
Dalam situasi ini Hyun Wo menebak akan sulit meminta Liliana untuk meminum obat ramuan buatannya sebuah situasi yang membuatnya ingin menyelamatkan kekasih si pemilik tubuh apapun caranya.
Hyun Wo mendekati Liliana perlahan dengan tenang tanpa adanya ancaman yang disembunyikan agar tidak terlihat melakukan pemaksaan kehendak.
[Pemberitahuan sistem]
"Saya sarankan tuan membeli item cradle fragrance guna membuat Liliana pingsan agar memudahkan tuan meminumkan nya ramuan!"
Cradle fragrance adalah sebuah item berbentuk seperti botol kecil dapat digunakan sebagai pewangi badan paling ampuh melumpuhkan seseorang dengan buaian, dalam arti membuatnya seseorang tak sadarkan diri.
Hanya saja dapat digunakan pada dua semprotan saja.
"Berapa poin yang aku butuhkan untuk membelinya, ku harap item itu murah?"
"500 poin tuan."
"Baiklah, aku membelinya!"
Tanpa disangka satu tangan Hyun Wo yang ada dibelakang tubuhnya menyemprotkan parfum tersebut pada badannya. Disaat dirinya mendekati Liliana.
Ketika sudah dekat ia pun langsung membelai rambut Liliana dan menatap lekat padanya dari jarak dekat.
"Lia, yang aku inginkan hanyalah kamu seorang, meskipun kamu yang sekarang ini menghilang saat meminum ramuan itu, tapi aku tetap mencintai dirimu..."
Beberapa menit saling membuka isi hati keduanya lalu berciuman penuh gairah, namun di saat itulah Liliana tak sadarkan diri.
Momo bergegas mendekati mereka dan langsung membantu Hyun Wo dalam membawa mengangkat Liliana.
•••
Dua hari setelah kejadian itu Liliana tersadarkan dari tidurnya dan ingatannya sudah kembali pulih. Mereka berempat kini menempati sebuah rumah kosong yang mereka temukan di gunung Yuhai.
Dan sampai saat ini Luxia belum memberikan Hyun Wo Quest maupun misi sehingga ia hanya bisa menunggu dan menunggu.
Disaat dirinya ingin mencari udara segar di luar rumah yang nampak hijau dan segar selembaran kertas mendarat pada wajahnya.
"Apa ini?"
Ia membaca isi selembaran itu dengan teliti sampai tidak ada satupun kata yang terlewati, kemudian Hyun Wo menyeringai setelah membacanya.
Tertulis dalam selembaran itu pencarian seseorang petarung berbakat untuk mengikuti turnamen seseorang setengah dewa pada fase kedua.
Batas waktu pendaftaran yang tertera sampai besok dan harus membawa uang pendaftaran sejumlah 100 koin perak.
Hadiah utama yang akan diberikan kepada pemenang adalah 200 koin emas, sementara juara dibawahnya sebuah tempat tinggal permanen dan hak eksklusif lainnya.
"Cih, perampokan namanya. Tidak ada jaminan keselamatan bagi seseorang jika dalam keadaan sekarat!" ucap Hyun.
__ADS_1
[Pemberitahuan sistem]
[Quest menemukan monster yang menyamar pada turnamen "manusia setengah dewa" tersebut]
[Misi mengalahkannya tanpa membunuhnya]
[Hadiah jika berhasil menyelesaikan keduanya : skill tingkat tinggi dan 5000 poin]
[Apabila hanya satu yang diselesaikan 3000 poin yang didapatkan]
"Hehe... sepertinya menarik."
Hyun Wo lalu memberitahukan selembaran tersebut kepada para perempuan yang ikut bersamanya sembari meminta pendapat. Apalagi Hyun Wo secara terang-terangan ingin mengikuti turnamen tersebut.
Sayuri di tim netral dia hanya mendukung apapun keputusan Hyun Wo, entah mengikuti turnamen tersebut atau berubah pikiran tidak jadi mengikutinya.
Liliana tidak memperbolehkan Hyun Wo lantaran setelah ingatannya kembali ia menganggap jika Hyun Wo tidak terlalu kuat melawan para peserta turnamen.
Alasannya, karena dulu dirinya sempat melihat turnamen pertarungan tersebut bersama ayahnya saat mempromosikan guild yang baru saja dibuka.
Banyak para penonton disana yang duduk pada tempat yang disesuaikan di Colosseum besar tersebut.
Usia Liliana menginjak 7 tahun kala itu dan masih memiliki sifat polos dan lembut.
