal itu membuat Feng tertarik untuk ikut bergabung dalam pertarungan.
•••
"Sial... itu Feng, si pertapa yang waktu itu ikut di turnamen 'seseorang setengah dewa' kemampuannya tak bisa dianggap remeh!" ucap salah seorang yang berada di pihak monster memberitahu.
"Benar, kita pasti terbunuh olehnya. Apalagi setelah tahu kita berada di pihak monster, dia pasti membunuh kita semua dengan sadis!" sahut rekannya berkeringat dingin.
"Cih, jika kalian takut mending bunuh diri saja sana. Dasar pengecut!" protes seorang pria dengan badan setengah monster kepada rekannya.
Wuss...
Pria itu menghilang dalam sekejap setelah salah satu kakinya melakukan tolakan.
Ia lalu muncul tepat dibelakang Feng yang tengah beraksi dalam melumpuhkan manusia di pihak monster yang bertekad untuk melawan.
Sebuah tendangan mampu menyerap udara menjadi tekanan hampir dekat dengan leher Feng.
Grep.
Tak disangka Feng menangkap serangan tersebut dengan satu tangan tanpa berbalik badan.
Krak!
"Argh!!!"
Otot-otot tangannya terlihat menegang dikala meremukkan kaki pria setengah monster itu.
Krakk!
Tak tahan menahan rasa sakit yang hampir membunuhnya meskipun luka pada kaki, pria itu langsung melakukan perlawanan.
Dengan cara mematahkan satu kakinya melalui dorongan badannya kebelakang.
Krakk!!
Tep.
"Sialan kau kakek tua, aku pasti akan membu..." ucapnya dengan nafas tersengal berdiri dengan satu kaki. Namun.
__ADS_1
Belum usai menyelesaikan perkataannya tubuh pria itu mendadak hancur berkeping-keping.
"Sangat disayangkan."
Melihat kematian Goru tersebut yang diketahui hebat dalam kecepatan dan serangan membuat rekan-rekannya memilih untuk melarikan diri.
Sementara sepuluh orang berniat untuk tetap melawan serta menyelesaikan misi dari tetua monster.
Shut.
Tiga orang yang dalam wujud monster mulai bergerak, mereka lalu mengepung Feng sembari melancarkan serangan bertubi-tubi.
Sejenis serangan bermodalkan telapak tangan guna mencengkram lawan.
Dapat dihindari dengan mudah oleh Feng dari jarak yang lumayan dekat, hanya dua sentimeter dari wajahnya.
Srakk!
Krak.
Di momen menghindar itu Feng merapatkan jari jemarinya "satu lengan" agar berdiri tegak dan menggunakannya sebagai senjata saat membelah tubuh manusia yang berpihak pada monster itu, dari telapak tangan hingga kepala.
Lantaran pembelahan itu berlangsung secara cepat, seseorang itu tak bereaksi sama sekali. Bahkan sampai tak menyadari jika dirinya sudah terbelah.
Di detik berikutnya serangan mengarah pada ulu hati hampir menusuk tubuh Feng dari arah depan.
Jleb.
Namun secepat mungkin ia hindari sembari menyerang pengguna jurus dengan gerakan mengecoh, Feng langsung berada di belakang seseorang itu dalam sekejap.
"Apa!?"
Blarrr...
Serangan jarak jauh dari satu orang yang tersisa membuat Feng tak dapat menghindar.
Lantaran tubuh seseorang yang ditusuknya tadi membuatnya tak bisa bergerak. Di tambah serangan dari elemen api.
Bahkan beberapa rekan orang itu menganggap jika Feng terbunuh.
Para ahli beladiri sekte melanjutkan perlawanan mereka meskipun ada rasa ngeri mengetahui Feng terbunuh barusan.
Namun...
Slash...
Sisa orang-orang yang tersisa dari pihak monster yang memilih untuk melawan terbunuh oleh gerakan cepat dari tongkat milik Feng yang melayang, barusan tongkat itu di selimut oleh cahaya biru.
