
Masih mematung di tempat, Amaryllis tengah fokus melihat pergerakan monster berukuran besar itu.
Monster tersebut adalah naga berkaki empat dengan kepala berjumlah enam.
Sekitaran tempat naga berpijak itupun hancur berantakan lantaran kemunculannya.
"Hey... kemana kau bersembunyi, pengecut?!" umpat Hangli dengan nada yang awalnya rendah namun di akhir ucapannya ia seolah berteriak. Matanya terus menyisir setiap tempat guna mencari orang yang dibencinya.
Keadaan masih sunyi dan belum ada pergerakan dari Hyun Wo sama sekali.
Tentu saja Hangli tidak langsung percaya jika musuhnya itu mati dengan mudah hanya karena efek kemunculan boneka terkuatnya itu.
Sebenarnya naga tersebut adalah monster level tinggi yang ditemukan kerangkanya oleh Hangli.
Ia kemudian mencoba berbagai cara agar naga tersebut hidup kembali, guna dijadikan bonekanya.
Diketahui naga itu sangat berbahaya semasa hidupnya. Bahkan legenda mengatakan sepuluh kota besar musnah dalam satu malam dikarenakan monster itu mengamuk.
Bola mata dari keenam kepala naga itu bergerak kesana-kemari dari setiap celah yang di lihatnya, mencari keberadaan Hyun Wo yang sampai saat ini belum ditemukan.
Woosh...
Di saat raut wajah Hangli menunjukkan ekspresi tak senang Hyun Wo tiba-tiba muncul.
Sebuah area berbatu, bersebelahan dengan sungai yang sudah hancur, Hyun Wo berpijak pada pedangnya. Yang entah mengapa pedangnya itu memiliki bagian tajam lumayan lebar. Bukan blood sword ataupun Devil sword.
Pandangan enam kepala naga itu beralih pada targetnya.
Hangli kini berada lumayan jauh dari tempat Hyun Wo berada dirinya tengah menatap tajam bagaikan hewan buas.
"Petir bercabang!!" ucap Hangli.
Jlassh...
Jlasssh...
Kepala naga berkekuatan elemen petir mulai menyerang.
"Elemen tanah!"
Tempat Hyun berpijak terbelah hingga membuat dirinya masuk kedalam jurang yang terbentuk secara mendadak itu.
Woosh...
Jleb.
Shut..
Dikala tanah yang terbelah lebar itu akan menyatu kembali Hyun Wo dengan cepat melakukan aksi.
Ia melemparkan pedangnya hingga menancap pada bagian dinding tanah, bersamaan kedua bagian hampir berdekatan Hyun Wo lalu melakukan tolakan pada bagian pedang itu.
Sedangkan pedangnya ia tinggalkan disana, namun serangan Hangli tidak berhenti sampai disitu.
"Elemen api!" ucap Hangli sembari mencari pijakan. Kedua tangannya yang putus membuat keseimbangannya terganggu.
__ADS_1
Sementara luka pada tangannya ia bekukan dengan elemen es.
Sebuah semburan api menyerupai meteor melesat cepat ke arah Hyun Wo yang tengah berada di udara.
Blash...
Wuss...
Saat serangan itu hampir berjarak beberapa centimeter, Hyun Wo dengan sigapnya membela semburan api itu menggunakan pedang suci.
Hingga bagian tengah dirinya sekarang tak dapat dijangkau api. Sementara pedang suci menyerap elemen api tersebut.
Tap..
"Tsk," Hangli mendesis.
Awan di langit mulai menyatu membentuk sebuah awan cumulonimbus.
Jdarrr!!
Darr!!
Jdarrr!!
Darr!!
Dari awan itu keluar petir yang menyambar, tertuju pada Hyun Wo secara terus-menerus, ketika Hyun Wo dapat menghindar dari serangan itu sebelumnya.
Akibat Sambaran petir itu tanah yang terkena menjadi rusak parah hingga berhamburan kemana-mana. Serta meninggalkan jejak Sambaran petir.
"Elemen tanah!" ucap Hangli.
Bersamaan dengan Sambaran petir yang tiada habisnya tanah tempat Hyun Wo berpijak terangkat.
Membuatnya lumayan susah untuk menjaga keseimbangan saat menghindar. Anehnya, Hyun Wo sama sekali belum melakukan perlawanan.
Perlahan bagian dari tanah bergerak itu mulai membentuk ombak di segala arah.
Sementara Hyun Wo terus berpindah dari satu pijakan ke pijakan lain guna lolos dari area yang sebentar lagi akan menguburnya.