Sampai babak ke lima Liliana sama sekali tidak melihat pertarungan para peserta turnamen, lantaran ayahnya tidak memperbolehkannya melihat hal yang seharusnya anak kecil tidak boleh melihatnya.
Sebuah pembunuhan secara terang-terangan dan legal terlihat dalam turnamen tersebut pada setiap peserta yang berduel secara bergantian. Setelah salah satu dari keduanya tumbang.
Darah terlihat menyebar pada arena tempat mereka bertarung. Melihatnya membuat Liliana mual dan menangis sembari mencari ayahnya.
Saat itu dirinya berhasil melihat arena pertarungan dan para peserta.
"Ya... bukannya itu cuma cerita menurut pandanganmu waktu kecil Lia, mungkin saja ada yang salah."
Buk!
"Aww! Kenapa kamu memukul kepalaku?" satu pukulan mendarat pada bagian atas kepala Hyun Wo oleh Liliana.
"Humph. Jika kamu bersih keras tanggung sendiri akibatnya!" ucap Liliana sembari memalingkan wajahnya.
Untuk Momo dia tim tidak memperbolehkan Hyun Wo untuk ikut dengan alasan tidak diketahui lawan seperti apa yang akan Hyun Wo lawan, bisa saja berbahaya sampai mengancam nyawanya. Dan Momo tidak ingin hal itu terjadi pada sang penyelamat hidupnya.
"Bagaimana kalau aku menunjukkan kekuatan diriku terlebih dahulu kepada kalian!"
"Emm..." sahut Sayuri mengangguk.
"Oke. Kalau kamu tidak terlalu kuat di mataku kamu harus berjanji tidak akan ikut!" sahut Liliana menekan kata di akhir.
__ADS_1
"Tenang saja, aku pria yang menempati janji. Jadi aku terima itu," jawab Hyun percaya diri dengan senyumannya.
"Aku mau lihat dulu kekuatan tuan," sahut Momo.
Area luas berisi tanah tandus sebagai tempat Hyun Wo menunjukkan kebolehannya kepada tiga perempuan cantik.
Di mulai dengan ronde pertama yang akan dinilai langsung oleh ketiga perempuan itu. Ronde ini dinamakan kecepatan.
"Mulai!!" ucap Liliana meninggikan suaranya.
Woss...
Pijakan awal Hyun Wo di luar garis start membekas dalam membuat ketiganya terkejut, sementara Hyun Wo berlari dengan begitu cepatnya menuju garis finis.
Ronde kedua bernama kelincahan dimana Liliana akan menyerang Hyun Wo dari segala arah menggunakan kekuatan supranatural miliknya.
"Lia, apa serangan kamu tidak terlalu berbahaya bagi Hyun?" tanya Momo khawatir.
"Tidak. Kamu tenang aja," dibalas singkat dan malas olehnya.
"Mu...lai..." ucap Momo.
Aura berwarna hitam terlihat berkumpul lalu membentuk sebuah anak panah yang siap melesat ke arah Hyun Wo.
Wosh...
Wosh...
Wosh...
Dalam beberapa menit Hyun Wo berhasil menghindari serangan itu tanpa terkena sama sekali dan sehelai rambutnya pun nihil, tidak ada yang jatuh dan tersentuh.
Hingga 20 ronde berhasil Hyun Wo lalui sehingga mau tidak mau Liliana terpaksa menempati janjinya. Sayuri pun jadi yakin kepada Hyun Wo yang bisa menjadi pemenang dalam turnamen itu.
Momo melebihi Sayuri dia percaya pada Hyun Wo lebih dari apapun yang ada di dunia, khayalannya sambil membayangkan.
Sore itu Hyun Wo buru-buru pergi menuju tempat pendaftaran dengan berlari secepat mungkin untuk sampai kesana, setelah mendengar kuota peserta akan habis dari orang yang berlalu lalang.
"Apa aku masih bisa mengikuti turnamen?" tanya Hyun kelelahan.
"Maaf tuan, kuota peserta sudah penuh dan baru saja diambil oleh gadis itu, dia yang terakhir mengisi daftar!" jawab penjaga tempat pendaftaran peserta turnamen hendak melenggang pergi.
"Tunggu dulu, jika masih ada saya akan membayarnya dua kali lipat!" paksa Hyun meminta bantuan dari penjaga tempat pendaftaran itu.
"Saya tidak bisa menerimanya, anda lebih baik membeli tiket khusus itu pada gadis tadi, kelihatan dia belum jauh!" jawabnya memberi saran.
"Jadi ada tiket khusus ya, kalau begitu aku akan membujuk gadis itu," ucap Hyun di dalam hati.
__ADS_1