Grep.
Meskipun serangan tadi cukup untuk membunuh mereka, Feng menyisakan satu yaitu kepala dari musuhnya. Yang nampak masih hidup.
"Sebenarnya aku penasaran kenapa kalian sampai bergabung dengan ras monster? Serta... aku ingin menanyakan lebih banyak tentang organisasi kalian!" ucap Feng sembari menenteng kepala tanpa tubuh itu.
"Bodoh. Kami saat ini sedang menginvasi kehidupan kalian ha..ha..ha.. kalian semua pasti akan mati!!" balas kepala tanpa tubuh itu tak gentar dengan kondisinya.
"Dasar, anak muda jaman sekarang. Memilih jalan sukar demi keputusan yang hanya sesaat mereka inginkan," gumam Feng malas.
__ADS_1
Kepala itu lalu sadar jika dirinya sedang dimanipulasi oleh Feng yang sedang membaca rekam visualisasi di otaknya.
"Nah, ketemu."
"Bodoh. Kau kira bisa mengalah kami semua, meskipun telah mengalahkan sebagian kecil dari kami para manusia di pihak monster!" sergah kepala itu di udara dengan nada cepat, Feng melemparnya seperti sampah.
Feng langsung melesat saja meninggalkan kepala itu setelah mendapati tujuan baru dari pengembaraannya.
"Hehe.. orang tua itu tidak tahu jika ada banyak monster yang sedang menuju kemari sebagai bala bantuan," gumam kepala itu terkekeh di tanah, para ahli beladiri sekte Gu Long lalu mendekatinya.
"Hahahaha."
Satu dari mereka lalu tertawa lantaran dirinya menjadi saksi bahwa Feng telah memusnahkan banyak monster yang katanya sedang menuju kemari.
•••
Terlihat banyak monster tergeletak di tanah disebabkan serangan tak terduga saat mereka akan menuju ke sekte Gu Long.
Sementara Feng yang sebelumnya membantu para ahli beladiri hanya menggunakan jurus peniru diri saat berhadapan dengan manusia penghianat itu.
Semacam jurus tertentu membuat si pengguna memunculkan diri palsunya, anggap saja seperti itu.
Di waktu yang sama pada saat itu Feng meminta bekal kepada pengurus dapur sekte Gu Long sebagai bayaran dari bantuannya.
Saat ini Feng menuju markas organisasi monster berada.
Dirinya berpikir jika mengalahkan monster terkuat yang memiliki kedudukan disana berita itu dapat berdampak pada monster-monster lain.
Darrrr!!!
Dirinya lalu berhenti melesat saat mendengar suara dari arah negara tempat dirinya mengikuti turnamen sebelumnya.
"Jika negara itu hancur, aku tidak bisa bertemu lagi dengannya...."
Ia lalu merubah keputusannya dan menganti tujuan pengembaraannya ini demi seseorang.
•••
Di wilayah ras elf, para monster juga mengincar harta Karun kuno milik Tetua para elf.
Di sana monster-monster kewalahan saat menghadapi perempuan cantik dengan teknik panahnya yang sangat mematikan.
Banyak dari mereka di pihak monster yang terbunuh.
"Kalian memang pantas mendapatkan kematian menyakitkan!" ucapnya sedikit emosi. Terus melesatkan anak panah ke arah musuhnya.
Siutt...
Kretak.
Sebuah anak panah yang menancap pada sekumpulan monster dalam sekejap membekukan mereka.
Lalu seorang pria berbadan besar melempar batu ke arah bongkahan es berisi para monster.
Crakk!!
"Bagus Hook, lemparan mu memang yang terbaik!!!" ujar perempuan itu tersenyum manis memuji pria itu.
__ADS_1
Dap.. dap.. dap..
Suara langkah kaki menyebabkan tanah bergetar membuat perempuan itu akhirnya waspada.