"Hahahaha, bodoh! Kau akan mati. Sambaran petir itu sudah ku atur sedemikian rupa agar menyulitkan dirimu untuk lolos dari area itu," oceh Hangli tersenyum miring. Puas melihat lawannya itu kesusahan.
Melihat lawannya tetap gigih dan hampir lolos dari area tanah membentuk ombak yang sebentar lagi akan menyatu, Hangli terpaksa menggunakan serangan gabungan.
Pertama serangan dari elemen api berbentuk bola berukuran besar gabungan dari elemen tanah. Sehingga menjadi serangan lava.
Serangan kedua adalah gabungan dari elemen angin dan petir yang kini membentuk tornado berkecepatan tinggi. Disertai petir yang menyelimuti setia sisi.
"Heh.." Hyun terlihat menyeringai menatap serangan yang secara bersamaan menuju ke arahnya.
•••
Di satu sisi, pada area hutan yang masih aman dari gempa. Beberapa bagian dari area itu dibuat gundul lantaran pepohonan tertarik menuju pusaran tornado.
"A-pa yang terjadi disana..." ucap Amaryllis yang kini mulai gelisah. Sekitar tempatnya bahkan terasa menekan. Membuatnya mendekati Hyun agar dirinya tenang kembali.
__ADS_1
"Itu hanya pertarungan antar monster, tidak usah dipikirkan. Kita fokus menuju desa terpencil itu! Kamu masih ingat bukan?" balas Hyun dengan mengulas senyuman sembari memandangi Amaryllis yang tengah ketakutan. Tubuhnya pun terlihat gemetaran.
Bagaimana tidak takut, firasatnya mengatakan bahwa sebentar lagi akan ada hal mengejutkan.
Kembali pada Hyun Wo yang terlihat pasrah dan hal itu membuat Hangli besar kepala.
Siapa sangka serangan gabungan itu adalah serangan berdampak besar.
Darrrr!!!
Blarrr...
Kedua serangan gabungan itu menyatu setelah ledakan besar yang bertabrakan dengan tanah membentuk ombak.
Kini ukuran tornado itu semakin membesar dan diselimuti oleh api serta listrik.
Dampak dari ledakan itu membuat sekitaran hancur berantakan, bahkan lebih parah lagi dari serangan-serangan tadi, naga itu bahkan sampai tak menyentuh tanah guna menjaga keseimbangan.
Sementara Hangli melindungi diri dengan elemen es.
Kabut mulai terbentuk hingga membuat jarak pandang terganggu.
Hangli tak bisa melihat sekitaran dengan jelas hanya sekedar untuk melihat keadaan lebih jelas lagi.
"Sepertinya bocah itu telah mati. Sialan! Serangan barusan menguras begitu banyak mana..!"
Hangli tertunduk, dirinya benar-benar sudah lemah akibat efek dari pengurangan mana dalam waktu singkat.
"Tunggu. Dia dari awal belum sama sekali melakukan penyerangan!?" ujar Hangli dengan nafas tersengal menyadari hal ganjil.
"Hmm.. tidak usah dipikirkan, lagian diriku akan pulih kembali setelah menyerap energi dalam tubuh monster yang sudah aku kendalikan sebelumnya."
"Eh??"
Ia terkejut disaat menoleh kebelakang, topeng-topeng disekitarnya menghilang. Bukan cuma itu, para monster dalam kendalinya yang bertempat acak di hutan ini sama sekali tak bisa ditemukan lewat mata yang terhubung.
Seperti halnya mereka terbunuh secara misterius.
. . . .
Hangli tertegun hingga matanya menatap kosong seseorang yang tengah berdiri di tepat hadapannya.
Ia sendiri tengah berada di atas badan naga berukuran besar itu, saat ini diselimuti oleh kabut.
"Ba-gaimana bi-sa, kau.. selamat dari serangan mematikan itu?!" ucap Hangli terbata melihat Hyun Wo yang masih baik-baik saja. Tanpa goresan luka sedikitpun di badannya.
Padahal sebelumnya, ia melihat dengan jelas serangan itu benar-benar mengenainya.
"Mustahil...."
"Aku akui dirimu lumayan kuat, namun kalah dalam strategi!" ujar Hyun dengan wajah datar.
Sementara Hangli bersiap untuk melakukan pergerakan mendadak, ternyata wajah ketakutannya itu hanyalah kebohongan semata.
Sayangnya sebelum ia melakukannya Hyun Wo sudah mengantisipasi akan hal itu dari awal.
__ADS_1
Kekuatan supranatural pemberat tubuh Hyun Wo gunakan untuk menahan Hangli yang tanpa kedua lengan itu.